Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 95


__ADS_3

Sepeninggal Nilam, Bu Zah masuk ke kamarnya.


Saat keluar, di tangannya sudah membawa sebuah map.


"Selama ini Bu Dhe tidak pernah menyinggung masalah ini, karna memang ini amanat. Tapi Bu Dhe tidak sanggup lagi menjaganya.


Bu Zah duduk kembali di meja.


Ia menyodorkan map itu ke Denis.


"Terimalah ini... !"


"Apa ini Bu Dhe?"


"Itu adalah surat tanah yang di dekat lapangan, itu milik Rahmat ayahmu."


Denis tercengang.


"Maksud Bu Dhe?" Denis semakin bingung.


"Ayahmu berpesan agar memberikannya saat kau sudah menikah dan punya anak. Tapi Bu Dhe sudah tidak sanggup lagi menjaganya.


Wajah Bu Zah terlihat sedih.


Denis membuka map itu perlahan.


Matanya terbelalak, tanah kosong seluas dua hektar di dekat lapangan itu atas namanya?


"Elang tidak mimpi, kan Bu Dhe?" tanyanya tak percaya


"Tidak, Lang. Ayah mu sengaja memindah kan hak kepemilikan atas namamu sebelum dia meninggal dalam kecelakaan yang tragis itu.


Bu Dhe masih ingat saat saat yang mengerikan itu terjadi.


Rahmat, adik Bu Dhe satu-satunya meninggal tertabrak truk besar. Saat itu usiamu baru lima tahun. Sedangkan ibumu meninggal saat melahirkan mu."


Arini ikut terharu mendengar kisah hidup keluarga suaminya. Ia menggenggam tangan Denis dengan erat.


"Selama ini Bu Dhe tidak pernah menceritakan semuanya termasuk pada anak-anak Bu dhe sendiri, sampai mereka menganggap tanah itu harta warisan mereka."


Denis tidak bisa berkata-kata.


"Kau harus menjaganya dengan baik. Banyak orang mengincar tanah itu. sudah banyak pengusaha datang ingin membelinya tapi Bu Dhe tetap mempertahankannya. Sekarang tanggung jawab itu Bu Dhe serahkan padamu. Walaupun kau belum punya anak seperti pesan almarhum ayahmu, Bu Dhe percaya kau mampu menjaganya, karna kau bijaksana.." Bu Zah menepuk pundak keponakannya dengan lembut.


"Terimakasih Bu Dhe, Bu Dhe sudah menjaga amanat Syah begitu lama."


Denis Merangkul Bu Zah. Bu Dhe nya membelai rambutnya dengan lembut.


"Kau adalah putraku...!" ucapnya pelan.


"Lalu bagaimana dengan mas Pras Bu Dhe"


Bu Zah menarik nafas panjang.


"Bu Dhe sangat prihatin atas musibah yang menimpanya, tapi Bu Dhe tidak ingin membiarkannya tenggelam dalam kesalahannya.


Biarlah, jeruji besi jadi tempat merenungi dirinya."


"Kalau begitu, Elang mau bersiap ke kantor dulu, ya..!"


Keluarga kecil itu pun bubar.


Di kamarnya, Arini sedang menyiapkan perlengkapan kantor Denis.


Ia sempat mengeluh pusing sebelum akhirnya jatuh di ranjang.Denis yang melihatnya berteriak kaget


"Rin, kau kenapa?"


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja pusing sekali." keluhnya.

__ADS_1


Denis menidurkan istrinya, menaikkan kakinya.


" Ke dokter, ya?" tawarnya dengan lembut.


Arini menggeleng.


"Tapi kau terlihat pucat.."


Arini menggeleng lagi.


"Terus, apa yang kau inginkan?" Denis membelai rambut Arini.


'Dirimu...!" jawab Arini singkat.


Denis tersenyum simpul.


"Aku tidak ingin yang lainnya, tapi kenapa aku ingin kau di sini saja menemani ku, please .. Jangan ke kantor hari ini!" ucapnya memohon dengan tatapan memelas.


Denis tidak mengerti.


"Kau, kenapa, Rin? Tumben manja seperti ini?" goda Denis, membuat Arini tersipu.


Sebenarnya dia juga tidak mengerti, kenapa tiba-tiba ingin di temani Denis seharian di kamar.


"Aku juga tidak mengerti, tapi kalau kau tidak turuti, aku bisa menangis beneran lho..!" kata Arini sambil tersipu.


"Baik, baik lah...!'" ucap Denis sambil tertawa.


Denis melepas sepatunya yang sudah terpasang rapi.


Melihat Denis mendekatinya di tempat tidur, wajah Arini terlihat bahagia.


"Aku tidak mau yang lain, aku hanya ingin di temani di rumah. Padahal aku juga harus ke butik. tapi, entah lah... Aku juga tidak mengerti." Arini menggeleng bingung.


"Apa yang harus sku katakan pada Bu dhe, kalau dia bertanya kenapa aku belum berangkat juga?" ucap Denis jenaka.


"Jangan sampai ibu tau, Anita juga..aku malu." ucap Arini pelan.


