
Tiga hari setelah kejadian yang dialami keluarga Tita suster Darmi mulai dicurigai tindak tanduknya oleh Tita.
Pagi itu seperti biasa Yudha pergi siap- siap untuk ngantor, seperti biasa Tita menyiapkan sarapan pagi untuk Yudha. Dilihatnya kamar Popy masih tertutup, Tita kemudian bergegas menuju kamar Popy untuk mengajaknya sarapan sementara Bunga asyik bermain dengan pak Asep.
"Bu! buka pintunya bu...sarapan sudah siap!" teriak Popy mengetuk_ngetuk kamar Popy.
"Ti! mungkin ibu masih tidur, udah biarkan saja...ayo kita sarapan dulu!" teriak Yudha seraya menyantap makanan yang telah disiapkan Tita.
"Baiklah mas!" sahut Tita sambil menghampiri Yudha.
"Mas, dimana ibumu?"
"Entahlah, mungkin di kamar bersama suster Darmi..."
Tita kemudian pergi untuk melihat ibu mertuanya yang sedari tadi belum terlihat. Biasanya pagi itu ibu Yudha sudah siap di meja makan.
"Ti! saya pergi dulu ya!" teriak Yudha sambil bergegas mengambil tas yang berisi laptop.
"Iya mas! hati_hati ya?"
"Iya...bilangin sama ibu. Saya udah berangkat ya!'
Yudha kemudian pergi dengan pak Asep supir pribadinya. Bunga langsung di gendong Tita setelah pak Asep dan Yudha pergi ke kantor.
Pagi itu Yudha memang terlihat sibuk karena setelah pernikahannya dengan Tita, pekerjaan kantor jadi semakin menumpuk. Iapun tak sempat pamit pada istri nya Popy.
Setelah menjadi suami Tita. Sengaja Popy menyuruh Yudha untuk tidur dengan Tita. Yudha dan Tita pun menuruti semua keinginan Popy, terlebih Popy tak ingin suaminya mengetahui penyakit yang tengah dideritanya.
Pagi itu tak seperti biasanya Popy dan ibu mertuanya belum keluar dari kamar mereka. Setelah Yudha pergi Tita kemudian bergegas menuju kamar mertuanya dahulu. Tapi sebelum kakinya melangkah tiba_tiba Bunga menangis histeris sambil tangannya menunjuk ke arah kamar Popy.
"Kenapa nak! cup...cup....diam ya...." ucap Tita berusaha menenangkan Bunga.
Tangisan Bunga semakin kencang membuat Tita merasa kewalahan, entah ada apa dengan Bunga pagi itu tiba_tiba rewel dan tangannya selalu menunjuk ke kamar Popy.
"Mamah Popy masih tidur nak! Bunga sama mamah aja ya?"
Meskipun Tita berusaha menenangkan Bunga tapi Bunga terus saja menangis, hingga akhirnya Tita pun berusaha mendekati pintu kamar Popy untuk membangunkannya.
"Bu....bu...bangun bu....udah siang...." ucap Tita seraya mengetuk pintu kamar.
Tapi Popy tak memberi respon sepertinya Popy tidur terlelap hingga tak mendengar suara Tita yang memanggilnya.
Karena Popy tak kunjung bangun. Tita kemudian membawa Bunga keluar karena tak henti menangis membuat Tita merasa aneh dengan tingkah Bunga.
"Cup...cup....sudah nak...jangan nangis ya...mamah Popy sebentar lagi bangun...." rayu Tita sambil terus memeluk Bunga.
Tak berapa lama suster Darmi datang menghampiri Tita dan langsung menawarkan dirinya untuk menggendong Bunga.
"Sini nyonya...biar saya gendong non Bunga.." sahut suster Darmi mendadak ingin menggendong Bunga padahal biasanya suster Darmi tak pernah sekalipun mendekati Bunga atau sekedar menggendongnya. Tapi pagi itu entah mengapa Tita merasa ada yang aneh dengan sikap suster Darmi
Tita merasakan ada yang janggal dengan sikap suster Darmi yang tiba_tiba mulai mendekati Tita dan mau menggendong Bunga, tentu saja Tita tak langsung percaya dengan tawaran suster Darmi untuk menggendong Bunga, apalagi suster Darmi pernah bertindak mencurigakan ketika hendak memberi Yudha segelas air yang entah ada apa didalam air itu sehingga suster Darmi begitu berani memasuki kamar Yudha tanpa seijin Popy.
