
Di kantor Adi begitu tak bersemangat matanya terlihat sembab, entah mengapa Adi juga malas menemui Risna, tapi mau bagaimana lagi. Dengan terpaksa ia harus menemui istri sirihnya.
Tiba di kostsan Risna mimik wajahnya begitu lesu, membuat Risna penasaran dengan sikap Adi yang mendadak dingin.
"Yank, kok wajahnya gitu sih?"
Mendengar Risna menegurnya. Adi hanya diam.
"Ihhh! kenapa sih yank?"
Lagi-lagi tak ada jawaban dari Adi, yang tak merespon perkataan Risna.
Tentu saja Risna jadi kesal dengan sikap Adi yang mengacuhkannya.
"Yank! ngomong dongk!"
Mendengar Risna yang begitu bawel Adi jadi emosi.
"Bisa diam gak sih!" bentak Adi matanya melotot menatap Risna.
"Ih! kok emosi gitu sih! istri nanya baik baik."
"Udahlah Ris...bisa diam gak sih!"
Adi kemudian rebahan di lantai matanya kosong menatap langit - langit, pikirannya selalu terkenang akan istrinya Tita. Wajah Tita selalu terbayang. Dimana ia harus mencari istrinya.
Risna yang berada disampingnya tak ia hiraukan lagi. Ada rasa penyesalan yang begitu dalam, Adi mengutuk dirinya sendiri mengapa ia menyakiti Tita. Dengan diam diam menikahi Risna.
Risna begitu gusar melihat keadaan Adi entah ada apa dengan suaminya hari itu yang terlihat gelisah.
Tita begitu senang dengan kedatangan Popy begitupun dengan Popy.
Popy langsung memeluk erat Tita hingga Tita sesak nafas karena Popy memeluk dirinya begitu kuat. Bukannya memeluk Yudha suaminya, Popy malah mengacuhkan nya. Kedatangan mendadak Popy sedikit membuat kaget Yudha, biasanya Popy selalu menghubunginya.
"Ehhh....papah..." Popy baru sadar pada Yudha suaminya.
Popy kemudian mendekati Yudha dan langsung mencium bibirnya dengan penuh mesra.
"Mmm....papah sayang, maaf ya? mamah ninggalin aja papa," bisik Popy merayu.
Wajah Yudha seketika merah karena Popy menciumnya di depan Tita membuat Yudha jadi kikuk.
"Pa Asep! coba tolong bawa sini belanjaan saya!" teriak Popy memanggil sopir pribadinya. Pak Asep.
"Iya bu."
Tak berapa lama pak Asep datang dengan membawa begitu banyak kantong belanjaan.
Popy kemudian membongkar satu-persatu belanjaan yang baru saja di belinya ternyata Popy membeli beberapa stel baju hamil untuk Tita.
"Lihat, ibu beliin kamu baju hamil. Cobalah!"
Wajah Tita terlihat sedikit heran melihat belanjaan Popy yang seabreg untuknya.
"Bu, makasih ya. Ibu baik sekali."
"Iya, sama - sama, pokoknya kamu buang itu baju lama kamu! nanti ibu belikan yang baru ya."
"Ah! gak usah bu."
"Udah, gak apa - apa kok! yang penting kamu jaga kesehatan bayi kamu."
"Baik bu."
Ternyata selain membeli baju hamil, Popy juga membeli kosmetik dan beberapa dus susu khusus untuk ibu hamil yang semuanya di beli khusus untuk Tita.
Melihat Popy yang begitu memberi perhatian penuh pada Tita. Yudha hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Udah ya mah! papa mau balik kantor lagi."
"Eh...iya... pah, hati-hati ya....."
__ADS_1
"Iya."
Popy begitu bahagia melihat Tita mau menerima semua baju darinya. Sesekali tangannya mengusap perut Tita. Popy merasa sangat senang Tita berada di Villanya, apalagi Yudha telah menceritakan semua masalah rumah tangga Tita pada Popy. Matanya terlihat berkaca- kaca melihat Tita, ingin rasanya dia bisa hamil. Popy berharap jika menolong Tita, iapun akan segera hamil.
