Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 49


__ADS_3

Arini membuka matanya perlahan.


Ia menjadi salah tingkah saat tau Denis sedang menatapnya.


"Ehmm... maaf aku ketiduran." ucap Arini tersipu.


"Aku yang harusnya minta maaf, kau terpaksa harus bergadang untuk menjagaku." kata Denis sambil membenarkan posisinya.


Arini membereskan baskom dan kain lapnya. Lalu melangkah hendak keluar.


"Terima kasih..!" ucap Denis padanya.


Arini mengangguk dan meninggalkan Denis sendirian.


Setelah selesai mengemas kue, Arini bergegas mandi. ia sangat bersyukur.


'Sekarang tinggal menunggu Susi mengambil pesanannya, Alhamdulillah atas berkah mu ini ya Allah.."


Denis terkejut karna ada suara ponsel di mejanya.


"Ponsel Arini ketinggalan disini." gumamnya sendiri.


Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.


'Mas Ilham'


Denis mendesah malas.


Ia bimbang apakah harus menjawab atau tidak. akhirnya dia memutuskan tidak menjawabnya.


Tak berapa lama Arini masuk.


"Ada ponselku ketinggalan di sini?"


Denis memberikan ponsel itu.


'Ilham barusan menelpon..!" ucapnya datar.


"Ooh.." hanya itu yang keluar dari mulut Arini.


" Lalau begitu aku keluar dulu." ucapnya kikuk.


"Tunggu, Rin! apakah kau mau kerumah sakit?"


Arini terdiam.


"Belum tau, pesanan belum habis di antar."


"Kenapa?" Arini penasaran.


Denis menggeleng lagi.


"Pesanan terakhir hari ini..!"


ucap Arini lega.


Ponselnya berdering lagi.


"Ya, Mas.."


"Ini hari Minggu, kenapa kau belum datang juga kerumah sakit?" suara Ilham terdengar kecewa.


"Aku lupa menceritakan bahwa aku punya usaha kecil-kecilan, aku baru selesai mengantar pesanan kue yang terakhir."


jawab Arini menjelaskan.


Setelah minta ijin pada Bu Zah, Arini kerumah sakit dengan meminjam motor Bu Zah.


"Dokter sudah melakukan diagnosa lagi pada mas Ilham."


Siska terlihat kuyu karena kurang tidur.


gadis itu terpaksa bolos kuliah karena harus menjaga kakaknya. Bu Lastri sendiri lebih fokus merawat cucu perempuannya ketimbang putranya sendiri.


"Kau terlihat lelah sekali Sis, istirahatlah! biar mbak yang jagain mas Ilham."

__ADS_1


Siska menurut.


"'Rin, kenapa lama sekali? aku merasa kau sudah berubah banyak." Ilham menyambutnya dengan pertanyaan.


Arini tertegun. Baru seminggu di rawat, tubuh Ilham sudah terlihat kurus. wajahnya cekung dengan rambut gondrong. Hanya bola matanya yang terlihat besar.


Air mata Ilham menetes..


Melihat itu ada rasa iba yang tiba-tiba menyusup dalam hati Arini. pria yang sudah hampir lima tahun hidup bersamanya itu terlihat rapuh. Sangat jauh berbeda dengan keadaanya semasih bersama dirinya.


"Aku sudah tidak punya apa-apa, aku juga bukan siapa-siapa dengan ingatan yang hilang ini." Ilham memukuli kepalanya sendiri


.


"Mas, mas tenang, ya!" Arini memegangi tangannya.


"Biar saja... aku mau mati saja,!" isaknya pilu.


"Dengar, ya! aku terlambat kesini karna aku ada pesanan kue, dan itu lumayan banyak, Mas. aku janji sepulang kerja besok aku langsung datang kesini." bagaimana juk Arini.


Ilham menenggelamkan wajahnya di pangkuan Arini.


Arini ragu hendak mengelus kepalanya.


"Dia masih suamiku, dia tetap lah ayah dari anakku." setitik air bening jatuh di rambut Ilham.


Saat yang sama Anita datang dan memandang Arini dengan marah.


Arini berusaha melepaskan diri dari Ilham, namun Ilham semakin erat merangkulnya.


"Sebentar lagi Rin..!" ucap nya lirih.


Anita pergi dari tempat itu dengan membanting pintu.


"Ini pasti jadi masalah lagi." keluh Arini.


"Mas, biar aku suapin makan, ya?"


Denis menggeleng.


Arini mendesah pelan.


"Bukankah kau ingin cepat sembuh, cepat mengingat penggalan memori yang hilang?"


"Jujur, aku takut membayangkan ingatanku balik kembali. Aku takut menerima kenyataan bahwa semua sudah berubah."


"Apa maksudmu, Mas?"


Mata Ilham menerawang.


