
Denis tak habis pikir kenapa Shofia begitu konyol. Sampai ngambek tidak mau makan, minum dan keluar kamar.
Denis tidak pernah menganggap serius
perasaan Shofia.
Denis hanya menganggap Shofia sebagai adik, bahkan lebih cocok sebagai keponakan.
Kedekatan mereka sedari Shofia masih kecil
mungkin telah menumbuhkan perasaan lain di hati Shofia. Denis tidak menyadari itu.
Dia juga tidak pernah menganggap serius semua perhatian dan sikap manja Shofia selama ini. Ia beranggapan merasa suka padanya karna Shofia menutup diri pada awan jenisnya selama di sekolah maupun di lingkungannya.
" Sangat mungkin Arini juga beranggapan kalau aku ada hubungan dengan Shofia., sangat lucu!" Denis tertawa lebar.
"Aku harus meluruskan semua ini!" pikir nya lagi.
Dengan penuh semangat ia melajukan mobilnya kerumah sakit.
Sampai disana ia tidak mendapati Arini.
Di ruangan tempat biasa Ilham di rawat juga terlihat sepi.
"Kemana mereka?" Denis menghubungi ponsel Arini.
"Aku ada di taman belakang."
Perasaan tak enak sudah menghampirinya.
Ia berharap jangan sampai Arini sedang bersama Ilham.
Dari kejauhan dia bisa melihat Arini yang sedang duduk sendirian di bangku taman.
"Arini... kenapa kau di sini?"
Arini menghapus sisa air matanya.
"Kau menangis?" ucapnya sambil duduk di dekat wanita itu.
Arini berusaha tersenyum dan terlihat tegar di depan Denis.
Tidak, hanya kelilipan saja. Kau kenapa kesini?" ia meraba kening Denis.
"Aku sudah sehat. kau jangan mengalihkan pembicaraan! ceritakan apa yang membuatmu menangis?"
"Tidak ada.. kau sudah makan?" tanya Arini mengalihkan pembicaraan.
Denis mendesah.
"Sudah.. kau sendiri? bisa aku tebak pasti belum.!"
Arini tidak membantah.
Denis membuka jaketnya lalu memakaikannya pada tubuh. Arini.
"Diam, jangan kemana-mana!"
Pria itu bangkit dan menghilang di koridor rumah sakit.
Tak berapa lama dia membawa sebungkus roti dan dua gelas kopi panas.
makan lah, aku tidak perduli padamu, tapi pada yang di dalam perut mu itu!"
Arini Tersenyum, betapa baiknya pria di hadapannya ini.
"Buka mulutmu!" ujar Denis sambil menyodorkan roti itu.
"Denis..?"
Arini tersipu.
"Malu di lihat orang."
__ADS_1
"Bodo amat! aku mau kau makan roti ini sekarang!"
Denis tak perduli dengan penolakan Arini. Ia terus memaksa hingga akhirnya potongan roti itu masuk ke perut Arini.
"Terimakasih..!"
"Tidak usah berterima kasih, aku lakukan itu untuk jagoan kecil itu?" Denis menunjuk perut Arini yang membuncit.
"Bagaimana keadaan Ilham?"
"Belum ada perubahan, malah sekarang aku lihat kondisi mentalnya kurang stabil, dia sering kedapatan menangis sendiri. Dia juga bilang takut untuk mengingat masa lalunya."
Mereka sama terdiam.
"Tapi bukan berarti kau harus menginap disini juga, pikirkan anak mu!!" sindir Denis.
Arini hanya terdiam.
Ia tidak bisa menjelaskan pada Denis bahwa dirinya sangat iba pada keadaan Ilham saat ini, bukan sebagai suami atau mantan, melainkan sebagai sesama saja.
"Tapi.. mas Ilham membutuhkan aku di sini!"
ucapnya terbata.
"Masih ada ibu dan istrinya! kau tidak jera -jera di hina oleh mereka." kata Denis gusar.
"Aku juga yakin menangis mu tadi karna ulah mertua dan nyonya Ilham itu."
Arini hanya terdiam.
"Aku lelah Arini, aku lelah mengingatkanmu.
Kau terlalu baik, makanya mereka menginjak mu."
"Maaf..!" hanya itu yang keluar dari mulutnya .
"Mbak, tolonglah mbak, mas Ilham tidak mau makan! mungkin dengan mbak Arini dia mau menurut." Siska datang tergopoh dengan wajah memelas.
"Ada, mas. tapi mas Ilham tidak mau bicara pada ibu." ucapnya sedih.
Arini memandang mata Denis seolah minta ijin untuk menemui Ilham.
