Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 47


__ADS_3

Denis tak jauh berbeda dengan Arini.


Ia gelisah memikirkan kenapa Arini terlihat cuek pada dirinya.


"Apa dia marah karna aku terlambat menjemputnya? ah, itu bukan sifatnya. Arini yang aku kenal sangat bijak dalam menyikapi sesuatu. Tidak mungkin hanya karna aku terlambat terus dia marah." Denis menghibur dirinya sendiri.


Denis menghadap cermin. ia menatap dirinya sendiri.


"Usiaku sudah dua puluh delapan tahun, harusnya sudah ada yang memanggilku ayah,


tapi lihatlah, jangankan istri seorang kekasih saja tidak punya." Denis tersenyum sambil meraba wajahnya.


"Tapi kalau di perhatikan, aku juga belum terlalu tua seperti kata budhe.


Masih pantas lah kalau jalan bersama Arini..."


Gumamnya tanpa sadar


"Arini.?" Denis menepuk jidatnya dan tertawa sendiri dan saat menyadari halusinasinya tentang Arini.


"Arini... sosok wanita yang kuat, tangguh dan kuat. wanita seperti itulah yang aku butuhkan untuk mendampingi ku. tapi...?"


Denis menelan ludah saat mengingat kemelut yang sedang menimpa Arini.


Esoknya saat Denis datang untuk menjemputnya, Arini sudah berangkat dengan ojek.


"Lah, Bu Dhe pikir kalian berangkat bareng?"


Denis menggeleng bingung.


Arini ke kantor naik ojek? tidak seperti biasanya kalau ada keperluan mendadak akan memberi kabar.


"Ya, sudah. Elang susul siapa tau belum jauh."


ucapnya cepat.


Di saat yang sama, Bu RT lewat dan berhenti saat melihat Denis.


"Lang, kamu mau berangkat kerja ya?"


Denis mengangguk.


" Bisa sekalian titip Shofia? kantormu, kan searah dengan sekolahnya Shofia."


Denis bimbang.


"Kalau tidak bisa juga nggak apa apa."


Wajah Shofia menyembul dari balik badan Ibunya.


"Sebenarnya ibu, mau mengantar ayah berobat, mas."


"Iya, Lang. motornya Shofia lagi ada di bengkel. sedangkan motor ini ibu butuh buat membawa bapaknya berobat."


"Owh, ya sudah. Shofia sama saya saja! sekalian jalan." ucapnya kemudian.


"Shofia langsung melompat dari motor dan masuk ke mobil Denis.


"Ibu minta maaf ya Lang. dari kecil sampai sekarang Shofia selalu merepotkan mu, kalau dia nakal dan mengganggumu, ibu kasi ijin jewer saja telinganya!"


"Ibuu.. tega sekali pada anak sendiri.." rengek Shofia manja.


"Ibu tidak usah khawatir... Shofia akan selamat sampai di sekolahnya!" kata Denis tersenyum.


"Pastilah Bu, mas Elang kan jodohnya Shofia. pastinya akan di jagain, iya, kan Mas?" matanya mengerjap kearah Denis minta persetujuan.


Denis hanya mengacak rambut Shofia.


Bu RT menggeleng melihat kelakuan putri satu-satunya itu.


"Hati-hati Lang!" ucapnya saat mobil Denis mulai bergerak.

__ADS_1


"Mas, kenapa diam saja? mas Elang tidak suka kalau aku ikut sama nebeng seperti ini?" ucap Shofia saat melihat wajah Denis yang gelisah.


"Bulan begitu? ini tidak ada hubungannya denganmu!"


Shofia terdiam.


Ia tau, Elang seperti itu karna memikirkan Arini.


"Aku turun Mas!" ucapnya saat sudah Spain di sekolah.


"Baik-baik ya jangan bikin ulah lagi."


Shofia hanya tersenyum. ia tidak membalas ledekan Denis seperti biasa.


Denis merasa sedikit heran.


"Tumben dia kalem begitu? heh sariawan kali!" gumam Denis dan meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Shofia masih kepikiran Elang.


Ia merasa semenjak kehadiran Arini di tengah -tengah mereka, Denis banyak berubah.


Tidak lagi bersemangat. saat bersamanya


pikirannya selalu tertuju pada Arini.


"Elo, kenapa?, lesu banget hari ini." Vivi yang menyadari perubahan temanya langsung bertanya.


"Gue bingung Vi.. semenjak kehadiran wanita bernama Arini di hidup mas Elang, dia banyak berubah."


"Mas Elang sudah punya kekasih selain elo?"


tanya Vivi kaget.


"Sst.. pelanin suaranya. Lo nggak liat, semua mata jadi memperhatikan kita?"


