Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 87


__ADS_3

"Kau mau kemana?"


Ilham menjambak rambut Anita saat melihatnya sudah berganti baju seperti hendak pergi.


"Sakit, Mas." rintihnya kesakitan.


"Bagus, ya.. Kau mau keluar mencari mangsa dan pulang-pulangnya memberi ku oleh-oleh berupa sesuatu yang sangat menjijikan itu?"


Ilham masih terbayang saat Anita pulang dengan bau ****** pria masih tercium dari badannya.


Anita terhempas di ranjang.


"Aku menyesal, mas Ilham. Aku mau bertobat,


Beri aku kesempatan menjadi istri dan ibu yang baik. Kita akan mulai dari awal lagi, Mas." ucapnya mencoba membujuk Ilham.


"Kau pikir, aku masih membiarkanmu disini karna aku masih mengharapkan mu? Tidak..


Aku menahan mu karna ingin menyiksamu dulu.


Jangankan untuk memulai sebuah awal yang baru denganmu. Melihatmu saja aku sudah muak dan jijik, apalagi menyentuhmu!"


Ilham membiarkan Anita yang tersedu penuh penyesalan.


"Kau berikan saja anak mu pada ayahnya! Kandungnya. Aku memang tidak membenci Cila, tapi setiap kali melihatnya mengingatkan aku pada penghianatan mu!"


"Mas, jangan hukum Cila atas dosaku..!" rintih Anita.


"Lalu, apakah aku harus membesarkan anak dari hasil penghianatan istriku? Apakah menurutmu itu adil buatku?" mata Ilham menyala menahan amarah.


"Dia sudah mengenalmu sebagai ayahnya, tolong kasihani dia.."


"Segampang itu kau bicara, lalu dimana rasa kasihanmu saat tega membohongiku?"


Anita terdiam.


"Ini bukan mutlak salahku, kau juga ikut andil atas semua kesalahanku." ucap Anita membela diri.


"Apa maksudmu? Kau mau mencari pembelaan?" bentak Ilham dengan garang.


"Kau tidak pernah bisa melupakan Arini, karna itulah aku berbuat ini semua." keluh Anita tanpa rasa malu.


Sudah kepalang tanggung, pikirnya, karna itu dia mencari pembelaan...


"Jangan sebut-sebut Arini oleh mulut kotor mu. Dia terlalu bersih untuk di ikut sertakan dalam masalah mu."


Ilham melengos.


"Arini, Arini dan Arini lagi yang menang." bathin Anita penuh kebencian.


"Bu Lastri datang dan melemparkan beberapa cucian kepada Anita.


"Cuci itu.. Kau harus merasakan apa yang telah kau perbuat pada Arini di masa lalu!" ucapnya dengan angkuh.


Anita terpaksa hanya diam.


Ia belum bisa menerima kalau keadaan sangat berbalik.


Dulu Arini yang tertekan dirumah itu, sekarang ia merasakannya.


Bagaimana Bu Lastri dengan kejamnya menyuruh ini dan itu.


Ingin rasanya ia membuka rahasia tentang penyebab kematian anaknya Arini. Tapi karna mengingat Cila, dia menahan diri.


Anita merasa iba melihat nasib putrinya, Ilham sudah jelas-jelas tidak mau menerimanya, sedangkan Bu Lastri sudah pasti juga menolaknya. Hanya Siska di rumah itu yang masih memperlakukan Cila seperti biasa.


"Dia bukan anaknya Mas, mu.!" ketus Bu Lastri saat melihat Siska masih akrab dengan Cila.

__ADS_1


"Dia tidak tau apa-apa dengan perbuatan ibunya, kita jangan menghukumnya." jawab Siska bijak.


Bu Lastri sudah melarang Anita berinteraksi dengan anaknya, baby sitter yang mengurus Cila pun di beri peringatan.


"Kau akan merasakan penderitaan Arini yang tidak bisa bersama anaknya sampai sekarang. Kau selalu menghasut ku agar memisahkan Arini dari anaknya. Iya, kan?"


Anita hanya bisa terdiam. Dalam hati dia masih ngedumel olah mertuanya itu.


"Dia bilang aku yang menghasutnya, padahal memang wataknya itu yang jahat dari lahir."


Ucapnya dalam hati.


Anita bagai burung di dalam sangkar.


Ia tidak boleh kemana-kemana. Anita pun tak berani melanggarnya karna Cila sebagai taruhannya.


"Apakah aku berikan saja Cila pada ayah kandungnya? tapi kalau itu terjadi, aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Belum tentu juga keluarga barunya membuatnya bahagia."


bathin Anita lagi.


"Anita sudah pindah tidur ke kamar kecil di dekat dapur, tempat yang lebih layak di sebut kamar pembantu karna kecil dan pengapnya.


Cila masih di perbolehkan di kamarnya sendiri, namun peraturan dari Ilham. Anita tidak boleh menemani anaknya di kamar itu.


