Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Kemarahan Mertua Popy


__ADS_3

Pagi itu Yudha begitu tak bersemangat kejadian semalam membuatnya gelisah kata_kata Popy yang menyarankan Tita untuk menikah lagi mulai mengganggu pikirannya, bagaimana Popy bisa berpikiran sepicik itu. Rasa trauma yang dialami Tita selama rumah tangga bersama Adi masih terasa sakit di bathinnya.


"Pagi tuan."


Bik Acih yang baru tiba membuyarkan lamunan Yudha.


"Ehh bibi..."


"Tuan? kok sepi? belum pada bangun ya?"


Bik Acih yang cerewet terus saja bertanya sambil matanya menoleh ke arah kamar Popy yang masih tertutup.


"Bi! suara teriakan Popy membuat bi Acih terhentak kaget .


" Iya bu."


Bik Acihpun lari terburu_buru menghampiri Popy yang memanggilnya.


Dilihatnya Popy tengah membereskan tas dan kantong besar berisikan baju_baju dan beberapa pakaian bunga.


"Bu. Ari ibu teh mau kemana?" sahut bik Acih penasaran, begitu banyak baju yang di bawa Popy.


"Saya mau pulang bi."


"Tapi bu, itu neng bunga kan...."


Popy terlihat kesal melihat bik Acih yang terus saja memberi pertanyaan padanya iapun menyuruh bi Acih untuk menyiapkan segala kebutuhan Bunga.


"Mah. Mamah mau kemana?"


"Mamah mau pulang dulu aja pah. Sekalian mengenalkan Bunga pada ibumu."


"Kamu sudah gila ya? memangnya apa yang mau kamu katakan pada ibuku?"


" Bilang aja pah, kita sudah ngadopsi bayi pasti ibumu senang. Mamah sudah bosan sama ibumu yang selalu menekan mamah."


"Mamah ini! memangnya Bunga anak Adopsi ?"


Yudha berusaha merebut Bunga dari pangkuan Popy, membuat Popy marah dan mendorong Yudha dengan satu tangannya.


Pertengkaran hebat lagi_lagi terjadi. Popy semakin keterlaluan dengan seenaknya ia mau membawa Bunga ke rumah Yudha untuk di tunjukan pada ibu Yudha yang memang dari dulu menginginkan bayi.


Entah apa jadinya jika ibunya mengetahui bahwa bayi yang di bawa Popy adalah bayi milik Tita. Akan banyak pertanyaan yang harus ia jawab pada ibunya, selama ini Yudha merahasiakan keberadaan Tita pada ibunya.


"Lepas pah!!


Popy meronta berusaha menahan tangan Yudha yang berusaha merebut Bunga dari pangkuannya.


Bi Acih sangat panik melihat pergumulan suami istri di depan matanya yang berusaha memperebutkan Bunga.


Suara tangisan Bunga mengagetkan Tita yang sedari Tadi berada di kamar, iapun berlari ke arah kamar Popy. Bibirnya menganga menyaksikan kedua suami istri yang saling berebut anaknya.


"Apa yang kalian lakukan? lepaskan anakku?"


Tita berusaha melerai pergumulan keduanya hingga akhirnya Popy berhasil membuat Yudha mengalah karena mendengar tangisan Bunga yang semakin kencang.


Popy langsung membawa Bunga keluar kamar dan pergi. Pak Asep sopir pribadi Popy yang sejak tadi menunggunya di mobil berusaha membantu Popy .


Tita dan Yudha berusaha mengejarnya tapi Popy dengan cepat masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Mah! kembali mah!" teriak Yudha sambil berusaha menghentikan mobil Popy.


"Anakku!!!


Tita menjerit kencang melihat Popy membawa Bunga.


"Sabar neng," ucap bi Acih berusaha memegang tangan Tita yang meronta berusaha mengejar mobil Popy .


Yudha langsung bergegas menuju garasi mobil dan mengejar Popy.


"Ayo Tita!"


Tita langsung masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Yudha menyusul Popy.


Kejar_kejaranpun terjadi di jalan raya Yudha terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, diraihnya ponsel di dekatnya dan berusaha menghubungi Popy tapi Popy tak menghiraukan panggilan Yudha di ponselnya.


Tapi semua terlambat. Sampailah Popy di tempat tujuan, Yudha tak dapat mengejarnya.


POPY TAK MENYADARI BAHWA DIA MELAKUKAN KESALAHAN BESAR DENGAN MEMBAWA BUNGA PADA MERTUANYA JUSTRU DISITULAH TAKDIR MEMPERMAINKANNYA! DAN BERSAMA ITU PULA KEHIDUPAN TITA AKAN BERUBAH...


Popy keluar dengan tergesa - gesa. Bunga yang terus menangis tak di hiraukannya


"Bu!"


Nampak ibu tua dengan kacamata yang sedikit melorot berusaha mencari seseorang yang memanggilnya.


"Bu ...lihat apa yang kubawa?"


Popy memperlihatkan bayi mungil pada ibu mertuanya.


"Walahhh....bayi siapa ini Po?"


"Ini bayi kita bu, saya sudah mengapdosinya, lihat! lucu kan?"


"Cucuku...." gumannya seraya menciumi bayi mungil dengan lembut, bertahun_tahun ia mendambakan seorang cucu dari Yudha meskipun Bunga bukan darah daging dari Yudha, tapi ia merasa puas begitu lama ia mengharapkan seorang cucu hadir dalam hidupnya.


