
"Apa? mbak Nilam mau mencelakai ibu?"
Arini terhenyak di kursi.
"Aku juga tidak mengerti apa tujuan sebenarnya." jawab Denis lesu.
"Lalu bagaimana ini, Rin?" Denis terlihat putus asa.
"Kita tidak bisa mengambil tindakan, sedangkan rencananya saja kita tidak tau, apalagi bukti." ucap Denis lagi.
"Kita ajak ibu tinggal disini." usul Arini.
"Justru itu akan membuat mbak Nilam curiga."
"Kalau begitu, jalan satu-satunya hanya Shofia."
Denis menoleh pada istrinya.
"Tidak, jangan bilang aku harus menerima persyaratan dari Shofia...!" ucap Denis menggeleng.
"Tapi hanya ini... "
ponsel Denis berbunyi hingga Arini menghentikan kalimatnya.
"Halo, siap ini?" sapa Denis pada si penelpon.
"Aku Nathan, Om. cepatlah kemari, Nenek di tabrak orang,." suara Nathan terdengar bingung.
Arini dan Denis saling pandang.
"Tu, kan. mudahan ibu tidak apa-apa." seru Arini dan berlari menyambar kunci mobil.
"Pakai motor saja biar cepat!" teriak Denis yang mengikutinya dari belakang.
Arini begitu cemas atas keselamatan Bu Zah.
"Menurutmu, apakah ini ada kaitannya dengan mbak Nilam?" suara Denis memecah kesunyian di antara mereka.
"Bisa jadi, aku juga sedang berpikir kesana" jawab Arini prihatin.
Sesampai di rumah Bu Zah, Arini langsung menerobos masuk tanpa memberi salam.
"Elang, Arini?" kalian disini?" sapa Bu Zahra sambil selonjoran di kursi panjang.
"Kata Nathan, Bu Dhe ketabrak motor."
"Duduklah dulu, memang benar budhe keserempet motor. tapi hanya luka memar dan lecet sedikit. Sudah di olesi salep, sebentar lagi juga baikan." jawab Bu Zah tenang.
"Kalian kenapa? terlihat sangat tegang, jangan panik begitu ibu tidak apa-apa kok." kata Bu Zah lagi.
Arini menelisik keadaan rumah yang terlihat sepi.
"Mbak Nilam pergi ke toko?" tanya Arini ragu.
Bu Zah mengangguk.
"Lang, tolong panggilkan tukang untuk memperbaiki pintu lemari di kamar Bu Dhe, sepertinya ada yang membukanya dengan paksa." ucap Bu Zah tenang.
"Maling?" tanya Denis cepat.
"Maling gimana? apa yang bisa di curi dari rumah ini. Uang tidak ada apalagi perhiasan. Lemari itu hanya berisi surat-surat dan dokumen tanah peninggalan bapaknya Pras."
Denis melongo mendengar penjelasan Bu dhe nya.
"Surat tanah?" ulang Denis.
Bu Zahra mengangguk.
Sedang Arini dan Denis saling pandang.
"Kau ingat tentang Shofia yang menyinggung soal tanah di dekat lapangan?" bisik Denis pada Istrinya.
Arini mengangguk.
__ADS_1
"Ibu, apa ibu lihat orang yang menabrak ibu?"
tanya Arini khawatir.
Bu Zah menggeleng.
"Sudahlah, ini tidak parah kok." jawab wanita bijak itu itu berusaha menenangkan Arini.
Ponsel Denis berdering lagi.
Denis minta ijin menerima telpon pada Bu Zah dan Arini.
Raut wajah Denis langsung berubah ketus saat tau siapa yang menelponnya.
"Aku dengar Bu Dhe keserempet, Mas, cepat putuskan agar kau segera bisa bertindak. Jangan tunggu hal yang lebih buruk menimpanya. Bukan kau saja, aku juga akan membantumu." kata Shofia lewat telpon.
Rahang Denis mengeras karna menahan amarah.
"Berhenti memeras emosi dan perasaanku Shof...!" suara Denis yang cukup keras mengundang perhatian Bu Zah dan Arini.
"Apa maksudnya Elang menyebut nama Shofia?"
"Tenang Bu, mungkin Denis hanya bercanda dengan Shofia. Kita semua tau kalau mereka sangat dekat." Arini menenangkan Bu Zah.
"Rin, aku perlu bicara denganmu." kata Denis pelan.
"Nanti saja, aku takut ibu curiga." jawab Arini.
Nilam datang dengan tergopoh.
Ia langsung memeluk Bu Zah.
"Bu Nathan memberitau ku kalau ibu ketabrak keserempet motor." ucapnya penuh kekhawatiran.
Arini dan Denis memandangnya dengan pandangan tidak suka.
"Kalian lebih dulu tau, kenapa tidak ngabarin aku?" tukasnya pada Arini.
"Apa maksud mu berkata begitu, Rin? seolah kau menuduhku akulah pelakunya."
Degh!
Semua terdiam, termasuk Nilam. Ia tidak sadar telah keceplosan bicara.
Ketegangan itu tercair kan oleh suara Bu Zah.
