
Malam itu Adi tampak sibuk mengacak- ngacak lemari Tita berharap menemukan sesuatu yang bisa memberinya impormasi mengenai keberadaan Tita, tapi tak ditemukan sesuatu yang janggal semuanya biasa saja dan tak ada yang mencurigakan.
Pakaian Tita tersusun rapih hanya sedikit baju yang dibawa Tita dan perlengkapan bayi dan hanya kereta bayi saja yang ditinggalkan Tita.
Pikirannya mulai gusar.
Selintas tersirat di pikirannya untuk melapor pada Polisi, tapi urusan polisi akan semakin ribet dan menyita banyak waktu. Apalagi jika benar Tita ketemu malah Adi akan di laporkan balik sama Tita karena penghianatannya.
Hampir semalam suntuk Yudha menjaga Popy. Keadaan Popy begitu lemah wajahnya pucat pasi akibat pengaruh obat terlarang yang selalu ia konsumsi jika mulai depresi.
Bagaimana Popy bisa berpikir ingin punya anak sedang tingkah dan ahlaknya saja belum memungkinkan ia untuk mengurus seorang bayi .
Yudha tak habis pikir dengan sifat Popy yang selalu berpikir segala sesuatu bisa di beli dengan uang.
Almarhum ayahnya dulu pernah menyarankan Yudha untuk merencanakan bayi tabung tapi dokter tak menyanggupinya karena mental dan rahim Popy yang lemah malah Popy pernah memintanya untuk menikah lagi, tapi Yudha menolaknya dengan tegas. Yudha begitu setia pada Popy sampai merencanakan untuk Adopsi pernah terpikir olehnya, tapi kali itu Popy yang tak menyetujuinya hingga mereka berdua bertemu dengan Tita.
Popy rupanya sudah terlanjur menyayangi bayi Tita yang belum lahir. Entah mengapa istrinya begitu tertarik dengan bayi Tita.
"Pah...."
"Mah....bangun mah...."
Popy mulai sadar. Yudha mengusap - ngusap dahi Popy yang banyak mengeluarkan keringat.
"Pah....tolong panggil Tita pah...."
"Mah...Tita ..u..dah pergi mah..."
"Pergi! pergi kemana pah?" teriak Popy dengan lantang.
"Terus bayinya gimana pah? bayi kita pah!"
"Sudahlah mah.... papah sudah bosan dengan semua ini! bayi...bayi...itu saja yang selalu kamu pikirkan!"
Yudha mulai hilang kendali. Ia sudah tak tahan dengan sikap istrinya setiap hari hanya Tita saja yang dipikirkannya.
Melihat suaminya yang sudah emosi Popy tertunduk dan menangis.
"Dulu papah pernah ngasih saran sama mamah untuk Adopsi! tapi mamah nolak! sebenarnya mau mamah apa sih?"
Popy terdiam mendengar ucapan Yudha yang mulai kasar padanya.
Perdebatan keduanya tak terelakan malam itu. Yudha terus menyalahkan Popy sementara Popy tak terima. Percekcokan keduanya tambah besar. Yudhapun mengalah pergi keluar sambil membanting pintu kamarnya dengan keras.
Direbahkan tubuhnya di sofa emosinya masih bergejolak dalam hatinya, semua masalah nya di mulai dengan kehadiran Tita sampai akhirnya ia memutuskan akan mengembalikan saja Tita pada suaminya walaupun berat tapi terpaksa ia lakukan demi kebaikan Tita dan istrinya Popy.
Keesokan paginya Yudha bergegas menemui Tita di Apartementnya.
Tiba di Apartement Tita terlihat sedang melamun.
Yudha kemudian menyuruh Tita untuk memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas besar.
"Mas, kita mau kemana lagi?"
"Tita....sebaiknya kamu kembali saja pada suamimu."
"Udahlah...turuti saja kata saya."
"Iya mas...sebaiknya saya pulang saja."
