
Jadi, ya nanti malam programnya.." ujar Denis tersenyum nakal pada istrinya.
"Tapi janji jangan singgung ini di depan ibu, ya?" kata Arini tersipu.
"Siiip..!" jawab Denis sambil mengacungkan jempolnya.
"Sebentar, berhenti sebentar... bukankah itu salon mbak Nilam? Kenapa banyak orang berkumpul disana?" seru Arini saat mereka melewati salon nya Nilam.
Denis menepikan mobilnya untuk mencari tempat parkir.
"Maaf, Bu. Ada apa, ya..? Kok banyak orang berkumpul disini?"
"Orang-orang itu termasuk saya sedang protes menuntut tanggung jawab pada salon ini. Lihatlah, wajah dan kulit kami gatal-gatal semua karena melakukan perawatan disini."
Denis dan Arini saling pandang.
"Lalu dimana mbak Nilam?"
Arini berusaha mencari Nilam di kerumunan.
Arini tidak menemukannya, ia hanya melihat Lisa rekan Kerja Nilam yang babak belur di hajar para pelanggannya yang merasa kecewa.
Nilam sendiri sudah berada jauh dari tempat kejadian.
"Untung aku bisa lolos dari keroyokan orang-orang gila itu." gumamnya lega.
"Lalu kalau mereka minta ganti rugi bagaimana? Sedangkan uangku sudah habis." ucapnya lagi.
Arini mengajak Denis pergi dari tempat itu.
"Kemana mbak Nilam sebenarnya? Dia membiarkan temannya menjadi korban." omel Denis.
Karna terlalu serius mengobrol, membuat Denis kurang fokus menatap jalanan.
Hampir saja dia menabrak seseorang.
"Siapa sih yang melamun di tengah jalan seperti ini?" omel Denis seraya keluar dari mobil.
Ia melihat seseorang sedang merintih memegangi lututnya.
"Mas tidak apa-apa?" Ilham mendekati pria yang hampir di tabraknya.
Saat pria itu mendongak, Ilham dan Arini merasa kaget.
"Mas Ilham?" gumam Arini terkejut.
Ilham juga merasa kaget saat mengetahui Denis dan Arini yang menolongnya.
Denis membantunya duduk di tepi jalan.
"Terima kasih..!" kata Ilham dingin.
"Aku minta maaf, karna kurang fokus menyetir." kata Denis.
"Aku yang salah tidak memperhatikan jalanan." jawab Ilham tertunduk.
Ilham meniup lututnya yang sedikit lecet. Ia sempat terjatuh karna kaget.
"Mau kami antar berobat?" tawar Denis bersahabat.
"Tidak perlu.. aku bisa sendiri." kata Ilham menolak.
"Tidak apa-apa kami tinggal?" tanya Denis lagi.
"Owh tidak apa-apa.." jawabnya berusaha tersenyum.
Arini hanya terdiam memperhatikan keadaan Ilham.
Ia mengikuti langkah Denis ke mobil.
Mata Ilham yang sayu terus mengikuti langkahnya.
"Seandainya saja aku lebih menjaga diriku, tentu saat ini kau masih di sisiku dan tidak akan pergi jauh dariku." bisiknya pelan.
__ADS_1
Ilham membuang nafas kasar.
Ia kembali teringat kondisi keluarganya saat ini. Seandainya Arini tau, dia pasti mentertawakan keadaan kami saat ini, sangat menyedihkan." bathin Ilham.
Arini melangkah di sisi Denis, hatinya bertanya-tanya, kalau sampai Ilham berjalan tidak memperhatikan sekelilingnya seperti itu, pasti ada sesuatu yang di pikir kannya.
Dan tatapan itu? Pikiran Arini sangat terganggu oleh tatapan mata Ilham.
"Rin, kau tidak apa-apa?" Denis menyentuh lengannya.
Arini menggeleng sambil tersenyum.
"Aku hanya heran saja. Kenapa dia sampai berkeliaran sampai tidak memperhatikan jalanan, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi." kata Arini.
Denis menangkap kegelisahan di mata istrinya.
"Yach.. apa pun itu, semoga bukan sesuatu yang tidak mengenakkan. Dan tentunya sudah bukan urusan kita lagi." Denis menggenggam tangan Arini dengan erat.
"Kau benar, kita hanya bisa bersimpati. aku sudah bukan bagian dari mereka lagi." Arini mengecup tangan Denis yang sedang menggenggam tangannya.
"Terimakasih sudah selalu ada buatku, mengingatkan ku saat aku butuh dukungan."
Denis mengusap rambutnya.
"Aku juga sangat beruntung punya dirimu.' Denis meraih kepala Arini dengan sebelah tangan dan mengecup keningnya.
Arini sangat bersyukur punya seorang Denis yang selalu pengertian dan selalu mencintainya.
Denis adalah sosok suami yang pantas di pertahankan. Apalagi dari ulat keket seperti Shofia.
Arini berjanji akan menjaga hubungannya semampunya.
Sementara itu, Shofia sedang memikirkan cara untuk bisa dekat lagi dengan Denis.
