
Shofia semakin mengeratkan pegangannya pada Denis.
"Gimana, Mbak? kami serasi, kan?"
Shofia sengaja bertanya kepada Arini.
Denis terkejut,
"Kamu ngomong apaan sih, Shof?" kata Denis canggung.
"Emang kenapa? tidak usah malu, keluarga besar kita juga sudah tau kalau mas Elang itu jodohnya Shofia." ucapnya enteng.
"Gimana, Mbak? kau belum menjawab pertanyaan ku?" Shofia mendesak Arini.
"Eh, iya.. kalian terlihat serasi." jawab Arini tersenyum canggung.
"Mas, kenapa jadi kalem, sih di depan mbak Arini? biasanya juga cerewet." ucapnya manja.
"Mas Elang kurang enak badan.." jawab Denis singkat.
"Mas Elang sakit?" Shofia terkejut dan meraba kening Denis.
"Tidak panas tuh.." gumamnya bingung.
"Tidak enak badan bukan berarti harus selalu panas!" sungut Denis.
"Oh begitu, ya?"
Denis mengangguk, sedang Arini hanya menyimak.
"Tapi Aku senang deh kalau tiap hari bisa kayak gini. bisa deket, bisa mandangin wajah mas Elang sepuasnya!" ucap Shofia dengan mata beloknya.
"Shof, memangnya tidak ada teman cowok yang suka padamu di sekolah, kenapa ngerecokin mas Elang terus?" tanya Denis dengan senyum di paksakan.
"Jangan salah, yang mau sama aku itu, banyak Mas. Tapi yang aku mau cuma satu. Mas Elang seorang!" ucapnya cengengesan.
Denis mengacak rambutnya.
"Dasar..!!"
"Aduh jangan acak rambutku Mas, nanti berkurang daya tarik ku!" sungutnya dengan wajah lucu.
Arini hanya menyimak, namun tak urung tersenyum dengan ke akraban Denis dan Shofia.
"Shofia sangat jujur, betapa enaknya jadi dia? dia polos tanpa beban." pikir Arini
Setelah Shofia turun dan bergabung dengan teman-temannya. Kini Denis dan Arini tinggal berdua saja.
"Rin, pindah kedepan, dong!"
Arini menggeleng. "Aku disini saja. nanggung, juga hampir sampai." tolaknya halus.
"Aku tidak mau terlihat seperti sopir mu! ayolah ku mohon!"
melihat wajah Denis yang memelas, Akhirnya Arini pindah kedepan.
"Begini, lebih enak di pandang, kan?" ucapnya asal.
Arini terperangah di buatnya.
Sampai di kantor, Arini mengantarkan kue yang di bawanya sesuai pesanan. kadang kalau masih ada sisa ia menitipkannya di kantin.
Arini kembali terkejut oleh tulisan uang di tempel di dinding. namun isinya sudah berbeda, tidak lagi menjelekkan dirinya namun hanya sebaris kalimat 'MAAF!!'
Denis tersenyum pada Arini.
"Kau lihat? pelakunya takut juga pada gertakan ku."
Mereka melanjutkan langkah menuju ruang masing-masing.
__ADS_1
Tidak ada lagi bisik-bisik aneh di antara para karyawan lainnya.
Mereka hanya menunduk saat Denis dan Arini lewat.
"Rin, kakak iparku mau pesan seratus bok kue untuk hari Minggu besok, bisa?"
Arini memandang Susi tak percaya.
"Iya, keponakanku mau ultah, kebetulan kemarin aku kasi sekotak kue yang aku bawa pulang. Dan dia suka!"
"Alhamdulillah.. aku tidak menyangka banyak orang yang suka dengan kue buatan ku." ucapnya dengan senyum merekah.
tangannya meraba perutnya yang kian membuncit.
"Ini semua karena doamu nak.." ucapnya lirih.
Arini menghitung pesanan kuenya untuk hari Minggu besok saja sudah ada tiga pesanan.
Dari teman Bu Zah seratus kotak,
Dari Bu TiTin dua ratus kotak.
Dan kini dari iparnya Susi Seratus kotak lagi.
Arini berpikir untuk membeli peralatan lebih lengkap lagi. Dan tentunya dia harus punya asisten untuk membantunya. ia merasa tidak bisa menghandle sendirian di samping harus kerja dia juga perlu menjenguk Ilham.
Sepulang kantor , Arini minta di antarin membeli bahan kue dan perlengkapannya.
Dengan senang hati Denis melakukannya.
Dia merasa senang karena Arini terlihat bahagia. mungkin dengan menekuni hobi sekaligus usahanya saat ini membuatnya bisa sedikit melupakan masalah yang sedang menderanya.
