
Arini dan Denis semakin dekat saja.
Hampir di setiap kesempatan mereka selalu berdua. Tentu saja itu membuat Bu Zahra senang. Namun Arini selalu menegaskan bahwa hubungannya dengan Denis hanya sebatas sahabat saja.
Hal itu tak mengurungkan niat Bu Zah untuk menyatukan mereka
Hubungan mereka mulai mendapat ujian. Di kantor, Arini selalu mendapat gangguan dari atasannya, Tiara.
Sedangkan di rumah dia harus menghadapi kelakuan Shofia yang menganggapnya telah merebut Elang darinya.
Di sisi lain, Ilham semakin putus asa, setiap hari ia hanya memikirkan bagaimana cara untuk kembali lagi pada Arini.
Anita semakin marah karena Ilham menyia-nyiakan dirinya.
Hingga timbul niatnya untuk mencelakai Arini.
"Den, sebaiknya kita agak menjaga jarak. aku tidak mau menyakiti hati Shofia."
kata Arini saat mereka baru tiba di kantor.
"Kau aneh, bukankah kau minta aku berakting jadi ayah dari anak mu? itu berarti kita harus berakting jadi kekasih juga."
Arini terdiam. Ia membenarkan kata-kata Denis. Tapi harus bagaimana dia memberi pengertian pada gadis belia itu.
Denis membantu menenteng satu bok kotak kue pesanan dari teman-teman mereka.
"Kue mu banyak penggemarnya Rin, kenapa tidak membuka gerai saja?"
Arini termenung sambil terus melangkah.
Ia memikirkan kata-kata Denis.
"Tapi bagaimana aku bisa mengatur waktu antara membuat kue dan bekerja? apalagi sedang hamil begini." gumamnya.
"Kau sea saja orang yang menungguinya. lalu kau tinggal kerja."
usul Denis selalu masuk akal.
Denis benar, dia harus memanfaatkan semua lahan bisnis yang memungkinkan baginya. itu untuk masa depan anaknya kelak. Arini tidak akan mengemis nafkah dari Ilham.
"Nanti aku pikirkan lagi!"
Arini megambil alih bawaan Ilham dan menuju ruangannya.
Tiara diam-diam memperhatikan mereka.
"Bagaimana caranya aku mengusir wanita itu dari sini."
"Ayo kita keluar makan siang Rin." ajak Susi.
" Sebentar ya, aku rapikan. ini dulu."
Setelah merapikan pekerjaannya mereka melangkah ke kantin.
"Kau pesan apa?" tanya Susi.
"Perut ku kurang bersahabat sejak semalam.
Jadi, aku mau nasi putih sup hangat saja!"
Susi mengangguk dan memesan makanan.
Tiara yang sudah hendak pergi mengurungkan niatnya. niat jahatnya mulai tumbuh.
Tiara balik lagi mendekati pemilik kantin. lalu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan mereka.
Ia tersenyum penuh tanda tanya.
Dengan langkah tenang dia meninggalkan tempat itu.
"Perutku tiba-tiba melilit, ya?" ucap Arini sendiri.
Saat itu jam kerja sudah di mulai.
Arini memasuki toilet wanita.
__ADS_1
Sedang di pakai, ada kerusakan. itu saja yang baca di setiap pintu.
Sedangkan perutnya semakin melilit tak tertahankan.
Arin teringat toilet lama yang letaknya agak di belakang.
Ia berlari kesana. Benar saja, tempat itu terlihat sepi.
Tanpa pikir panjang dia masuk dan melepaskan sesuatu yang sudah mendesak ingin keluar.
Arini agak bergidik melihat sekitarnya yang sudah hitam dan berlumut.
"Alhamdulillah.." ucapnya lega.
Namun ia merasa heran saat membuka pintu.
"Pintunya tidak bisa di buka!"
"Arini mencoba dan mencoba namun tidak berhasil.
Pintu itu seperti terkunci dari luar.
Sekuat tenaga dia berteriak namun tidak ada satupun yang mendengarnya.
Jampir dua jam dia berteriak dan menggedor pintu sampai suaranya serak.
"Ya Allah tolong datangkan kuasa mu!" ucapnya dengan keyakinan.
Sementara itu, saat menyadari Arini tidak ada di tempatnya. Susi merasa heran.
"Kemana Arini, kok tidak bilang-bilang mau keluar, apa dia saki?"
"Ia mencoba menghubungi ponselnya.
"Kebiasaan, ponselnya di tinggal lagi."
Susi menenangkan diri sesaat. Tapi menyadari Arini tak kunjung datang ia menjadi gelisah.
