
Tiba di rumah sakit. Yudha langsung mengeluarkan Tita dari mobil dan dengan cepat memangkunya. Darah segar terus keluar berceceran.
"Suster....suster...tolongggg...."
Tiga perawat yang kebetulan ada disana
Langsung berlarian menolong Yudha, salah satu perawat berusaha menarik kursi roda yang memang sudah berada di sana.
Tita yang terus mengerang kesakitan memegang erat tangan Yudha begitu kuat.
"Mas....se..la..matkan ...ba...yi...kuuuu..."
Yudha berusaha menenangkan Tita yang terus memohon padanya, sementara tiga perawat berusaha mendudukkan Tita di kursi roda dan memasuki ruang lGD .
"Mas, tolong tunggu di luar."
Salah satu perawat mencegah Yudha untuk masuk.
Hampir dua puluh menit Yudha menunggu hatinya mulai tak tenang dilanda gelisah keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, kedua tangannya di remas_remas karena gelisah.
Tak lama seorang Dokter menghampirinya.
"Pak, bapak siapanya pasien?"
"Saya...."
Belum sempat Yudha menyelesaikan kalimatnya Dokter menyela
"Begini pak, kita harus cepat mengoperasinya untuk menyelamatkan bayinya. Silahkan tanda tangan pormulirnya segera, kita harus cepat menolongnya sebelum terlambat."
Tanpa pikir panjang Yudhapun menandantangani semua persetujuan mengenai pertanggung jawaban akan kondisi Tita yang akan menjalani operasi.
Setelah semua syarat di tanda tangan Dokter pun bergegas kembali menuju ruang lGD.
Satu jam Yudha menunggu berharap dokter memberinya kabar baik, ponsel ditangannya ia gengam. Yudha mulai ragu apakah ia harus menghubungi Popy atau tidak. Melihat kondisi Popy yang belum stabil.
Antara ragu dan binngung kini mulai berkecamuk di benaknya, kali ini ia tak mau membuat keputusan yang salah lagi sebaiknya ia tak memberitahu Popy sampai operasi Tita selesai.
Lampu ruang operasi sudah terlihat berubah kuning menandakan operasi sudah usai.
Yudha langsung bangkit dari duduknya dan langsung memburu Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Selamat pak, bayi bapak baik. Tapi mohon maaf. Bapak harus sabar menunggu, karena bayi bapak harus kami masukkan ke Inkubator sampai keadaan nya normal."
"Terima kasih Dok...."
Yudha begitu erat menyalami Dokter yang telah bersusah payah menolong Tita. Puji syukur Yudha ucapkan dalam hati, air mata tak terasa menetes di pipinya.
Dokterpun mempersilahkan Yudha untuk masuk menemui Tita.
Dengan hati_hati Yudha memasuki ruang operasi. Hatinya berdetak kencang. Dilihatnya Tita yang masih tak sadarkan diri pasca operasi ditemani seorang suster yang menjaganya.
Yudha memandangi wajah Tita yang masih kaku matanya masih tertutup rapat diraihnya tangan Tita kemudian Yudha menciumnya dengan lembut.
"Suster, dimana bayinya?" tanya Yudha yang begitu tak sabar ingin melihat kondisi bayi Tita.
Suster kemudian menunjukan bayi yang ada di Inkubator yang tak jauh dari ruangan Tita.
Seorang bayi mungil terlihat manis dan lucu berada di Inkubator, tubuhnya di penuhi selang yang menutupi bagian mulut dan dadanya.
Yudha menangis bahagia melihat bayi mungil yang begitu cantik. Di usap_usapnya kaca Inkubator dengan tangannya, rasanya ia menyentuh langsung tangan mungil yang menggemaskan.
__ADS_1
Senyum Yudha mengembang melihat bayi mungil milik Tita.
Andaikan itu anaknya entah bagaimana perasaannya Tak dapat di bayangkan.
