Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 71


__ADS_3

"Kau semakin sering pulang malam? kemana saja?" tanya Ilham saat Anita pulang jam sepuluh malam.


"Aku ada urusan dengan teman. besok-besok aku akan berusaha pulang cepat, sudah ya Mas, aku capek." ujarnya lalu Meninggalkan Ilham begitu saja.


"Anita, kau baru pulang selarut ini, paling tidak lihat dulu anakmu." teriak Ilham.


Anita tidak perduli, tanpa mandi ia terus ambruk di ranjang.


Ilham hanya menggeleng melihat tingkahnya.


Bu Lastri sudah mulai membaik.


Walaupun sekarang Anita menyewa seorang baby sitter untuk menjaga Cila. Bu Lastri tetap ikut mengawasi cucunya.


Keadaan rumah yang semakin tidak keruan membuat Bu Lastri sering termenung sendiri.


Sedangkan Ilham masih bingung dengan keadaan dirinya, sejak kejadian malam itu, Anita tidak pernah lagi minta haknya sebagai istri. Ia selalu mengeluh capek sekalipun Ilham yang meminta.


Anita sendiri semakin terlena dengan profesi barunya.


Sore itu, Siska yang kerja di sebuah coffe Shop sedang melayani para pengunjung.


Tapi matanya terbentur pada sepasang pria dan wanita yang sedang duduk di meja agak belang.


"Itu, itu,kan mbak Anita? siapa laki-laki bangkotan yang bersamanya?"


Siska terus mengawasi Anita yang sedang duduk memakai baju dengan belahan dada yang rendah.


Siska menghampiri temannya.


"Niko, bisa tolong gantiin aku, antarkan pesanan dengan meja nomor tujuh."


Niko mengangguk.


Siska kembali memperhatikan gelagat Anita dan pria yang bersamanya.


Ia melihat tangan pria buncit itu meremas tangan Iparnya.


Hampir saja Siska kehilangan kesabarannya, ia ingin mendatangi dan menjambak rambut iparnya itu.


Siska tidak jadi melabraknya. tapi iya sengaja merekam moment itu dengan kamera ponselnya.


"Awas,kau! aku akan bongkar kebusukan mu ini!" desisnya dengan geram.


"Pantas dia selalu pulang malam, rupanya ini pekerjaannya sekarang?"


Sampai Anita meninggalkan tempat itu, Siska terus mengawasinya.


Keadaan Ilham dan keluarganya semakin terpuruk. Berbalik dengan kondisi Arini yang bahagia karna pernikahannya.


***


"Rin, apa sama sekali tidak ada sanak famili mu yang tersisa?" tanya Bu Zah.


"Maksud ibu, nanti siapa yang akan jadi wali mu?"


Arini mengangkat wajahnya.


"Tidak ada Bu, saya benar-benar sebatangkara, ada paman yang membesarkan saya, dia keluarga satu-satunya, tapi dia juga sudah meninggal." sambung Arini lagi.


"Tidak apa-apa, kau tidak usah berkecil hati,


kita bisa pakai wali hakim. Dan kau tidak sendiri, Denis juga sudah tidak punya orang tua, hanya ibu yang dia miliki. sekarang kami keluarga mu, jangan sedih, ya!" Bu Zah merangkulnya dan tersenyum.


Arini mengangguk terharu.

__ADS_1


"Assalamualaikum.. !"


Denis datang sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Walaikum salam.. apa yang kau bawa itu?" sambut Bu Zah.


"Ini, jamu datang bulan, tadi pas di jalan Shofia menelpon minta tolong di belikan ini, ya.. aku belikan saja sekalian jalan." ucapnya polos.


"Kau memang keponakan Budhe yang baik hati." ucap Bu Zah sambil mengucek rambut Denis dan meninggalkan mereka berdua.


"Kau memang baik karena baiknya sampai tak sadar telah di manfaatkan oleh kutu centil itu." gumam Arini sangat pelan.


"Kau bilang apa Rin, kau bilang sesuatu barusan?" tanya Denis penasaran. ia mendengar Arini menggumam walau tidak jelas.


"Eeemh.. tidak kok, aku hanya bangga pada calon suamiku ini, dia sudah baik, perhatian lagi pada semua orang." jawab Arini mengada-ada.


"Benarkah kau bangga padaku?" Denis menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Tentu saja, sampai kau tak sadar kebaikan mu sudah di manfaatkan oleh gadis ingusan itu." ucap Arini gemas sambil mencubit hidung Denis.


"Aduh sakit, Rin." ucapnya sambil memegangi hidungnya yang memerah.


"Aku tau, sikap Shofia sudah keterlaluan tempo hari, tapi apa tidak sebaiknya kita kasi kesempatan kedua buatnya?" mata Denis terlihat serius.


