Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 101


__ADS_3

Sampai dirumah sakit, Arini langsung keruangan tempat Denis dan Ilham di tempatkan.


Airmatanya kembali mengalir saat melihat keadaan Denis yang penuhi dengan perban.


Di sebelah Denis, Ilham juga tengah tertidur dengan kondisi yang tidak jauh beda dengan Denis.


Arini mendekati Siska yang menunggui kakaknya.


"Sis, mbak minta maaf, karna berusaha menyelamatkan mbak, mas Ilham jadi begini."


"Tidak perlu minta maaf, Mbak. Ini namanya musibah." jawab Siska bijak.


Memang sangat di sayangkan pembuatan Nilam yang berlebihan. Arini baru tau kalau selama ini, Nilam juga melakukan bisnis terlarang seperti judi online, pinjaman online dan sebagainya. banyak orang yang sudah di rugi kannya.


Sampai tertangkap pun dia masih tetap menyalahkan Arini lah penyebab semua yang telah terjadi.


Kebenciannya sudah mendarah daging.


Ia berteriak-teriak di kantor polisi.


Hingga pihak kepolisian meragukan kondisi kesehatan jiwanya.


Tiga hari kemudian, Denis dan Ilham sama-sama di perbolehkan bisa pulang.


Arini yang selalu setia menjaga suaminya merasa bahagia karna Denis bisa pulang kerumah.


Biaya perawatan Ilham semua juga di tanggung Denis,


"Terimakasih atas semua yang telah kau lakukan...!" Denis menjabat tangan Ilham.


"Aku senang bisa membantu kalian." jawab Ilham tersenyum.


"Aku pribadi juga ingin mengucapkan terimakasih sekaligus meminta maaf atas semua yang terjadi." ucap Arini.


"Tidak apa-apa Rin.. Aku juga tidak akan tenang kalau sesuatu terjadi pada mu." jawab Ilham sungguh-sungguh.


"Aku janji, aku akan balas jasamu suatu saat nanti. sambung Denis.


Sampai mereka pulang ke tempat masing-masing. Denis terus menggenggam erat tangannya.


Dua Minggu sudah kejadian mengerikan itu berlalu. Denis dan Arini menepati janjinya membawa Anita ke tempat di mana dia mendapatkan perawatan atas penyakitnya.


Sedangkan Cila sudah begitu lengket dengan Denis. Denis menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


Arini juga sering bertandang ke tempat Ilham dengan Denis tentunya. Sejak kejadian itu hubungan mereka membaik. Denis tidak lagi curiga pada Ilham.


Bahkan, Denis mendukung saat melihat Ilham dan Shofia dekat.


Ilham sering bertemu Shofia di tempat Denis.


Semenjak sering bertemu di tempat Arini, mereka terlihat semakin akrab. Walau usia terpaut cukup jauh tak jadi masalah pada mereka. Gadis itu sudah mulai bisa membuka hatinya untuk pria lain.


Kejadian yang menimpa Nilam menyadarkan Shofia kalau kehendak hati tidak selalu harus di dapatkan.


Kandungan Arini juga semakin besar.


Denis semakin memanjakannya, Denis menyadari kalau memelihara rasa curiga dan takut kehilangan hanya akan menyiksa diri sendiri, diapun tidak akan pernah tenang menjalaninya bersama Arini.


"Mbak, apakah menurutmu aku pantas bersama mas Ilham? Masalahnya usia kami terpaut sangat jauh." kata Shofia suatu sore.


"Mbak pikir beda usia tidak masalah, yang penting yang menjalaninya, kalau kau dan mas Ilham merasa nyaman, kenapa tidak?" jawab Arini memberi solusi.


"Aku sangat menyesalkan kebodohan ku selama ini, aku mengejar cinta mas Elang yang jelas-jelas tidak ada rasa padaku..."


Shofia menarik nafas panjang sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Kau harus bangga karna bisa menyadari kesalahanmu dan mau memperbaikinya, orang baik itu bukannya orang yang tidak pernah berbuat salah, tapi justru mereka yang bisa menyadari semua kesalahannya itulah orang baik yang sebenarnya." jawab Arini bijak.


"Kau sangat bijaksana, Mbak. Pantas saja mas Elang tidak bisa berpaling darimu.." ucap Shofia tersenyum.


"Intinya komunikasi, bagaimanapun rasa cinta dan sayang kita pada pasangan, percuma kalau ada mis komunikasi."

__ADS_1


"Ah, sudahlah.. Pokonya mbak dan mas Elang akan mendukung hubungan kalian."


Arini menarik nafas lega. Setelah apa yang sudah terjadi, akhirnya semua membaik dalam hidupnya. Denis dan Ilham bisa duduk bersama tanpa rasa saling curiga.


Pras dan Nilam sudah menerima ganjaran atas semua perbuatan mereka.


Siska sudah menemukan tambatan hatinya.


Hanya tinggal Bu Lastri buang masih dengan keadaanya.


Arini. Sering menyambangi Bu Lastri di rumah sakit tempatnya di rawat.


Dokter yang merawatnya merasa heran karna setelah lama menjalani pengobatan belum juga ada perubahan.


Dokter curiga Bu Lastri menyimpan beban di hatinya.


Ilham dan Siska merasa bingung apa yang jadi beban pikirannya hingga menghambat kesembuhannya.


"Ibu mikirin apa, ya Mas?"


"Mana Mas tau? Ibu kan tidak bisa bicara."


Jawab Ilham acuh.


"Terus mau kemana sudah rapi dan wangi seperti ini?" selidik Siska.


"Mau tau saja..!" ujar Ilham ketus.


"Aku tau, kemana mas akan pergi, Shofia, kan?" tebak Siska, membuat Ilham menghentikan langkahnya.