"Kenapa harus malu? Kau melakukannya pada suami mu, bukan orang lain. Lagian aku suka kok, sering-sering saja kayak gini." Denis memeluk wanita itu dengan erat.


"Bagaimana dengan pekerjaan kantor mu?"


Itu gampang, aku punya asisten, kan? Apa gunanya dia kalau dalam keadaan seperti ini tidak bisa di andalkan." ucap Denis sambil mengeratkan dekapannya.


"Kita lanjuti usaha kita, yuk!" bisik Denis di telinga Arini.


"Usaha?"


"Usaha yang selalu tertunda karna kau sibuk menolong orang terus."


Arini yang menangkap maksud Denis jadi tersipu.


"Mau, ya..?"


"Tapi ini masih pagi." Arini mengingatkan.


"Ini resikonya karna kau sudah menahanku


untuk tidak ke kantor."


Arini tidak bisa mengelak lagi. Ia mengangguk malu.


Hal yang memang dia harapkan adalah bersama Denis seharian.


Denis langsung bersorak kegirangan.


Dia sudah bersiap melakukan aksinya saat pintu di ketok dari luar.


"Lang, Arini.. Kalian tidak bekerja?" suara Bu Zah menghentikan aktivitas mereka.

__ADS_1


Arini mendorong tubuh Denis dan bergegas membuka pintu.


"Bu Dhe, aku kurang enak badan, makanya aku minta Denis untuk tidak ke kantor..." ucap Arini cengengesan.


"Kau sakit?" Bu Zah meraba kening Arini.


"Hanya meriang saja, Bu.."


"Ya, sudah. Biar Elang menemanimu hari ini." Bu Zah berlalu dari kamar itu.


"Arini terlihat pucat, melihat gejalanya seperti orang sedang hamil, apa mungkin dia sedang hamil? mudah-mudahan saja firasatku benar." Bu Zah terkikik sendiri.


***


Sementara itu di tempat lain, Nilam sedang bicara serius dengan Pras.


"kau tidak berbohong, kan? Aku menyangka ibuku tega melakukan ini padaku." gumamnya perlahan.


"Mana mungkin aku bohong, mas. Apa untungnya buatku? Lagian kau tau sendiri bagaimana sayangnya ibumu pada Elang selama ini." ucapnya sinis.


Nilam berusaha mencuci otak Pras agar membenci Denis dan ibunya sendiri.


"Elang.. Kau benar-benar sudah merampas semuanya dariku..!" Pras mengepalkan tangannya. Rasa dendam mulai membakar hatinya.


"Bukan itu saja, bahkan si Elang itu terang terangan bilang tidak sudi membantu mas Pras keluar dari sini, padahal sebenarnya dia mampu, tapi tidak mau melakukannya."


"Ini biasanya, setelah di besarkan oleh ibuku..


Was saja kalian. kalau surat tanah dekat lapangan itu sudah ku dapatkan. Aku akan membuat perhitungan pada kalian berdua!" ucapnya dengan amarah.


Nilam begitu senang melihatnya,


"Kau harus secepatnya mendapatkan surat penting itu!" perintahnya pada Nilam.


"Susah, mas... Ibu membawanya ke tempat Elang."


"Ibu bisa melakukan ini padaku, tanah itu adalah warisan peninggalan ayah, aku berhak mengambilnya dari ibu!"


"Betul, mas.. Kalau di minta secara baik-baik tidak bisa juga, rampas saja, toh itu haknya mas Pras juga."


"Tunggu aku bebas dari sini. Aku akan tunjuk kan pada mereka siapa Prasetyo sebenarnya."


"Tapi kapan kau bebas, putusan hakim saja belum di jatuhkan. Menurut pengacara waktu itu, kasus mu sangat berat.. Mustahil bisa bebas dengan mudah." keluh Nilam sambil menghempaskan kakinya di lantai.


"Makanya Carikan pengacara yang lebih hebat!"


"Pengacara hebat? Dari mana uangnya? Usaha tidak ada, bisnis hancur, rumah di sita, sedangkan persediaan uang semakin menipis." bentak Nilam.


Hal itu mengundang perhatian petugas.


"Ibu, jam besuknya sudah habis."


"Ya, sudah. Aku pulang dulu..!" ucapnya sambil bangkit meninggalkan Pras sendirian.


"Percuma saja, dasar pria tidak bisa di andalkan!" omelnya sambil menyetop taksi.


Nilam benar'-benar kelabakan, Dia terpaksa membawa Nathan tinggal di rumah kontrakan sejak rumah Bu Zah di sita.


Semua musibah yang sudah menimpanya tidak membuatnya sadar juga.


Bahkan ia semakin menjadi, setiap kali di ingatkan oleh Nathan ia selalu marah tidak terima.


"Kau masih anak ingusan yang bau kencur. Sok-sok mau menasehati ibu." omelnya.


"Ya, sudah. Ibu memang sudah berubah.. Di mata ibu hanya ada uang dan uang saja...!" jawab Nathan sambil membanting pintu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2