
Denis sudah di bolehkan pulang.
Walaupun Bu Zah memintanya untuk tetap tinggal di kerumahnya,
Denis menolak, ia berkeras pulang kerumahnya sendiri.
"Aku tidak enak Bu dhe, ada Arini disini."
"Tapi siapa yang akan merawatmu
disana?" ucap Bu Zah khawatir.
"Aku sudah sehat, aku bisa mengurus diri sendiri. tidak enak juga tinggal seatap dengan Arini, apa kata orang nantinya." ucap Denis.
"Benar kata Denis, Bu. akan lebih baik kalau kami menjaga diri." timpal Arini.
Arini setuju dengan niat Denis, selain bisa menjaga diri dari pandangan orang, hal itu juga akan membatasi ruang gerak Shofia untuk mendekati Denis.
Arini kembali menekuni aktivitas nya membuat kue seperti biasa.
Di suatu sore yang cerah, Arini dan Denis mengunjungi ruko yang akan di kontrak olehnya.
Tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi sangat strategis karena berada dekat dengan jalan raya. sangat cocok untuk membuka sebuah usaha.
Setelah melakukan kesepakatan dengan pemilik ruko itu. Akhirnya mereka pulang.
Denis terpaksa mengantar Arini dengan motornya, karna mobil masih berada di bengkel.
"Aku senang sekali. Cita-citaku untuk punya usaha sendiri akhirnya terkabul." ucap Arini bahagia.
"Aku turut bahagia atas keberhasilan mu."
"Belum bisa di katakan berhasil sih, tapi rasanya aku tidak sabar untuk memulainya."
Arini sangat antusias.
"Bisa sekalian antar aku check up kandungan?"
"Pasti..! " jawab Denis bersemangat.
Arini kebetulan mendapat antrian nomer tiga.
"Tolong pegangin tasnya sebentar, aku mau ke toilet!" kata Arini.
"Aku antar?" tawar Denis.
Arini mencubit pinggang Denis, hingga ia berteriak.
Hal itu mengundang perhatian pengunjung lain.
Termasuk Bu Lastri yang sedang menggendong cucunya. Ia datang bersama Anita dan Ilham untuk memeriksakan Cila yang sedang demam.
"Ngapain mereka disini?" Ia sudah hampir menghampiri Arini dan tapi langkahnya terhenti.
"Mungkin ini saat yang tepat." ucapnya dalam hati.
Bu Lastri tau Arini sedang menuju ke toilet dan harus melalui tangga yang lumayan tinggi.
Ia menyuruh Anita membawa Cila ke mobil.
"Kau tunggu di mobil, ingat di mobil. ibu akan menebus obat nya Cila sekalian mau cari obat encok bersama Ilham, persediaan ibu sudah habis."
Tanpa menunggu persetujuan Anita, ia sudah menggiring menantunya itu untuk keluar. ia tidak ingin Anita tau, kalau disana ada Arini.
Ilham masih sibuk dengan ponselnya di tangannya saat Bu Lastri beraksi.
"Yakin tidak mau aku antar?" Denis kembali bertanya.
"Mau ku cubit lagi kayak tadi?"
Denis tersenyum. entah kenapa perasaannya tidak enak melepas Arini sendirian.
Arini berjalan dengan santainya. Ia menuruni tangga dengan hati hati bersama pengunjung lain yang lalu lalang.
Bu Lastri sengaja ikut turun dan menyenggol Arini hingga terguling kebawah.
Semua panik, kejadiannya begitu cepat.
__ADS_1
Bu Lastri menyelinap pergi. Ilham yang berada tidak jauh dari tempat itu segera berlari menghampiri orang yang terjatuh itu untuk menolongnya.
Ia begitu kaget saat korban yang tergeletak itu adalah Arini.
"Arini, apa yang terjadi?" ucap Ilham panik.
Arini yang masih setengah sadar berucap lirih.
"Kenapa kau disini, Mas?" setelan itu ia tak sadarkan diri.
Ia mau menyentuh Arini namun di tepis Denis yang juga sudah sampai di situ.
Denis memandang Ilham dengan tatapan benci.
Denis mengangkat tubuh Arini dan membawanya ke UGD.
Karna kejadiannya di klinik. Arini cepat mendapat penanganan.
Ilham langsung menelpon Anita untuk pulang dengan mobilnya.
"Tapi kau mau kemana, Mas?" tanya Anita khawatir.
Namun Ilham sudah menutup panggilannya.
"Sudah, kali ini turuti kata suamimu!"
Anita menurut karena terpaksa. ia memperhatikan wajah mertuanya yang terlihat tegang.
Sementara itu Denis menunggu di depan UGD dengan tegang.
Ilham pun sama, walau mendapat tatapan sinis dari Denis ia tak perduli.
Yang ada di pikirannya hanyalah Arini.
