Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 76


__ADS_3

Denis terus mengawasi Hendra yang menggumam sambil tersenyum.


"Apa maksud Arini, di bilang ke mbak Nilam kalau dia tidak bisa jauh dari ku, tapi kenyataannya aku antar dia tidak mau, tapi di antar kurir itu dia mau." stang kemudinya dengan kesal.


"Apa dia tidak mengerti kalau aku sangat cemburu pada pemuda itu." ucapnya lagi.


Denis memutar balik arah mobilnya. Ia kembali ke kantor dengan wajah lesu.


Arini yang merasa tidak terjadi apa-apa, dia mengirim pesan pada Denis seperti bisanya.


(Nanti kalau pulang sekalian lewat butik, ya.


motorku di bengkel)


Arini melirik pesan yang dia kirim itu.


"Kenapa belum di balas? padahal dia sudah membacanya. Biasanya juga aku ngirim satu kalimat dia akan membalasnya enam kalimat?" gumamnya kebingungan.


Denis sudah membacanya, tapi dia sengaja tidak membalasnya.


Arini semakin penasaran, tumben- tumbenan Denis membiarkannya menunggu lama hanya dari sebuah balasan pesan?


Padahal biasanya, justru Denis lah yang selalu terlebih dulu mengirim pesan padanya.


"Ah mungkin saja dia lagi sibuk, aku tidak boleh berburuk sangka." Arini menepis dugaan yang tidak-tidak di benaknya.


Ia kembali tenggelam dalam pekerjaannya.


Dia memeriksa ponselnya barangkali ada pesan dari Denis yang masuk, tapi tidak ada.


"Perasaan Arini menjadi tidak enak.


"Ya Allah... hamba tidak minta yang berlebihan lagi, hamba hanya memohon pelihara lah cinta kami, jagalah hati Denis untuk ku, begitupun diriku. Aamiin"


Arini menutup doanya setelah sholat Ashar sore itu.


Di tempat lain, Denis malam pergi meninggalkan kantor.


Dia melajukan mobilnya ke arah toko kue Arini. Ia bermaksud melihat dari dekat seperti apa sosok Hendra yang sudah merusak suasana hatinya hari itu.


"Denis? mau pesan kue?' sapa Nilam bersemangat. Ia senang melihat wajah Denis yang seperti sangat kesal.


Mata Denis mencari sosok Hendra.


"Cari siapa? kau pasti tau kalau Arini jam segini masih di butiknya."


"Aku tau, mbak. Aku hanya ingin melihat Hendra!" ucapnya dengan wajah dingin.


"Bagus! umpanku berhasil." soraknya dalam hati.


"Hendra, dia masih pergi mengantar pesanan. Dia sangat rajin dan baik hati.


Karna itu Arini sangat menyayanginya,, maksud mbak Nilam, kami


sangat menyayanginya."


Mendengar pujian itu hati Denis semakin terbakar api cemburu.


"Aku penasaran, seperti apa sih, dia sampai kalian para wanita begitu menyanjungnya?"


mata Denis terlihat berkilat.


"Mau gimana lagi, dia memang pantas mendapat pujian..."


"Tuh dia orangnya!" Nilam menunjuk Hendra yang baru memasuki motornya.


Hendra terlihat heran melihat Nilam dan Denis yang sedang mengobrol.


"Hen, sini sebentar. kenalkan ini Denis, suami Bu Arini."

__ADS_1


Hendra menatapnya tanpa kedip.


"Ada yang salah dengan saya?" tanya Denis tidak suka.


"Bukan begitu, pak. Bu Arini sangat beruntung mendapatkan bapak sebagai pendampingnya.


Bapak juga begitu. Dia sudah cantik, baik hati sukses dia tidak pernah memandang rendah pada saya yang hanya pegawai rendahan."


Hendra tak sadar sudah memuji Arini bertubi-tubi.


Hal itu membuat panas telinga Denis


"Cukup, cukup kamu memuji bos mu, saya lebih tau segalanya!" potong Denis cepat.


"Maaf, pak!" ucapnya tersenyum seperti tidak punya salah sedikitpun.


Nilam memanfaatkan keadaan yang sudah memanas.


"Kau benar, Arini memang baik pada semua orang, tapi kamu beruntung karena dia lebih perhatian padamu dari pada yang lainnya. Mungkin juga karna melihatmu rajin dan tekun." ucapnya sambil melirik wajah Denis yang cemberut.


Hendra tersenyum lebar.


Ponsel Denis berbunyi.


"Den, kau ada di mana? kau tidak apa-apa, kan?" tanya Arini beruntun dari sebrang


"Halo! kau masih disana?" suara Arini mengagetkan Denis.


"Iya, aku dengar, Rin." jawab. Denis singkat.


"Kau sudah baca pesanku, kan? bisa jemput aku di butik?"


