Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Tita Mulai Curiga Pada Suster Darmi


__ADS_3

Tita masih tak mengerti dengan tabiat Yudha, mendadak kasar dan menyebalkan, perubahan sikap Yudha membuat Tita sedikit aneh dan penasaran, sebenarnya apa yang Viona katakan pada Yudha, hingga Yudha berprilaku kasar padanya, tak mau berpikiran macam-macam, Tita mengambil wudhu untuk shalat Dhuha. bagi Tita hanya dengan doa segala masalah dan musibah semoga dijauhkan dari keluarganya.


"Ya, Alloh...ampuni semua dosa dan kesalahan kami dan jauhkan kami dari segala musibah, Aamin..." ucapan doa terakhir Tita ucapkan dengan penuh makna.


Setelah melaksanakan shalat Dhuha Tita bergegas menemui Popy yang tengah asyik menemani Bunga bermain. Tampak Bunga anaknya sangat akrab dengan Popy, Tita begitu bahagia melihat kedekatan Bunga dengan Popy, Titapun menghampiri mereka berdua, dibelainya rambut Bunga dengan lembut.


"Ti, mana Yudha?


"Mas Yudha ada di kamar bu."


"Kenapa? gak sarapan?"


"Entahlah bu, katanya belum lapar."


Tita dan Popy begitu asyik menemani Bunga bermain, sementara suster Darmi memperhatikan kedekatan Tita dan Popy dari sudut ruangan, tangannya mulai mengeluarkan ponsel dari saku bajunya entah apa yang suster Darmi katakan di ponselnya, hanya sepatah dua patah kata suster Darmi kemudian pergi ke dapur, matanya tajam menoleh ke sembarang arah, seperti orang ketakutan, diambilnya gelas kemudian diambilnya sebuah botol yang berisi air yang tak terlalu penuh di dalam botol, kemudian dituangkan sedikit ke dalam gelas, suster Darmi kemudian bergerak cepat menuju kamar Yudha. mertua Tita yang memperhatikan tingkah Darmi hanya bisa mengkerutkan dahinya, bibirnya tak mampu berucap hanya lengannya saja yang bergerak sedikit, memberi isyarat pada suster Darmi, tapi suster Darmi tak menghiraukannya, langkahnya semakin terburu-buru menuju kamar Yudha seraya memegang gelas yang akan diberikan pada Yudha, pintu kamar dibuka perlahan nampak suami Popy tengah tertidur, secepatnya suster Darmi kembali menutup pintu kamar, sesekali matanya melirik ke ruangan dimana Tita dan Popy sedang asyik mengajak Bunga bermain, setelah berada di kamar perlahan suster Darmi mendekati Yudha, tangannya mulai gemetaran gelas ditangannya seakan berat, hingga iapun kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba seperti ada getaran kuat gelas di tangan suster Darmi terjatuh.


"Pranggkkkk...."


Suara pecahan gelas berserakan di lantai, mata suster Darmi seketika terbelalak mendapati serpihan kaca beling dan melukai kakinya hingga berdarah.


Popy dan Tita yang tengah asyik bermain begitu terperanjat mendengar suara sesuatu yang sepertinya suara benda jatuh, mereka berdua langsung beranjak dan berlari mencari asal suara yang sepertinya terdengar dari arah kamar Yudha, di kamar Yudha tampak suster Darmi tengah memunguti serpihan benda yang jatuh.


"Suster! apa yang kamu lakukan di kamar Yudha?" hardik Popy memelototi mata suster Darmi yang terlihat pucat karena ketakutan.


"Ini...bu..sss..aayaaa..." jawab suster Darmi gelagapan.


"Ini apa? beraninya masuk kamar suamiku? memangnya kamu mau ngapain?" bentak Popy yang mulai tersulut emosi mendapati suster Darmi yang begitu berani memasuki kamar suaminya.


Tita hanya diam mematung melihat mimik wajah suster Darmi yang mencurigakan, Tita kemudian mendekati Yudha yang masih tidur

__ADS_1


sepertinya Yudha tak terganggu dengan bunyi yang ditimbulkan dari gelas yang jatuh, matanya masih tertutup rapat.


"Mas...mas...bangun..mas..." lirih Tita berusaha menggoyangkan tubuh Yudha yang kaku.


"Ayo sana? pergi kamu dari sini! tugas kamu menjaga mertua saya! bukan meladeni suami saya! sulut Popy yang geram melihat tingkah suster Darmi.


Popy kemudian memanggil pak Asep untuk membantu suster Darmi membersihkan serpihan pecahan gelas yang berceceran.


