
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ilham.
Denis yang
ada di situ ikut kaget mendengarnya.
"Apa maksudmu?" bibir Arini bergetar menatap Ilham.
kini air mata itu tak bisa di tahan lagi.
"Aku meragukan anak itu!"
Arini menarik nafas. Inilah hal yang paling menyakitkan dari semua yang pernah di perbuat Ilham padanya.
"Aku tidak akan memaksa agar kau mengakuinya.
Aku sudah melepas tanggung jawabku untuk mengatakannya, Kalau Mas Ilham tidak mau mengakuinya, terserah. Aku malah bersyukur." ucap Arini tegar.
"Rin, apa yang kau katakan? dia menolak anak mu!" ucap Denis tidak mengerti dengan jalan pikiran Arini.
"Kalau kau tetap tidak mau pulang, itu akan semakin menambah kecurigaan ku." tantang Ilham Lagi..
"Baik, kau tidak mau mengakui ini adalah anak mu? api ingat, sampai kapan pun dia hanya anak ku! kau ataupun keluargamu tidak berhak padanya, Anak ku tidak butuh ayah seperti mu Mas!"
Arini mengusap perutnya seolah memberi kekuatan pada jabang bayi yang di kandungnya.
Dengan tenang Arini meninggalkan Ilham yang masih memegangi pipinya.
"Rin, tunggu! aku tidak bisa berpisah dengan mu, aku tidak bisa. Aku tidak tau, perbuatanku berhubungan dengan Anita akan mengakibatkan kehilangan mu!"
Arini terus melanjutkan langkahnya.
"Rin, tolong, aku tobat, aku salah.. tapi jangan hukum aku seperti ini!" Ilham memohon dengan berurai air mata.
Arini menjadi semakin murka.
"Kau mengajakku pulang? Lalu Anita mau kau bawa kemana?" sindir Arini.
"Itu.. kita pikirkan nanti. yang penting kau ikut aku dulu!"
"Dasar laki-laki tak berpendirian!" umpat Arini dan meninggalkan Ilham.
Ia tak perduli dengan pandangan orang-orang yang tertuju pada mereka.
Denis menyalakan motornya dan mengejar Arini.
'Rin, biar ku antar!"
"Tidak Den, aku tidak takut dengan pendapat mas Ilham, tapi khawatir pada tanggapan orang-orang kalau kita pulang bersama saat ini."
Denis terdiam. Arini benar, kali ini mereka tidak boleh terlihat bersama dulu.
"Jangan lupa kabari aku kalau sudah nyampek!"
Arini mengangguk.
Sedangkan Ilham merasa kesal. Sebenarnya ia hanya menggertak Arini, ia tidak mengakui anaknya agar Arini takut dan mau pulang bersamanya.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Arini justru menantangnya untuk tidak menemui anak mereka selamanya.
"Sial...!" Ilham menendang kerikil yang ia lewati.
Sampai di rumah Ilham bertambah pusing karna melihat kesibukan orang-orang yang mempersiapkan pernikahannya besok.
"He.. Ilham, sini! sapa dulu ibu-ibu yang telah membantu kita!"
Ilham hanya tersenyum sekilas ke arah mereka.
__ADS_1
"Ternyata ganteng juga, ya? pantesan jadi rebutan dua orang wanita." bisik-bisik tetangga itu hanya di dengar sambil lalu oleh Ilham.
"Arini lagi?" tebak bu Lastri saat melihat wajah putranya yang kuyu.
"Dia tidak mau pulang, Bu. Bahkan dia menantang ku untuk tidak menemui anaknya kelak."
Ilham memeluk ibunya.
"Dia bilang begitu? dasar kacang yang lupa pada kulitnya. Sudahlah.. kalau memang benar dia anakmu, dia akan datang mencarimu. tapi ibu rasa itu tidak akan terjadi. Dia bukan anak mu!
Anita lah ibu dari anakmu!" tegas Bu Lastri.
Ilham masuk ke kamarnya dengan linglung.
"aku tidak bisa mengabaikan mu Rin, aku tidak bisa.vtolong kembalilah.!" ratapnya dengan hati hancur.
"Besok, aku akan menikah dengan Anita, tapi hatiku ada pada Arini.
Hari yang di tunggu-tunggu Bu Lastri dan Anita akhirnya tiba juga.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah yang sudah di dekorasi sedemikian rupa.
Anita sudah siap dengan kebaya putih yang di penuhi renda. Ia tampak cantik dengan senyum yang selalu menghias wajahnya.
Ilham juga tampak gagah dengan setelan jas putihnya. Namun wajahnya tampak gelisah.
"Mas, kenapa kau terlihat gelisah begitu?
masih ingat Arini?" tanya Anita tidak suka.
