Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 85


__ADS_3

Di saat keluarga Ilham sedang menghadapi kemelut dalam rumah tangganya.


Arini juga sedang berjuang untuk memberi keadilan kepada Denis.


Ia sangat berharap Vivi memberinya kabar gembira.


Harapan Arini berbuah manis, Vivi menemukan sebuah petunjuk.


Vivi yang terus memata-matai Vino tak sengaja mendengar percakapannya saat dia sedang berkumpul di belakang sekolah bersama teman-temannya.


"Ayo dong mana? tinggal kau saja yang belum membayar taruhan yang sudah aku menangkan." ucap Vino dengan bangganya.


Vivi yang berada di balik tembok berusaha merekam semua itu dengan ponselnya.


"Jujur, aku sempat merasa kasian padanya... tapi itu salah dia sendiri, kenapa selalu menolak cintaku. Malah dia lebih memilih pria dewasa itu." ucapnya sengit.


"Lalu apa rencanamu?" tanya seorang temannya.


Vino menggeleng. Dalam hati kecilnya dia sangat menyesal atas perbuatanya.


Tapi disisi lain, egonya sangat terluka karena kesombongan Shofia yang selalu menolak dan menghinanya dengan Kata-kata pedas yang sangat menyinggung perasaannya.


Saat jam sekolah usai, Vivi sengaja mendekatinya.


"Shofia hamil...!" ucapnya pelan hampir tak terdengar.


Namun Vino terlihat sangat kaget.


"Apa maksudmu mengatakannya pada ku?"


Vivi menggeleng.


"Supaya kau tau saja. Bukankah kau sangat mencintainya.?" jawab Vivi singkat.


Vino termenung.


"Shofia hamil? dan itu sudah jelas karna perbuatanku." bathinnya sendiri.


"Kau tau, kan kalau Shofia adalah korban.


Tapi tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya. Mas Elang bersikeras bahwa bukan dia pelakunya.


Aku dan mungkin seluruh kaum wanita di dunia ini sangat berharap pada si pelaku agar punya tanggung jawab pada wanita-wanita di jagat raya ini yang telah menjadi korban dan mengalami pelecehan seperti hal nya Shofia." ucap Vivi lagi.


Kata-kata Vivi sangat mempengaruhi Vino.


Ia merasa sangat bersalah dengan perbuatannya.


Malam harinya, Vivi kaget saat menerima telpon dari Vino.


"Kenapa?"


"Aku mau bicara sesuatu..." jawab Vino ragu.


"Bicara saja sekarang!"


"Aku mau minta maaf pada Shofia, aku mau bertanggung jawab!" ucap Vino dengan ragu.


Vivi merasa kaget.


"Baiklah, besok temui mbak Arini istrinya mas Elang..!"


Percakapan itu pun terputus.


Arini sangat gembira mendapat berita itu.


Tak henti ia mengucap syukur.


Shofia sangat terpukul saat mengetahui dirinya positif hamil akibat kejadian itu. Apalagi setelah mengetahui bahwa yang punya perbuatan keji itu bukanlah Denis, melainkan Vino teman sekelasnya.


Beberapa kali ia kedapatan ingin membunuh janin yang di kandungnya dengan memukuli perutnya sendiri.


Orang tuanya sangat sedih melihat keadaannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau anak ini, aku mau anak dari mas Elang saja..!" keluhnya di sela isak tangisnya.


"Jangan, Nak.. Siapa pun ayah dari anak mu, dia tetaplah darah dagingmu." ucap Ibunya prihatin.


'Ibu bisa berkata begitu, aku yang menjalaninya..!"


"Aku tidak sudi punya anak darinya.!" ucapnya ketus.


Denis akhirnya bisa bebas dengan bersih dari tuduhan.


Ia dan Arini menyempatkan diri menengok kondisi Shofia.


"Shof, ada Elang dan istrinya, mereka ingin bertemu." bujuk ibunya.


"Aku tidak mau bertemu siapapun!" jawabnya dari dalam kamar.


"Shof, ini mbak Arini, bisa buka pintunya sebentar saja?"


Tidak ada jawaban dari dalam.


"Shofia, mas Elang bisa bicara?" tanya Denis pelan.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka.


Denis masuk perlahan. Pintu kamar yang gelap membuat Denis tidak bisa melihat dengan jelas keberadaan Shofia.


Denis meraba-raba dalam gelap.


"Shof, kau dimana? Mas Elang tidak bisa lihat apa-apa."


Saat lampu menyala, Denis melihat Shofia sedang meringkuk di pojokan.


Denis menghampirinya.


"Shofia, kenapa di bawah? Ayo naik ke ranjang.."


Denis membimbingnya ke ranjang.


"Kau tidak boleh seperti ini, kau harus bangkit." Denis memberinya semangat.