"Ada apa bu?" tanya pak Asep begitu khawatir mendengar teriakan Popy yang lantang.


"Coba itu bantu suster Darmi!" seru Popy, tangannya menunjuk ke arah suster Darmi.


"Waduh! apa yang terjadi? ujar pak Asep yang terheran- heran, begitu banyak ceceran kaca yang berserakan.


Pak Asep kemudian membantu suster Darmi yang menunduk karena Popy memarahinya, kakinya yang berdarah tak dirasakannya, kali ini aksi suster Darmi ketahuan oleh Popy, yang pastinya akan menimbulkan kecurigaan terhadapnya.


"Sana kamu! obati kakimu! biar pak Asep yang beresin!" tegur Popy menatap wajah suster Darmi dengan ketus.


Sementara Tita berusaha membangunkan Yudha, hingga akhirnya Yudhapun terbangun walau matanya terbuka sedikit.


"Mmm, ada..apa..ini...." guman Yudha mulai membuka matanya, samar-samar terlihat wajah Tita.


"Mas...bangun mas...." lirih Tita mulai khawatir.


Popy pun kemudian mendekati Yudha dan langsung memeluk suami nya seraya menitikkan air matanya.


"Pah! papah..baik-baik, kan?" lirih Popy menciumi kening Yudha dengan lembut.


Yudha agak kaget mendapati kedua istrinya berada disampingnya, dipandangnya kedua istrinya dengan penuh heran.

__ADS_1


"Ada apa ini? tegur Yudha meracau, karena pikirannya masih setengah sadar.


"Gak ada apa-apa mas, ayo bangun! udah siang. Mas kan belum makan...." ucap Tita lembut.


Popy kemudian menyenderkan tubuh Yudha di dadanya, matanya menangis mengenai wajah Yudha, membuat Yudha kaget, Yudha kemudian menyeka air mata Popy dengan penuh kasih sayang.


"Mah, mengapa mamah nangis?" keluh Yudha.


"Pah! sebaiknya papah hati-hati mulai sekarang, mamah gak mau kehilangan papah! biar mamah aja yang pergi duluan!" rintih Popy sendu.


"Apa yang mamah katakan? tegur Yudha yang langsung melepaskan sandarannya dari dada Popy.


"Bu! jangan berkata begitu bu! apa maksud ibu?" keluh Tita sembari memegang pundak Popy.


Tangisan Popy semakin menjadi, bibirnya begitu berat untuk mengatakan kejujuran yang selama ini ia pendam, penyakitnya yang sekian lama menggerogotinya membuat Popy tak mau menjadi beban pikiran Yudha dan Tita.


"Mah...katakan, apa sebenarnya yang terjadi mah?" lirih Yudha penasaran, dengan perkataan Popy.


"Gak ada apa-apa pah, sebaiknya papah makan dulu ya?" ucap Popy beranjak dari tempat tidur dan langsung menarik lengan Yudha untuk mengajaknya makan siang.


Yudhapun kemudian beranjak dan menggandeng kedua istrinya untuk makan siang bersama, sementara Bunga masih asyik dengan bonekanya, bocah kecil itu langsung merengek ketika melihat Yudha. Dengan penuh kasih sayang Yudha menggendong Bunga dan membawanya ke ruang makan.


Ibunda Yudha sudah nampak di ruang makan, tangannya melambai memanggil Yudha dengan isyaratnya, Yudha kemudian mendekati ibunya dan menundukkan kepalanya di bahu ibunya.


Ibunda Yudha langsung mengepuk- ngepuk punggung Yudha, membuat Yudha begitu iba melihat keadaan ibunya yang lumpuh.


Suster Darmi yang berada di belakang ibunda Yudha hanya menunduk, tak mau menunjukkan wajahnya pada Tita yang sedari tadi memperhatikan suster Darmi.


Ada rasa curiga di hati Tita pada sosok suster Darmi, dari semenjak Tita berada di rumah Yudha suster Darmi begitu pendiam, tak pernah sekalipun menyapa Tita atau sekedar bertanya pada Tita, kerjaannya hanya mengurus ibunda Tita saja selebihnya Tita tak pernah tau apa kegiatan suster Darmi dibelakang keluarga Yudha.

__ADS_1


Tapi Tita tak mau menduga-duga, tak baik berprasangka buruk pada seseorang yang belum terbukti kebenarannya, tapi setelah kejadian yang baru saja dialaminya, sebenarnya sudah cukup bukti yang kuat bahwa suster Darmi memang mencurigakan dengan ulahnya yang beraninya memasuki kamar Yudha dan apa tujuannya? untuk apa suster Darmi membawa segelas air ke kamar Yudha?


__ADS_2