Saat sedang serius memilih bahan-bahan yang di perlukan. Tiba-tiba ponsel Denis berdering.
"Dari sekolah Shofia" gumamnya heran.
"Iya, pak!"
Arini menunggu dengan wajah cemas.
"Kenapa?"
"Shofia pingsan di sekolahnya, gurunya minta aku menjemput Shofia.." ujarnya dengan berat hati.
Belum sempat Arini menjawab, ponselnya sendiri berdering.
"Iya, Sis!"
Arini mendesah panjang saat menutup telpon dari Siska.
"Siska.. dia bilang mas Ilham sudah sadar dan mencariku!"
Mereka sama-sama terdiam.
"Kau pergi saja jemput Shofia..!" kata Arini akhirnya.
"Dan kau?"
"Aku akan cari taksi saja."
"Kau akan kerumah sakit?" Denis penasaran.
Arini mengangguk pelan dengan perasaan bersalah.
Akhirnya dengan berat hati terpaksa mereka berpisah di situ.
"Arini tergopoh masuk kedalam ruangan Ilham.
Di lihatnya Ilham sedang menangis memegangi kepalanya. Dia terlihat begitu kesakitan.
__ADS_1
"Mbak, tolong mas Ilham Mbak!" ucap Siska menyambutnya dengan isakan tangis.
"Mas Ilham tidak mau di dekati siapapun termasuk ibu!"
Arini mendekat perlahan. Ia tak perduli dengan pandangan tidak suka dari Bu Lastri dan Anita.
"Mas.." mendengar suaranya, Ilham langsung membuka matanya.
"Rin.. mareka sudah mengarang cerita yang tidak-tidak. Mereka berusaha memisahkan kita dengan berbagai cara!"
Ilham meraih tangan Arini dan meletakkannya di kepalanya.
"Kepala ku sakit. rasanya mau meledak. ibu masih menambahnya dengan cerita bohongnya!" ucapnya mengadu pada Arini.
Arini merasa serba salah
Ia memandang ke arah Bu Lastri dan Anita.
"Sebentar, ya Mas! aku mau bicara pada mereka."
Arini memberi isyarat pada Bu Lastri dan Anita untuk mengikutinya.
"Kau pasti senang karna suami ku hanya mengingatmu!" kata Anita gusar.
"Tidak, justru aku merasa terbebani dengan semua ini. aku ingin segera bebas dari kalian.
Tapi bagaimana itu bisa terwujud kalau keadaan mas Ilham sendiri seperti ini?"
"Lalu?" Bu Lastri berucap dengan sinis.
Ikiuti saran dokter, biarkan aku dekat dengannya hanya untuk mengembalikan ingatannya saja, tidak lebih! itu juga yang kalian mau, kan?"
"Tapi aku tidak percaya? kau pasti memanfaatkan keadaan agar mas Ilham tidak jadi menceraikan mu!" tuduh Anita.
"Kalau begitu terserah, kau urus saja suamimu sendirian. aku bisa pergi sekarang juga!" ancam Arini.
"Tinggu!!" suara Bu Lastri menghentikan langkah Arini.
"Aku setuju, asal dengan satu syarat."
Arini menoleh.
"Ibu, bagaimana mungkin kau membiarkan dia dekat dengan suamiku lagi?"
Bu Lastri tidak mengindahkan Anita.
"Kau boleh dekat dengan Ilham, asal jangan berusaha menjauhkannya dari kami! kau harus membujuknya agar menerima kenyataan di antara kalian."
"Ibuuu...! sebenarnya aku bisa saja tidak perduli dengan syaratmu, disini yang butuh aku adalah kalian, bukan sebaliknya. Tapi tidak apa, lagian aku juga mengharapkan hal yang sama seperti kalian."
Anita merajuk pada mertuanya karena membolehkan Arini dekat lagi dengan Ilham.
"Lau tidak perlu khawatir, biarkan dia melakukan tugasnya! kita hanya perlu mengambil keuntungannya saja." ujar Bu Lastri pada menantinya.
Arini yang sempat mendengarnya tersenyum sambil mencibir.
"Rin, apa kau sudah bicara pada ibu? dia memang sangat keterlaluan. masa dia sampai membawa seorang bayi untuk memaksaku berpisah denganmu!" ucapnya sambil merengut.
Dia menyuruh Arini duduk di dekatnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Arini.
Arini mendesah panjang.
"Seberapa pun kuatnya usaha ibu memisahkan kita, aku tidak akan melepaskan mu!" ucapnya sambil memejamkan mata.
Siska menatap iparnya dengan sendu.
"Maaf, telah menyusahkan mu Mbak!"
Arini hanya tersenyum pahit.
__ADS_1
💞 Minta Dukungannya dengan like, komen vote dan klik favorit ya!