"Bu. Kok nangis."
"Tita, kapan ya? saya bisa hamil seperti kamu."
Tita merasa sangat iba melihat Popy yang sampai sekarang tak kunjung hamil. Meskipun sudah lama berumah tangga sungguh nasibnya tak beruntung Tuhan tak kunjung menberinya keturunan.
Menjelang sore Adi kembali dari kostsan Risna, ia tak bersemangat lagi melakukan apapun rumahnya dibiarkan berantakan hatinya selalu cemas memikirkan Tita, apalagi istrinya tengah berbadan dua ada rasa tak percaya di hatinya tak mungkin Tita berkhianat, sepengetahuannya Tita adalah perempuan yang setia padanya.
Sementara Popy begitu sibuk memperhatikan kebutuhan Tita sampai dari makanan_obat vitamin_semua Popy yang mengaturnya.Tita tak boleh inilah,Tita tak boleh itulah begitu banyak peraturan yang Popy berikan supaya bayi dalam kandungan Tita sehat.
"Titaa, kamu tidur ya? ibu hamil jangan terlalu banyak pikiran! jangan mikirin suamimu yang kurang ajar itu..."
"Iya bu."
Setelah shalat Isa Tita kemudian beranjak naik ke tempat tidurnya.
Popy dengan lembut menyelimuti Tita di usapnya kening Tita, tangannya kembali mengelus-ngelus perut Tita.
"Bobo ya.....Dede...."
Suara lembut Popy begitu mendayu diciuminya perut Tita seakan ia merasa dirinya tengah hamil.
"Oh ya? nanti subuh bangunin ibu ya! ibu juga mulai sekarang mau sembahyang.'
"Ehh.... iya....bu," jawab Tita.
Bu Popy kemudian pergi dan menutup pintu kamar dengan hati - hati.
Ada rasa khawatir di hati Tita melihat Popy yang begitu berlebihan memperhatikan dirinya, benar saja apa yang di katakan bi Acih, Popy ini seperti terguncang jiwanya.
Mungkinkan kebaikan Bu Popy karena Tita lagi mengandung? dan Bu Popy menginginkan bayinya?
Begitu banyak pertanyaan di pikiran Tita malam itu Tita jadi mulai takut dengan sikap Popy.
"Mah, kamu itu jangan terlalu mengatur Tita."
"Ah papah! biarin aja, kan anak kita sehat nanti pah!"
"Anak kita? apa maksud mamah?"
"Ah papah! kan bayi Tita, bayi kita juga pah."
"Mamah! maksud mamah apa?"
Yudha begitu kaget dengan perkataan Popy kata- kata Popy sudah melantur kemana mana akal sehatnya mulai terganggu karena begitu menginginkan seorang bayi.
"Mah, cobalah mengerti. Tita itu masih berstatus istri Adi, walaupun Adi menyakitinya tapi Adi itu ayah biologisnya."
"Ah Papah! ngapain Tita harus balik lagi sama laki - laki ******** itu! lagian kita udah baik sama Tita."
"Mah! inget ya? jangan suka berpikir yang aneh-aneh ya?"
"lagian Tita kan bisa hamil lagi."
"Jadi! maksud mamah mau ngambil Bayi Tita. Gitu?"
"Mmmm...."
Yudha begitu gusar melihat tingkah Popy bagaimana istrinya bisa berkata yang membuat Yudha emosi, memangnya Tita akan menyerahkan bayinya begitu saja pada Popy?
Ternyata kebaikan Popy bukan iklas menolong Tita.Tapi semata-mata karena ingin memiliki bayi yang tengah di kandung Tita.
"Pah! Tita kan cantik, pasti bayinya juga nanti cantik pah."
Popy begitu bersemangat membayangkan wajah bayi mungil yang akan dilahirkan Tita .
Yudha tambah kesal mendengar ucapan istrinya, ia merasa menyesal membawa Tita. Entah apa yang akan dilakukan Popy jika suatu saat Tita menolak keinginan Popy.
__ADS_1
Pikiran Yudha semakin kacau melihat sikap istrinya yang mulai hilang kendali.