"Gak usah suster! sebaiknya suster jaga saja mertua saya! oh ya? dimana mertua saya? biasanya jam segini ibu mertua sudah bangun!" tegur Tita sambil memeluk erat Bunga yang terus menangis.
"Ibu ada dikamar nyonya?" jawab suster Darmi matanya terus mengarah pada Bunga.
"Ya sudah! biarin Bunga sama saya, kamu urus saja ibu mertua saya," jawab Tita tegas.
Suster Darmi kemudian pergi meninggalkan Tita yang semakin kewalahan karena Bunga tak mau berhenti menangis.
__ADS_1
"Cup...cup...nak...kenapa kamu nangis aja? ada apa nak?" Tita terus menciumi Bunga dan memeluknya dengan erat.
Tiba_tiba pandangan Tita tertuju pada seekor kalajengking yang merayap mendekati kaki Tita. Sontak saja Tita langsung kaget dan menginjak sampai mati kalajengking itu dengan kakinya.
"Ya Alloh ada apa ini...." bisik Tita dalam hati.
Segala doa Tita lantunkan untuk kebaikan keluarganya terutama suaminya dan ibu Popy yang sangat Tita sayangi. Tita sungguh tak mengerti dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Entah dari mana tiba_tiba seekor kalajengking muncul. Untung saja Tita melihatnya dan langsung membunuhnya saat itu juga.
"Ya Alloh ya Rabb....semoga keluargaku dijauhkan dengan segala marabahaya Aaminn...." ucap Tita matanya langsung menutup guna berdoa memohon perlindungan untuk keluarganya.
Tita kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Tita langsung menuju kamar Popy yang sedari tadi tertutup rapat, kali ini Tita akan berusaha membangunkan Popy.
"Bu! bu bangun bu!" teriak Tita menggedor pintu kamar Popy dengan keras agar Popy terbangun.
Suster Darmi hanya memperhatikan tingkah Tita dari jauh, wajahnya begitu dingin seakan tak bernyawa. Bibirnya mulai komat_kamit seperti sedang membacakan sesuatu yang tak jelas.
"Bu!!! teriakan Tita semakin keras tapi sepertinya tak merespon. Tita semakin panik dan langsung keluar untuk melihat keadaan Popy dari jendela kamarnya. Tapi jendela kamar Popy tertutup rapat, Tita kemudian berlari masuk ke rumah dan memanggil suster Darmi.
"Suster!! cepat kesini!! teriak Tita begitu lantang memanggil suster Darmi. Tapi suster Darmi tak menampakkan batang hidungnya ketika Tita memanggilnya, iapun mencari keberadaan suster Darmi di dapur.
Dan benar saja suster Darmi ada di dapur tengah berdiri tegak seraya memegang pisau ditangannya.
"Eh! sedang apa kamu? saya panggil kenapa kamu diam saja?" tegur Tita sambil menurunkan Bunga dari pangkuannya.
Mata suster Darmi terlihat merah dan menyeramkan membuat Tita ketakutan melihat sikap suster Darmi yang seperti tak bereaksi dengan ucapan Tita.
Suster Darmi kemudian mulai memburu Tita dengan pandangan yang aneh. Tita langsung kaget dan berusaha menghindar dari suster Darmi yang semakin dekat dengannya.
Sungguh Tita tak percaya dengan yang dialaminya seakan seseorang ingin mencelakainya, entah maksud dan tujuannya apa Tita tak begitu percaya hal_hal mistis, baginya hanyalah tuhan yang maha kuasa yang selalu melindunginya.
Melihat tingkah suster Darmi Tita mulai ketakutan, ia kemudian lari keluar rumah guna mencari pertolongan. Beruntung pak Asep tiba_tiba sudah berada di halaman rumah memarkir mobil dan baru saja kembali mengantar Yudha dari kantor.
"Eh ibu! ada apa bu?"