Seorang Dokter keluar dengan wajah cemas.
"Keluarga pasien...?" mata dokter itu menatap Denis dan Ilham bergantian.
"Saya keluarganya, Dok!" jawab Denis tanpa ragu.
"Saya juga, Dok!" Ilham tak mau kalah.
"Kami harus melakukan tindakan operasi, pasien mengalami banyak pendarahan. Selain itu, detak jantung bayi juga melemah."
"Kemungkinan hanya satu dari keduanya yang bisa di selamatkan. Tapi semuanya kembali pada yang kuasa. Kami hanya berusaha yang terbaik."
Denis terkulai lemas.
"Selamatkan keduanya Dok! saya mohon, ibu dan anaknya harus selamat!" pinta Denis dengan pelupuk mata yang sudah mengembang dengan air mata.
"Lakukan saja, Dok! selamatkan nyawa Arini! saya mohon. Selamatkan nyawa ibunya!"
Ilham bersimpuh.
Dokter itu merasa heran, namun ia tak bertanya lagi.
Denis tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berdoa agar keduanya selamat.
Ia tak habis pikir pada Ilham, kenapa dia tidak peduli pada anaknya sama sekali?
"Di antara kalian, siapa yang suaminya?" tanya Dokter.
Denis dan Ilham saling pandang.
"Kami tidak punya banyak waktu. silahkan tanda tangani surat persetujuannya."
Seorang suster menyodorkan berkasnya.
Tanpa pikir panjang Ilham mengambilnya dan tanda tangan.
Setelah menunggu dua jam, Dokter keluar dari ruang operasi
"Bagaimana, Dok?" Tanya Denis dan Ilham hampir bersamaan.
"Saya mohon maaf, kami sudah berusaha. Ternyata Allah berkehendak lain. putranya tidak bisa tertolong."
Bagai tersambar petir saat mendengar berita itu, Denis terkulai lemas di tempat duduknya.
__ADS_1
Sedangkan Ilham, Beberapa kali ia terlihat bersyukur, bibirnya terus tersenyum.
Denis memandangnya dengan heran.
Dia begitu bahagia melihat Arini selamat.
Tapi tidak menyadari bahwa dia telah kehilangan seorang anak." bathin Denis tertusuk sembilu.
Bu Zah datang bersama Shofia.
"Bagaimana keadaan Arini dan bayinya, Lang?" ia terlihat begitu khawatir.
Denis tertunduk lemas.
"Arini baik-baik saja, Bu Dhe, tapi anaknya...."
"Kenapa dengan anaknya?"
"Anaknya tidak bisa di selamatkan."
Kini Denis benar-benar terisak. Ia memeluk Bu Zah dengan erat.
Shofia merangkul Denis dari samping.
"Yang sabar ya, mas Elang!"
Lain halnya dengan Ilham, ia merasa senang karena Arini sudah tidak mengandung anaknya Denis lagi, dengan begitu ia berharap Arini bisa kembali padanya karna sudah tidak terikat dengan Denis.
Arini tersadar dan terkejut mendapati keadaan dirinya yang terbaring di rumah sakit.
Perlahan dia mengingat apa yang terjadi.
Denis menggenggam tangannya dengan erat.
Arini terkesiap saat melihat mata Denis yang sembab.
Ia meraba perutnya yang sudah rata.
"Apa yang terjadi?" tanyanya panik, feelingnya sudah tidak enak.
"Dimana anak ku?"
Denis tidak bisa menjawab. Bu Zah menenangkannya.
"Di mana anakku, Bu?"
"Sabar ya, Rin."
Arini bisa menebak apa yang terjadi.
"Denis..?"
Ia berharap Denis bisa menjelaskannya, namun pria itu malah menitik kan air matanya.
"Tidak ada yang akan memberitahumu, Rin.
biar aku saja." Ilham datang bak seorang pahlawan.
Denis memberinya Isyarat agar Ilham tak bicara asal. Namun terlambat.
"Kondisimu parah, Dokter hanya bisa menyelamatkan salah satu dari kalian, aku menyuruh dokter menyelamatkanmu.
Sedangkan dia? dia tidak memikirkan dirimu.
Dia hanya perduli pada bayi nya saja!"
Denis membuang muka dengan air matanya yang semakin deras. Ia tidak bisa membayangkan perasaan Arini.
Ilham tidak menyadari sorot dendam di mata Arini. Ia menyangka dengan mengatakan kejadian sebenarnya akan bisa menarik simpati Arini lagi.
"Sudah selesai? keluar sekarang! keluar!" bentak Arini keras.
Ilham tersentak kaget
"Tapi, aku hanya perduli padamu, Rin. Kenapa kau malah marah?"
Ilham sungguh tak menyadari kesalahannya.
__ADS_1
💞Jangan marah dulu readers.. ini awal kebangkitan Arini lho.