"Apa aku tanya pak Denis saja, ya? siapa tau Arini sedang bersamanya"
"Apa Arini. bersama pak Denis saat ini?" tanyanya ragu.
"Apa maksudnya? ini, kan ponsel Arini? di mana dia?" Denis merasa curiga.
Susi menceritakan keanehan yang terjadi.
"Baik lah, saya kesana!"
Bergegas Denis menemui Susi.
"Sudah di cari di toilet?" tanya Denis khawatir.
"Sudah, pak." Lalu Susi menggeleng
Denis merasa cemas. Dia bertanya pada orang yang sekiranya melihat Arini. Namun semua menggeleng.
Lalu ia teringat cerita Susi tentang Arini yang mengeluh perutnya kurang enak.
Denis berlari ke toilet belakang di mana Arini terkurung.
Saat Denis membuka pintu, Arini sudah lemas dan menyender di tembok.
Tanpa bertanya apa pun, Denis mengangkat tubuh Arini dan membawanya ke ruang perawatan.
Tim medis langsung memeriksa kondisinya.
"Untungnya cepat di temukan, kalau tidak dia bisa kehilangan oksigen dan membahayakan janinnya."
Gigi Ilham gemeretak menahan amarah.
Ia berjanji akan memberi pelajaran jika terbukti apa yang menimpa Arini karena sebuah kesengajaan.
"Rin, kau tidak apa-apa?" Denis menggenggam tangan Arini yang lemah dan terasa dingin itu.
Arini hanya mengangguk.
__ADS_1
Beberapa orang datang untuk melihat keadaannya. Termasuk Tiara.
"Apa yang terjadi pak Denis?" saya ikut prihatin!" ucap Tiara dengan wajah serius.
"Saya berjanji akan mematahkan tangan orang yang sudah sengaja menguncinya di toilet!"
jawab Ilham dengan geram, membuat hati Tiara menciut.
Arini memegang tangan Denis. Ia menggeleng tanda agar Denis tidak memperpanjang masalah.
Denis mengantar Arini pulang lebih awal.
Arini mencoba menghibur Denis yang terlihat masih murung.
"Sudah lah, jangan terlalu di pikirkan. Toh aku baik-baik saja, kan?"
"Aku tidak bisa tidak memikirkannya,
kau dengar tadi kata dokter? bagaimana kalau aku tidak segera menemukanmu? aku tidak bisa memaafkan orang yang telah mengancam jiwa anak ku!". Denis berbicara dengan berapi-api.
Arini tertegun. Baru saja Denis bilang kalau anak yang di kandungnya adalah anaknya.
"Maaf, aku memang menganggap anak itu adalah anak ku sendiri."
"Sudah lah jangan di bahas lagi, kita sudah hampir sampai. aku mohon jangan ceritakan semua pada Bu Zah, ya!"
"Tapi kenapa? Bu Dhe sangat menyayangimu juga anak mu itu!"
"Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir.
kau mau janji?" Arini mengacungkan kelingkingnya.
Denis terpaksa menyanggupi.
Bu Zah menyambut mereka dengan heran.
"Ada apa jam segini kalian sudah pulang? kau tidak apa-apa, Rin?" mata Bu Zah menyapu perut Arini.
"Saya;hanya merasa pusing sedikit, Bu. saya hanya perlu istirahat saja."
"Benar Lang?" cecar Bu Zah menatap Denis alias Elang.
Denis hanya mengangguk dengan wajah masih tegang.
Sementara itu di kediaman keluarga Bu Lastri.
Anita sedang merajuk pada suaminya.
"Mas Ilham dari mana saja? aku sedang hamil, Mas. kenapa mas Ilham pergi-pergi terus! aku juga butuh di temani!"
Anita sudah hilang kesabaran. Dia mengguncang tangan Ilham.
"Jawab aku! mau sampai kapan kau akan mengejar wanita itu terus? sampai kapan?"
Ilham tidak menunjuk kan reaksi sedikitpun.
Dia seperti orang linglung yang tidak nyambung di ajak bicara.
Bu Lastri datang tergopoh mendengar keributan itu.
"Ada apa lagi?"
ia tidak melanjutkan bertanya
saat melihat wajah Anita yang berurai air mata.
Bu Lastri menarik nafas panjang.
"Kenapa keluargaku jadi seperti ini? putraku seperti orang tidak waras, putriku semakin jauh dari ku. Dan menantu satu-satunya ini?"
"Apakah benar ini yang namanya karma?
Ah, tidak mungkin!"
💞Minta likenya🙏
__ADS_1