Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 40


__ADS_3

"Tak bisa kau pungkiri, di antara kita masih ada rasa cinta. itu sudah cukup menjadi alasan untuk kita kembali!"


Arini menelan ludah yang terasa pahit.


"Cinta? bukan, mas. kau tidak mencintaiku!


Kalau kau memang mencintai Arini, kau akan menerima dia apa adanya. kau akan menghargainya sebagaimana dia menghargaimu dan keluargamu. Lalu apakah selama ini kau sudah menghargainya? aku rasa tidak, bahkan kalian tidak memberinya harga walau paling murah sekalipun!"


Ilham terdiam. semua kata-kata Arini memang benar adanya.


"Karna itu, aku mohon lepaskan aku! biarkan aku melanjutkan hidup ku, datanglah di sidang pertama kita."


Arini berbalik sambil menghapus air matanya.


Hatinya teriris juga melihat air mata Ilham. Bagaimanapun pria itu sudah sempat mengisi lembaran hidupnya. banyak kenangan indah terukir bersamanya.


Ilham kembali duduk di kursinya. Ia menyeka air matanya.


Giliran Anita yang kini menghampirinya.


"Rin, aku mohon berhenti menganggu hidup kami. Kau sudah meninggalkan rumah dan kehidupan mas Ilham. Jadi teruskan langkahmu jangan kembali lagi.


Aku memohon sebagai sesama wanita!'


Arini tertawa sinis.


"Sesama wanita, ya? Anita, tidak usah risaukan aku, kau hanya perlu menjaga suami mu, karna kau mendapatkannya dengan cara mencuri, bukan tidak mungkin ada orang lain yang akan mencurinya dari mu!"


Jawaban Arini yang berkelas membuat Anita terdiam.


"Ayo Den, kita pergi. Tempat ini tiba-tiba terasa pengap aku susah bernafas!"


ucap Arini jutek.


"Yang kuat ya, jagoanku,!"


Denis mengimbangi akting Arini dengan mengelus perutnya.


Hal itu membuat Ilham panas dingin karena cemburu.


"Rin, aku akan melaporkan kalian karna kau sudah berselingkuh sampai punya anak dari pria lain!"


Karna panik dan cemburu Ilham sampai tidak mempertimbangkan kata- katanya lagi.


Arini marah dan jengkel pada pria di depannya itu.


Dia hanya bisa membaca kesalahan orang lain, sedang kebobrokan dirinya dia tutupi dengan dasinya yang mentereng.


"Kehabisan bahan, ya untuk menjatuhkan Arini? berkaca dong bung!"


Kali ini Denis mewakili isi hati Arini.


Denis menggandeng tangan Arini dan melangkah keluar dari tempat itu.


Denis terus melajukan motornya ke suatu tempat.


Arini yang sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadarinya.


"Turunlah, Rin!"


"Kuta diman?"


"Sebuah tempat yang mungkin bisa mendinginkan suasana hatimu yang sedang panas." jawab Denis.


Sebuah taman yang asri. di penuhi lampu berkelap kelip. Banyak tikar di gelar untuk para pengunjung menikmati hidangan bersama keluarga ataupun pasangannya


"Tidak apa-apa aku ajak kesini?"


Arini menggeleng.

__ADS_1


"Tempatnya bagus!" jawabnya jujur.


Denis memang selalu bisa menghibur hatinya disaat galau seperti ini.


Mereka menikmati bakso hangat sambil membahas tentang kejadian barusan.


"Aku harap masalah ini cepat selesai. aku ingin melanjutkan hidupku."


Denis menatap Arini tanpa berkedip.


"Kenapa?"


Denis memberi tau kalau ada sesuatu di pipinya. Arini mencoba menghapusnya tapi tidak ketemu.


"Bukan disitu!"


Denis menggeleng.


Ia memberanikan diri untuk menghapuskan makanan itu.


"Hanya bercanda!" ucap Denis.


Arini tercengang sesaat tapi langsung ikut tertawa.


"Aku hanya ingin mendengar tawamu itu Rin!"


Arini tersipu. Ia menyadari betapa baik dan perhatiannya Denis padanya.


Lalu apakah Denis tidak punya kehidupan pribadi, misalnya dengan kekasihnya? selama ini Arini melihat Denis selalu cuek pada setiap wanita yang mendekatinya.


"Den, aku boleh nanya sesuatu yang agak pribadi?"


"Perasaan kau sudah pernah bertanya begini."


"Kali ini aku serius."


"Apakah kau tidak ingin seperti halnya orang lain, berkeluarga, menikah atau punya pasangan? selama ini aku lihat kau enjoy dengan kesendirianmu, atau mungkin ada seseorang yang mengisi hatimu tapi kami tidak tau? kalau Iya, kenalkan pada kami!"


