Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 54


__ADS_3

Ilham benar'-benar merasa malu, gara-gara terpancing hasutan Anita, ia jadi menuduh Arini dan pria di depannya itu yang tidak-tidak.


Ilham sudah hendak melangkah masuk, namun Denis menahannya.


"Eit, tunggu dulu tuan pelupa! Arini sedang di rawat, kita tunggu saja disini!" ucap Denis.


"Lagian, kau sudah menuduh Arini yang macam-macam, masih punya muka untuk menemuinya?" sindir Denis lagi.


Ilham tak perduli, ia mendorong tubuh Denis kesamping.


"Kuat juga tenaganya, aku harus lebih rajin nge gym nih.." gumam Denis pelan.


Ilham terus masuk menemui Arini yang tengah di rawat.


"Rin, kau tidak apa-apa?"


"Jelas apa-apa lah, kau lihat saja kakinya membengkak." Denis yang menjawab.


"Iya, Mas. agak bengkak, mungkin bawaan bayi" jawab Arini.


Ilham hendak menyentuh kakinya yang sedang selonjoran.


Arini menepisnya cepat.


""Bekas minyak kayu putih, mas. jangan di sentuh!" ucapnya beralasan.


Ilham keluar dengan perasaan tak enak karena penolakan Arini, dan juga baru saja dia telah menuduhnya telah berbuat yang tidak pantas.


Ia terus melangkah ke kamarnya.


Anita menyambutnya dengan wajah manis


"Mas, kita sarapan, yuk! aku lapar." ucapnya manja.


Ilham menghempaskan tangan Anita dengan kasar.


"Semua ini gara-gara kau!" ucapnya keras.


Anita dan terperangah oleh sikap Ilham.


"Kau kenapa, Mas? datang dari kamar Anita langsung marah-marah?"


"Kau yang menghasut ku untuk menuduh mereka berbuat macam-macam, liat sendiri akibatnya. Justru kita yang di permalukan.


Kadang aku tidak percaya semua ceritamu bahwa kita sudah menikah!"


Anita terhenyak. ia tidak percaya itu terucap dari mulut Ilham.


"Bela saja terus perempuan itu!" ucapnya dengan kasar dan meninggalkan Ilham sendirian dalam kemarahannya.


Anita terus memikirkan bagaimana caranya memberi pelajaran pada Arini.


Denis membawakan sarapan ke kamar Arini.


'Kau harus makan banyak kali ini!" ucapnya serius!"


"Kenapa?" jawabnya heran.


"Karna aku yang membawakannya!" jawab Denis asal.


Arini tersenyum.


"Kau duduk saja! aku khawatir kakimu semakin bengkak kalau di pakai jalan." kata Denis dengan wajah cemas.


"Tidak usah terlalu di cemaskan, ini banyak terjadi pada ibu hamil yang memasuki usia tujuh bulan keatas."


Denis menatap kaki Arini yang putih mulus namun agak bengkak karna kehamilannya itu.


Andai saja mereka sudah halal dan boleh menyentuhnya, pasti ia akan memijatnya agar Arini merasa lebih rileks.


"Kau makan juga, atau kita makan bareng saja!" suara Arini membuyarkan lamunan Denis.

__ADS_1


"Aku bisa kapan saja, yang penting kau dulu."


"Tidak bisa begitu.. ayo aku yang suapin."


Arini menyuapi Ilham.


"Kenapa kau lakukan ini, Rin?" ucap Denis terharu.


"Kalau bisa perhatian padaku, kenapa aku tidak..?"


Denis benar-benar merasa bahagia karna Arini mulai bisa membuka hati untuknya.


"Aku boleh bertanya?"


"Tentu!" jawab Ilham sambil mengunyah makanannya.


"Sebenarnya antara kau dan Shofia ada hubungan... maksudku hubungan kalian itu seperti apa? Kaka adik atau lebih dari itu?"


Denis tertawa mendengar pertanyaan Arini yang di anggapnya konyol.


"Aku harus menjawab apa? maksudku, tentu saja aku menganggapnya adik, dia gadis ingusan yang baru berusia tujuh belas tahun.


Dan aku saat ini sudah hampir kepala tiga.


Apa pantas ada hubungan lain selain itu?" Denis menatap Arini gemas.


"Tapi, aku rasa tidak begitu dengan Shofia. Dia menganggap mu lebih dari sekedar seorang kaka."


Denis tertegun.


Ia teringat kejadian kemarin tentang Shofia yang mogok makan.


"Benar, kan?" todong Arini.


"Eeum... sebenarnya waktu Shofia dibawa kerumah sakit itu, Bu dhe juga sempat berpikir penyebabnya adalah karna kedekatan kita. Tapi syukurlah, setelah aku urus dia mengaku penyebab dirinya seperti itu ternyata hanya karna masalah dengan teman cowoknya di sekolah."