Berita kelahiran bayi Tita untuk sementara akan ia rahasiakan pada Popy. Bila tiba saatnya tentu ia akan memberitahukan istrinya.
Setelah puas memandangi bayi Tita Yudha kembali menghampiri Tita yang masih belum sadarkan diri.
"Suster, tolong jaga dia, saya akan keluar sebentar."
"Baik pak. Memangnya bapak mau kemana?"
"Saya ada pekerjaan penting, nanti sore saya kembali."
Yudhapun pergi meninggalkan Tita, rupanya ia hendak kembali ke Villa menemui Popy yang sedari Tadi memang Yudha memikirkan keadaan istrinya.
Dengan langkah seribu Yudha berlari memasuki Villa mencari keberadaan Popy. Istrinya.
"Mahh!"
Teriakan Yudha begitu lantang mengagetkan bik Acih yang tengah bersih-bersih.
"Ibu dibelakang tuan."
Yudha kemudian berlari menuju halaman belakang nampak Popy yang sedang duduk santai di kursi taman.
"Mamah...."
Popy menoleh ke arah Yudha yang terlihat aneh.
Tiba- tiba Yudha menggendongnya sambil memutar_mutar tubuhnya membuat Popy kaget setengah mati dengan tingkah suaminya.
Bak adegan romantis di drama sinetron Yudha begitu menikmati kebahagiaanya permintaan istrinya tak diindahkannya sementara Popy yang terheran_heran meminta Yudha untuk berhenti menggendongnya.
Yudha kemudian menurunkan Popy yang kepalanya mulai puyeung akibat Yudha memutar_mutar tubuhnya.
"Mah...papah hari ini sangat bahagia...."
"Papah ini, ada apa sih pah? bikin kaget mamah aja."
"Tunggulah mah, papah nanti mau kasih kejutan sama mamah."
"Ah...bikin mamah penasaran aja! kejutan apa sih?"
Yudha sengaja tak mau menceritakan tentang kelahiran bayi Tita pada Popy, karena memang belum saat nya tapi Yudha berjanji. Akan ia ceritakan bila tiba saatnya.
Waktu tak terasa begitu cepat tiga bulan sudah Tita dirawat bersama bayinya selama itu pula Yudha selalu datang menemui Tita di rumah sakit dan mengurus semua kebutuhan Tita tanpa sepengetahuan Popy.
Yudha akan mengajak Tita dan bayinya ke Villa. Tita pun menyetujuinya bagaimana ia bisa menolak ajakan Yudha yang telah menyelamatkannya, entah apa yang akan terjadi padanya jika Yudha waktu itu tak membawanya ke rumah sakit, berkat Yudha kini bayinya juga sehat.
Malam itu Yudha terlihat gusa, ia tak dapat memejamkan matanya karena saking bahagianya. Sebentar lagi ada seorang bayi hadir di hidupnya, rasanya ia ingin menjerit sekeras mungkin karena bahagia.
"Mah....."
Yudha berusaha membangunkan Popy yang sudah tertidur pulas.
"Ada apa sih pah?" ucap Popy yang masih kantuk.
"Besok papah mau ngasih kejutan sama mamah," bisik Yudha seraya mendekap Popy.
"Mmm...papah, kejutan apa sih pah?"
__ADS_1
Mimik wajah Popy tak menunjukkan senang atau bahagia karena Yudha sering mengatakannya tapi tak pernah memceritakan kejutan apa yang akan ia terima.
Popy pun kembali tertidur, ia sudah mulai bosan dengan tingkah Yudha yang selalu mengatakan kejutan_kejutan.
Yudha hanya tersenyum melihat sikap istrinya.
Iapun bangkit dari tidurnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi ibunya yang sudah sekian lama ia tinggalkan.