Tita kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya mengenai suster Darmi pada pak Asep. "Bu! ada apa bu?" tanya pak Asep berusaha menenangkan Tita yang terlihat panik
"Pak Asep...tolong...itu...itu...suster Darmi...." jawab Tita terengah_engah sambil tangannya menunjuk ke arah rumah Yudha.
"Tenang bu! sebenarnya apa yang terjadi?" tegur pak Asep memegang pundak Tita yang gemataran.
"Saya gak tahu pak Asep! tiba_tiba suster Darmi mau menyerang saya!"
"Apa!! tunggu disini bu! saya akan masuk ke dalam."
Pak Asep kemudian masuk kerumah, tampak rumah begitu sepi. Dengan hati_hati pak Asep berusaha mencari keberadaan suster Darmi. Tapi suster Darmi tak terlihat, pak Asep kemudian mencari ke ruangan lain guna melihat keadaan ibu Yudha dan Popy.
Sementara Tita diluar pagar menunggu dengan cemas. Bunga yang berada di pelukannya terus menangis, bocah mungil itu ternyata mengetahui adanya bahaya yang mengancam dirinya, karena sedari tadi Bunga terus menangis seperti memberi isyarat akan terjadinya sesuatu. Tita pun langsung membacakan ayat_ ayat suci sambil bibirnya didekatkan pada telinga Bunga. Untuk sejenak Bunga pun terlihat tenang dan berhenti menangis.
"Ya Alloh yang maha kuasa....lindungilah kami dari semua musibah jauhkan kami dari segala macam bahaya di muka bumi ini Aamin...." bisik Tita memohon untuk selalu dilindungi dari segala bahaya yang mengancam keluarganya.
Sementara pak Asep terus mencari keberadaan suster Darmi yang tak kunjung muncul meski pak Asep sudah beberapa kali memanggilnya.
Pak Asep kemudian mendekati kamar Popy yang sepertinya tak berpengaruh pada keadaan dirumahnya saat itu.
"Tumben nyonya Popy belum bangun...." ucap pak Asep dalam hati.
Ketika pak Asep hendak mengetuk pintu kamar Popy tiba_tiba suster Darmi sudah berada di belakang pak Asep. Tentu saja pak Asep langsung kaget setengah mati.
"Duh! kamu itu bikin kaget saya! darimana kamu! dari tadi saya manggil kamu!" tegur pak Asep yang emosi karena ulah suster Darmi yang terkesan menpermainkan dirinya.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan pak Asep. Suster Darmi malah diam membisu tatapan wajahnya kosong seolah tak memperdulikan pak Asep yang menegurnya.
Melihat sikap suster Darmi pak Asep langsung menjauh ketakutan, selain matanya yang merah suster Darmi nampak memegang sebilah pisau yang sepertinya hendak diarahkan pada pak Asep. Sontak saja pak Asep langsung terkejut dan mencoba membaca doa sebisa_bisa karena suster Darmi seperti kerasukan.
Pak Asep kemudian berusaha merebut pisau yang dipegang suster Darmi sambil terus membaca ayat suci. Tak berapa lama suster Darmi terlihat lemas dan rubuh ke lantai sambil menangis.
"Hiks...hikss....ada apa dengan saya? tolong saya pak Asep?" keluh suster Darmi yang mulai tersadar.
"Ayo kamu baca doa, sebisa mungkin! kamu barusan kerasukan! makanya kamu jangan melamun!" tegur pak Asep mengusap wajah suster Darmi.
Tak lama Tita pun muncul dan langsung matanya mengarah pada suster Darmi yang tengah dibimbing doa oleh pak Asep.
"Ada apa pak Asep?" tanya Tita penasaran.
"Ini bu, rupanya suster Darmi ini kena sihir sehingga dia tak sadar apa yang dilakukannya," ucap pak Asep menceritakan kondisi suster Darmi pada Tita.
"Ya Alloh! terus gimana pak?"
"Gak apa_apa bu, tak ada yang bisa mengalahkan doa bu, selama iman kita kuat, kita pasti dilindungi oleh yang maha kuasa," ucap pak Asep bibirnya terus melantunkan doa.
"Pak! apa saya perlu hubungi mas Yudha?"