Denis tidak tega juga melihat mata Arini yang terlihat memohon.
"Pergilah!"
Arini bergegas ke ruangan Ilham.
Tampak olehnya Bu Lastri sedang membujuk putra kesayangannya itu.
"Ayolah.... makan sedikit saja! kalau kau tidak mau makan, ibu juga tidak akan makan. biar kita sama-sama kelaparan!"
ancam Bu Lastri.
Ilham masih terdiam. tatapan matanya kosong.
"Bu, aku ingin minta sesuatu..!" Bu Lastri kaget bercampur gembira saat Ilham mau bicara.
"Iya, katakan Nak! kau mau apa? ayo!"
Bu Lastri begitu bersemangat.
"Kebetulan Arini juga sudah disini, aku mau bicara sesuatu yang penting."
Semua menunggu dengan tegang.
"Aku mau ke suatu tempat hanya bersama Arini, berdua saja!"
Arini terkejut, Bu Lastri tak kalah terkejutnya.
"Maksudnya?" tanya Bu Lastri pelan.
"Ibu ingin ingatan ku kembali, kan?" tegas Ilham.
__ADS_1
"Tentu, Nak. tapi kenapa harus pergi dari sini? kenapa pula harus bersama Arini?" nada suara Bu Lastri mulai meninggi.
"Aku mohon! aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku tidak bisa melangkah kedepan saat aku tidak ingat jalan ku di belakang. Hanya Arini yang bisa menuntunku untuk semua itu."
"Tapi,Mas..!" Tangan Ilham menyetop kata-kata Anita.
Arini masih berdiri mematung. Dia tidak tau harus bersikap bagaimana.
Ilham memandangnya.
"Tidak bisa, Arini harus bekerja!" tiba-tiba Denis datang di tengah mereka.
Ilham menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Kau temannya Arini, kan?" Ilham berusaha mengingat ingat.
Arini mengangguk.
"Kenapa dia berani melarang kita Rin? kalau ibu yang keberatan, aku paham. Tapi dia?"
Arini memberi isyarat pada Denis agar tenang.
"Tolong penuhi permintaan ku kali ini, aku janji tidak akan memaksakan kehendak padamu. aku menurut apa katamu."
Anita menanti jawaban Arini dengan gelisah.
Ia berharap kalau Arin menolak ide gila suaminya itu.
Arini memandang Bu Lastri dan Anita bergantian.
Mereka langsung membuang muka.
"Mungkin ini jalan untuk mengembalikan ingatan mas Ilham, Mbak, siapa tau?" Siska ikut memberi pendapat.
Arini merasa bimbang.
Di satu sisi, dia ingin Ilham kembali ingatannya, Di sisi lain, dia juga tidak mau mengecewakan Denis.
"Kau janji akan menghormati keinginanku?"
Ilham mengangguk.
"Aku mau dengan satu syarat." kata Arini.
Ilham mendengarkan.
" Pertama, Kita tidak akan tinggal sekamar, kita tidak akan melakukan aktivitas yang aku tidak suka. bisa?" Ilham mendesah namun akhirnya mengangguk juga.
"Ibu, tolong urus administrasinya." ucap Ilham pada ibunya.
"Aku mau pulang dulu,Mas! besok aku kesini lagi."
Walau dengan berat hati, Ilham melepas kepergian Arini.
Denis tidak mengerti dengan jalan pikiran Arini. Kenapa dia harus mengikuti kemauannya? bisa saja dia menolak dan mengabaikan semua permintaan Ilham, tapi dia malah menerimanya.
Denis diam seribu bahasa. ia merasa malas membahas hal itu lagi, toh Arini sudah memutuskan.
Arini memandang Denis dengan rasa bersalah. Bukannya dia tidak peduli pada perasaan pria itu. Dia hanya ingin mengakhiri semuanya, membuat Ilham mengingat masa lalunya lalu dia bisa pergi untuk selamanya dari hidup Ilham dan keluarganya.
"Denis.. aku minta maaf karna sudah mengambil keputusan ini, aku tau aku egois.
Tapi tolong mengerti kondisiku kali ini."
"Kondisi apa Arini? kau akan pergi berdua saja selama seminggu. itu maksudmu?
apa kau tidak berpikir dengan pekerjaanmu di kantor?"
"Sebenarnya aku mau membahas ini dari beberapa hari yang lalu, tapi waktunya selalu tidak pas. Aku sudah mantap ingin mengundurkan diri."
Denis tercengang. ia sampai mengerem mendadak karena kaget.
Mohon dukungannya terus ya, saya tunggu🙏🙏
__ADS_1