Tentu saja Yudhapun sama seperti Popy mengharapkan kehadiran anak, tapi bukan seperti pikiran Popy yang begitu terobsesi dengan keinginanannya yang berlebihan.
Bagaimanapun Yudha harus melindungi Tita yang entah rencana apalagi yang akan Popy lakukan demi melancarkan semua keinginannya.
Tak mungkin Tita akan menyerahkan bayinya begitu saja, tapi Popy begitu yakin karena kebaikannya Tita suatu saat nanti mau menyerahkan bayinya pada Popy.
Sekarang Yudha menghadapi masalah baru. Tita dan istrinya.
Tepat jam empat dini hari. Tita terbangun karena ia harus melaksanakan shalat subuh.
Tita kemudian bangun dan bergegas menuju kamar Popy karena semalam Popy meminta untuk membangunkannya untuk ikut shalat subuh bersamanya.
Tita membuka pintu kamarnya dengan hati- hati, di ruangan tampak gelap karena memang setiap malam Yudha selalu mematikan listriknya.
Tangan Tita merayap-rayap mencari letak sakelar listrik karena begitu gelap sulit sekali Tita mencari sakelarnya.
Tiba- tiba tangannya menyentuh dada seseorang yang begitu tegap berdiri tepat dengannya.
"Stttt."
"Mas Yudha," Bisik Tita.
"Mas lagi ngapain? ini kan masih gelap."
Tita seketika kaget mendapati Yudha yang
tiba- tiba mendekapnya dengan erat.
"Tita...maafkan saya."
Tita merasa heran mengapa Yudha meminta maaf padanya.
"Mas...lepasin, nanti bu Popy bangun," bisik Tita yang merasa risih dan takut pada Yudha.
"Tita....saya sayang sama kamu."
Tita semakin salah tingkah mendengar bisikan Yudha, bibir Yudha begitu dekat dengan bibirnya kedua tangan Yudha memegang pipi Tita dengan lembut seraya mebisikkan seseuatu.
"Kamu hati- hati ya! jangan terlalu percaya sama ibu."
"Maksud mas apa?" tanya Tita semakin penasaran dengan ucapan Yudha.
Yudhapun menarik tangan Tita dan membawanya ke salah satu ruangan yang cukup jauh dari kamar Popy.
"Tita, saya ingin mengatakan sesuatu."
Tapi sebelum Yudha menyelesaikan pembicaraannya terdengar suara Popy memanggilnya
"Pahhhh...."
Yudhapun dengan cepat menyuruh Tita untuk sembunyi.
"Tita... dengar, kalau saya udah masuk kamar, kamu cepat masuk kamar kamu ya."
"Iya mas."
Yudhapun menghampiri istrinya.
"Pah ! lagi ngapain sih?" tegur Popy sambil menyalakan lampu.
"Ah! gak lagi ngapain! ayo kita tidur lagi!" ajak Yudha sambil menggandeng tubuh Popy, Yudhapun menoleh pada Tita dan memberi isyarat dengan tangannya untuk segera masuk kamar.
Tita dengan cepat langsung masuk ke kamarnya.
Tita menghela nafas panjang keringat dingin keluar dari dahinya, untung saja Popy tak mengetahui keberadaannya entah apa yang akan terjadi jika Popy mengetahui dirinya tengah berdua dengan Yudha di tempat gelap.
Tita tak mengerti apa sebenarnya yang ingin Yudha katakan sepertinya begitu rahasia dan mengapa Yudha meminta maaf padanya bukankah seharusnya ia yang semestinya meminta maaf? karena sudah merepotkannya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Yudha akhir-akhir ini sungguh Tita di buat penasaran, suami istri itu sungguh aneh bagi Tita apalagi melihat tingkah Popy yang berlebihan dan selalu mencemaskan kandungannya.
__ADS_1
Tita jadi merinding jika mendengar ucapan bik Acih tempo hari. Masih ingat di benaknya, ketika bik Acih pernah mengatakan padanya bahwa bu Popy itu sedikit stres. Besok pagi Tita akan mencoba bertanya pada bik Acih mengenai pribadi Popy.