"Sorry.. gue kaget soalnya, kayak apa sih wanita itu, yang sanggup membuat jodohmu itu berpaling."


"Elo punya fotonya?"


"Mbak Arini?"


"Siapa lagi?"


"Bentar gue periksa. kemarin sempat sih gue jepret saat di mobil."


Shofia memperlihatkan foto Arini pasa temannya.


"Buat apa? jangan bilang elo mau bawa foto ini ke mbah dukun!"


"Gila kale, aku hidup di jaman milenial, masa percaya hal-hal yang kaya gituan." sungut Vivi.


"Ini, nih sebabnya.. pantas saja Elang mu berpaling."


Shofia menatap sahabatnya serius.


"Mas Elang itu sudah dewasa, jadi tentu saja tipe perempuan yang di sukainya juga yang seumuran atau paling tidak lima empat tahun lah di bawahnya. lah kalian terpaut berapa tahun?"


"Gue nggak mengerti! langsung pada intinya saja., apa yang membuat mas Elang gue berubah?"


"Lihat wanita ini, dia cantik, dewasa dan terlihat mempesona. tentu saja Elang Lo akan memilih dia!"


"Lalu apa yang harus gue lakukan?"


"Berusaha menjadi seperti yang dia mau."


"Menjadi dewasa maksud lo?"


Vivi mengangguk dan menambahkan.


"Dewasa dan dan pengertian, itu penting juga. Tinggalkan sifat kekanakan Lo selama ini!"

__ADS_1


Shofia menarik nafas panjang.


"Ternyata untuk mengejar cinta mas Elang berat juga, ya?"


ucapnya memegangi kepalanya.


***


Arini mengerjakan tugas-tugasnya dengan bersemangat, Ia berharap sore cepat tiba dan pulang kerumah. Pekerjaan yang menumpuk sudah menunggunya, untung dia sudah berpesan pada tetangga untuk membantu mengerjakan pesanan kuenya.


"Tumben semangat sekali hari ini?" sapa Sisi yang duduk di sebelahnya.


Iya, ingin cepat-cepat pulang dan mengerjakan pesanan kue yang sudah menunggu." ucapnya tersenyum.


"Semangat, ya! apalagi ada pak bos yang selalu mendukung mu!" canda Susu.


Arini tertegun. Sejenak ia menghentikan pekerjaannya.


"Denis.. sampai sekarang dia tidak berusaha menghubungiku? apakah dia marah?"


Arini bertanya-tanya dalam hati.


"Kenapa Rin? kau baik-baik saja?" Susi merasa khawatir karna Arini tiba-tiba terdiam.


"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana caranya aku membawa pesanan ke tempat kakakmu!" jawab Arini beralasan.


Sebenarnya dia merasa gelisah karena Denis tidak menghubunginya.


"Itu gampang. biar aku yang mengambil ke tempatmu, bagaimana?"


"Boleh tuh Sus! pekerjaanku bisa berkurang sedikit." jawab Arini tersenyum.


sampai jam makan siang, Denis tak jua muncul. Hal itu membuat Arini tidak tenang.


Sebentar -sebentar dia melirik ponselnya, berharap ada pesan dari Denis.


"Aah, dia benar-benar marah. Arini .! kenapa kau sok jual mahal? sebenarnya apa hak mu untuk keberatan kalau Denis dekat dengan Shofia? toh mereka sudah dekat jauh sebelum kehadiranmu!"


Arini bicara pada dirinya sendiri.


Ia benar-benar tidak menyangka akan begini rasanya kalau di acuhkan seseorang.


"Ayo lah Den.. kau yang duluan, masa aku wanita harus bertanya kabar terlebih dulu."


ucapnya dalam hati


Di tempat lain, Denis sedang berada di lapangan untuk mensurvei sesuatu.


Ia sengaja tidak mengabari Arini.


"Sekalian saja aku beri kejutan padanya."


pikir Denis.


Ia bersemangat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menemui Arini.


Jam pulang kantor pun akhirnya tiba juga.


Arini berjalan cepat menuju parkiran.


Ia berharap bisa melihat Denis.


Arini mendesah kecewa saat tidak menemui Denis di sana.


Tapi tiba-tiba, "Mbak Arini!!" sebuah suara mengagetkannya.


Saat dia menoleh terlihat' olehnya Shofia sedang melambaikan tangan ke arahnya.


"Rin, ayo masuk! aku ada sesuatu untukmu." Sikap Denis biasa seolah tidak pernah ada sesuatu yang terjadi.


Arini tidak sempat menjawab. Denis sudah membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


💞tetap minta dukungannya biar othor lebih semangat🙏🙏


__ADS_2