
Ilham benar-benar gelap mata. Ia tidak mau mengakui anaknya, ia terus menganggap Denis adalah ayah dari anak Arini.
"Dasar menjijikan!" ucapnya setelah Arini berlalu dari hadapannya.
Anita yang masih disitu tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil membuat Ilham tersulut emosi.
"Syukurlah kau sudah ingat semuanya mas!
ternyata rencanaku berguna juga." ia tersenyum kecil.
"Maksudmu?"
"Semula aku ingin membuat Arini terjatuh dengan menumpahkan minyak di pintu kamarnya. ya, walaupun dia selamat dari jebakan ku, tapi berkat itu kau bisa sembuh!."
Ucapnya bangga.
Anita tidak sadar kalau Ilham sedang menatapnya dengan amarah.
"Jadi kau pelakunya, yang hendak mencelakai Arini?" bentak Ilham dengan garang.
"Tapi nyatanya itu bisa membuat ingatanmu pulih, kan Mas." Anita membela diri.
"Lalu kalau Arini sampai terluka?"
"Bukannya kau membencinya?"
"Aku benci pada anak yang di perutnya, bukan Arini nya!"
Ilham meninggalkan Anita dengan membanting pintu.
Anita heran, Ilham sangat membenci Arini, tapi masih saja tidak rela kalau Arini kenapa-kenapa.
"Dasar manusia aneh!" desisnya kesal.
Anita mengangkat telpon dari Bu Lastri.
"Anak mu menangis terus, cepatlah pulang! bagaimana dengan Ilham? apakah ada perkembangan?"
"Ibu, yang mana harus aku jawab duluan, begitu banyak pertanyaan."
Anita merasa kesal karena Bu Lastri di anggapnya terlalu cerewet.
"Tentang Ilham saja? bagaimana keadaan nya?" ulang Bu Lastri penuh harap.
"Dia sudah bisa mengingat semuanya, tapi ibu tau sendiri putra ibu itu yang tidak punya malu. Sudah di tolak mentah-mentah oleh Arini, masih saja berharap." suara Anita yang seperti merajuk membuat Bu Lastri berpikir.
"Selama Arini masih ada, keadaan akan begini terus, Ilham akan terus di ganggu bayangannya. Aku harus cari cara agar mereka semakin saling membenci."
Bu Lastri menceritakan rencananya pada
Anita.
Dengan senang hati Anita menyambut rencana mertuanya.
Di tempat lain, Arini sedang menumpahkan semua kesedihannya. walaupun ia sangat mengharapkannya, tapi saat Ilham mengucap talak cerai untuknya membuat hatinya terguncang juga.
Kenangan selama empat tahun hidup bersama tidak mudah ia lupakan begitu saja.
Denis terus menemaninya walaupun tidak bicara sepatah katapun. ia membiarkan Arini menumpahkan segala kesedihannya.
"Seberapapun kau berusaha tegar, aku tau. kenyataan ini mengguncang jiwamu. menangislah.. selama itu bisa mengurangi beban di hatimu." gumamnya dengan prihatin.
Beberapa menit kemudian.
"Sudah berapa lama aku menangis? aku terlalu cengeng. Aku janji, ini air mata terakhir ku." kata Arini berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Jangan salah, airmata adalah teman setia, di saat bahagia, terharu kadang kita membutuhkannya."
Arini mengangguk setuju.
"Tapi sekarang kau merasa lebih baik, kan?"
"Iya, aku merasa lega, aku bisa menentukan masa depanku."
"Aku turut bahagia atas kebahagiaanmu."
Saat itu Ilham melintas tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Gemuruh Hatinya yang semula sudah mulai mereda kembali bergolak saat melihat mantan istrinya dan Denis terlihat begitu dekat.
Tanpa sadar, Ilham mendekati mereka.
"Kalian memang tidak punya hati! apalagi kau Arini, baru saja kita bercerai tidak ada sedikitpun kesedihan yang kau tampak kan, malah kalian merayakannya dengan bahagia."
"Cih..! aku memang mengkhianatimu,
tapi bedanya, aku tidak merayakan kebahagiaan sepertimu. kalau di pikir kau lebih bejat dari Anita!" ucapan Ilham tidak terkontrol lagi, api cemburu membakarnya begitu hebat.
Mendengar hinaan terhadap Arini, Denis mengepalkan tangannya.Namun Arini menahannya.
"Biarkan saja, aku sudah terbiasa dengan segala tuduhan keji nya. Lagi pula, kalau kita meladeninya, apa bedanya kita dengan mereka?" ucap Arini santai tanpa melihat Ilham sedikitpun. Seolah dia tidak menganggap pria itu ada.
Anita yang ada di sana ikut panas oleh sikap Arini.
