
"Maaf, aku sudah melibatkan mu dalam masalah ini, aku tidak ada pilihan lain. Aku terpaksa mengatakan kau ayah dari anakku." ucap Arini menyesal.
"Aku berharap dengan semua ini dia berhenti menggangguku." Arini menatap Denis.
"Aku tidak keberatan Rin, kalau itu untuk mengusir Ilham dan membuatmu nyaman."
Arini menatap Denis serius.
"Aku berjanji ini hanya di antara kita berdua saja. jangan sampai karna berita ini, reputasi mu sampai terganggu." lanjutnya.
"Tidak usah di pikirkan. Sebaiknya aku antar pulang, kita bisa ngobrol sambil jalan." Denis menawarkan diri.
Namun lagi-lagi Arini menolak dengan halus.
"Ibu kos ku sangat galak Den. kalau dia tau aku pulang bawa pria, aku bisa di usirnya."
Denis terdiam.
"Tentang Tiara.."
"Aku tidak mau bahas itu lagi. Aku lelah dan tidak mau menambah masalah lagi Den." potong Arini cepat.
Denis juga tidak bisa mencegah Arini pergi dengan naik ojek langganan nya.
Melihat sikapnya, Denis tidak bisa menyalahkan Arini sepenuhnya. Memang benar, karna dirinya berusaha lebih dekat padanya, makanya Arini mendapat masalah dari Tiara.
Sementara itu, Arini merenungi kembali yang sudah terjadi hari ini.
"Apakah aku salah telah telah mengakui Denis sebagai ayah anak ku di depan mas Ilham? niatku hanya ingin membuatnya berhenti menggangguku! aku juga berharap Denis tidak berpikir yang aneh-aneh tentangku.." Arini terus membathin di atas motor.
Sampai di rumah, Bu Zah menyambutnya dengan ramah seperti biasa.
"Kenapa lagi? wajahmu terlihat lelah." Bu Zah merasa khawatir.
"Mas llham menemui saya lagi, saya bingung." Arini mendesah panjang.
Bu Zah mendengar dengan sabar ceritanya.
"'Dan saya sudah membuat kesalahan dengan mengakui teman saya sebagai ayah dari anak ini, tapi niat saya sebenarnya hanya ingin membuat mas Ilham berhenti mendekati saya lagi"
"Kau tidak salah selama temanmu itu tidak merasa keberatan."
Arini menggeleng.
"Dia sangat baik, sangat tulus. Dia bilang tidak keberatan, tapi saya yang tidak enak padanya."
Arini menghentikan ceritanya saat melihat si centil Shofia datang dengan membawa sesuatu.
Setelah mengucapkan salam. Gadis itu menyerahkan bungkusan kepada Bu Zah.
"Ttipan dari ibu!" ucapnya.
"Ibumu selalu ingat kalau punya sesuatu.." jawab Bu Zah menerimanya dengan gembira.
"Wajar lah Bu Dhe, namanya juga calon besan." celetuk gadis itu tanpa malu.
"Hus! " Bu Zah tertawa sambil menjitak jidatnya.
Shofia mengamati Arini dengan seksama.
"Bu Dhe, siapa ya? aku tumben melihatnya!"
__ADS_1
celetuknya.
"Benar, kalian belum saling kenal. Ini Arini, dan ini Shofia Rin," Bu Zah mengenalkan mereka.
"Senang bisa bertemu dengan.."
"Calonnya mas Elang..!" jawab Shofia cepat.
Arini tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Bukankah mas Elang yang dia maksud itu keponakan ibu?" Arini meyakinkan.
Bu Zah mengangguk.
"Benar sekali, Mbak. Aku harap mbak Arini tidak akan jatuh cinta saat melihat mas Elang. Dia jodohku!" ucapnya mantap.
Sebelum Bu Zah menjelaskan lebih lanjut, Shofia sudah berlari masuk kekamar Elang.
"Begitulah dia, dia menganggap dirinya pacarnya Elang. Padahal masih bau kencur."
"Besok kita bahas lagi, sekarang makan dan istirahat lah dulu!" perintah Bu Zah
Arini masih terbayang wajah Ilham saat dirinya bilang kalau Denis adalah ayah dari anaknya.
"Apakah dia percaya kalau Denis ayah dari anakku? apakah dengan ini dia bisa berhenti menggangguku? mudah- mudahan saja."