,Ia sangat membenci anak yang di kandungnya, tapi ibu dan ayahnya selalu melarangnya untuk menggugurkannya.
Karna itulah dia berpikir untuk menggunakan kehamilannya untuk dekat dengan Denis kembali.
Ia masih tidak rela kalau Denis menjadi milik Arini.
"Nolong gimana maksudmu? Aku saja sedang dalam masalah besar,as Pras di di tahan, sedangkan di salon juga sedang banyak masalah.." keluh Nilam.
"Ini tentang mbak Arini.. Bukankah mbak Nilam sangat membencinya? Kita satu tujuan, mbak. Kita perlu bekerjasama."
Nilam berpikir sejenak.
"Baiklah, apa yang bisa aku lakukan?"
Shofia mengatakan semua rencananya.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi akan aku usahakan." jawab Nilam akhirnya.
Keesokan harinya..
"Bu akuau pergi ke tempat teman." Shofia minta ijin pada ibunya.
"Ibu tidak ijinkan kau keluar. Kau pasti mencari jalan untuk menggugurkan kandunganmu itu." sergah ibunya.
"Kali ini tidak Bu. Shofia janji. Shofia baru sadar kalau anak ini memang tidak bersalah. Aku akan membiarkan dia hidup." ucapnya meyakinkan ibunya.
Dengan berbagai alasan akhirnya ibunya mengijinkan Shofia pergi.
Bukannya pergi ketempat temannya.. dia pergi ke sebuah kafe.
Di tengah keramaian tiba-tiba dia jatuh pingsan.
Semua orang bingung melihat gadis muda yang sedang hamil jatuh pingsan.
Di tangan Shofia sedang memegang ponselnya.
"Siapa keluarganya?" kata orang-orang yang berkerumun.
Shofia merencanakannya dengan sedemikian rupa.
__ADS_1
"Lihat saja di ponselnya, pasti ada orang yang bisa di hubungi." ucap yang lainnya.
Benar saja, mereka menemukan nomer kontak Denis di urutan teratas.
"Halo, dengan siapa, ya?" sapa Denis yang di kantor dan bersiap pulang.
Masih
"Maaf, pak. Ada seorang wanita hamil yang tiba-tiba pingsan di kafe kami. Kami tidak tau harus menghubungi keluarganya kemana? Karna nomor ini yang kami temui di ponselnya maka kami menghubungi bapak."
Denis mengernyitkan keningnya.
"Siapa, ya?"
"Owh baiklah, saya segera kesana." setelah mengetahui lokasinya, Denis langsung meluncur kesana.
Sampai di tempat yang di maksud, Denis di arahkan sebuah ruangan tertutup
"Shofia..?" ucap Denis kaget.
Saat sedang membalik badan Shofia yang sedang pingsan, Nilam merekamnya dari tempat tersembunyi.
"Shof, Shofia.. Kenapa kau pingsan disini?" Denis berusaha menyadarkan gadis itu.
Tiba-tiba Shofia membuka mata dan langsung memeluk Denis.
"Mas, Elang...!" Shofia menangis tersedu.
"Aku begitu tertekan dengan keadaanku ini, mas. Tolong aku, mas.." Shofia sangat agresif, dia tidak memberi kesempatan Denis untuk bicara.
"Aku sangat merindukan mu, mas..!"
"Shofia..! sadarlah. Apa yang kau lakukan ini salah." sentak Denis.
"Kau tidak usah takut, Mas, aku tau kau juga menginginkan hal yang sama denganku."
"Aku janji tidak akan mengatakan ini pada mbak Arini." bujuk Shofia lagi.
Tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri.
Denis merasa khawatir.
"Shofia, pintunya tertutup sendiri."
"Biarin saja, Mas. Itu malah bagus, kan?" ucap Shofia tenang.
"Kenapa kau bisa setenang ini, jangan-jangan ini semua adalah rencanamu." tuduh Denis.
"Aku hanya wanita lemah yang tidak berdaya, mana mungkin aku merencanakan semua ini."
Shofia agak membuka baju atasnya. Denis terkejut, ia tidak menyangka Shofia bisa senekat itu.
"Shof, jangan nekat!" ucap Denis mundur.
"Mas, Elang tidak usah munafik,. Akui saja,
Walaupun aku sedang hamil, tapi aku lebih seksi dari mbak, Arini. Iya, kan?"
Denis menggeleng tak percaya.
"Kau sakit jiwa, Shofia. Selama ini aku menganggap mu cuma anak kecil, tapi aku salah. Kau lebih berbahaya dari serigala!"
Tidak usah berceramah, disini hanya ada kita berdua, ayolah, Mas .!"
Denis sudah di depan pintu saat pintu itu tiba-tiba terbuka.
Disana sudah ada Arini dan dua orang sekuriti.
"Untung kau cepat datang, Rin." ucap Denis lega.
Shofia terlihat sangat malu, buru-buru membetulkan bajunya.
"Lihat,lah bapak-bapak. Inilah contoh perempuan yang tidak bisa menghargai diri sendiri, dengan menjadikannya dirinya pelakor di usia dini.
__ADS_1
Shofia dan Nilam tertunduk malu.
Arini menjatuhkannya habis-habisan.