Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 56


__ADS_3

"Rin, Budhe haru tau, dia pasti senang mendengarnya, sejujurnya Budhe sangat mendukung kita."


"Aku pikir sebaiknya jangan dulu, aku tidak ingin memberi harapan palsu pada Bu Zah.


Tunggu sampai surat cerai ku dapatkan."


Denis terdiam sejenak lalu berkata,


"okey, bagus juga idemu."


Semula perjalan mereka lancar, namun di tengah perjalanan.


Denis heran karena rem mobil ya tidak berfungsi.


"Kenapa?'" tanya Arini saat melihat Denis terkejut.


"Rem nya tidak berfungsi."


Arini ikut panik.


"Tenang, Rin. Jangan panik biar aku tidak ikut panik." ucap Denis.


"Tapi aku takut, Denis!" teriaknya sambil menutup telinga.


"Tenang, kau percaya padaku, kan? aku tidak akan membiarkan kau dan bayimu kenapa-kenapa."


Jalanan cukup ramai oleh pengemudi lainnya, membuat Denis membanting setir kanan kiri untuk menghindari tabrakan.


"Bagaimana ini? siapa yang akan menolong kita?" Arini terlihat putus asa.


"Sudah ku bilang, aku tidak akan membiarkanmu celaka, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk itu!" janji Denis di tengah usahanya mengendarai mobilnya.


Saat jalanan mulai agak sepi. Dari kejauhan, Denis melihat gundukan pasir yang cukup tinggi.


"Tidak ada jalan lain, pada hitungan ketiga cepatlah melompat keluar!"


Arini ternganga, ia ngeri membayangkan akan membuang tubuhnya dari dalam mobil.


"Tidak, aku tidak mau cari mati," ucap Arini.


"Hanya ada dua pilihan, Rin. tetap di dalam mobil yang akan menabrak gundukan pasir? atau melompat sendiri keluar. keduanya punya resiko. dengan melompat sendiri resikonya lebih kecil.!" teriak Denis lagi.


"Jangan berpikir lagi! satu, dua tiga!"


Arini membuka matanya saat merasakan perih di siku kananya.


Ia baru sadar kalau Denis tidak ada di sekitarnya.


"Denis! kau dimana?"


Tampak olehnya tangan Denis yang menggapai dari balik badan mobil yang sebagian sudah masuk kedalam gundukan pasir.


"Denis..!" Arini berusaha bangkit dan mendekati pria itu.


Wajah Denis berlumuran, begitupun kaos putih yang di pakainya hampir berubah warna menjadi merah. kepalanya terantuk sebuah batu yang cukup tajam.


"Denis, kau kenapa? ayo jawab aku!"


Denis pingsan di pangkuan Arini.


Bantuan mulai datang, Ambulans membawa mereka kerumah sakit terdekat.


Di sepanjang perjalanan, Arini terus memegangi tangan Denis.


"Ayo sadar Den, jangan tinggalkan aku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. ayo buka matamu! junior membutuhkan mu!"


Melihat Denis tak bergerak juga, membuat Arini bertambah panik.


"Den, kalau kau tidak mau sadar juga, aku tidak akan pernah memaafkan mu, ayo bangun! aku janji, apapun yang kau mau aku akan menurutimu!" janjinya terisak.

__ADS_1


Arini merasa kaget karna tiba-tiba tangan Denis meremasnya dengan kuat.


Perlahan Denis membuka matanya.


"Kau baik-baik saja?" justru ucapan itu yang pertama kali keluar dari mulutnya.


Arini memarahinya sambil terisak.


"Kau membuatku takut, kalau kau memang harus mati, biar aku yang terlebih dulu, Aku tidak mau hidup tanpa ada dirimu." isaknya penuh haru.


Denis mencium tangan Arini.


"Kau sendiri tidak terluka? kandungan mu bagaimana?" tanya Denis terbata.


"Dasar konyol! keadaanmu sudah seperti ini masih saja memikirkan orang lain!" bentak Arini.


"Kalian bukan orang lain bagiku." ucapnya parau.


Denis terdiam, ia kembali kehilangan kesadarannya.


Arini mengguncangnya namu ia tetap dam.


"Pak bisa lebih cepat? pasien pingsan lagi!" pekik Arini


"Ini sudah maksimal Bu." jawab sopir ambulans


Setelah sampai di rumah sakit, Arini mengabari Bu Zah.


Ia sendiri di dorong dengan kursi roda.


Berita itu cepat tersebar


"Ilham yang sedang bersiap-siap tak sengaja melihat berita itu di siarkan di tivi.


"Itu seperti mobil Denis?"


hanya saja plat mobilnya bisa ia kenali selain jalurnya juga sama dengan jalur yang di tempuh Denis dan Arini.