"Kau tidak berhak menanyakan itu, tugasku hanya menikahi mu, jadi jangan coba melewati batasan mu!" jawab Ilham ketus.
"Anita tidak tersinggung dengan jawaban Ilham. ia malah terpesona oleh penampilan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
"Nit, ayo bersiap! jangan pandangi mempelai mu seperti itu, pamali! kata orang Jawa." Bu Lastri menepuk pundak Anita hingga ia tersipu.
Acara ijab kabul itu akhirnya selesai juga.
"Selamat, ya! sekarang kalian resmi jadi suami istri.
Sekarang kau boleh pandangi suamimu sesuka hati!" ledek Bu Lastri sambil tersenyum.
Ia merasa lega karna sudah menuntaskan kewajibannya, menikahkan Ilham dengan wanita yang tepat dan pantas mendampinginya.
"Sekarang bebanku berkurang, tinggal Siska yang belum." ucap nya lagi.
"Belum apa, Bu?" tanya Siska yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Kewajiban ibu mencarikan mu pasangan yang tepat belum.."
"Aku tidak mau menikah!" potong Siska cepat.
Semua mata memandang ke arah ibu dan anak itu.
"Pelan Kan suaranya, malu di lihat orang!" bisik Bu Lastri.
"Ngapain malu? aku tidak berbuat dosa kok.
Aku hanya ingin bilang, tidak mau menikah kalau dengan pria tidak punya pendirian dan dapat mertua yang sok ngatur dalam rumah tangga ku!"
ucap Siska acuh.
Muka Bu Lastri seperti tertampar oleh sindiran putrinya sendiri.
"Maaf, dia masih kecil, belum tau apa yang dia ucapkan!" Bu Lastri berusaha tersenyum pada para tamu sambil menggeret tangan Siska ke kamarnya.
"Ibu tidak suka mulut nyinyir mu itu,
sekarang diam di sini jangan keluar!"
__ADS_1
Bu Lastri mengunci kamar itu dari luar.
"Bu, buka pintunya, aku tidak salah.. apa yang aku katakan memang benar.!" Siska berteriak-teriak dari kamarnya.
Sementara Bu Lastri kembali menemui para tamunya.
"Kenapa dengan putrimu Bu Lastri?" tanya seorang tamu.
"Aah biasa, jiwa anak-anak masih labil. maklum lah" ucapnya berkilah.
Semua tamu sudah pulang. Tinggal beberapa orang kerabat yang datang dari jauh yang menginap.
Pihak keluarga Anita juga sudah berpamitan.
Anita menyusul Ilham yang sudah lebih dulu ke kamar.
Ia mendapati Ilham sudah mandi dan memakai kaos.
"Mas Ilham sudah siap rupanya, aku harus cepat-cepat mandi, takut dia kelamaan menunggu." ucapnya tersenyum dan bergegas masuk kamar mandi.
Anita memakai pakaian dinas yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Mas Ilham pasti pangling melihatku dengan lingerie ini... tunggu aku Mas!" .Dengan bersemangat dia keluar dari kamar mandi.
Namun Anita kecewa. Di lihatnya Ilham sudah terlelap, dan yang membuatnya lebih kecewa, Ilham tidur di bawah beralaskan karpet.
Anita menggigit bibirnya karna marah dan kesal.
Pagi sekali Ilham sudah keluar dari kamar.
Bu Lastri yang kebetulan melihatnya datang mendekat.
Dengan seksama memeriksa rambut putranya.
"Ibu, apa -apaan ini?" Ilham kesal karna Bu Lastri mengacak rambutnya.
"Tidak terjadi gempa?" tanyanya penuh keheranan.
Ilham meninggalkan ibunya yang tercengang di tempatnya berdiri.
Bergegas ia menghampiri kamar Anita.
"Nit, kau sudah bangun?"
"Iya, Bu. sebentar!"
"Kau?" melihat Anita yang masih rapi, Bu Lastri
semakin yakin kalau pengantin baru itu belum melakukan apapun semalam.
Siska berpapasan dengan Masnya di halaman.
"Mas, gimana rasanya punya istri baru, sedangkan yang lama masih ada dan tersia-siakan?" sindir Siska.
"Kau boleh bilang apapun."
Siska tersenyum getir.
"Aku dengar, mbak Arini hamil, ya?" celetuknya. Membuat Ilham menghentikan langkahnya.
Kemudian berbalik menatap adik perempuan satu-satunya itu.
Ilham mengangguk.
"Tapi semua sudah terlambat, Arini terlanjur marah pada Mas mu ini." wajah Ilham tertunduk layu.
"Tidak ada kata terlambat selagi kita mau berusaha, Mas."
Ilham memandang Siska. Ia tidak menyangka, kata-kata bijak itu keluar dari mulut adik kecilnya.
__ADS_1
Mohon dukungannya..!