Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 94


__ADS_3

Rini sangat terenyuh dengan nasib Anita.


Ia pandangi sahabat yang di depannya itu.


Matanya mulai cekung, kerutan halus halus mulai terlihat di sana sini.


Sudah begitu kenapa tega pria yang menurut Anita sendiri ayahnya Cila menggarapnya. Sungguh biadab.


Tentang keputusan Ilham, Anita sangat menyayangkannya.


Kenapa dia tidak berkaca pada dirinya sendiri? Ia tega mengusir Anita dalam kondisi seperti itu dengan membawa Cila sekaligus, apa salah anak itu?.


,"Kau tidak boleh kemana-kemana.. sementara tinggal lah disini. aku akan membicarakannya pada Denis."


"Tidak, Rin. kau mau menolong Cila saja aku sudah bahagia. Tentang diriku, aku sudah tidak punya harapan hidup lagi. Dengan penyakit yang ku derita, rasanya hanya tinggal menunggu ajal menjemputmu." jawab Anita pasrah.


"Kau jangan pesimis dulu, tidak ada yang tidak mungkin bagi yang di atas.


Manusia boleh berencana, dokter boleh memvonis, tapi kalau Allah sudah berkehendak lain, keajaiban alam terjadi."


Arini memberi harapan pada Anita.


"Tentang Cila, kau tidak usah khawatir. Aku janji, dia akan tumbuh baik-baik saja."


Mata Anita mengerjap menatap Arini, kau malaikat penolongku, Rin.


kini aku lega, aku rela menjalani sisa usiaku dengan tenang.


"Aku mau pergi, aku titip Cila..." ucapnya dengan senyum tertahan.


"Tidak..! Kau tetap disini saja!" bentak Arini.


"Aku tidak mau merepotkan mu lagi,


kau terlalu baik, Rin."


"Lalu kau mau kemana dengan keadaan seperti ini?"


Anita tersenyum memperlihatkan giginya yang berderet rapi.


Ia menggeleng pasrah.


"Betul kata Arini, kau tidak boleh pergi, kami. Akan mengupayakan perawatan untuk mu."


Denis yang sedari tadi mendengar percakapan kedua wanita itu secara diam-diam, merasa prihatin.


"Betul kata, Denis. Banyak jalan kalau kita berusaha, kau tidak boleh menyerah. ingatlah Cila...!" kata Arini dengan sorot mata memohon.


Anita akhirnya menyerah, ia bersedia tinggal bersama Arini di rumah itu.


Di kamarnya, Arini menangis di pelukan Denis.


"Sangat tragis nasib yang menimpa Anita.


Dari kejadian ini aku bisa menyadari betapa beruntungnya aku di bandingkan dia.."


ia terisak di dada Denis.


"Aku akan menghubungi temanku, dia aktifis yang khusus membantu para penderita penyakit itu."


Malam itu Anita bisa tidur dengan tenang. ia tak berhenti mengagumi kebesaran hati Arini.


Esoknya, Arini dan Denis sudah siap di meja makan untuk sarapan. di sana sudah duduk pula Bu Zah.


Arini mengurungkan niatnya untuk menyuap makanan karna ada yang menekan bel.

__ADS_1


"Mbak, Nilam..?" Nilam langsung menerobos masuk saat Arini membukakan pintu.


Nilam terus mendekati Bu Zah di meja makan tanpa memperdulikan Arini.


"Bu, aku mohon maaf.. Ucapnya langsung bersimpuh di kaki Bu Zah.


"Ada apa, Nil? Kau menangis?" sapa bu Zah khawatir.


"Ibu, aku sudah bersalah.. Aku telah menyebabkan ibu meninggalkan rumah.


Elang... aku tau kau pasti tidak sudi melihat mbak lagi. tapi bagaimanapun, kita tetap saudara."


"Ada apa, mbak? Tidak usah melenceng sana sini..! Katakan ada apa?" tanya Denis tak sabar.


"Rumah kita sudah di sita, bank. Aku jelas tidak mampu melunasi hutang sendirian. Ini, kan hutang mas Pras.." ucapnya tanpa malu.


Denis betul-betul gemas melihat tingkah Nilam.


"Kenapa hanya hutang, mas Pras? Bukannya yang menghabiskannya kalian berdua?" ucap Denis sinis.


"Iya, siih.. Tapi aku hanya wanita, tanggung jawab, kan tetap pada pria." ucapnya tanpa rasa malu.


Bu Zah hampir tidak bisa bernafas mendengar rumahnya di sita, Bank.


"Rumah itu adalah peninggalan suamiku satu-satunya. dan apa yang akan ku katakan pada adik-adiknya Pras nanti.." Bu Zah tersedu.


"Iya, waktu mbak Nilam pegang uang, sombongnya minta ampun, sampai mengatai aku bukan saudara sedarah lah.. Tapi saat dalam kesulitan seperti ini baru datang mengaku saudara." sungut Denis. Nilam hanya tersenyum salah tingkah.