"Sudah, ibu tau, kalian semua sangat menghawatirkan ibu. Tapi ibu tidak apa-apa, tidak usah saling menyalahkan." kata Bu Zah bijak.
"Ibu salah, aku sebagai menantu kandung ibu, jelas lebih menghawatirkan keselamatan ibu." kata Nilam membuat Bu Zahra kaget.
"Nilam.. ibu tidak percaya Kata-kata itu keluar dari mulutmu. Bagi ibu, tidak ada anak dan menantu kandung. Posisi kalian semua sama bagi ibu." suara Bu Zah bergetar.
"Tapi ibu, ikatan darah tidak bisa di pungkiri."
Nilam masih kukuh pada pendapatnya.
"Ibu mohon pada kalian, jangan perpanjang masalah ini." matanya menatap Denis, Arini dan Nilam.
"Ibu tidak usah khawatir, kami tidak apa-apa kok, apapun yang di katakan mbak Nilam, tidak akan merubah rasa hormat dan sayang kamu pada ibu. iya, kan Den?"
Denis mengangguk dengan hati dongkol.
Bagaimana bisa Nilam berkata seperti itu. Setelah apa yang di lakukan mertuanya untuknya.
Nilam ikut tersenyum seolah menerima Kata-kata mertuanya.
Namun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya.
Setelah Denis dan Arini pulang, Nilam mendekati Bu Zah.
"Bu, apakah ibu tidak merasa aneh dengan sikap Arini? dia seperti menyembunyikan sesuatu di depanku." kata Nilam.
Namun Bu Zah menepisnya.
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja.
"Oh, ya Bu. tadi mas Pras nelpon. katanya ada seorang temannya ngajak join buka usaha bareng gitu, dan mas Pras butuh modal untuk usahanya itu." kata Nilam tanpa malu-malu.
Bu Zah tertawa kecil.
"Apa sih yang ibu punya, Pras dan adik-adiknya hanya punya beberapa aset berupa kebun peninggalan almarhum ayahnya.
"Termasuk tanah luas didekat lapangan itu, kan Bu?" Nilam semakin berani.
"Bukan, itu bukan milik kita." jawab Bu Zah pasti.
Nilam menggerutu dalam hati.
"Tanah itu bulan milik kita, ibu hanya memeliharanya selama ini." jawab Bu Zah lagi.
"Aku pikir itu milik ibu, dan berarti di situ ada bagian mas Pras juga, kan?"
"Kau salah, itu bukan milik ibu."
Nilam menelan ludah dengan susah payah.
"Aku pikir itu aset keluarga. tapi ternyata..?" bathinnya sendiri.
Nilam mencibir. lalu meninggalkan Bu Zah sendirian.
Sementara itu, Arini dan Denis semakin bingung mencari cara untuk menyelamatkan Bu Zah.
Dugaan sementara pelakunya memang mengacu pada Nilam.
Shofia kembali menelpon Denis.
"Mas, apakah aku sudah bisa mendapat jawabannya?" Arini mengambil alih ponsel Denis.
"Ingat keselamatan Bu Dhe berada di tanganmu, sedikit saja kau terlambat bergerak akan fatal akibatnya."
Arini sangat geregetan mendengar cara Shofia memeras suaminya.
"Hei... dasar pelakor cilik! di usiamu harusnya bangga dengan prestasi yang kau capai di sekolahmu. Tapi kenapa kau bangga menjadi bibit pelakor ,sih? apa istimewanya?" serang Arini dengan perasaan muak.
Shofia terdiam. Ia sedikit kaget karna yang di ajaknya bicara bukanlah Denis, melainkan istrinya.
"Mbak, Arini? kenapa ponselnya mas Elang ada pada mbak?" tanyanya lugu tanpa dosa.
"Jangan coba mengalihkan pembicaraan.
Denis sudah berkeluarga, punya istri! berhenti mengejarnya!"
"Mbak, tolong kasi ponselnya ke mas Elang. aku mau bicara penting."
"Apapun yang mau kau bicarakan, bicarakan denganku!" kata Arini tegas.
"Tidak bisa, Mbak. aku hanya mau bicara mas Elang." Shofia tetap ngotot.
Arini menjadi gemas dan jengkel pada gadis itu.
"Halo, mas Elang, kan?" suara Shofia kembali terdengar Arini sengaja membiarkannya.
"Mas, aku tau mas Elang tidak mau bicara karna ada mbak Arini, kan? dia memang sok menguasai mas Elang. Baru juga jadi istrinya... Mas, jadi nggak kita nikah? aku janji akan beberkan semua rahasia mbak Nilam padamu." suara Shofia lagi.
Arini memberikan ponsel itu diam diam kepada Denis.
"Iya, Shof." jawab Denis malas.
"Mas, tadi mbak Arini yang bawa ponsel Elang. Jadi gimana tawaranku kemarin?"
Denis mendesah malas.
"Aku tidak bisa mencintaimu, kau seperti adik bagiku."
"Tapi aku mencintaimu, aku akan perjuangkan cintaku itu!" suara Shofia tegas lalu ponselnya di matikan.
Denis putus asa.
__ADS_1