
Di dalam mobil, Denis terus diam.
Arini merasa tidak enak hati. Ia mengira Denis marah karna dirinya sudah bertemu Ilham.
Setelah menunggu cukup lama,
Arini mencoba mencairkan suasana dengan bertanya pada Denis.
"Kenapa terlambat menjemput ku?"
"Terjebak macet, Rin." jawab Denis singkat. Matanya terus menatap jalanan.
Arini semakin merasa tak enak.
'Tentang... Mas Ilham, aku bisa jelasin." kata Arini terbata.
Denis masih fokus menyetir.
"Mau menjelaskan apa? tentang kalian yang tidak sengaja bertemu?" potong Denis.
Arini terperangah.
"Kau marah?" mata Arini menelisik wajah tampan berlesung pipi itu.
Denis menggeleng.
Ia meraba perut Arini dengan tangan kirinya.
"Aku percaya padamu, apalagi ada anak kita bersamamu." kata Denis.
Arini mencium pipi Denis karena leganya.
Ia menyangka suaminya itu telah salah paham tentang dirinya dan Ilham.
"Tapi kalau ke tidak kesengajaan yang keseringan juga bisa membuat sebuah hati terluka." ucap Denis dengan nada bercanda.
Arini mencubit pinggang suaminya.
"Aduh sakit! tolong ayahmu, Nak.. Selalu jadi korban cubitan ibumu." keluh Denis sambil meraba perut Arini yang masih rata.
Arini merebahkan kepalanya di pundak Denis.
Ia bangga punya seorang Denis yang dewasa dan pengertian.
'Kalau memang tidak marah, kenapa kau diam saja dari tadi?"
"Itu? Aku sedang memikirkan mbak Nilam. Bu Dhe nelpon, katanya dia datang lagi untuk minta surat tanah yang menurutnya haknya mas Pras, apa aku berikan saja, ya?" gumam Denis pelan.
"Jangan!" seru Arini cepat.
Denis menoleh padanya.
"Maksud aku, jangan dukung kesalahan mbak Nilam dengan memberikan tanah itu, dia akan semakin terlena. Dia tidak akan tau susahnya mempertahankan hidup dengan keringat sendiri."
"Kau benar sekali, mbak Nilam terlalu serakah. Dengan membantunya, bukannya membuat dia tersadar tapi akan semakin lupa diri.
Sementara itu, Ilham pulang dengan perasaan bahagia karena sempat bertemu Arini.
Ia begitu kagum dengan perubahan Arini yang begitu drastis.
Masih terbayang di matanya sosok Arini Yang cantik dan anggun dengan sepasang mata teduhnya.
Penyesalan kembali menderanya. Hanya oleh satu kesalahannya, semua berbalik dalam hidupnya, termasuk kehilangan Arini sosok istri yang setia dan berhati seluas samudra.
"Mudah-mudahan Arini mau menengok ibu, hal itu pasti sangat membahagiakannya. Siapa tau juga, pertemuannya dengan Arini bisa membawa kesembuhan buat ibu." doa Ilham dalam hati.
Kondisi Bu Lastri memang sangat menyedihkan. mulutnya mulai mencong ke kiri, bicaranya tidak bisa di mengerti lagi. Keterbatasan biaya membuat Bu Lastri tidak dapat perawatan semestinya. Siang hari saat Ilham pergi ke kantor, Siska yang menungguinya, giliran malam hari saat Siska pergi bekerja. Ilham yang merawatnya.
Ilham sudah mendapat tempat kontrakan, walaupun kecil, namun ia merasa lebih nyaman membawa ibunya di situ daripada di kost nya Siska dulu.
__ADS_1
Keesokan harinya, Bu Lastri yang sudah pasrah di tempat tidur hanya bisa menangis menyesali segala perbuatan dan nasibnya.
Untungnya Siska dapat posisi cukup bagus di kafe tempatnya bekerja, Dia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu Ilham guna biaya hidup mereka bertiga.
Bu Lastri merasa berdosa pada Arini, dan yang paling membuatnya di kejar rasa bersalah adalah saat mengingat ia lah penyebab kematian cucunya sendiri.
Beban itu begitu menghimpit dadanya, karna dia belum bisa mengungkap kan kesalahannya itu.
Ia membayangkan andai Ilham tau kenyataan. yang sebenarnya, putranya itu pasti sudah membuangnya di jalanan.
Ia hanya bisa memandangi tubuh kurus putranya yang ketiduran karna kelelahan di sampingnya.
"Ya Allah, masih kah pintu tobat terbuka untuk ku, setelah begitu banyak kesalahan yang ku perbuat. Aku telah memisahkan dua insan yang saling mencintai.. Aku telah melukai hati seorang istri dan menantu yang hampir sempurna seperti Arini... Bahkan aku telah tega membunuh cucu kandungku sendiri." bathin Bu Lastri.
Airmatanya terus mengalir tanpa henti.
Saat itu datang seorang ibu-ibu pemilik kontrakan.
"Permisi... !"
Dia langsung masuk walaupun Ilham belum menjawabnya.
"Ada apa ya Bu? Kenapa main masuk begitu saja?" Ilham merasa tidak suka.
"Begini, mas.. Saya mohon maaf, kalian harus keluar dari sini secepatnya." ucap ibu itu ragu.