"Berhentilah jadi wanita munafik, Rin!
kau selalu bersikap naif seolah kau itu korban. Kau membalikkan fakta agar kami selalu di pihak yang salah."
Arini hanya terdiam.
"Maafkan aku Anita, kau benar, selama ini aku sudah di butakan oleh cinta. Aku tidak bisa melihat sisi lain dari Arini, Terimakasih sudah mengingatkanku. aku baru sadar, kau jauh lebih baik darinya." ucap Ilham memandang Arini.
Denis tak tahan lagi, dia bangkit dan melayangkan tinjunya kearah Ilham.
"Bugh..!
Ilham mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Namun ia tidak membalas.
"Kau tau? betapa dia tersiksa dengan keadaan ini, apa kau juga tau, setiap malam dia menangisi pria yang tidak punya hati sepertimu.? bahkan dia tidak bisa membuka hati untuk orang lain karna dirimu. kalau aku jadi kau, bahkan aku malu menyebut diriku seorang suami." ucap Ilham dengan bibir bergetar.
"Sudah! kalian jangan bertengkar. aku harap ini yang terakhir kita seperti ini. Kau sudah melanjutkan hidupmu, biarkan aku juga melanjutkan hidupku bersama Denis." kata Arini pada Ilham dengan mantap.
"Kalau itu maumu, baiklah. mulai hari ini kita tidak akan saling bertemu lagi."
Arini mengajak Denis pergi dari tempat itu.
"Kita pulang sekarang!" ia menggamit tangan Denis dan melangkah tanpa menoleh lagi.
Ilham merasa kesal dan menendang meja dengan keras.
" Kau sudah menguji batas kesabaran ku, Rin, Baiklah, kalau kau bisa, aku juga bisa!"
Anita meraih tangan Ilham.
"Kita pulang juga yuk!"
"Terserah kau saja!"
jawabnya sambil menepis tangan Anita.
Anita merasa kesal karena Ilham bersikap manis padanya hanya untuk memanas- manasi Arini saja.
__ADS_1
Denis memapah Arini ke kamarnya.
"Aku baik-baik saja. Kau berkemas juga"
Arini tersenyum manis.
"Aku boleh bertanya" ucap Denis ragu.
Arini mengangguk.
"Apa kau serius dengan ucapan mu pada Ilham?"
"Aku serius, bahkan sangat serius..!"
"Apa kau sudah siap membuka hati kembali?"
"Bagaimana dengan harapanku selama ini?"
"Eeum.. kita bahas lagi nanti, yang jelas, tidak ada orang lain yang bisa mengerti diriku sebaik kau mengerti aku saat ini..."
ucap Arini dengan senyum penuh misteri.
"Eh, si bocah tengil nelpon. video call lagi."
Denis menerima panggilan video dari Shofia.
"Hai mas Elang.., kapan pulang? aku sudah rindu." ucap Shofia sambil cengengesan seperti biasa.
"Ini kami juga sudah bersiap pulang." Denis mengarahkan kameranya ke arah Arini yang sedang berkemas.
"Hai Shof, gimana kabarmu sekarang, maaf lho waktu kamu sakit mbak tidak bisa ikut menjenguk." sapa Arini.
"Tidak apa-apa, ohya, wajah mbak Arini terlihat ceria sekali? ada kabar gembira apa?" tanya Shofia penasaran.
Tanpa di duga Denis yang menjawab.
"Mbak Arini sudah siap membuka hatinya kembali. Karna dia sudah resmi bercerai secara agama." wajah Denis tampak bahagia saat menyampaikan kabar itu.
Ia tidak menyadari perubahan pada wajah Shofia.
"Shof, kenapa diam saja? masa kau tidak ikut gembira buat mas Elang?"
"Iya, mas. aku turut bahagia. selamat ya!"
Setelah itu hubungan via telpon itu terputus.
"Di matiin?" tanya Arini.
Denis mengangguk.
"Mungkin signal." jawab Denis enteng.
Namun perasaan Arini tak enak.
Denis pergi ke kamarnya untuk berkemas. Arini duduk termenung.
"Aku merasa Shofia begitu aneh, ia tidak menganggap Denis sekedar kakak..."
"Apakah ibu salah kalau membuka hati pada Om Denis? apakah ibu salah kalau melupakan ayahmu?" ia berbicara pada bayi dalam perutnya.
Arini tidak bisa menampik kalau perasaanya pada Ilham masih belum bisa hilang sepenuhnya. Namun ia juga tidak menampik mulai merasa nyaman saat Denis berada di samping nya.
Setelah menyelesaikan administrasinya, Denis memapah Arini ke mobilnya.
Semua itu tak lepas dari pandangan Ilham dari kejauhan.
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA DONG🙏🙏