Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 73


__ADS_3

Anita merasa malas mendengar berita Arini sudah menikah dengan Denis.


Entah kenapa dia merasa tidak suka.


Dalam pikirannya, dengan menikah berarti penderitaan temannya itu akan berkurang, dengan menikah ia tidak lagi punya kesempatan memojok kan temannya itu.


Anita sangat puas kalau melihat Arini menderita.


"Kau sepertinya kurang suka mendengarnya, Nit?"


"Biasa saja.." jawabnya acuh.


"Bukannya kau seharusnya senang, dengan Arini menikah, Ilham akan aman." ujar temannya lagi.


"Walaupun dia belum menikah sekalipun, mas Ilham tidak akan Sudi meliriknya lagi." jawab Anita kesal.


Padahal dalam hati ia mengutuk suaminya karna tidak bisa melupakan mantan istrinya itu.


"Kau beruntung sekali, suami mu sangat sayang padamu."


"Tentu saja, dimana lagi dia akan dapatkan istri seperti aku, sudah cantik, mandiri bisa memberinya anak pula." ujar nya bangga.


Sangat kebetulan saat mereka mengobrol, Arini dan Denis datang ketempat itu juga.


Anita yang menyadari itu merasa takut kalau teman-temannya juga mengetahui kehadiran musuhnya itu.


Tapi terlambat, mereka sudah melihat Arini dan berdecak kagum.


"Bukan kah itu mantan madumu, Nit? nggak nyangka aku, dia berubah drastis. Lihat saja


penampilannya sekarang? walaupun sederhana, tapi tetap terlihat cantik dan elegan." puji temannya itu, membuat telinga Anita memanas.


"Ah, biasa saja.." ucap Anita cuek.


"Yakin suamimu tidak akan menelan ludah kalau melihat Arini sekarang?" goda temannya lagi.


Hal itu membuat Anita panas dingin.


Ia mengakui Arini sangat berubah, kulitnya terlihat bersih terawat.


"Jangan di besar-besarkan, gitu aja.. paling juga dia pakai susuk atau apa gitu, aku dengar cantik secara instan sekarang lagi viral." ucapnya membela diri.


"Yang benar, Nit?"


"Kenapa tidak? apa yang tidak mungkin baginya sekarang? suaminya berduit.." ucapnya dengan wajah masam.


"Berarti saat bersama Ilham dia tidak bisa perawatan karna tidak ada duit, dong?" celetuk temannya tertawa.


Anita menatap Arini dengan gusar.


Di meja lain.


"Mau pesan apa, Rin?"


"Terserah kamu, deh "


"Jangan terserah aku, dong ini kencan pertama kita setelah menikah." Denis menatapnya dengan romantis.


"Sup saja deh."


Denis dan Arini menikmati hidangan yang tersaji.


"Enak, sup nya? mau coba, dong!" Denis membuka mulutnya.


Dengan senang hati Arini menyuapi suaminya.


"Lezat nya.. tau karna apa?" Arini menggeleng.


"karna tanganmu yang menyuapiku. Oh ya kau mau coba yang ini?" Denis menyuapinya.

__ADS_1


Anita dan teman-temannya masih mengawasi mereka. Melihat kemesraan di antara mereka,


temannya terus memanas-manasi Anita.


Hingga Anita tak tahan lagi dan langsung menghampiri tempat di mana Arini dan Denis sedang makan.


"Dasar wanita ******..!" ucapnya sambil menyiramkan minuman ke wajah Arini.


Denis dan Arini yang tak menyangka sebelumnya ternganga di buatnya.


Hal itu memancing perhatian pengunjung lainnya.


"Jaga sopan santun mu, ya. Atau aku akan melupakan bahwa kau seorang wanita!" bentak Denis kasar.


"Ini urusanku dengannya, kau tidak perlu ikut campur!" sergah Anita tak kalah keras.


Denis membantu Arini membersihkan bekas minuman di wajahnya.


"Aku lupa, sekarang kau adalah kacungnya. Jadi kau akan siap pasang badan untuknya." imbuh Anita.


Arini bangkit dan mendekatinya.


"Apa masalahmu denganku?" tanya Arini masih berusaha tenang.


"Urusanmu tidak akan pernah selesai denganku. Sebelum mas Ilham bisa melupakanmu maka urusan kita tidak akan pernah selesai." teriak Anita.


"Owh jadi masalahnya karna suamimu tidak pernah bisa melupakan aku, atau dia sudah hendak meninggalkanmu karna bertemu wanita lain yang lebih darimu? ck ck ck kasihan sekali!" ucap Arini.


"Mentang-mentang kau sudah berhasil menggaet Denis, kau bisa sombong sekarang."


Denis berusaha membujuk Arini untuk pergi. tapi Arini menolak.


"Biar semua teman-temannya dengar.