"IYa, mbak ngaku salah tentang itu, lupakan lah yang sudah berlalu kita bisa mulai dari awal lagi. Karna kita sudah satu keluarga, tolong bantu carikan jalan keluarnya."


Mata Nilam menatap Denis dan Arini.


'Jalan apa lagi? Kita bukan orang kaya yang banyak properti." kilah Bu Zah.


"Bagaimana kalau surat tanah di pinggir lapangan itu, Bu?" kata Nilam tiba-tiba.


Benar benar wanita bermuka tebal. Setelah apa yang dia lakukan, masih sempat-sempatnya mengingat tanah warisan.


"Mbak, uang yang kemarin saja tidak bisa kau lunasi, sekarang mau menjaminkan sertifikat lagi? Lalu akan di bayar pake apa?" sergah Arini marah.


"Itu, kan hanya usul saja. Kalau tidak setuju juga tidak apa-apa, tidak perlu nyolot begitu." tukas Nilam tidak suka.


"Kalau memberi ide itu yang masuk akal, yang brilian.. Itu namanya menjebak ke hutang yang lebih besar." ucap Denis membela Arini.


Di saat yang sama, Cila datang ke meja makan.


"Eeh, Cila.. Ayo sini! Mana ibumu?"


Gadis kecil itu hanya menunjuk kamar tempat Anita istirahat.


Nilam menelisik keadaan Cila,


"Siapa dia? anak adopsi?"


"Dia putriku!" jawab Arini cepat. Ia tidak suka ada yang memandang rendah pada Cila.


"Putrimu? Sejak kapan? Bukannya kau mandul?" ucap Nilam dengan enteng.


"Jaga bicaramu, mbak.!" Denis hampir hilang kendali menghadapi Nilam.


"Tidak usah marah, Lang.. apa yang aku bilang itu benar, kan? coba ingat berapa lama sudah kalian menikah? Jangan -jangan Arini belum bisa melupakan mantan suaminya.." ucap Nilam membuat Arin hilang kesabaran.


Arini menangkap tangan Nilam dan menghempaskannya.


"Kau jangan sembarang bicara!"

__ADS_1


"Tidak usah baperan.. Bukannya benar begitu!" imbuh Nilam lagi.


"Sudah, sudah..! Kalian jangan bertengkar,r!' teriak Bu Zah.


"Jadi gimana, Bu? boleh, ya aku pinjam surat tanah itu?"


"Tidak bisa Nil...!"


"Kenapa, Bu?


"Kau tidak perlu tau alasannya..!" suara Bu Zah tegas.


Nilam terlihat kecewa


"Waktu ada uang ibu di tendang, tidak ada uang langsung datang." sindir Denis, namun Nilam tidak tersinggung juga.


"Lang, kau pasti punya simpanan, kan? pinjemin, Mbak ya..?" rengeknya tanpa malu.


"Seandainya aku ada uang dan pinjemin mbak Nilam, pasti bukan untuk bayar hutang, tapi untuk bersenang-senang."


"Tidak, mbak janji tidak akan begitu."


Jawabnya meyakinkan


"Tidak ada, mbak. Aku hanya bilang seandainya saja.." ledek Denis.


Arini menyenggol lengan suaminya agar diam.


"Aku tau, kalian pasti punya banyak tabungan, tapi sengaja tidak membantu saudara yang membutuhkan." omelnya tak suka.


"Lalu bagaimana dengan bisnis salonnya, mbak?" tanya Arini.


Nilam terdiam sejenak.


"Baik, lancar kok." jawabnya percaya diri.


"Berarti ribut-ribut di medsos tempo hari itu apa, ya Rin?" Denis pura-pura tidak tau kejadian yang menimpa salon Nilam.


Nilam membuang muka dan mengalihkan percakapan.


"Kasian mas Pras, Bu. apa hati ibu tidak terketuk untuk membebaskan putra kandung ibu itu?" pancing Nilam lagi.


"Jangan menyinggung soal hubungan darah lagi. Kalau boleh memilih, aku lebih memilih


Elang menjadi putraku. Tentang Pras, biarkan yang terjadi padanya jadi pelajaran baginya. Aku tidak akan membebaskannya dengan uang!" suara Bu Zah terdengar tegas.


"Berarti ibu lebih memilih Elang daripada mas Pras?" ulang Nilam lagi.


Bu Zah mengangguk pasti.


"Bukankah kau juga sudah mengusir ibu dari rumah?"


"Jadi intinya, ibu tidak mau membantu? Biar gampang aku bilang pada mas Pras kalau ibunya sudah tidak perduli lagi padanya." ucapnya mengancam.


"Bilang saja.. Bilang juga bahwa kau sudah mengusir ibunya dari rumahnya sendiri!"


Nilam meraih tas kecilnya, dan pergi dengan menggerutu.


Arini menepuk pundak Bu Zah pelan.


"Yang sabar, Bu."


"Benar-benar tidak berubah anak itu, banyak musibah yang menimpanya bukannya membuat dia sadar, malah makin menjadi."


ratap Bu Zah sedih.

__ADS_1


.


.


__ADS_2