
Sampai di sekolah, Denis langsung menemui gurunya Shofia.
"Kenapa dengan Shofia, pak?"
"Dia tiba-tiba pingsan saat mengikuti kegiatan ekskul. Kami dari pihak sekolah mau menelpon keluarganya, tapi dia menolak. Dia minta kami menghubungi nomor anda saja!"
Denis mengangguk dan tersenyum sopan. Guru itu sudah mengenalnya, karena beberapa kali mereka berpapasan saat mengantar Shofia.
"Kami juga tidak keberatan kalau yang menjemput adalah Om nya!"
Denis mengangguk lagi, ia juga tidak merasa keberatan kalau para guru menganggapnya adalah Om dari Shofia, karena memang usia mereka terpaut jauh seperti Om dan keponakannya.
"Mas Elang?" mata Shofia berbinar saat melihat Denis datang.
"Kau sudah tidak apa-apa?"
"Tadi aku pingsan, tapi sekarang sudah baik-baik saja."
"Ayo kita pulang!"
Denis memapah Shofia keluar.
Tapi baru dua langkah, Ia hampir terjatuh.
"Kau baik-baik saja?" tanya Denis khawatir.
"Palaku pusing, Mas!"
Denis mengangkat tubuh mungil Shofia dan membawanya keluar.
Shofia memejamkan matanya sambil tersenyum lebar.
"Kau paling hobi merepotkan mas Elang!" sungutnya berlagak marah.
"Jadi mas Elang keberatan, nih?" ujarnya cemberut sambil terus bergelayut manja di leher pria itu.
"Lain kali jangan pake acara pingsan segala!" jawab Denis.
"Nggak nyambung banget."
Denis menurunkan gadis itu di dekat mobilnya.
"Cie-cie.. manis banget sih?" goda teman-teman Shofia.
"Hus.. sana! anak kecil tidak boleh liat."
Shofia mengusir temannya sambil tersenyum.
"Kau berlagak seperti sudah dewasa saja!"
sungut Denis.
"Untuk mengimbangi jodohku, aku dewasa karna terpaksa." jawabnya acuh.
"Siapa yang memaksamu?"
Shofia tersenyum nakal.
"Aku sendiri..!"
Denis tertawa kecil.
"Yang kau rasakan itu bukan cinta, tapi kasih sayang seorang adik pada kakaknya. coba deh bergaul sama teman cowokmu. kau pasti merasakan perasaan yang berbeda.!"
"Aku bukannya tidak Bergaul, Mas. Banyak tuh cowok keren di sekolahku, Ada Rico si bintang basket, ada David si cool, ada Fahri si anak IPA yang jadi idola para cewek. Mereka semua naksir padaku tapi aku tolak semua, Tau karna apa? karna Mas Elang!"
Denis hanya tersenyum, Ia lebih fokus menyetir dari pada mendengar ocehan Shofia.
Denis juga terlihat gelisah karna membayangkan Arini sedang di rumah sakit bersama Ilham.
"Kenapa, Mas? kelihatannya gelisah gitu?"
Denis menggeleng.
Shofia melirik ponsel yang di pegang Denis.
Dari pada gelisah tak karuan, Denis memutuskan mencoba mengirim pesan pada Arini.
(Pulangnya aku jemput, ya!)
__ADS_1
Denis kembali gelisah karna Arini belum membalas pesannya.
"Apa segitu sibuknya mengurus Ilham sampai tidak sempat membalas pesanku?" hatinya mulai dongkol di balut cemburu.
Shofia yang duduk di sampingnya terus melirik gerak gerik Denis.
Ting!
Denis segera membuka ponselnya. wajahnya terlihat bahagia saat membaca pesan dari Arini
(Iya, aku tunggu) balasan singkat dari Arini cukup membuatnya lega.
Denis memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
"Okey, sekarang mas Elang antar kau pulang, habis itu, Mas ada urusan penting." ucapnya bersemangat.
Shofia mengangguk setuju. tapi otaknya berputar mencari cara agar Denis tidak menemui Arini.
"Eemmh Mas, aku lapar. kita makan sebentar, ya?"
Denis terdiam.
"Tapi, Mas Elang ada acara. lain kali bisa, kan?"
"Tapi aku laper sekali, please... ya! aku mohon!" ucapnya mengiba.
Denis merasa bimbang.
Kalau ia menuruti Shofia, berarti Arini akan menunggunya.
Tapi kalau menjemput Arini, jelas Shofia akan kecewa.
"Sebentar saja kok Mas, memang acaranya penting banget, ya?" tanya Shofia sedikit melunak.
"Enggak juga, sih." Denis merasa tidak mungkin menjelaskan pada Shofia kalau acara yang di maksudnya adalah menjemput Arini.