"Mengingat apa yang sudah ibu katakan, dan keanehan-keanehan yang aku rasakan. Sepertinya benar telah terjadi perubahan. Dan aku sangat takut membayangkan itu semua menjadi kenyataan." Arini melihat kesedihan yang dalam di mata Ilham.


"Bagaimana kalau suatu saat ingatannya kembali dan menghadapi kenyataan yang di takutkan ya?" bathin Arini.


"Sudahlah, sekarang kau harus fokus pada kesembuhanmu dulu, masalah yang lainnya


kita cari jalan keluarnya."


Arini menyelimuti tubuh Ilham.


Saat Arini keluar dari ruangan itu, Bu Lastri sudah menghadangnya dengan tatapan sinis nya.


Anita terlihat bersembunyi di belakang Bu Lastri.


"Tolong, Bu. jangan ngajak aku berantem kali ini. Aku lelah."


ucap Arini dan melenggang pergi.


Bu Lastri menangkap tangannya.


"Jangan jadi munafik!"


"Maksud ibu?"


"Apa yang kau ucapkan tidak sama dengan perbuatanmu!"

__ADS_1


Arini berdecak kesal.


"Anita mengadu, ya? sudah ku sangka!."


Bu Lastri pasang badan di depan Anita.


"Ibu tidak usah takut, aku tidak akan berbuat arogan dengan mencakar muka menantu ibu itu." tukas Arin lagi.


"Arini, aku pernah menjadi mertuamu, karna itu aku merasa prihatin padamu.


Kau sudah tidak punya orang tua yang bisa mengingatkan mu lagi, insyaf lah! berhenti


mempermainkan perasaan laki-laki. berhenti berlagak sok alim. Berhenti mempengaruhi Ilham, berhenti..."


"Cukup!!" suara Arini bergetar.


"Tega, ya ibu menuduh ku seperti itu? begitu besarkah dosa yang ku lakukan hingga membuat ibu begitu membenciku? padahal dalam hatiku tidak pernah ada kebencian sedikitpun untuk ibu."


Bu Lastri meninggalkan Arini yang masih terisak.


Anita melewatinya dengan mencibir.


"Jangan sampai ibu luluh oleh tangis Arini."


bathin Anita.


Ia berlari menyusul mertuanya yang melangkah dengan tergesa.


"Bu, ibu. tunggu!"


"Ibu jangan iba pada air matanya... memang itu senjatanya untuk meluluhkan mas Ilham dan Denis. Sebenarnya apa sih kelebihannya, coba saja ibu lihat, wajahnya biasa, tubuhnya juga biasa, kadang aku heran, apa yang di lihat para lelaki itu dari seorang Arini!"


Anita memanas-manasi mertuanya agar semakin membenci Arini.


Sementara itu, Denis yang merasa sudah baikan merasa tidak tenang karna Arini berada di rumah sakit menjaga Ilham.


Ia menyempatkan diri mengirim pesan pada Arini.


( Rin, mau aku jemput?)


(Tidak usah, kau belum sehat benar. mungkin kali ini aku menginap di rumah sakit. keadaan mas Ilham kurang baik). balasan pesan dari Arini.


"Dia mau menginap? nggak mikir apa dia? bisa saja Ilham minta sesuatu yang lebih karna menganggap dirinya masih suami sahnya"


"Tidak boleh terjadi! apapun tanggapannya, aku akan menemaninya disana!" tekat Ilham.


Dengan. mengendap ia menuju mobilnya.


"Berhenti...! mau kemana?"


Denis terpaksa menghentikan langkahnya.


"Mau kerumah sakit menjemput Arini, Bu Dhe."


"Tapi kondisimu baru saja pulih."


"Tenang saja.. aku mau kerumah sakit. kalau sampai kenapa napa tinggal minta di rawat. Gampang, kan?"


"Eeh tunggu dulu, Bu Dhe mau bertanya sesuatu."


Bu Zah menghampiri Ilham yang sudah dalam mobilnya.


"Apa yang terjadi diantara kalian? Bu RT barusan nelpon. katanya Shofia mengurung diri dalam kamar sejak semalam. Tidak mau makan, todak mau membuka pintu."


"Hah... Shofia?" Denis merasa heran


"Kenapa dengan anak itu, lagian apa hubungannya sama aku budhe...?"


"Budhe tidak tau pasti. Tapi semalam dia datang hendak menengokmu, tapi pulang-pulangnya dia seperti orang linglung."


Denis mengingat ingat sesuatu.


"Apa jangan-jangan dia melihat aku dan Arini..." gumamnya pelan.


"Kau dan Arini kenapa?" potong Bu Zah.

__ADS_1


"Maksudku, apa dia melihatku bersama Arini di kamar terus dia salah paham, apa mungkin, ya?"


__ADS_2