Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Kecanduan Obat Menyebabkan Popy Hilang Kendali


__ADS_3

Selesai shalat subuh Tita pun kembali tidur karena masih terlalu pagi untuk bangun.


Suara langkah kaki terdengar begitu jelas mendekati Tita yang suntuk. Mata Tita terkedip melihat sosok lelaki yang menghampirinya.


"Mas Yu....."


Belum lagi kalimat nya selesai bibirnya ditutup dengan kuat oleh tangan Yudha. Tita berusaha kuat melepaskan tangan Yudha, tapi seketika Yudha mencium bibir Tita. Ada sentuhan hangat yang menggelora di bibirnya untuk sesaat Tita memejamkan matanya jiwanya pasrah membalas ciuman Yudha dengan penuh gairah.


"Bruggg"


Suara benda terjatuh membangunkan mimpinya.Titapun bangkit dari tidurnya dan membuka matanya ternyata itu cuma mimpi .


Titapun bergegas keluar kamar dan ....


Seorang wanita dengan rambut acak acakan tengah dipegang Yudha dan bik Acih wanita itu tak lain adalah bu Popy.


"Titaaaa! sana masuk kamar!" teriak Yudha yang terus memegangi tangan Popy yang terlihat seperti orang kesurupan.


"Lepassss!!


Popy menjerit- jerit matanya merah, bibirnya tampak bergetar tangannya berusaha meraih Tita yang diam terpaku melihat kejadian yang ada di depan matanya.


Yudha dan bik Acih tampak mulai kepayahan Popy terus meronta, entah setan mana yang merasuki Popy. Tiba- tiba saja Popy berhasil melapaskan diri dan berlari memburu Tita.


Tita yang kaget berusaha membuka pintu kamar. Tapi terlambat tangan Popy berhasil meraih kakinya. Tita ketakutan setengah mati.


"Mas! tolong saya!"


Yudhapun berusaha melepaskan tangan Popy dengan di bantu bik Acih.


"Titaa...ber....berikan....bayimu pada ibu."


Popy memegang kaki Tita begitu kuat sambil terus memohon pada untuk rela menyerahkan bayinya.


Tita yang masih syok berusaha menyeret kakinya tapi Popy semakin kuat menariknya.


Yudha dan bi Acih begitu kewalahan.


"Mah! sadar mah!" bentak Yudha


"Tidak!!!


Yopi menendang kaki Yudha hingga Yudha tersungkur, bik Acih yang sudah mulai kehilangan tenaga. Ia pun jadi sasaran kemarahan Popy dan mendorong bik Acih hingga bik Acihpun jatuh.


"Tuan? dimana obatnya?"


"Sana bi! ambil di kamar dekat lemari saya!"


Bik Acihpun bangkit dan langsung berlari menuju kamar Popy.


Tita menjerit ketakutan melihat bu Popy yang semakin kuat menyeret kakinya hingga Tita jatuh tersungkur.


Yudha dengan sigap menolong Tita dan berusaha melepaskan tangan istrinya yang terus memegang kaki Tita.


"Tita....tolong berikan bayimu ya? kamu boleh minta apa saja... akan ibu berikan. Tapi please.... ibu boleh kan minta bayi kamu?"


Popy seperti orang gila memohon dan sesekali mimik wajahnya seperti orang yang kecanduan obat terlarang. Giginya mulai mengigit bibirnya.

__ADS_1


"Ini tuan! obatnya!"


Yudha kemudian berusaha memasukkan obat pada mulut Popy.


Dalam hitungan menit Popypun mulai lemas dan melepaskan tangannya.


Tita langsung berlari ke kamar dan menangis, ia tak mengerti ada apa dengan Popy sebenarnya.


Mendapati istrinya lemas, Yudha kemudian memangku Popy dan membaringkannya di tempat tidur. Diusap-usapnya nya kening Popy, air matanya mulai menetes menangisi nasib istrinya. Memang sejak dua tahun terakhir tanpa sepengetahuannya, Popy selalu mengkomsumsi barang haram hingga merusak mentalnya, karena keinginannya yang begitu kuat untuk mempunyai anak membuat Popy hilang akal terlebih begitu banyak tekanan dari ibu Yudha yang selalu mengancam istrinya.


Popy sudah mulai tenang. Yudha dan bik Acihpun pergi keluar kamar dan membiarkan Popy tertidur agar bisa tenang.


Tita yang terlihat bingung menangis terisak-isak. Tangannya terus memegang perutnya yang mulai terasa nyeri.


Melihat Tita yang wajahnya memucat Yudha kemudian mendekati Tita, di dekapnya Tita dengan penuh kasih.Tita yang memang butuh sandaran seorang pria yang melindunginya, langsung memeluk Yudha dan menangis sejadi-jadinya membasahi kemeja putih yang dikenakan Yudha.


Yudha begitu pasrah membiarkan Tita menumpahkan semua tangisansannya, ia merasa sangat bersalah pada Tita dengan tidak berterus terang mengenai pribadi istrinya.


"Mas, saya mau pulang saja ke suami saya."


"Tita? apa yang kau katakan?" bentak Yudha kaget."


"Kamu sudah gila ya? apa kamu tak ingat! bagaimana kelakuan suamimu?"


"Biarkan mas...memang sudah nasib saya harus menderita."


"Tidak! saya takkan membiarkan kamu disakiti lagi!"


"Tapi sampai kapan mas saya disini?"


"'Bagaimana kalau saya antar kamu, ke rumah orang tua mu..."


"Memangnya kenapa? kamu bisa ceritakan masalahmu pada ibumu."