"Tentu saja bisa, baiklah. Kita lupakan saja masalah kutu centil itu, maksudku Shofia.


Tapi biar aku saja yang memberikannya pada Shofia.."


Denis mengangguk gembira.


Ia terus mengagumi calon istrinya. Di matanya, semakin mendekati hari H pernikahan mereka, Arini semakin cantik.


"Gabung sana sama mas, Pras!"


Arini menepuk lengannya pelan.


"Sebentar lagi, Rin, kau kejam sekali, kita baru saja bertemu kau sudah mengusirku. Padahal dari semalam aku mengharap bisa menatapmu dengan leluasa seperti ini."


keluhnya manja.


"Ih, Denis.. malu ah. aku sudah tua!" ucap Arini tersipu.


"Kita memang anak baru gede lagi, tapi perasaan cinta itu tidak memandang usia. apa salahnya?"


Denis masih terus bicara saat Nilam tiba-tiba masuk keruangan itu.


"Eeh, kalian belum halal kok sudah di kamar berduaan begini." serunya sewot.


"Kamu harusnya tau, jangan samakan Denis denganmu. kau sudah pernah menikah sedangkan Denis masih polos tentang hal itu."


ucap Nilam lagi.


Kali ini Arini benar- benar merasa tersinggung oleh Ucapan Nilam.


"Maaf mbak, aku yang salah..


Arini sudah menyuruhku keluar, tapi aku yang memaksa masih disini, jangan salahkan Arini!" tegas Denis.


"Kamu diam Denis, apa yang mbak lakukan ini untuk kebaikan kalian juga." tukas Nilam.


"Baiklah, aku minta maaf, aku salah, Mbak!"


ucap Arini mengalah.


Denis menggeleng kepala pada Arini.

__ADS_1


"Tidak, Kenapa kau minta maaf, kau tidak salah, Rin."


ucap Denis keras.


Bu Zah datang tergopoh.


"Ada apa kalian ribut-ribut?"


Denis menjelaskan bahwa Nilam sudah salah paham pada mereka.


"Oalaah, itu tho, masalahnya. Nilam, ibu tau kau melakukan semua ini karna rasa sayang mu pada mereka, tapi percayalah mereka tidak mungkin melakukan hal-hal yang membuat keluarga kita malu. ibu percaya pada mereka, seratus persen!" Bu Zah menepuk bahu Arini.


Nilam meninggalkan tempat itu dengan wajah gusar.


"Sudah, jangan di ambil hati."


Denis mengangguk, namun wajahnya masih menyimpan kekecewaan.


Ia sangat menghawatirkan perasaan Arini, ia takut Arini tersinggung karna Nilam sudah menyinggung statusnya.


"Kau tidak apa-apa?" Denis menguatkan Arini dengan menggenggam tangannya.


"Aku memang tersinggung dengan ucapan mbak Nilam, tapi aku janji, itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita."


Denis memeluknya erat.


Arini cepat-cepat mendorong tubuh tinggi besar itu.


"Mulai lagi?"


"Maaf, aku sampai lupa diri karna bahagia." ucap Denis tersipu.


Setelah Denis keluar, Arini mengamati bungkusan yang di belikan Denis untuk si kutu centil.


"Aku tau, kau merasa menang karna ada mbak Nilam yang membela mu. Tapi kau belum tau siapa Arini yang sekarang.


Aku tidak akan menyerahkan sesuatu yang sudah menjadi hal ku dengan percuma...!" gumamnya lirih.


Lalu dia mencari cara untuk mengerjai Shofia.


"Shof, ini dari Denis, katanya untuk mu." Arini memberikan sesuatu pada gadis centil itu.


"Owh terimakasih, Mas Elang memang yang terbaik. Dia tidak pernah berubah, tetap perhatian dan sayang padaku." ucapnya gembira.


"Tapi kayaknya itu yang terakhir kau bisa mendapat perhatiannya." jawab Arini.


"Oh, ya? kau percaya diri sekali Mbak?"


Shofia tersenyum sinis.


"Kita lihat saja, sebelum cincin pernikahan kalian melingkar di jari, mas Elang masih tetap milik ku!" bisik Shofia.


"Benarkah?" tanya Arini.


Kehilangan Ilham menjadi pelajaran baginya, ia tidak akan mengalah lagi sekarang. Ia tidak mau kehilangan Denis.


Saat itu Denis datang mendekati mereka.


"Mas, Elang.. makasih udah beliin yang aku pesan." ucap ya manja sambil bergelayut di lengan Denis.


"Shofia, jangan kayak gini lagi. mas Elang sudah mau menikah, sekarang yang pantas memegang tanganku adalah Arini."


Denis meraih tangan Arini dan menggandengnya.


Arini merasa puas melihat wajah Shofia yang sudah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"


__ADS_2