Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 92


__ADS_3

Kesepakatan pun terjadi, Anita ikut bersama pria itu untuk menjadi mengasuh Cila.


Pria itu membawanya ke sebuah rumah besar yang mewah.


Mereka di sambut oleh dua orang pria di pintu gerbang.


"Nyonya sudah menunggu tuan." ucap mereka hormat.


Anita terus memeluk Cila dalam dekapannya.


Anita merasakan kakinya gemetar, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


Keluhan itu sering ia rasakan semenjak di vonis mengidap penyakit berbahaya itu.


Itu pula lah salah satu alasannya berani menyerahkan Cila pada orang asing, sekalipun ia ayah biologisnya sendiri.


"Ma, ini anaknya..!" pria itu menyambut seorang wanita gendut yang merupakan istrinya. Sangat jelas terlihat kalau istrinya lebih dominan dalam mengambil keputusan di rumah itu.


"Jadi kau ibunya?" mata wanita subur itu menyapu kearah Anita.


"Iya, nyonya..!" jawab Anita.


"Suami saya sudah cerita semuanya, dan saya harap dia juga sudah menceritakan syaratnya." ucapnya dingin.


Anita mengangguk.


"Ayo saya tunjukkan kamarnya, siapa nama anaknya?"


"Arsyila putri Kurniawan.." jawab Anita singkat.


Wanita itu mengerutkan keningnya.


"Saya tidak suka nama belakangnya. Cukup Arsyila putri, saja." ucapnya tegas. Anita hanya bisa mengangguk.


Ia lupa nama belakang Cila masih memakai nama belakang Ilham.


Anita mengamati kamar yang di peruntukkan untuk Cila itu.


Lumayan besar dan bagus.


"Tapi anda hanya boleh berada disini di saat mengurusnya saja, anda mengerti?"


Anita mengangguk pasrah.


"Tidak apa-apa lah, yang penting Cila dapat tempat yang sesuai." pikirnya menghibur diri.


Wanita itu meninggalkannya sendirian bersama Cila saja.


"Wanita itu sangat dingin.. Ia hanya bicara seperlunya saja, apakah Cila akan baik-baik saja di tangannya?" gumam Anita merasa khawatir.


Sang suami yang penakut itu mendekati Anita.


"Kau harus terima syarat apa pun, yang penting anak mu mendapat tempat disini." ucapnya sebelum akhirnya kabur mengikuti istrinya.


"Dasar pria tidak punya harga diri, berlindung di ketiak istri." omel Anita.


Kondisi fisik Anita semakin melemah karna penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Di tambah asupan gizi yang kurang membuat penyakit itu leluasa menyebar.


Siang itu ia merasa sangat lapar. Cila sudah makan dan minum susu.


Ia mencoba berjalan ke bagian dapur rumah itu. Ia berharap bisa mendapat sedikit makanan untuk mengganjal perutnya.


Seorang pembantu rumah tangga menyapanya..


"Cari apa mbak?"


Anita terkejut, lalu dengan malu-malu ia mengutarakan maksudnya.


"Barangkali ada sedikit makanan, perut saya kosong sejak tadi pagi." ucapnya memberanikan diri.


Wanita paro baya di depannya celingukan sebentar, lalu bergegas mengambilkan makanan buat Anita.

__ADS_1


"Makanlah di pojokan sana, mumpung belum ada orang." ucapnya berbaik hati.


Dengan mengucapkan terimakasih, Anita berjongkok hendak menyuap makanannya.


Tapi sebuah tangan menahannya.


Anita mendongak dan terkejut.


'Nyonya.. Maaf saya lapar sekali." ucapnya ketakutan. Wajah nyonya rumah yang berlemak itu sungguh menyeramkan.


"Kau masih ingat, kan perjanjian kita?"


Anita mengangguk.


"Bik, ambil makanannya..!" ucapnya memberi


instruksi.


Si pria datang tergopoh.


"Hanya sekedar makanan saja, biarkan saja dia makan biar kuat mengurus Cila.' ucapnya hati-hati.


Sang istri menatapnya penuh amarah, membuat suaminya tertunduk ketakutan.


Airmata Anita menetes meratapi nasibnya yang begitu mengenaskan.


Wanita itu meninggalkannya di dapur sendirian.


"Maaf, mbak... Nyonya memang begitu, orangnya sangat keras." ucap wanita paro baya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu.


"Tidak apa-apa.. Bibik tidak salah."


Anita bangkit dan pergi dari dapur sambil meringis memegangi perutnya.


Di bilik pengapnya, Anita merenungi nasibnya kini. Ia kembali teringat bagaimana ia selalu membuat Arini menangis.


"Mungkin ini karma yang harus aku bayar.. !" gumamnya sedih.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan pelan.


"Siapa?" tanya Anita dengan suara serak.


Tidak ada jawaban, tapi ketokan itu kembali terdengar namun kali ini lebih pelan lagi.


Tanpa curiga Anita membuka pintu.


Saat pintu terbuka, Sebuah tangan besar langsung membekap mulutnya. Anita berusaha meronta sekuat tenaga, tapi apalah dayanya dengan kondisi fisiknya yang semakin lemah saat ini.