Mereka berdua kemudian meninggalkan Apartement. Tita yang sedikit terkejut melihat sikap Yudha yang begitu cepat berubah, tapi meski begitu Tita mengerti dengan keadaan Yudha.
Saat menyetir pandangan Yudha begitu dingin. Sikapnya tidak seperti biasanya yang selalu ramah pada Tita.
__ADS_1
Tita mulai ketakutan melihat mimik wajah Yudha yang begitu kecut tak ada kata-kata lembut yang biasa Yudha ucapkan padanya.
Tita hanya diam. Ia tak berani bertanya pada Yudha apa sebenarnya yang telah terjadi padanya hingga tak terasa sampailah mereka di tempat yang dituju.
Yudha menyuruh Tita keluar dari mobilnya.
"Ayo, biar mas antar sampai rumah sekalian mas akan menjelaskan semuanya pada suamimu."
Dengan perasaan yang masih trauma Titapun turun dari mobil dengan diikuti Yudha.
"Ayolah, kamu jangan takut, ada saya..." ucap Yudha meyakinkan Tita.
Dahi Tita mulai berkeringat melihat ia berada di depan pintu rumah Adi suaminya .
Pagi itu Tita tahu persis Adi belum berangkat dari kantornya.
Tangannya yang mungil mulai mengetuk pintu dengan perasaan cemas, sementara Yudha berdiri di belakang Tita bersiap jika ada sesuatu yang tarjadi di luar dugaan karena ia juga merasa bersalah telah membawa Tita pergi.
Terdengar suara dari dalam membuka kunci.
"Tita!"
Adi begitu terkejut melihat kedatangan Tita, melihat Tita ada di hadapannya Adi serasa bermimpi dirangkulnya Tita dengan kuat istrinya yang selalu ia tunggu setiap hari kini telah kembali.
"Sayang....siapa yang datang...."
Terdengar suara seorang wanita dari arah kamar Adi.
"Siapa dia yang?" teriak Tita yang begitu terkejut melihat keberadaan seorang wanita berpakaian serba minim dengan rambut sedikit kusut, wanita itu tak lain adalah Risna.
"Kamu! jadi ini dia wanita simpanan kamu?"
Tita begitu marah mendapati suaminya yang berani mamasukkan seorang wanita ke rumahnya.
Tita kemudian mendorong Adi hingga Adi terjatuh.
"Yang? dengar dulu penjelasan saya!" teriak Adi.
"Dasar *******!"
Wajah Tita begitu merah melihat wanita yang berada di kamarnya. Tita memburu mendekati Risna dan menjambak rambutnya, Risna menjerit karena kesakitan iapun berusaha melawan dengan menendang perut Tita yang lagi hamil.
Tentu saja Adi begitu kaget melihat istrinya di tendang Risna begitu keras, iapun mendorong Risna hingga Risna tersungkur.
Yudha tak tinggal diam sebuah hantaman dilayangkan ke wajah Adi. Hingga hidung Adi mengeluarkan darah segar.
"Dasar laki-laki ********!"
Yudha membentak Adi dengan lantang.
"Hai! siapa kamu?" teriak Adi kesakitan menutupi hidungnya yang mulai berdarah.
Adi kemudian membalas pukulan Yudha dengan berusaha menendang Yudha, tapi Yudha begitu cepat menahan tendangan Adi dan membali menendang dada Adi hingga Adi terjatuh.
Tita yang kesakitan menahan nyeri di perut akibat tendangan Risna mulai bangkit untuk melerai perkelahian suaminya dan Yudha.
"Mas....sudah mas hentikan!!"
Yudha kemuadian menoleh ke arah Tita yang kesakitan dan langsung memangkunya dan membawa pergi.
"Kurang ajar! mau dibawa kemana istriku!"
Adi berusaha mengejar Yudha dengan kerut wajah yang kesakitan.
__ADS_1
"Pergi saja sana! urus saja pelacurmu!
cih ... dasar ********!"
Yudha meludahi Adi yang membuatnya jijik melihat kekakuannya yang tak punya moral.