'Mas, aku sudah kotor, aku sudah ternoda. Mas Elang pasti tidak sudi melihatku lagi." isaknya.


Denis menyentuh rambut gadis itu.


Arini masuk dan mendekati mereka.


Denis segera melepaskan rangkulan Shofia.


"Aku masih bisa menerima anak ini seandainya dia anak nya mas Elang, tapi kenyataannya? Aku tidak mau anak ini!"


Shofia kembali memukuli perutnya dengan sadis.


Denis dan Arini mencoba menghalanginya.


"Jangan Shof? anak itu tidak berdosa,!" ucap Arini.


'Kalau kalian menginginkan aku membiarkan anak ini, aku bersedia asal mas Elang mau menikahi ku!" ucap Shofia menantang.


Denis dan Arini serentak melepaskan pegangannya.


Mereka terdiam.


"Kalian tidak sanggup, kan? Begitu pula aku, aku tidak sanggup mengandung anak dari hasil perkosaan.'


"Syaratmu tidak masuk akal..!" sentak Denis tidak suka.


"Ternyata setelah apa yang menimpamu tidak membuatmu sadar juga, pikiranmu tetap picik." kata Arini.


"Kalau kalian kesini hanya untuk berkhotbah panjang lebar, silahkan keluar!" usir Shofia.


Arini dan Denis meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


"Shofia tidak berubah juga." omel Arini dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, tidak usah terlalu baik padanya." sungut Denis.


Dari tempat Shofia, Denis dan Arini mengunjungi Bu Zah.


Disana sudah ada Pras juga.


Setelah berbasa basi sebentar,


Pras memanggil Denis untuk bicara berdua.


"Lang, mas mau membicarakan soal surat-surat rumah ini. Mas sudah bicara pada ibu. Mas akan mengajukan pinjaman ke bank untuk modal usaha dengan jaminan sertifikat rumah ini."


Denis agak terkejut mendengarnya.


"Apa kata Bu dhe, Mas?"


"Semula memang menolak, tapi akhirnya dia setuju."


"Aku tidak bisa berkata apa-apa kalau Bu Dhe sudah mengijinkan." jawab Denis akhirnya.


"Bu dhe, kami pulang dulu, besok kami datang lagi." kata Arini.


Bu Zah seperti ingin berkata sesuatu, tapi saat melihat ke arah Pras dan Nilam, niatnya surut.


"Baiklah, janji besok kalian jenguk ibu."


Arini mengangguk pasti, begitu juga Denis.


Seminggu berlalu.


Bu Zah merasa tertekan berada di rumahnya sendiri


Tempo hari, Pras dan Nilam telah meminta surat-surat rumah dengan paksa. Mereka sudah mengajukan pinjaman ke bank.


"Ibu tidak usah khawatir, uang itu akan segera kembali.." kata Pras menenangkan ibunya.


Setelah memegang uang, Pras dan Nilam tidak pernah berada di rumah, mereka sibuk keluar rumah sampai larut malam.


Mereka selalu beralasan keluar untuk mengurus bisnis.


Bu Zah hanya bisa mengurut dada melihat


Kelakuan putra dan menantunya.


"Nilam, ibu ingin mengganti mesin cuci, karna pengeringnya sudah rusak." keluh Bu Zah suatu malam saat mereka sedang duduk di depan tv.


"Pengeringnya saja, kan Bu? Jangan terlalu manja deh. Jaman ibu dulu juga tidak ada yang namanya mesin cuci." seloroh Nilam santai.


Bu Zah menatap Pras dengan harapan putranya itu membelanya.


Tapi jawaban Pras sungguh di luar dugaan.


"Benar kata Nilam, benda-benda itu hanya akan membuat ibu dan para wanita lainnya menjadi manja."


Bu Zah mendesah panjang.


Ia merasa percuma bicara dengan pras dan Nilam.


"Tidak ada yang bisa mengerti aku selain Denis dan Arini." bathinnya terasa pilu.


Pras dan Nilam semakin menjadi, Nilam menganggap mesin cuci adalah barang tidak berguna, tapi nyatanya dia membeli alat sauna untuk di pakainya.


Bu Zah menggeleng tak percaya.


"Aku sungguh tidak beruntung sebagai orang tua." desisnya malas.


"Bu, besok teman-teman ku akan datang kesini, sebenarnya aku tidak perlu ijin ibu, tapi setidaknya ibu tau dan tidak membuat ulah di depan teman-teman ku." ucapnya sambil lalu.


Dada Bu Zah terasa sesak melihatnya.


Esoknya memang ada beberapa mobil yang datang, isinya beberapa wanita yang berdandan menor.


Bu Zah yang melihatnya terheran-heran.

__ADS_1


"Nilam, jangan mengotori rumah dengan berbuat maksiat, lebih baik kita mengadakan pengajian."


"Generasi kita berbeda, Bu..! "


__ADS_2