
Dua minggu sudah berlalu setelah kejadian itu, walau dukanya begitu dalam atas kepergian anaknya, ia berusaha tersenyum di hadapan Bu Zah dan Denis yang tak henti memberinya dukungan.
Apalagi Denis. Ia begitu tulus menemaninya di masa masa sulitnya.
aku kemana, Nak? luka bekas operasi itu belum sembuh benar." sapa Bu Zah saat melihat Arini bersiap pergi.
"Aku ingin melihat makam anak ku, Bu."
"Owh, boleh. tapi jangan sendiri. Biar Elang yang mengantar!"
"Apa tidak merepotkan Denis, dia pasti sedang bersiap ke kantornya." ucap Arini ragu.
" Dia, kan bisa ke kantor setelahnya." jawab Bu Zah
Tak berapa lama, Denis benar -benar datang.
"Mau ke makam?" Rini mengangguk.
Bu Zah memapah Arini naik ke mobil.
"Hati-hati, Lang. pelan-pelan saja jalannya."
Denis mengangguk.
Di jalan, Arini hanya terdiam. Denis melirik wanita yang sedang termenung di sampingnya itu
"Apa yang kau pikirkan, Rin?"
"Aku menyesal kenapa waktu itu aku menolak kau mengantarku."
"Sudahlah, kau mau melihat junior, kan? jangan sedih, dong! aku yakin dia suka melihat ibunya bersedih."
Arini mengusap air matanya.
"Kau benar sekali, dia tidak boleh melihat ibunya cengeng."
'Yang menganggu pikiranku, di saat kejadian kenapa ada mas Ilham di situ?"
Denis kaget. Sebenarnya dia juga berpikiran sama dengan Arini. Tapi dia tidak mau bersikap seolah menyudutkan Denis.
"Kau tau? bukannya kau pingsan?"
"Aku sempat melihatnya samar-samar sebelum akhirnya tidak mengingat apapun."
Mereka berdua terdiam.
Denis melajukan mobilnya sangat pelan.
Ia memikirkan kondisi Arini yang belum pulih total.
"Bukankah itu agak aneh?" imbuh Arini.
"Bukankah dia sangat membenci anakku,
bukan tidak mungkin dia ingin melenyapkan kami dengan cara keji itu."
"Eeum.. aku memang melihat Ilham disana waktu kejadian. bahkan dia terlihat panik di sampingmu saat aku datang. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan sesuatu semudah itu."
Denis menenangkan gemuruh dendam di hati Arini.
Arini terdiam sejenak.
"Yang aku ingat, aku memang merasa ada yang sengaja menyenggol ku hingga aku terpeleset dan terguling kebawah. "
"Tapi tidak mungkin, kan kalau Denis yang sengaja menyenggol mu, kalau iya, kau pasti tau keberadaan dia sebelumnya."
Arini mengangguk.
"Benar juga, lalu siapa kira-kira yang punya motif tidak baik padaku?"
Denis merasa khawatir saat melihat sorot mata Arini yang penuh dendam.
"Rin, kau belum sembuh benar, jadi sebaiknya jangan pikirkan hal - hal yang membuatmu stress atau apalah."
Arini tidak bereaksi, Ia merasa sudah cukup sabar menghadapi keluarga Ilham selama ini, Ia bertekad tidak akan mengalah lagi.
__ADS_1
Cukup sudah waktu yang dia berikan pada mereka untuk insyaf dari kesalahannya, tapi nyatanya mereka semakin menjadi.
Setelah kehilangan anaknya, Arini merasa kehilangan kesabaran juga, kesabaran yang ia tunjukkan selama ini hanya semakin membuat mereka menginjak harga dirinya.
"Tidak lagi! ucapnya tanpa sadar.
"Apa maksudmu, Rin?"
Denis heran dengan sikap Arini.
"Tidak apa-apa."
Arini tidak mau membuat pria baik di sampingnya itu ikut terbebani. Karena itu dia memilih diam.
Arini terus merangkai kejadian demi kejadian yang di alaminya selama ini.
Mulai dari rem mobil Denis yang tiba-tiba blong, kecelakaan di klinik yang mengakibatkan anaknya harus tiada.
"Kalau saat itu mas Ilham disana, bulan tidak mungkin Anita atau ibunya juga berada disana?"
Arini tidak berani membayangkan kalau salah satu dari mereka adalah pelakunya.
"Hey.. melamun trus, kita sudah sampai."
Suara Denis mengagetkan Arini.
"Tunggu, Rin. Kau lihat disana? ada seseorang yang sedang berjongkok di pusara anak mu."
Arini memicingkan matanya.
"Kau benar? tapi coba perhatikan, bukan nya dia mas Ilham?"
Arini bisa mengenali mantan suaminya itu dengan baik.
"Ngapain dia di pusara anak ku?" bathin Arini.