"Anita, ayo cepat kita segera berangkat."


ucap Ilham tergesa.


"Kenapa, Mas?"


"Mobil Denis kecelakaan..!" jawabnya singkat.


Dalam hati Anita berharap, Arini maupun Denis tidak Ada yang selamat


"Kenapa kau terlihat perduli, Mas? biarkan saja! ini juga bukan urusan kita." ia menggerutu kesal.


Namun Ilham sudah menjalankan mobilnya tanpa perduli pada Anita.


"Kenapa aku di tinggalin mas Ilham?" teriaknya jengkel.


"Kalau mau ikut, cepat naik!" ucap Ilham acuh.


"Kebangetan sekali sih kamu mas Ilham.. !" bathin Anita dengan geram.


Namun seulas senyum menghiasi bibirnya.


"Kau terlihat sangat tenang? jangan-jangan ini juga ulahmu!" tuduh Ilham.


Anita menjadi gugup


"AKu? mana mungkin aku bisa melakukan hal itu."


'Diamlah jangan banyak bicara, kepalaku pusing mendengar kau berkicau!." kecam Ilham tidak suka.


"Kenapa sih, Mas? di depan mereka kau terlihat baik padaku, tapi sat mereka tidak ada, sikapmu kembali dingin. aku wanita, aku juga punya hati?" ucap Anita dengan mata berkilat.

__ADS_1


Ia merasa tidak terima karena Ilham memanfaatkannya.


"Lalu apa maumu? minta pisah seperti Arini? okey.. sekalian saja semuanya pergi, seorang Ilham Kurniawan tidak akan butuh mahluk yang namanya perempuan!"


Ilham mengerem mobilnya secara mendadak karena kesal dan geram.


Ia menyesali kenapa kehidupannya berbalik seratus depan puluh drajat, ia kehilangan Arini sosok istri yang penyabar setia dan menerima. Kini ia harus hidup dengan Anita wanita yang penuh ambisi dan egois dan pemarah.


Tiada hari tanpa percekcokan yang dia lewati saat bersama Anita.


"Mas, kau apa-apaan, aku belum mau mati, tau?" sungut Anita.


Ilham tidak mengindahkan kemarahan Anita.


Di rumah sakit, Arini sedang menunggui Denis yang sudah di pindahkan keruang rawat.


"Rin, kau pulang saja! aku tidak mau kau sakit karena kelelahan." ucap Ilham penuh iba pada wanita yang sedang hamil itu.


"Lalu, kau? sendirian disini?"


Ilham hanya tersenyum.


"Aku sudah tidak apa-apa.. percayalah! lagi pula kalau aku butuh sesuatu, kan masih ada perawat."


"Owh.. aku tau, kau menyuruh ku pergi karna ingin di rawat oleh suster yang masih muda dan cantik itu, kan?" goda Arini dengan muka galaknya.


Denis tergelak karna sikap lucu Arini.


"Aduh...!" ucapnya sambil memegangi perban di bagian pelipisnya.


"Mana yang sakit? mana?" tanya Arini panik sambil memeriksa kepala Denis.


Ilham malah tersenyum.


'Aku hanya ingin menggoda mu, aku bahagia karna kau perhatian padaku," kata Ilham dengan wajah terharu.


"Tu, kan sedih lagi.. tertawa, dong! kau yang mengajariku untuk kuat, jadi, kau tidak aku ijinkan untuk lemah!" ucap Arini memberi semangat.


"Lagi pula, kau yang selalu ada buatku di saat aku terjatuh, jadi aku akan berbuat begitu selagi kau masih menghendakinya.


Arini tersenyum.


"Arini... senyuman mu manis sekali, aku ingin wajahmu selalu di hiasi oleh senyuman itu."


"Masih sakit saja sudah bisa menggombal, ya!"


Arini mencubit pinggang Denis.


Saat mereka sedang bercanda ria, pintu terbuka tiba-tiba.


"Elaang...!" Bu Zah menghambur memeluk keponakan nya.


"Bu Dhe, aku sudah tidak apa-apa"


"Mas Elang?" Shofia menerobos masuk dan shock saat melihat keadaan Denis.


"Kau juga ikut, Shof?" sapa Denis namun tak di hiraukan nya.


"Iya, Bu Dhe yang minta dia temani Bu Dhe."


kata Bu Zah.


Shofie mendorong Arini agak kesamping agar dia bisa memeluk tubuh Denis yang terbaring.


"kalau tau begini jadinya, aku tidak akan biarkan mas Elang pergi malam itu, kalau aku yang ada bersama mas Elang, aku pasti tidak akan membiarkan satu hal buruk terjadi padamu." ucapnya sambil melirik Arini.


💞 minta dukungan like komen rate dan vote nya ya.. ohya, favorit 🙏


.

__ADS_1


__ADS_2