Di luar masih terdengar kesibukan orang yang membereskan sisa peralatan membuat kue.
Arini jadi teringat dulu sering membuat kue. Dan selalu dapat pujian dari keluarganya karna kue buatannya sangat enak.
"Kenapa aku tidak mencoba lagi keahlian ku itu, aku bisa tawarkan pada teman-teman di kantor. lumayan buat menambah isi kantong yang mulai menipis. Untuk menunggu gajian juga masih lumayan lama."
Malam itu setelah membereskan bekas makan dan yang lainnya. Arini minta ijin pada Bu Zah untuk membuat kue di dapurnya.
Paginya Arini menawarkan kue bikinannya pada Susi.
"Ini gratis buatmu Sus! cobain dulu.'
Susi mencoba kue buatan Arini.
Dan dia benar-benar memuji rasanya.
"Beneran Arini, ini benar-benar enak!"
Tanpa di suruh, Susi langsung menawarkan kue itu pada karyawan yang lain. Dan rata-rata mereka suka.
Beberapa di antara mereka malah ada yang mau lagi.
"Kebetulan aku membawa beberapa kotak untuk di jual juga."
Hanya sebentar saja kue buatan Arini ludes. Bahkan ada pesanan lima puluh kotak untuk acara Arisan.
"Alhamdulillah.." Arini tak berhenti bersyukur.
Tiara datang kemejanya. dan meletakkan kotak kue dengan kasar.
"Apa ini? ini kantor, bukannya pasar!"
Arini terdiam.
"Lagian kenapa Pede sekali, kue kayak begitu saja di banggakan!"
__ADS_1
"Tapi beneran enak kok Bu."
Susi yang tak tahan oleh tingkah Tiara memberanikan diri.
"Iya, saya kami juga sudah mencobanya, dan memang enak." sambung yang lain.
Tiara merasa terpojok karna sendirian.
"Sudah, sudah! lidah kalian memang lidah orang biasa jadi tidak bisa membedakan." ketus Tiara membela diri.
Arini merasa bersyukur karna banyak yang membelanya.
"Sudah lah. jangan di perpanjang!" ucap Arini.
Ia beralih menatap Tiara.
"Bu Tiara, maaf kalau saya salah sudah kerja sambil berjualan. Besik tidak akan terulang lagi."
Tiara merasa senang karena Arini minta maaf.
"Siapa bilang, berjualan sambil kerja itu di larang?" tiba-tiba sosok Denis muncul di antara mereka.
Tiara. menjadi gugup
"Bu Tiara, saya pikir tidak ada larangan kok, selama itu tidak menganggu kinerja karyawan itu sendiri. Memang ada aturan yang tertulis? tidak kan?"
Tiara bertambah gugup.
"Maksud saya melarangnya agar mereka tidak kehilangan disiplin."
"Itu salah! asas perusahaan ini adalah mensejahterakan para karyanya. Apalagi karyawan kecil lebih di prioritaskan."
Denis mendapat tepuk tangan yang riuh dari semua yang hadir.
Tiara meninggalkan ruangan itu dengan muka merah padam karna malu.
Denis memandang Arini sambil tersenyum manis, memperlihatkan kedua lesung pipinya.
Arini hanya membalasnya tersenyum. Namun mata mereka berbicara banyak.
Arini membuka pesan dari ponselnya.
(Rin, kalau kau ingin meyakinkan Ilham untuk melupakan mu, sepertinya kita harus bersandiwara.)
(Maksudnya)
(Kita bertemu malam ini, kita makan bakso atau minum kopi sambil membahas apa yang aku maksud)
(Aku belum mengerti, tapi baiklah. kita akan bertemu malam ini)
Arini merasa harus memberi ruang pada Denis, tepatnya pada persahabatan mereka.
Denis sudah begitu banyak berkorban untuknya.
Ilham tersenyum bahagia. Entah kenapa, ia selalu ingin dekat dengan wanita itu, melindunginya dan memberinya kenyamanan. padahal dia sangat tau, jelas perasaannya itu salah. Arini masih berstatus istri orang.
"Biarlah, semua berjalan mengikuti arusnya.
ucapnya tersenyum.
Ia berjanji tidak akan membuat Arini menangis lagi.
__ADS_1
Denis berjanji dalam hati akan tegas pada Tiara. ia akan membela Arini di depan Tiara.
💞Mana dukungannya guys..!