Anita juga tidak bisa bersuara karna mulut pria berbadan tinggi besar itu sudah ******* bibirnya dengan kasar.


Dengan tubuh yang lemah, Anita bisa menyaksikan pria yang tak lain ayah biologisnya Cila itu beraksi di atasnya tanpa belas kasihan.


Anita hanya bisa mengerang menahan sakit, namun pria itu tidak memperdulikannya.


Ia terus memacu sampai ia sendiri terkulai lemas di samping Anita.


Anita yang tidak berdaya hanya bisa menatap pria di sampingnya dengan penuh kebencian. Tak ada lagi air mata ataupun sumpah serapah apalagi cacian yang bisa keluar dari mulutnya.


Setelah beberapa saat, pria itu keluar dari biliknya tanpa basa basi.


Anita merasa sangat terhina, ia menyadari dirinya sering tidur dengan beberapa pria, tapi kali ini terasa begitu menyakitkan baginya.


Bagaimana bisa ia akan menitipkan Cila pada pria bejat seperti itu?


Ia akui dirinya juga bukan wanita baik-baik. Tapi harapan seorang ibu tetaplah sama. Ia tidak ingin putrinya memilih jalan yang sama dengan dirinya.


Dengan sisa tenaganya, ia memunguti pakaiannya satu persatu. Seluruh tulang dan persendiannya terasa remuk.


"Aku harus membawa Cila pergi dari tempat jahannam ini. Aku tidak mau anakku tumbuh di tengah keluarga yang tidak bermoral. Aku harus menyerahkan Cila kepada orang yang tepat." tekat Anita.


Malam itu juga, Anita merencanakan untuk membawa putrinya kabur dari rumah besar itu.

__ADS_1


Setelah di rasa cukup aman, Anita mengendap keluar sambil menggendong Cila.


"Mau di bawa kemana?" sebuah suara menyapanya.


Anita buru-buru menjatuhkan tasnya.


"Ini, pak satpam. Anak ini kalau tidak di gendong berkeliling dulu, dia tidak bisa tidur." ucap Anita beralasan.


Satpam itu percaya dan berlalu.


Anita kembali mengendap- endap.


Setelah cukup lama ia berhasil keluar dari rumah terkutuk itu.


Anita menyetop taksi yang lewat.


Di dalam taksi, ia mendekap anaknya dengan erat. Dadanya masih berdebar karna ketakutan.


"Kemana kita, Bu?" tanya sopir taksi.


Anita baru sadar, dia tidak punya uang apalagi tujuan.


Tapi dia harus pergi dari rumah itu dulu. Yang lainnya di pikirkan belakangan.


"Terus saja, pak." jawabnya asal, ia berharap bisa segera jauh dari rumah itu.


"Kita kemana, sebenarnya? Atau jangan-jangan ibu ini tidak punya uang, ya?" tebak si sopir.


"Aah, iya pak. Saya tidak punya uang. Saya hanya ingin lari dari seseorang..." jawab Anita terbata.


"Itu tidak ada hubungannya dengan saya..! Urusan ibu adalah harus bayar ongkosnya..!"sopir taksi itu tidak mau mengerti kesulitan Anita.


"Cepat turun! dasar kere.. Kalau tidak punya uang kenapa harus naik taksi? Jalan kaki sana!" umpat sopir taksi itu.


Anita menurut. Ia turun dan duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Malam yang semakin larut membuatnya bertambah bingung.


"Kepada siapa aku harus minta tolong? semua teman sudah mencemooh ku, mereka sudah tidak mau melihatku, apalagi menolong, maafkan ibu Cila, kau menderita gara-gara ibu." ucapnya sambil membelai rambut putrinya.


"Apakah aku minta tolong Siska? Ah, tidak..!


Kalau Siska, aku akan berurusan dengan mas Ilham lagi. Aku malu." ucapnya dalam gelisah.


Arini? Apakah aku harus menghubunginya?


Apakah dia masih mau menoleh padaku setelah apa yang aku lakukan padanya?" ucapnya ragu.


"Tapi aku tidak ada pilihan lain, aku harus mencobanya, apa pun tanggapannya adalah resiko buatku."


Hatinya mantap akan minta tolong pada Arini.


Dengan sisa keberanian yang di milikinya, ia menata hatinya.


"Halo.. Siapa, ya?" suara Arini menggetarkan dada Anita.


"Halo, Rin.." suara Anita tercekat sampai di situ.


"Anita...?" suara Arini terdengar heran.


"Arini.. kau masih mengenali suaraku, walaupun sudah tidak menyimpan nomor ku lagi."


Bathin Anita, tak terasa air matanya deras mengalir. Ia teringat masa-masa indah saat mereka bersama dulu.


"Halo, Nita.. Kau kenapa?" suara Arini lagi.


Anita tidak bisa menahan Isak tangisnya yang sudah membuncah di dada.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?"


Anita mengatakan kalau dia bersama Cila sedang lari dari kejaran orang jahat. Ia tidak tau harus minta tolong ke siapa.


Arini yang berhati Mulya tidak berpikir panjang. Ia lupa atas perbuatan Anita kepadanya selama ini. Yang ada di pikirannya hanyalah Anita sedang butuh pertolongan gan.

__ADS_1


__ADS_2