Dengan terburu - buru Yudha memasukkan Tita ke mobilnya karena Tita sudah begitu kesakitan sambil terus menekan perutnya.
Adi berusaha meraih Tita yang sudah berada di dalam mobilnya, tapi Yudha mengahalau tangannya dan mendorong Adi hingga tersungkur.
Yudha pun tancap gas mengendarai mobilnya.
"Titaaaa...."
Adi berteriak keras memanggil istrinya Tita tapi mobil Yudha semakin jauh meninggalkannya.
Adi menangis dan berlari menuju rumahnya. diraihnya tangan Risna dan menampar Risna dengan begitu keras.
"Dasar perempuan sialan! pergi kau dari sini!"
Kemudian Adi mendorong dan menyeret Risna keluar dari rumahnya.
"Pergi kau!!
"Sayangg.... maafkan saya..."
Risna berlutut di kaki Adi dan memohon untuk tak mengusirnya. Tapi Adi menghalau tangan Risna dan kembali menendangnya Risna kembali meraih kaki Adi, tapi Adi tak memperdulikannya dan membiarkan Risna. Adipun kembali ke kamarnya dan membawa pakaian Risna dan melemparnya ke wajah Risna.
Pergi kamu! saya tak sudi lagi melihat kamu?"
"Tapi bagaimana dengan bayi kita?"
"Terserah!!
Adi dengan wajah emosi menuju pintu rumahnya dan membanting pintu dengan keras dan menguncinya.
Risna menangis tangannya memegang baju yang kemarin malam dikenakannya.
Rupanya malam itu sengaja Risna menyusul Adi ke rumahnya dan mendapati Tita tak berada di rumah Adi. Risna merayu Adi hingga Adi luluh dan bercinta semalaman dengannya, hingga tak di duga Tita datang di pagi harinya.
Risna kemudian pergi meninggalkan Adi yang marah padanya. Air mata mengucur deras dari matanya, dirinya begitu hancur melihat Adi yang begitu gigih membela Tita ternyata suaminya lebih memilih Tita dari pada dirinya. Jalanan yang begitu sepi jadi saksi penderitaan nya sebagai istri sirih yang hanya sebagai pemuas nafsu sesaat.
Adi berusaha mencari kain untuk mendumpel hidungnya yang terus mengeluarkan darah. Wajahnya begitu murka pada lelaki yang tadi menghantam wajahnya.
Ternyata dugaannya nya selama ini benar adanya bahwa Tita telah berkhianat padanya. Terbukti ia datang dengan seorang pria.
Tapi mengapa Tita pulang ketika ia bersama Risna. Yang terjadi sungguh di luar dugaanya dan begitu berani Risna menendang Tita yang tengah mengandung anaknya. Adi berteriak kencang menyesali dan mengutuk dirinya yang membuat Tita jadi mengetahui perselingkuhannya dengan Risna.
Adi tak kuasa menahan tangisnya antara cinta dan benci pada Tita menghantui jiwanya.
Rasa penasaran pada lelaki yang datang bersama istrinya membuat Adi kalap dan mulai melempar semua barang yang berada di dekatnya, kereta dorong bayipun tak luput dari amarahnya. Adi mengangkat kereta bayi kemudian membantingnya hingga kereta hancur.
"Titaaa.....sayanggg....maafkan saya."
Penyesalan tiada guna kini dirinya tak berdaya karena penghianatannya membuat orang yang dicintainya pergi meninggalkannya.
Sementara Yudha mulai panik melihat keadaan Tita yang sudah mulai pucat terlihat darah segar keluar dari ***********, Yudha semakin panik ponsel yang sedari tadi berdering, sudah tak dihiraukannya demi membawa Tita ke rumah sakit.
Tita mulai mengerang kesakitan darah terus mengucur membuat Yudha khawatir.
"Tita? tahan sebentar lagi kita sampai di rumah sakit!"
Yudha terus menenangkan Tita yang matanya sudah mulai naik ke atas karena menahan sakit di rahimnya.
__ADS_1