Anita.. dia selalu menganggap orang lain seperti dirinya, mendapatkan laki-laki dengan merebut. Dia tidak punya keahlian lain lagi!" ucap Arini lantang.


Membuat Anita menahan nafas.


"Jangan coba mengangkat tanganmu padaku, aku bukan Arini yang dulu lagi.'


Arini menghempaskan tangan Anita dengan kasar.


Dasar wanita sakit jiwa!" ucap Arini sambil mengajak Denis keluar dari tempat itu.


"Aku minta maaf, Rin. gara-gara aku mengajakmu makan, kita mengalami hal ini." ucap Denis merasa bersalah


"Kau tidak salah, dialah yang salah." jawab Arini.


Deni menggenggam tangannya erat.


Anita tak perduli lagi dengan pandangan aneh orang pada dirinya. Setelah membayar makanannya ia langsung pergi begitu saja.


"Hariku Benar-benar sial karna bertemu dengan wanita itu." pikirnya gusar.


Sampai di depan pintu, Anita berpapasan dengan Siska.


Mata Siska menelisik iparnya dari kepala sampai kaki.


"Kenapa?" tanya Anita sambil mendelik.


"Aku hanya heran, apa saja yang kau kerjakan sampai selarut ini." kata Siska.


"Kau tidak usah ikut campur, mas Ilham saja tidak keberatan." ucapnya santai.


"Yakin tidak keberatan kalau sampai tau apa yang kau lakukan di luaran sana?"


"Apa maksudmu?"


"Tunggu, ya..!" Siska memperlihatkan rekaman dirinya dengan seorang pria gendut.

__ADS_1


Anita menutup mulutnya karna kaget.


"Masih mau menyangka?"


"Kau dapat darimana rekaman itu?" tanyanya sambil berusaha merebut ponsel Siska.


"Aku kasihan sama mas Ilham yang telah membuang mbak Arini hanya demi wanita panggilan sepertimu!"


Anita benar'-benar habis kesabaran oleh tingkah adik iparnya.


"Hapus tidak!" ancamnya penuh penekanan.


"Takut, ya.. ?"


"Okey, lalu maumu apa sekarang?" Anita menata nafasnya yang memburu.


"Kau pasti mau uang, memang otakmu tidak jauh-jauh dari uang." ejek Anita.


"Tentu saja.. semua butuh uang, termasuk kau yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


Anita hampir saja menampar Siska.


"Eit, tunggu dulu. kalau mbak Anita mau pakai cara kekerasan. aku juga bisa membuat foto ini menjadi viral seketika. kau lihat? sekali klik seluruh jagat Maya akan menikmatinya."


Siska berhasil membungkam Anita.


"Saat ini aku masih belum butuh uang, tidak tau besok-besok. tapi aku hanya minta kau hormati ibuku sebagai mertuamu, hanya itu syarat yang aku minta untuk saat ini." ucap Siska.


Anita tidak bisa berbuat banyak. Dia terpaksa harus terima.


Tentu saja dia tidak mau kelakuan dirinya di ketahui banyak orang.


Anita masuk kedalam kamar dengan berjingkat.


Ia melihat Ilham sudah tidur.


"Kau baru pulang?"


Tiba-tiba saja Ilham menyapanya.


Rupanya ia sengaja menunggu kepulangan dirinya.


"Iya, Mas. ada lembur jadi agak malam pulangnya."


"Agak, kau bilang?"


"Ssttt... nanti Cila bangun, jangan ribut." bisiknya pelan.


Ilham terpaksa diam. ia merasa percuma berdebat dengan Anita. wanita itu tidak akan pernah mau mengalah.


Malam itu, Ilham bergairah melihat Anita dengan rambut yang setengah basah.


Dengan agresif ia mulai menyerang istrinya.


Walaupun merasa lelah, Anita mencoba menyambut keinginan suaminya.


"Daripada dia curiga yang macam-macam, lebih baik aku cukupi kebutuhan biologisnya, dia akan diam." pikir Anita.


Begitu semangatnya Ilham dalam permainan,


Ia seolah lupa dengan semua masalahnya. Namun tanpa sepengetahuan Anita,


sambil bermain Ilham terus melihat kearah foto Arini yang ia letakkan di atas meja dengan sedikit di tutupi.


Permainan selesai dengan meninggalkan kepuasan di hati Anita.


"Terimakasih, Mas. kau sudah kembali menjadi Ilham yang dulu." Anita memeluk suaminya.


Ilham hanya bisa tersenyum di depan Anita. Ia tidak bisa bayangkan apa tanggapan Anita kalau sampai tau yang sebenarnya.

__ADS_1


Pagi harinya...


"Dasar laki-laki jahat, tidak punya hati,!" Anita memukuli dada Ilham. ia sakit hati saat mengetahui kenyataan Ilham bisa bermain semalam karna membayangkan Arini.


__ADS_2