"Nah, kalau begitu, tidak ada masalah! aku janji hanya sebentar saja, kalau mas Elang mau aku akan pulang pake taksi nanti."
Akhirnya mereka duduk di sebuah restoran.
Shofia berusaha mengalihkan perhatian Denis.
Denis menggeleng.
"Aku mau coba punya mas Elang."
Dia mencoba makanan yang di pesan Denis.
"Emm enak juga. tapi masih enakan punyaku, coba ayo!" Shofia memaksa Denis membuka mulutnya.
"Tidak usah!" tolak Denis. tapi Shofia tetap memaksanya hingga makanan itu tumpah ke baju Denis.
"Sorry.. !" Shofia memegangi kedua telinganya.
"Tidak apa-apa, Mas Elang mau ke toilet sebentar!"
Denis bangkit dan menuju toilet.
Saat itu ada pesan masuk dari Arini.
Shofia membacanya.
(Jadi datang apa tidak? kalau tidak, aku bisa pulang naik taksi saja!)
Shofia membalas pesan itu.
(Maaf, aku tidak jadi menjemputmu, ada urusan mendadak!) Shofia cepat-cepat meletakkan kembali ponsel Denis di tempat semula.
"Maaf mas Elang, aku benar-benar tidak sengaja!"
"Sudahlah, lupakan saja."
Denis melirik jam tangannya.
Arini pasti sedang menunggunya.
"Mas, kalau penting banget, nggak papa pergi saja!"
"Terus kamu?" tanyanya ragu.
__ADS_1
"Aku bisa pulang sendiri kok!"
"Baiklah, mas Elang akan padankan taksi."
Setelah memastikan Shofia aman, Denis langsung melakukan mobilnya kerumah sakit.
"Mana Arini?" tanyanya pada Siska yang tengah membaca buku di samping Ilham.
"Lho, tadi dia pamit pulang katanya di jemput mas Denis.
Denis berlari kedepan lagi.
Ia mencoba menghubungi Arini.
"Tidak nyambung? kamu dimana Rin?"
Sementara itu, Arini sudah sampai di rumah Bu Zah.
"Lho, Rin. kok sendiri? mana Elang?" Bu Zah menyambutnya heran.
"Tidak tau Bu."
Bu Zah semakin heran.
"Kalian bertengkar?" selidik ya curiga.
Arini menggeleng.
"Masa bertengkar, kami bukan ABG lagi" jawabnya sambil tersenyum.
memang kenyataannya Denis pria yang hampir sempurna , selalu mengalah dan pengertian. Lalu hal jelek apa yang bisa memicu pertengkaran di antara mereka.
"Lalu? kenapa kalian tidak pulang bareng?"
tanya Bu Zah lagi.
Arini baru hendak menjawab namun...
"Mas Elang menemani aku makan barusan Bu dhe, habis itu tidak tau kemana?" kata Shofia yang tiba-tiba muncul di rumah Bu Zah.
"Jadi Denis tidak jadi menjemputmu ku karna menemani Shofia?" bathin Arini.
Shofia melirik wajah Arini yang terlihat bingung dengan puas.
Tak berapa lama, mobil Denis memasuki halaman rumah Bu Zah.
"Ini Dia datang orangnya..!" Bu Zah menyambut Denis dengan pertanyaan.
"Darimana saja? Arini pulang sendirian."
"Arini? syukurlah kau sudah pulang, aku mencarimu di rumah sakit, katanya kau sudah pamit pulang."
Arini hanya tersenyum dan mohon diri untuk istirahat.
"Maaf, ya. saya duluan."
Denis mengikuti langkah Arini dengan pandangan heran.
"Mas, bapak sama ibu titip salam, katanya terima kasih karna sudah menjemput ku di sekolah."
Denis hanya mengangguk linglung.
"Mau nginap apa pulang?" sela Bu Zah.
"Pulang Bu Dhe." ucapnya dengan wajah bingung.
"Shofia, sudah malam. kau juga harus pulang. apa mau nginap sekalian?"
"Oh tidak Bu Dhe, aku juga mohon diri."
Shofia melangkah cepat dari rumah itu. Di bibirnya tersungging senyum kemenangan. Hari ini dia bisa menciptakan ke salah pahaman di antara Arini dan Denis.
"Sudah aku bilang, kan, mas Elang adalah jodoh ku!'
Sementara itu, Arini merasa bersalah karna sudah cuek pada Denis.
"Sikap ku terlalu berlebihan, memangnya apa salah Denis mendahulukan Shofia ketimbang diriku?"
Arini gelisah antara rasa bersalah dan rasa malu.
__ADS_1
๐terima kasih atas dukungannya ya!๐๐