Denis tersenyum.


"Ayo jawab!"


"Aku harus jawab yang mana? pertanyaanmu panjang seperti rel kereta api.."


Arini yang tersenyum. ia baru sadar telah memberondong sahabatnya itu dengan banyak pertanyaan.


"Paling tidak, kalau kau punya seseorang yang spesial. Aku bisa menjelaskan tentang bagaimana hubungan kita sebenarnya agar dia tidak salah paham!"


"Aku hanya bisa bilang, untuk saat ini belum ada. Jadi, kau tidak perlu takut akan hujatan seseorang tentang status hubungan kita. Nikmati saja apa adanya!"


jawab Denis santai.


Arini menarik nafas lega.


"Lang, seharusnya sekarang kau sudah harus memikirkan membeli mobil, biar lebih gampang kemana-mana dengan perut Arini yang semakin besar." kata Bu Zah pagi itu.


"Benar juga kata Bu Dhe, nanti lah aku coba nyari-nyari yang pas di kantong."


"Dari dulu sudah ibu anjurkan mempunyai mobil, tapi dia bilang, nantilah kalau sudah ada teman menaikinya."


Denis kembali tersenyum.


"Aku setuju dengan pendapat Denis, sekiranya belum penting banget ya tidak usah dulu."


jawab Arini.


"Tapi sekarang penting Rin, masa dia akan membawamu naik motor terus, bahaya buat kandunganmu." tukas Bu Zah.


Arini dan Denis terdiam. Arini merasa sedikit canggung karna perlakuan Bu Zah seolah menyuruh keponakannya itu untuk memprioritaskan dirinya.

__ADS_1


"Pasti Bu Dhe. Aku akan mengajak Arini, biar dia yang memilihnya."


Bu Zah mengacungkan jempolnya.


Sedangkan Arini merasa tersanjung. Betapa Denis sangat perhatian dan menghargainya.


Sangat berbeda dengan perlakuan orang yang selama ini ia cintai.


Sejak ada Arini di sana, Denis tidak lagi menginap di rumah Bu Dhe nya.


Arini kagum akan kesopanan Denis.


"Mas Elang, antar aku,ya!. ada pentas seni di sekolahku!" tiba-tiba Shofia datang dan duduk di dekat Denis.


"Tapi.. mas Elang ada acara Shof."


"Ayolah mas, kali ini saja,! acara ini sangat penting buatku!" ucapnya memohon.


Denis menggigit bibirnya. Sebenarnya dia ada rencana mengajak Arini ke suatu tempat.


Arini memberi isyarat pada Denis agar mau mengantar Shofia.


"Baiklah, kali ini saja, ya!"


Gadis itu menautkan jempol dan telunjuknya.


"Aku bersiap dulu!" ucap Shofia sambil berlari kerumahnya.


Bu Zah geleng -geleng kepala.


"Sebenarnya gimana ceritanya sih, kau di panggil Elang?" tanya Arini penasaran.


"Namanya lengkapnya 'Denis Erlangga'


tapi keluarga lebih suka memanggilnya Elang. tidak tau deh kalau di lingkungan sekolah dan kantornya memanggil dengan nama Denis."


Bu Zah yang menjawab.


Arini tersenyum. betapa lucunya dulu mereka satu rumah, tapi tidak saling tau karna perbedaan panggilan itu.


"Bu Dhe, aku mau mengantar anak manja ini dulu, ya! nanti sore kita pergi lihat mobilnya!"


Matanya ke arah Arini.


Arini hanya mengangguk menanggapinya.


"Ayo cepat! nanti terlambat. pake ngatain aku anak manja lagi!" sungutnya Shofia l menarik tangan Elang.


"Mas ngebut sedikit, kita hampir telat!" teriak Shofia.


Setelah Elang menambah kecepatan motornya.


Shofia memeluk pinggangnya dengan erat. Ia sengaja menyuruh Elang mengebut agar bisa memeluknya.


Ia


merasa bangga bisa di bonceng oleh pria pujaan hatinya itu.


"Jangan kenceng-kenceng pegangannya! mas Elang tidak bisa nafas!" teriak Elang.


"Aku takut jatuuh! mas Elang terlalu kencang bawa motornya!" jawab Shofia.


"Bukannya kamu yang nyuruh Mas, ngebut?" teriak Elang lagi.


"Oh, iya ya.. ?" Shofia terkikik sendiri.


Ia merasa lucu, ia yang minta agar mas Elangnya itu mengebut, sekarang ia sendiri yang protes karena takut jatuh.


💞Sorry telat lagi🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2