Tita tak berani menemui orang tuanya walaupun ia sebenarnya sangat merindukan ibunya. Tapi nanti apa yang akan ibunya pikirkan jika ia datang tak didampingi Adi suaminya. Tentunya akan banyak pertanyaan yang akan dilontarkan padanya


Selama ini ia menyembunyikan perlakuan Adi yang kejam.


"Antar saja saya pulang, daripada saya disini hanya akan merepotkan masnya."


"Tidak!!


Yudha begitu binggung harus bagaimana dirinya tak rela melihat penderitaan yang di alami Tita.


"Mas, biarkan saya pulang..."


Yudha kembali mendekap Tita yang begitu ia sayang, memang tak dipungkiri Yudha mulai tertarik pada Tita. Berawal dari rasa iba hatinya mulai merasakan sakit jika seseorang menyakiti Tita.


"Tita? dengar saya..."


"Ya mas."


Aku akan bawa kamu ke Apartemen saya. Saya akan menjaga kamu sampai kamu melahirkan.


"Tapi mas, bagaiman dengan istri mas?"


"Popy gak boleh tahu."

__ADS_1


"Jangan mas!"


"Ayo bereskan bajumu, sebelum istriku bangun kita harus pergi dari sini."


Tita dengan cepat membereskan semua pakaiannya ke dalam tas.


"Bik, tolong jaga ibu ya? sebentar saya kembali."


"Oh ya? kalau ibu bangun katakan saja saya pergi antar Tita pulang ke rumahnya."


"Iya tuan."


Yudha terpaksa berbohong pada bik Acih , kemudian pergi bersama Tita.


Bik Acih merasa heran dengan tingkah Yudha sepertinya sosok Tita begitu berarti bagi Yudha.


Singkat cerita sampailah Yudha di sebuah Apartemen yang lumayan bagus walaupun tak terlalu luas tapi cukup buat Tita. Untuk sementara menjauhkannya dari Popy. Sampai Tita melahirkan Yudha akan selalu manjaga Tita, daripada Tita harus kembali pada suaminya yang kejam.


Entah mengapa hati Yudha tak rela, jika Tita harus kembali pada Adi. Suaminya.


Sampai Tita lahiran Yudha akan mengurus segala keperluan Tita. entah rencana apalagi selanjutnya yang jelas Yudha untuk sementara berusaha menjauhkannya dari Popy.


Popy terlihat mulai sadar tubuhnya masih sedikit lesu, bik Acih selalu menjaganya. Dan duduk disamping bu Popy.


"Tita...."


Bibirnya selalu memanggil Tita. Wajahnya yang pucat dan rambut acak- acakan tak ia perdulikan, bayangan bayi mungil selalu mengganggunya. diraihnya bantal yang ada di sampingnya, disimpannya bantal itu dipangkuannya dan ditimang - timang seakan ia menimang seorang bayi.


Popy mulai beranjak dari tempat tidur, kemudian ia mulai berdiri dan bernyanyi sembari menari-nari dan berputar-putar seolah olah ada bayi dipangkuannya.


"Nina....Bobo....oh....Nina Bobo... kalau tidak Bobo....di gigit nyamuk ...."


"Bu, sadar bu," bisik bi Acih, seraya tangannya mengelus-ngelus rambut Popy.


Bik Acih tak kuat melihat tingkah majikannya yang begitu memprihatinkan, dengan menutup kedua matanya bik Acih ikut merasakan kesedihan yang dialami majikannya. Popy.


"Bik, mengapa Tuhan begitu tak adil padaku, saya hanya meminta seorang anak saja bik."


"Bu, jangan bicara begitu bu, yang sabar bu."


Bik Acih terus menenangkan Popy. Begitu menderitanya Popy sekian lama mengharap kan seorang bayi meskipun Yudha membahagiakannya dengan kekayaan yang melimpah, tapi tetap saja hidupnya tak bahagia.Ternyata harta tidak menjamin kebahagian, apalah artinya harta jika rahimnya tidak bisa mengandung. Seorang anak adalah harta terbesar bagi Popy.


Air matanya terus mengalir deras, matanya tajam menatap photo pernikahannya dengan Yudha. Sungguh ia tak bisa membahagiakannya sebagai seorang istri. Ia begitu hancur tak bisa memberikan keturunan pada Yudha suami yang ia cintai.


"Bik..."


"Ya bu."


"Kalau istri gak bisa beri keturunan, Apa saya harus rela membiarkan suamiku nikah lagi."


"Ehh....bu, jangan berkata begitu, pak Yudha suami yang baik bu! mana mungkin tuan mau menikah lagi," sahut bik Acih berusaha menyenangkan hati Popy padahal bi Acih tahu betul bahwa Yudha mulai tertarik pada Tita.


Mendengar ucapan bi Acih Popy tersenyum kecut.


"Udah bu ah, sebaiknya ibu istirahat lagi."


Dengan langkah gontay Popy kembali ke tempat tidur, sesekali tangannya menyusut air mata. ia tak sadar bahwa Yudha telah membawa Tita dari Villanya.

__ADS_1


Bi Acih kemudian menyelimuti Popy, sudah sejak lama bi Acih mengetahui pribadi Popy yang sedikit terganggu mentalnya. Tapi walaupun begitu Popy adalah majikan yang sangat baik.


Di sisi lain Adi yang mulai terlihat kurus karena selalu memikirkan Tita, ia sudah tak berselera lagi mengunjungi Risna tak peduli Risna sedang hamil , ia sudah pasrah jika istri mudanya mengadukan perbuatannya pada atasannnya, tekadnya hanya ingin mencari keberadaan Tita. Ia akan berusaha merebut Tita lagi dari laki-laki yang telah melarikan istrinya. Meskipun ia tak mengetahui sosok laki - laki yang merebut istrinya, Adi tak perduli walau bagaimanapun Tita harus kembali ke pelukannya.


__ADS_2