"Ayo!" ajak Denis.
Arini menahan tangan Denis.
Denis tidak mengerti dengan jalan pikiran Arini.
Setelah menunggu beberapa saat, Ilham meninggalkan tempat itu, Arini masih bisa melihat wajahnya yang terlihat muram.
Arini memeluk tanah gembur masih terlihat lembab karena titik embun.
Tak ada kata untuk melukiskan perasaanya saat itu.
Ia membelai tanah merah itu seraya berucap,
"Tenanglah kau di sana, Nak. kau sudah terbebas dari dunia yang kejam ini. Tinggal ibu yang harus menyelesaikan pertarungan yang masih tertunda ini ."
Denis merinding dengan ucapan Arini.
Dalam hati kecilnya dia tidak menyalahkan Arini yang terpaksa harus memelihara rasa dendam, Selama ini Arini selalu berusaha menjadi manusia yang baik, tapi balasannya justru dia yang selalu tersakiti.
"Denis, aku mau minta sesuatu, mungkin ini sangat sensitif, aku minta maaf sebelumnya."
"Katakan, Rin.. kau tidak usah sungkan begitu."
"Aku ingin di batu nisan ini tertulis kau lah ayah dari anak ku."
Denis sempat tercengang. Namun dia bisa menguasai diri.
"Kalau kau keberatan, tidak apa-apa juga. Permintaan ku memang gila, ya?"
"Bukan begitu, Rin. aku tidak keberatan sama sekali, tapi apa ini tidak salah Arini?" Denis mencoba menyadarkan Arini.
"Mungkin Dimata sebagian orang itu sebuah kesalahan. Tapi bagiku tidak!"
"Lalu Ilham??"
"Justru aku ingin dia semakin terpuruk saat tau nama ayah dari anakku adalah kau.
Walau dengan perasaan ragu, Denis setuju dengan permintaan Arini.
__ADS_1
***
"Kau darimana, Mas? ini sudah jam berapa, kau tidak kekantor?" sapa Anita pada Ilham yang baru masuk dengan wajah kusut.
"Aku tidak enak badan, aku mau istirahat."
jawab Ilham cuek.
Anita menarik baju Ilham hingga berbalik.
"Apa maksudmu? kalau kau begini terus, kau bisa di pecat. Kalau di pecat kita akan makan apa? Susunya Cila tidak murah sayang!"
"Kenapa bingung? kau , kan masih punya banyak tabungan? pakai saja itu!"
Ilham masuk kamar dengan sempoyongan.
Anita menahan geram.
Tapi ia tidak membantah lagi, ia memang pernah bilang sebelum menikah dulu bahwa punya tabungan sampai ratusan juta, tapi itu hanya triknya untuk menggaet dukungan Bu Lastri.
"Apa yang harus aku lakukan? kalau sampai mereka tau aku berbohong, tidak bisa bayangkan kemarahan mas Ilham padaku."
ia bergumam cemas.
"Mbak, minta uangnya dong!"
Siska menadahkan tangannya.
Mata Anita membola.
"Ada tidak?"
"Tidak..!" jawabnya tegas.
"Kalau begitu, bersiaplah rahasiamu akan segera terbongkar!'
Bisik Siska.
"Jangan pura-pura mbak Anita, aku tau semua rahasiamu." kata Siska lagi dengan acuh.
"Wajah Anita menjadi pucat.
"Jangan sampai anak kecil ini berkicau.. bisa bahaya." ucapnya dalam hati.
"Baiklah, berapa yang kau mau? tapi aku minta kau tutup mulut rapat-rapat!"
"Siip,, aman!" jawab Siska mengedipkan matanya.
"Dua juta saja, tidak banyak."
"Siska, kau mau memeras ku, ya! kau pikir uang dua juta itu kecil?" kata Anita berang.
"Itu hanya harga kecil untuk sebuah rahasia besar mu!" ucap Siska percaya diri.
"Tunggu..!"
Siska tersenyum penuh kemenangan.
"Padahal aku tidak tau apa-apa, kenapa dia ketakutan begitu? dasar bodoh! segampang itu di kerjain."
Siska termenung sambil menunggu Anita yang mengambil uang.
"Tapi kalau dia sampai ketakutan seperti itu, pasti dia punya rahasia besar. Lalu rahasia apa?"
Anita datang sambil membawa dia gepok uang.
"Ini yang terakhir, dan ingat, apapun yang kau ketahui tentang rahasiaku, kau harus tutup mulut."
"Terima kasih,Mbak. muach!"
Siska berlari keluar menghindari kemarahan Anita.
"Dasar mata duitan, dikit-dikit uang.. tapi? rahasia apa yang dia ketahui? jangan -jangan dia hanya mengerjai ku?"
Anita menepuk jidatnya dengan kesal.
__ADS_1
🙏🙏🙏