"Iya, aku segera datang." jawabnya masih dengan wajah kesal.


Arini memandang aneh pada ponselnya.


Di toko kue Arini.


"Kau mau pulang, kan? ikut sekalian, ya!" kata Nilam.


"Ya sudah, kalau mbak Nilam sudah tidak ada pekerjaan, tapi aku masih mampir ke butik menjemput Arini." kata Denis.


"Tidak apa-apa.." jawab Nilam.


Ia sudah berharap dapat melihat perang dingin yang akan terjadi antara Denis dan Arini.


Sepanjang perjalanan, Denis hanya diam. Ia tidak banyak banyak bicara.


"Hebat ya, Arini. Toko kuenya sudah maju, sekarang butik yang di rintis nya juga mulai ramai"


Nilam sengaja membuka percakapan.


Denis hanya mendesah kasar.


"Buat apa karier sukses tapi suami tidak terurus...!" gumam Denis pelan


"Maksudmu?"


"Lupakan saja, bukan apa-apa." ucap Denis malas.


Nilam tersenyum sendiri. Ia berharap saat bertemu Arini, Denis semakin terbakar.


"Denis..!". Arini menyambut suaminya itu dengan senyum lebar.


Ia langsung menggandeng tangan Denis.


Namun saat melihat Nilam yang turun dari pintu sebelah membuat hatinya bertanya.


"Mbak Nilam?" tanyanya kaget.

__ADS_1


"Aku sekalian ikut, soalnya tadi Denis ke toko." ucap Nilam pura-pura cuek.


"Ke toko? tapi aku kirim pesan kau tidak balas-membalas?" kini pertanyaannya ia tujukan pada Denis


Denis pura-pura tidak mendengar dengan bertanya sesuatu pada Mala, asisten Arini di butik.


"Sudah selesai? ayo kita pulang. takutnya kemalaman soalnya masih ngantar mbak Nilam ke tempat Budhe." kata Denis sambil masuk kedalam mobil.


Di jalan, Denis terlihat cuek pada istrinya.


Arini heran di buatnya. Namun ia berusaha mengalihkan perhatian dengan banyak bertanya pada Nilam.


"Menurut mbak, bagaimana perkembangan toko kita?" tanya Arini tiba-tiba.


"Baik, bahkan selama seminggu terakhir ini, hasil penjualan meningkat. Mungkin karena moment tahun baru juga."


Arini mengangguk puas.


"Ini hanya usul, bagaimana kalau kita beri bonus tahun baru pada karyawan. Itu pasti sangat bermanfaat, apalagi buat orang seperti Hendra." kata Nilam.


"Mbak benar, kenapa aku tidak kepikiran sampai di situ, ya?"


Tadi saja Denis banyak ngobrol dengannya.'


imbuh Nilam.


Arini mengerutkan keningnya.


"Denis? sempat bertemu Hendra, apa saja yang kalian obrolkan?" tanya Arini penasaran.


"Apalagi? dia sampai tidak memberiku kesempatan bicara karna terus memuji mu!"


"Masa, sih?" Arini tersenyum.


"Kau pasti terkesan padanya, dia orangnya sederhana, jujur pula." imbuh Arini.


"Berhenti saling memuji di depan ku, Rin!" suara Denis terdengar tegas.


Nilam yang duduk di belakang memalingkan wajahnya keluar jendela.


Arini terdiam. Walaupun belum tau apa yang membuat suaminya bersikap aneh, namun ia memilih diam.


'Kalian tidak ikut turun dulu?" tanya Nilam saat mereka sudah sampai.


"Lain kali saja mbak.. aku lelah sekali hari ini." jawab Denis.


"Aku tau penyebabnya.." bathin Nilam.


Sebelum mobil itu meninggalkan halaman rumah itu, Bu Zah keluar dan memanggil mereka.


"Eeh.. kalian mau langsung pulang saja. Ayo turun dulu!" perintahnya bersemangat.


Karna tidak enak menolak, Arini dan Denis turun juga.


"Ayo masuk dulu. Kalian makan dulu, kebetulan budhe sudah memasak makanan kesukaan Elang." ucapnya sumringah.


Denis terlihat tidak bersemangat, ia ingin secepatnya sampai di rumah sendiri dan menyelesaikan masalah yang menganggu pikirannya.


Diam-diam Nilam menyuruh Shofia datang. Saat di beri tau ada Denis di situ, Shofia langsung datang.


"Waah ada acara makan besar rupanya.. kenapa Budhe tidak mengundangku?" ucapnya sambil merebut.


"Kan, kamu sudah datang. ayo sekalian makan!" ajak Bu Zah ramah.


"Mas Elang wajahnya berlipat begitu, ada apa?" celetuk Shofia.


"Aku hanya kurang enak badan saja." elak Denis.


Padahal bayangan Hendra masih menganggu pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2