"Apa? Perasaan saya sudah membayar uang sewanya tepat waktu." kata Ilham berang.
"Memang benar, tapi saya tidak bisa menjelaskan alasannya, pokonya kalian harus segera kosongkan tempat ini, karna penyewa yang baru akan segera datang." ucap ibu itu dengan tega.
"Tidak bisa begitu dong Bu, lihat kondisi ibu saya! Kemana kami akan pergi dengan kondisinya seperti itu." Ilham merasa putus asa.
"Tapi saya terlanjur janji pada penyewa yang baru itu." kata si ibu kukuh.
"Tapi ini sudah sore, Bu. Kemana kami harus pergi, sebentar lagi malam tiba."
"Saya tidak mau pergi, saya sudah bayar dan bukannya gratis disini!" bentak Ilham gusar.
"Mas harus pergi, orang yang mau menyewa berani membayar lebih tinggi dari anda!"
Ilham tidak bisa melawan kemauan wanita kejam itu.
Ia menelpon Siska untuk mengabarinya.
Sangat terpaksa Ilham keluar dari rumah itu dengan membawa ibunya serta.
"Kita kemana, Sis..?" tanyanya pasrah.
"Untuk sementara, di kost an aku saja, Mas.
Besok kita pikirkan lagi jalan keluarnya." Siska memberi usul.
Jadilah mereka ke tepat kost Siska yang semula.
Ilham agak merasa risih karna penghuni kost-kostan itu cewek semua.
"Bersabarlah sampai besok, Mas." Siska mengerti kegelisahan kakaknya.
"Sis, kakakmu, masih Single atau sudah punya istri? Aku mau daftar dong jadi kakak ipar mu."
Suara -suara itu terdengar samar di telinga Ilham. Ia merasa risih sendiri.
Ia tidak memperdulikannya, yang ada di benaknya kini hanyalah Arini saja.
Ia sadar diri kalau semua itu sudah tidak mungkin lagi, tapi dia juga tidak berdaya menepis perasaannya sendiri.
Esoknya, Siska membeli sesuatu
di toko kue Arini, sangat kebetulan kalau Arini sedang berada di sana juga.
__ADS_1
"Eh, Siska.. Gimana kabar?" Arini menyapa seperti biasa.
Siska tertegun ragu.
"Mbak, ku pikir kau sudah tidak mau menyapa ku lagi."
"Memang kenapa, kita tidak pernah punya masalah, kan?"
Arini mengajak mantan iparnya itu duduk.
Siska menceritakan keadaan mereka saat ini.
"Mbak, ikut sedih atas semua yang menimpa keluargamu."
Siska melihat ponselnya yang berbunyi.
"Apa, Mas?"
"Siska cepat pulang, ibu tiba-tiba kejang, mulutnya mengeluarkan bisa." kata Ilham di telpon.
"Baik, Mas. Aku segera pulang." Siska mengemas barangnya dan berdiri.
"Aku harus pulang, mbak, kata mas Ilham, ibu kejang." ucap Siska tergesa.
Arini tidak bisa mencegahnya.
Namun di lihatnya Siska sedang kebingungan karena motornya mogok.
Arini tidak tega melihatnya.
"Pesan taksi saja, Sis..!"
"Tidak ada mbak, sudah aku coba.. Ojek juga tidak ada." keluhnya dengan peluh mengalirri wajahnya.
"Ayo naik, biarkan saja motormu disini dulu!"
Arini sudah di atas motornya lengkap dengan helm nya.
Siska tidak bertanya lagi. Mereka menuju tempat kost Siska yang di tempati Ilham.
Arini benar'-benar lupa pesan Denis agar jangan banyak bergerak, ia juga lupa kalau dirinya sedang mengandung.
Karna di liputi rasa khawatir oleh berita Bu Lastri. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
"Ibu kenapa, Mas?" tanya Siska yang sudah berlari mendahului Arini.
"Mas, juga tidak tau, tiba-tiba saja dia kejang dan susah bernafas, mulutnya sampai mengeluarkan busa."
Arini tiba di tempat itu.
Ia terkejut melihat keadaan Bu Lastri yang tidak sadarkan diri.
"Arini... Kau disini?" sapa Ilham ikut terkejut.
"Aku yang mengajak mbak Arini kesini. Panjang ceritanya, mas." Siska menyela.
"Kenapa ibu sampai begini keadaannya? Kalian tidak membawanya ke dokter?"
"Kami mau, tapi kondisi keuangan kami sedang seperti ini, cukup buat makan saja sudah bersyukur." jawab Ilham tak enak hati.
"Ayo bawa saja ke dokter, masalah biaya bisa di pikirkan belakangan. Kalian mau ibu seperti ini terus?"
Ilham dan Siska mengangguk.
Mereka segera bergerak untuk membawa Bu Lastri ke rumah sakit.
Arini ikut sibuk mengurusnya. Ia sampai tidak menyadari kalau Denis sudah menelponnya delapan kali.
Arini merasa bersalah saat membuka ponselnya dan mendapati panggilan dari Denis.
__ADS_1
"Astaga.. aku lupa memberi tau Denis tentang keberadaan ku, dia juga sudah menelpon delapan kali?"
Arini bergegas menghubungi Denis balik. tapi tidak bisa