"Kau yakin, dia berkata jujur?"


Arini bisa sedikit lega, namun dalam hati kecilnya ia tetap tidak percaya.


Sementara itu, saat Denis pergi ke kamarnya sendiri, diam-diam Anita menebarkan minyak di sekitar pintu kamar Arini, lantai yang mengkilat di tuangi minyak tentu saja membuatnya sangat licin.


Dari kejauhan Anita bisa mengintai pintu kamar Arini.


Denis berjalan dengan santai ke kamar Arini, namun langkahnya terhenti saat menyadari ponselnya yang ketinggalan.


Ia berbalik ke kamarnya sendiri.


Anita gelisah, jangan sampai keburu ada orang lain yang lewat dan jatuh di perangkap yang di buatnya untuk Arini.


"Aku akan menelponnya dengan nomor tersembunyi agar dia keluar."


Benar saja, Anita menelpon Arini me.buat suara orang lain agar tidak di kenali oleh Arini.


"Cepat keluar, ini penting sekali. saya tunggu di depan pintu!"


Anita terkikik saat menutup telponnya.


"Sekarang tinggal menunggu detik-detik kesialanmu!" bisiknya pelan.


Pintu sudah terbuka, tapi sosok Arini tak kunjung keluar.


Yang ada Ilham sedang berjalan tergesa menuju kamar itu.


Anita tidak bisa mengulur waktu, detik kemudian bisa di tebak apa yang terjadi.


Ilham terpeleset dan terjatuh. kepalanya membentur tembok.


Anita tercekat. jantungnya terasa berhenti berdetak.


Ia berlari kearah Ilham.

__ADS_1


"Tolong! tolong!" teriak Anita. Arini dan yang lainnya keluar dan ikut kaget melihat yang terjadi.


"Tunggu Rin, jangan melangkah keluar. Lantainya licin!" teriak Denis memperingatkan Arini.


Petugas membawa Ilham untuk mendapatkan pengobatan, sedangkan Denis menemani Arini yang terlihat shock.


Anita terus menangis histeris di dekat Ilham yang tidak sadarkan diri.


"Mas, maafkan aku?" ratapnya sambil terus menangis.


"Sudah ku bilang, jangan dekat-dekat Arini. Dia pembawa sial!" umpatnya di sela tangisnya.


Tiba-tiba jari Ilham bergerak.


Matanya terbuka dan seperti mengamati keadaan.


"Dimana aku?"


Anita memeluknya erat.


"Kau sudah sadar, Mas?"


Ilham bergegas bangkit dari tempatnya berbaring.


"Apa yang terjadi? kepalaku pusing sekali!" keluhnya sambil meringis.


"Mas, kau akan baik-baik saja." hibur Anita.


"Anita, sedang apa kita disini? dan kenapa dengan perutmu? dimana anak kita?"


Ilham memberondong Anita dengan banyak pertanyaan


"Kau sudah ingat, mas?"


Ilham berusaha mengingat semuanya. dan kali ini di bisa mengingat semuanya dengan sempurna.


Anita tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya.


Di saat yang sama Denis dan Arini tiba di tempat itu.


Mereka bisa mendengar percakapan suami istri itu.


"Mas Ilham sudah ingat kembali?"


"Aku mengingat semuanya..!" jawab Ilham lunglai.


Ia kembali terdiam.


"Lalu kenapa kau terlihat sedih Mas?" Anita mengguncang lengan Ilham.


Ilham merasa menyesal saat mengingat kembali masalah yang seperti benang ruet di antara mereka berempat.


Mata Ilham menatap tajam ke arah Denis.


"Kenapa dia ada disini?" Ilham terlihat tidak senang.


"Tunggu Mas, kita sudah sepakat. Kalau aku bersedia menemani mu pergi, dan kau bisa mengingat kembali, kau akan mengabulkan permintaan ku, aku minta segera tanda tangani surat cerai kita!"


Ilham terdiam. Dia masih ingat janji yang dia ucapkan pada Arini.


Ia masih berharap Arini kembali padanya.Tapi saat melihat perutnya yang membuncit membuat ia tersulut cemburu.


"Aku sangat mencintaimu, Arini. tapi setiap aku menatap anak itu, hatiku terbakar. Ia mengingatkan ku pada penghianatan mu!"


"Aku tidak akan memaksamu lagi untuk mengakui dia sebagai anak mu. dia sudah punya seorang ayah yang jauh lebih baik dan bertanggung jawab ketimbang dirimu." Arini memegang tangan Denis dengan erat.


Denis mengangguk padanya.


"Tunggu saja, kau akan segera menerima surat cerai itu. Yang hadir di sini bisa menjadi saksi bahwa aku menceraikan mu Arini!"


Arini tertegun di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Air matanya luruh, entah itu air mata bahagia ataukah duka. Arini tidak mengerti.


__ADS_2