"Udah gak usah bu! pak Yudha sepertinya banyak kerjaan di kantor, biar kalau ada apa_apa saya akan nyusul ke kantornya."
"Oh ya pak Asep! tolong bangunin bu Popy dari tadi ibu belum bangun pak!"
"Iya bu, sebentar saya bawa dulu suster Darmi ke kamarnya, kelihatan ia lemas sekali."
Setelah mengurus suster Darmi pak Asep kemudian berlari menuju kamar bu Popy yang memang sedari tadi pak Asep mulai curiga dengan keadaan bu Popy yang sepertinya tak berpengaruh dengan kejadian yang dialami Tita dan pak Asep.
"Nyonya!!! teriak pak Asep dengan lantang berharap Popy bisa mendengarnya dan terbangun.
Tapi tetap saja tak ada jawaban dari dalam kamar membuat pak Asep dan Tita semakin penasaran dengan keadaan bu Popy.
Pak Asep samakin panik tanpa pikir panjang iapun mendobrak pintu kamar Popy karena tak ada jalan lain. Rasa khawatir pada bu Popy membuat pak Asep nekad melakukan semua itu. Terlebih setelah melihat kejadian yang dialami suster Darmi yang membuat pak Asep yakin bahwa bu Popy juga kena sihir oleh seseorang yang sangat jahat yang ingin mencelakai keluarga Yudha.
Pintu kamar ambruk didobrak oleh pak Asep, dan benar saja kecurigaan pak Asep, Popy tampak terbujur kaku di lantai dengan mulut mengeluarkan darah. Melihat keadaan Popy Tita langsung menjerit histeris.
"Bu!!!!
Tita langsung memburu Popy yang terbujur kaku, pak Asep hanya diam mematung melihat keadaan bu Popy yang mengenaskan. Mata pak Asep langsung melotot melihat kondisi Popy yang sepertinya menderita sakit yang parah sampai mulutnya mengeluarkan darah segar.
"Pak Asep! jangan bengong aja! ayo cepat susul bapak biar cepat pulang!"
"I....iya....bu...." jawab pak Asep gelagapan.
Dengan cepat pak Asep pergi. Rasa panik bercampur kaget berkecamuk di benak pak Asep, terlintas di bayangannya kejadian demi kejadian yang sangat janggal dan mencurigakan.
Dilain sisi Tita terus berusaha membangunkan Popy yang tak sadarkan diri, Tita kemudian mencari obat yang biasa di minum Popy untuk memberi pertolongan pada Popy dengan obat yang selalu dikomsumsi Popy.
Mata Tita kemudian mengarah pada lemari besar milik Popy, dengan cepat Tita membuka lemari guna mencari obat. Entah dimana Popy menyimpan obatnya. Tapi tanpa sengaja Tita menemukan map warna biru tersimpan rapih di rak lemari, timbul rasa ingin tahu dengan map yang ada dihadapannya. Tita langsung mengambil map tersebut dan membuka isi map dengan penuh tanda tanya. Di dalam map tertulis bahwa Popy menderita kanker stadium 4. Mata Tita langsung terbelalak membaca isi map yang membuat tangannya gemetaran. Tak disangka ternyata penyakit yang diderita Popy bukan penyakit biasa tapi penyakit yang sangat serius, air mata Tita langsung jatuh menitik di map yang tengah ia pegang, jantung Tita berdetak kencang, iapun menoleh ke arah Popy dan langsung mendekat sambil menangis.
"Bu!!! bangun bu!!! jangan tinggalin saya bu!!!
Tangisan Tita menggema memecah ke setiap sudut ruangan. Ditatapnya wajah Popy yang pucat pasi. Dipeluknya Popy dengan erat sambil terus membangunkan Popy yang tak juga membuka matanya.
"Hiks....hiks.....jangan tinggalkan saya bu....hiks....hiks....ibu gak kasian sama saya...." rintih Tita menangis tersedu_sedu.
Bunga bocah kecil yang sedari tadi diam mulai merasakan kesedihan yang tengah dialami Tita, bocah mungil itupun merangkak mendekat pada Popy dan merengek seakan minta digendong oleh Popy.
__ADS_1