Ditanyanya kabar ibunya. Yudha sangat tenang mendengar suara ibunya yang terlihat baik_baik karena memang adiknya Rita selalu menjaganya jika Yudha berpergian. Sebenarnya ibunya tak pernah mengetahui bahwa Yudha mempunyai Villa karena memang Villa itu sengaja ia hadiahkan untuk istri tercintanya Popy.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Pagi itu Yudha akan membawa Tita pulang beserta bayinya semua pekerjaan kantornya sengaja ia percayakan pada karyawannya, karena hari itu sengaja ingin ia habiskan dengan kehadiran seorang bayi mungil yang akan datang dalam hidupnya.
"Mah! awas hari ini mamah gak boleh pergi kemana-mana!"
Popy hanya mengerutkan alisnya mendengar perkataan Yudha yang seperti anak kecil. Popy sebenarnya masih penasaran kejutan apa yang akan diberikan Yudha padanya.
Memang selama tiga bulan terakhir ini. Yudha selalu nampak ceria walaupun Popy masih memikirkan Tita. Harapannya memiliki bayi Tita sudah ia hilangkan dan tak mau lagi mengingatnya.
Popy akan pasrah menerima kenyataan dan jika kondisinya sudah stabil. Ia akan meminta Yudha untuk mengabdosi seorang bayi.
Pagi itu Popy menuruti permintaan Yudha seharian penuh ia akan diam di Villa menunggu kejutan yang akan dia terima.
Waktu menunjukkan pukul 10:00. Popy mulai harap_harap cemas menunggu kedatangan Yudha tapi Yudha belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Rasa penasaran mulai mengganggu pikirannya.
TIBA- TIBA
Sesosok perempuan tepat berdiri di hadapannya. Di tangannya nampak seorang bayi mungil di pangkuannya.
Mata Popy terbelalak melihat Tita yang datang bersama bayinya.
Bibir Popy gelagapan tak tahu ia harus berbuat apa.
"Mah....ini kejutannya," bisik Yudha sambil memegang pundak Popy.
Tita maju satu langkah mendekati Popy yang masih berdiri kaku seakan tak percaya apa yang dilihatnya.
Dengan tangan yang gemataran Popy mulai menyentuh bayi yang dipegang Tita, Popy kemudian mamangkunya dengan hati_ hati tangisannya seketika pecah mendapati tangannya menggendong seorang bayi yang sekian tahun ia dambakan.
Popy masih tak percaya seorang bayi mungil nan cantik ada di pangkuannya harum aroma bau seorang bayi ia hisap begitu dalam, aroma yang begitu ia nanti_ nantikan bibir mungil bayi yang kecil membuat Popy melupakan semua yang ada di dekatnya.
Tita begitu terharu melihat reaksi wajah Popy, begitupun Yudha dan bik Acih yang sedari tadi hanya diam memperhatikan reaksi Popy.
Popypun menjatuhkan tubuhnya ke lantai karena lemas menerima kejutan yang tak disangka_sangka.
"Ya Alloh.....terima kasih...."
Popy begitu bahagia merima kejutan dari suaminya Yudha. Tak ada kejutan seindah ini selama hidupnya.
"Tita....bayi....ini...."
"Iya bu, ibu boleh mengurusnya," lirih Tita yang sudah terlihat segar wajahnya. Pipinya mulai berisi dan rambutnyapun di ikat rapih.
"Benarkah?"
Tita tersenyum dan mengangguk hutang budinya pada Yudha membuat dirinya harus pasrah mempercayakan bayinya untuk diurus bersama Popy.
Tak ada lagi yang tersisa dihidupnya. Adi suaminya sudah begitu kejam menyakitinya untuk apa lagi ia kembali pada Adi, sekarang ia hanya ingin mengabdi pada Yudha yang telah menyelamatkan nyawanya.
Apapun permintaan Yudha sebisa mungkin akan ia lakukan walaupun Yudha meminta nyawanya. Tita akan berikan. Hidupnya kini akan ia habiskan bersama Yudha dan Popy.
__ADS_1