
Walaupun dengan keadaan belum pulih sempurna pasca operasi, Anita memaksakan diri berangkat menyusul Ilham. Keadaanya tak jauh beda dengan Denis yang mencemaskan Arini.
Sementara itu di kamarnya, Ilham sedang berjuang menahan rasa sakit di kepalanya.
Rasa sakit yang amat sangat di tambah rasa mual ya g membuatnya muntah beberapa kali.
Dengan terhuyung dia membuka pintu dan memanggil Arini yang tidur di kamar sebelah.
"Mas kau kenapa?" Arini memapahnya masuk.
Tubuh Ilham terasa bergetar, ia terus muntah sambil memegangi kepalanya.
Arini yang panik minta pertolongan pada penjaga villa itu.
Setelah minum obat yang dari dokter yang di bawanya. Keadaannya berangsur membaik.
Penjaga villa itu juga membawakan minuman hangat untuk Ilham.
"Bu, sebaiknya pak Ilham jangan di tinggal sendirian malam ini. takutnya sakit di kepalanya kumat lagi." kata pak tua itu.
Arini merasa bimbang. Kalau dia menemani Ilham disini, berarti mereka akan sekamar lagi.
Ilham menyadari kegelisahan Arini.
"Tidak apa-apa Rin, aku sudah tidak apa-apa. kau istirahat saja, kasian anak dalam perutmu." ucap Ilham bijak.
"Tidak apa-apa Mas, aku akan menunggumu disini sampai kau tertidur."
"Rin, apa aku sudah berbuat sesuatu yang fatal hingga kau begitu membenciku dan menjaga jarak denganku?"
"Tidak usah di bahas sekarang, yang ada kau akan sakit kepala lagi. Berdoalah agar ingatanmu cepat kembali. Pada saat itu, tanpa aku ceritakan pun kau akan paham dengan keputusanku ini."
"Apapun kenyataan nya nanti, aku ingin tegaskan bahwa aku sangat mencintaimu seperti saat aku melamar mu dulu. Tidak berubah sedikitpun." mata Ilham terlihat serius saat mengucapkannya.
Arini menghela nafas panjang.
"Kalau benar segitu besar perasaanmu padaku, kau tidak akan sanggup mengkhianati ku, Mas."
"Aku sendiri tidak sanggup membayangkan kalau aku mampu mengkhianati dirimu,"
"Istirahat lah, besok kita bahas lagi. Kalau kau sudah merasa baikan, aku akan kembali ke kamarku dulu."
Ilham mengangguk. Seandainya saja kau tidak pernah berkhianat, andai saja sikapmu manis seperti saat ini waktu itu?
"Kau tidak usah khawatir." kata Ilham lagi.
Arini melangkah menuju pintu.
Tapi baru saja dia membuka pintu, Anita tengah berdiri dengan wajah merah menahan amarah.
"Kau..?" Arini bertambah kaget saat mendapati wajah Denis muncul dari belakang Anita.
"Kalian ada di sin?" ucapnya terbata.
"Aku mendengar mu bersin di telpon, aku pikir kau sakit, tapi ternyata...?" wajah Denis tampak kecewa.
"Yang terjadi bukan seperti yang kalian lihat.." jawab Anita terbata.
"Lalu?" mata Anita terlihat menantang.
__ADS_1
"Kau masuk saja, dan tanyakan pada suami mu?" Arini menyingkir dari pintu untuk memberi jalan pada Anita.
Denis tertegun di tempatnya berdiri.
"Kau juga pasti berpikiran sama seperti Anita, percuma aku jelaskan." Arini melangkah menuju kamarnya.
Denis menangkap tangannya.
"Rin, katakan padaku kalau yang di tuduhkan Anita itu memang salah. katakan sekali saja! aku akan percaya."
Arini berbalik menatap Denis.
"Aku hanya menolongnya memberi obat, dia merasa kesakitan seperti biasanya." ucap Arini dengan gamblang.
Denis memegang kedua tangannya.
"Aku percaya padamu!"
Senyum Arini mengembang saat mendengar itu.
"Terima kasih. aku akan terus menjaga kepercayaan mu itu." jawab Arini bersemangat.
"Bagaimana keadaan jagoanku ini?" Denis menatap perut Arini yang terlihat menonjol.
"Dia baik, malahan dia bertanya, kenapa tidak mendengar suara Om Denis seharian?
kenapa pula Om Denis tidak menjawab telpon dari ibu? aku jawab saja, Om Denis sedang bersama kakak Shofia, jadi tidak usah di ganggu!" ucap Arini sambil mengalihkan pandangannya.