Anita hanya bisa menahan kesedihannya saat putri kecilnya menangis karna kehausan.


Terkadang Cila menangis kencang, mungkin ia rindu pada ibunya, namun hati Bu Lastri dan Ilham sudah membatu.


"Biar dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak.." ucap Bu Lastri geram.


Sore itu, Bu Lastri sengaja ke toko kue milik Arini.


Dengan naik ojek ia berhenti agak jauh dari toko itu.


Bu Lastri mengamati aktivitas di dalam toko.


Bu Lastri terus mengamati Arini yang sedang sibuk di balik mejanya.


"Bu, jadi belanja, tidak? Masa hanya memandang dari jauh saja." tukang ojek yang ia tumpangi nya berkomentar.


"Kamu diam saja, tugasmu hanya jalan kalau saya suruh jalan, dan berhenti saat saya suruh berhenti." tukas Bu Lastri.


"Arini.. Dia sangat berubah sekarang, aku saja yang sirik sampai tidak menyadari kemajuannya."


"Apa yang dia pikirkan kalau tau, kalau akulah penyebab meninggalnya anaknya.."


"Arini, aku malu meminta maaf padamu, dosaku begitu besar telah menyiapkan menantu baik sepertimu, aku malah memilih wanita murahan seperti Anita."


Bu Lastri terus membathin.


Sekilas Arini sempat melihat Bu Lastri yang sedang mengawasi tokonya.


Ia sempat merasa curiga kalau-kalau mantan mertuanya itu akan membuat keributan lagi.


Arini menyuruh Hendra untuk mendekatinya.


"Maaf, Bu. Ada perlu apa, ya?" tanya Hendra sopan.


Bu Lastri menyusut airmatanya.


Hendra merasa agak heran,


"Ada apa dengan wanita tua ini? Kenapa dia menangis?" bathin Hendra.


Tanpa banyak bicara, Bu Lastri mengajak tukang ojeknya untuk pergi dari tempat itu.


Hal itu menyisakan pertanyaan yang mendalam di benak Hendra juga Arini.

__ADS_1


Malam harinya, Arini menceritakan semua kejadian itu pada Denis.


"Mungkin saja dia sudah berubah dan menyesali perbuatannya padamu." jawab Denis


"Entahlah.. kepala ku sudah pusing memikirkan masalah ibu, aku tidak mau menambahnya dengan memikirkan Bu Lastri."


"Kalau aku mau memikirkan tentang kita saja.." celetuk Denis tiba-tiba.


Arini tersenyum menggodanya.


"Yang benar? bukannya saat ini kau sedang memikirkan si ulat keket penggemarmu itu?"


"Apaan sih? Shofia maksudnya?" tebak Denis


"Tepat sekali.. ternyata suamiku cepat sekali tebakannya kesana."


"Ngapain aku ingat dia, kalau di sampingku sudah ada istri yang cantik yang selalu setia menemaniku."


"Gombal..!!"


"Aku ingin segera menjadi seorang ayah, Rin." ucapnya serius.


Arini tertegun sejenak. Ia terbayang kembali saat kehilangan anaknya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu teringat masa-masa sulit itu."


"Tidak apa-apa, aku harus berusaha melupakannya."


"Terimakasih.. Tapi aku tidak akan memaksamu, kapan pun kau siap."


"Kalau aku sudah siap sekarang?" jawab Arini tersenyum penuh arti.


"Benar?"


Arini mengangguk pasti.


Di saat Anita sedang terpuruk dengan penderitaannya, Arini sedang menikmati kebahagiaannya, buah dari kesabarannya selama ini.


"Rin, coba lihat berita di tv itu."


"Bukankah itu mas Pras?"


Teriak Arini terkejut.


"Mas Pras tertangkap polisi?"


Mereka sangat terkejut melihat Pras terjaring razia polisi.


Keesokan harinya, media ramai membicarakan tentang penangkapan sindikat obat terlarang.


Pras termasuk di dalamnya.


Nilam tidak mau membuka pintu kamarnya saat orang mau mengkonfirmasinya.


Bu Zah terlihat shock dengan kejadian itu.


Beberapa kali dia jatuh pingsan.


Denis berusaha mencari tau ke kantor polisi.


Arini menemani Bu Zah di rumah.


"Denis, Mas tidak bersalah. Mas tidak tau mereka sindikat obat terlarang. Mereka sudah menjebak Mas..!" keluh Pras beruntun.


"Tenang, Mas. Aku akan menghubungi pengacara. Mas Pras tenang dulu., tidak usah takut mas Pras tidak bersalah." hibur Denis.


Pras sangat ketakutan, ia tidak menyangka akan berakhir di kepolisian, niatnya ingin menanam modal usaha akhirnya berakhir di kantor polisi.

__ADS_1


.


__ADS_2