"Kau tau tentang Shofia?"


Siska mengangguk.


"Bagaimana menurutmu?"


"Shofia masih terlalu muda untuk Mas Ilham..


Ilham termenung..


"Kau benar, tapi aku merasa kam bisa saling melengkapi." ucap Ilham lirih.


"Selain memang aku suka padanya, untuk aku juga simpati atas nasib yang menimpanya." kata Ilham lagi.


"Kalau begitu, jalani lah dengan serius, Mas..!"


"Terima kasih karna kau selalu mendukung, Mas Ilham."


Ilham mengusap kepala Siska.


"Tapi ingat jangan sampai terjadi seperti yang sudah-sudah."


Ilham mengangguk pasti.


Dalam hatinya berjanji akan memulai hubungan dengan serius dan belajar bersikap dewasa.


"Titip ibu, mas keluar sebentar."


"Bilang saja mau nyamperin Shofia.."


Siska menimpuk kakaknya dengan bantal sambil tertawa.


Dalam hatinya berdoa semoga keluarganya kembali seperti semula sebelum ada prahara cinta segi tiga antara Arini, Anita dan Ilham.


Bu Lastri yang mendengar percakapan kedua anaknya hanya bisa berlinang air mata.


Ia berjanji akan menjadi orang tua yang lebih bijak dalam menghadapi kemelut keluarganya. semua yang telah terjadi menjadi pelajaran yang begitu berharga baginya.


Sementara itu Ilham yang sedang duduk di taman dengan Shofia bertanya serius.


"Shof, apa kamu sudah mantap memutuskan memilih mas Ilham jadi pendampingmu? aku sudah sangat tua buatmu. Aku sudah menikah dua kali, pikirkan lagi agar kau tidak menyesal di kemudian hari." ucap Ilham.

__ADS_1


"Aku percaya pada mas Ilham, semua kegagalan di masa lalu biarlah jadi pelajaran di masa sekarang dan masa depan kita." jawab Shofia merebahkan kepalanya di dada Ilham.


"Terima kasih, kau mau memberi kesempatan padaku.. Aku berjanji akan menjadi pasangan yang lebih baik lagi "


"Aku juga berterima kasih karna kau telah menerima ku dengan keadaan ku seperti sekarang ini." kata Shofia sambil mengelus perutnya sendiri.


"Kita akan membesarkan anak ini dengan kasih sayang yang berlimpah." kata Ilham menimpali.


"Apa kau sudah siap bertemu ibuku?"


Shofia mengangguk ragu."


'Tapi aku takut, Mas. Apakah ibumu mau menerimaku sebagai menantunya? aku sedang hamil anak orang lain.." keluh Siska.


"Kau jangan khawatir, ibuku sudah berubah kok, hanya saja dia tidak bisa menyambutnya dengan normal karna keadaanya." Ilham membesarkan hatinya.


"Mas Ilham pulang dulu, ya! Sudah malam." kata Ilham.


Shofia mengangguk dengan tersenyum.


Benih-benih cinta pada Ilham mulai tumbuh saat dia menyadari diantara mereka banyak kesamaan. Termasuk kesamaan tentang. Kegagalan cerita cinta mereka .


Perlahan namun pasti, Shofia bisa melupakan Elang. Hal itu sangat membahagiakan Arini dan Denis.


"Akhirnya anak itu bisa move on dari ku.." ucap Denis lega.


"Tapi aku yang tidak bisa move on dari mu.. Semakin hari, semakin aku menyayangimu."


Mata Denis mengerjap karna tak percaya atas ucapan Arini.


"Apakah benar kau begitu mencintaiku?"


Denis meraih pinggang Arini.


"Aku juga tidak menyadari dari kapan aku mulai begitu mencintaimu..!" bisik Arini.


"Aku sangat tersanjung oleh semua yang kau katakan. Apalagi dengan kehadiran buah hati kita ini hidupku terasa begitu sempurna." Denis mencium kening Arini dengan bahagia.


"Aduh!" Arini meringis membuat Ilham panik.


"Kayaknya waktunya sudah tiba, aku mau lahiran Den." teriak Arini menahan mulas di perutnya.


Denis membawa Arini kerumah sakit.


Bu Zah ikut menemani Denis menunggu si jabang bayi.


Denis menemani Arini di ruang bersalin.


Air mata bahagia mengalir saat mendengar lengkingan buah hatinya.


Denis mengecup kening Arini karna terharu.


"Terima kasih karna kau telah membuat hidupku lengkap."


"Selamat ya pak.! Jagoannya keluar dengan sehat." ucap Dokter yang menangani Arini.


Hari berlalu begitu cepat.. Arini dan Denis menjalani hidup dengan bahagia.. Apalagi semenjak kehadiran putra mereka,


Ilham dan Shofia juga akhirnya menikah tepat sebulan setelah Shofia melahirkan anaknya. Ilham menganggap anak Shofia seperti anaknya sendiri. Sedangkan Cila, dia menjadi kesayangan semua orang. Bersama Arini dan Denis hidupnya tidak pernah keruangan apa pun.


Mereka hidup rukun saling berdampingan.


Cerita ini sudah sampai di akhir ya..!


Jadi sedih juga berpisah dengan tokoh Arini dan Denis😭


Terimakasih 🙏🙏pada semua shobat yang sudah menemani perjalanan kisah ini sampai tamat. Ada bunda Nunung, Jelo muda, Musniwati, Ami, Syaquena, Novi dan masih banyak lagi yang tidak bisa di tag satu persatu😂


Tapi jangan lupa mampir lagi di karyaku yang baru yang berjudul


"KETIKA HATI HARUS BERBAGI"

__ADS_1


Di tunggu ya..! Sampai jumpa.


__ADS_2