"Oh ya? dimana Yudha?"


"Saya disini bu!" Yudha yang tiba - tiba datang langsung menyalami ibunya.


"Mengapa kau tak bilang mau adopsi anak?" tegur ibunya yang sedikit penasaran pada Yudha yang terkesan menyembunyikan seseuatu darinya.


"Mmmm...ini bukan bayi adopsi bu," jawab Yudha matanya sedikit dikerutkan memperhatikan Popy yang tengah berdiri di samping ibunya.


"Lalu. Bayi siapa ini?"


"Tita bu....."


"Tita? siapa Tita?"


Untuk sesaat Yudha hanya diam ia merasa binggung haruskah ia berterus terang mengenai Tita?


"Yudha! lihat saya! siapa itu Tita?"


Yudha mulai salah tingkah mendengar pertanyaan ibunya


"Itu...bu....itu.."


bibir Yudha gelagapan mengucapkan kalimatnya.

__ADS_1


Popy yang dari tadi terdiam hanya memperhatikan sikap suaminya. Popy yakin Yudha akan berbohong mengenai Tita pada ibunya.


"Bu ...ibu jangan marah ya? saya akan ceritakan semua pada ibu."


"Iya. Syo ceritakan siapa itu Tita?"


Dengan wajah serius ia siap mendengarkan cerita Yudha mengenai sosok Tita.


Yudha menghela nafas panjang berusaha menenangkan dirinya, sungguh berat baginya menceritakan tentang Tita pada ibunya.


Akhirnya dengan terpaksa Yudhapun menceritakan kisah pertemuannya dengan Tita, dari pertama dan sampai lahirlah bayi mungil yang di beri nama Bunga.


Mendengar kisah Yudha tentu saja membuat kaget dirinya, jadi selama itu Yudha berbohong padanya dengan selalu membuat alasan. Dengan dalih berada di luar kota


ternyata anaknya selama ini berada di Villa milik Popy, ia lebih terkejut lagi mendengar pengakuan Yudha mengenai Popy yang telah lancang mengambil paksa anak Tita untuk diperlihatkan padanya.


"Dari dulu kamu memang tak pernah berubah Po!" bentak ibu Yudha sambil memandang sinis ke arah Popy.


"Sudah tak bisa bikin anak! hidupmu dari dulu selalu menyusahkan anakku!"


Mertuanya mulai menghakiminya. Popy hanya diam tertunduk mendengar ocehan mertuanya yang terkenal bawel.


"Sekarang dimana itu?.siapa namanya.Tita ?


"Dia ada di mobil bu, tunggu sebentar saya panggil."


Yudha kemudian bergegas keluar menemui Tita yang dari tadi tak berani masuk ke rumah Yudha karena Yudha menyuruhnya untuk menunggu di mobil.


Selang beberapa menit Yudha kembali dengan membawa Tita bersamanya.


"Bu. Ini Tita."


Tita yang tertunduk malu berusaha mendongakkan wajahnya melihat sesosok ibu tua berkaca mata di depannya.


"Mmmm...jadi ini yang namanya Tita...."


Tita kemudian menyalami ibu Yudha dengan sopan.


Tidak sampai disitu ibu Yudha terus menatap wajah Tita dari ujung kepala sampai bawah membuat Tita jadi malu dan risih.


"Ini ambil anakmu...."


ucap ibu Yudha seraya mengembalikan Bunga pada Tita.


Tita begitu senang mendapati anaknya kini berada di pangkuannya. Iapun menciumi anaknya dengan penuh kasih sayang matanya kembali menetes jatuh di pipinya .


Ibu Yudha kembali menolehkan wajahnya pada Popy yang dari tadi hanya diam membisu.


"Kamu itu ya? sudah tak bisa memberi cucu pada saya! kelakukan mu itu dari dulu tak pernah berubah!" bentak ibu Yudha yang dari dulu Popy selalu membuat kesal dirinya.


"Kamu itu gak bisa beri cucu buat saya?!" bentak ibu Yudha yang sudah tak tahan pada menantunya yang tak kunjung hamil meskipun sudah bertahun_tahun berumah tangga dengan anaknya.


Popy begitu sakit mendengar hinaan dan cercaan ibu mertuanya yang memang dari dulu kurang menyukainya dan selalu menekannya untuk memberi keturunan pada suaminya Yudha.


Matanya mulai merah menahan tangisan yang akan jatuh dipipinya, harapannya membawa Bunga pada mertuanya akan mendapat sambutan yang hangat tapi malah sebaliknya mertuanya menghakiminya habis_habisan.


Iapun berlari menuju kamarnya sambil tangannya menyeka kedua matanya yang sudah terlanjur tumpah membasahi pipinya.


Melihat istrinya yang sudah begitu terpojokkan. Yudha berusaha mengejarnya tapi ibunya menghalanginya.

__ADS_1


"Sudah! biarkan saja! kamu lagi! dari dulu selalu memanjakannya, nah itulah jadinya istrimu egois."


Yudha tak menghiraukan perkataan ibunya dan berlari mengejar Popy yang masuk ke kamarnya. Hatinya ikut merasakan kesedihan Popy yang memang dari dulu selalu dipojokkan ibunya, karena tak bisa memberi keturunan pada Yudha.


__ADS_2