Denis tersenyum lebar mendengar gurauan Arini. Ia langsung membalasnya dengan cara yang sama.
"Jadi, ceritanya, ibu lagi cemburu pada anak ingusan itu, ya?" jawab Denis seolah berbicara pada anak dalam perut Arini.
Arini menggeleng sambil tersenyum.
Namun hatinya berbunga saat membahas soal perasaan bersama Denis.
"Jujur aku ingin kalau kau cemburu padaku." ucap Denis serius.
Arini tertawa kecil.
Ia tidak menampik kalau dirinya memang merasa tidak tenang dengan kedekatan Denis dan Shofia.
Mereka terus saling becanda seperti layaknya ABG yang baru jatuh cinta.
Arini dan Denis bisa menyelesaikan kesalah pahaman nya. Tapi Ilham dan Anita, justru terdengar masih bersitegang.
"Buat apa dia masuk kamar ini? mana janji kalian untuk saling menjaga diri!" sentak Anita kesal.
"Aku malas berdebat, tolong jangan perpanjang masalah ini, kepalaku pusing.
lagian aku tidak pernah memintamu untuk datang kesini." ucap Ilham acuh.
Anita semakin emosi, suaminya justru menyalahkan kedatangannya ketempat ini.
"Mas, ingatlah.. aku ini istrimu, kita sudah pacaran selama dua tahun. Kita juga sudah menikah dan punya seorang bayi perempuan yang cantik namanya "Cila"
Bukannya senang, Ilham malah bertambah tegang. ia memegangi kepalanya.
"Berapa kali harus aku bilang, saat ini aku tidak mau mendengar itu semua. kepalaku pusing.!" bentak Ilham.
__ADS_1
Anita terhenyak di kursi.
"Aku tau, mungkin apa yang kau bilang itu memang benar, tapi hatiku menolak kebenaran yang coba kau beri tau. Bersabarlah.." ucap Ilham dengan nada mulai melunak.
Arini dan Denis hanya mengangkat bahu dengan mendengar pertikaian di antara suami istri itu.
"Kau sudah pesan kamar?" tanya Anita.
"Siapa bilang aku mau menginap? aku akan balik!" jawabnya menggoda.
"Balik? malam-malam begini?"
Denis mengangguk pasti.
"Jangan balik! kalau kau kenapa -napa aku yang akan di salahkan oleh Bu Zah."
"Ayolah, Rin. jangan pakai alasan Bu Dhe marah. Aku ingin kalau memang harus menginap, itu murni karena kau yang mau."
Denis mengedipkan matanya dengan nakal.
Ia merasa bahagia karena Arini mau mengakui perasaanya.
Walaupun ia sadar, perjalanan masih panjang dan berliku. Karna status Arini yang masih menggantung.
Sepanjang malam Anita tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya terbakar kala melihat tatapan penuh cinta Ilham pada Arini.
Hatinya bergemuruh Karna cemburu buta, membuat ia kehilangan akal sehatnya.
"Aku harus berbuat sesuatu!" tekatnya dalam hati.
Keesokan harinya, Ilham mencari Arini di depan kamarnya. Namun ia begitu kaget saat mendapati Denis baru keluar dari kamar itu.
"Kau? bukannya kau teman Arini?" tanyanya heran.
"Aku Denis. kita sudah kenal, tapi mungkin kau juga lupa."
"Lalu kenapa pagi-pagi sudah keluar dari kamar Arini?" tuduh nya dengan murka.
"Tenaang, bisa aku jelaskan!" jawab Denis.
Namun Anita sudah nyerocos duluan.
"Kau lihat, Mas. Perempuan yang selalu kau puji-puji setia dan berakhlak itu sudah tidur dengan pria yang bukan suaminya!"
"Jaga bicaramu!"
"Hey.. tuan Denis yang terhormat. jangan coba coba membentak Anita, karna apa yang dia katakan itu memang benar." ucap Ilham dengan sorot mata penuh amarah.
Anita merasa senang karna Ilham membelanya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" seorang wanita paro baya keluar dengan tergopoh.
Ilham dan Anita terbelalak.
"Kalau menuduh pikir dulu, jangan samakan semua orang dengan diri kalian!" sindir Denis dengan senyuman mengejek.
"Bu Arini sedang tidak enak badan. kakinya bengkak. karna itu mas Denismemanggil saya untuk mengobatinya." jelas wanita itu.
"Puas??" ejek Denis lagi.
__ADS_1
Ilham menunduk malu. Begitupun Anita.
💞🤲🤲🤲