Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 62


__ADS_3

Anita semakin merasa kesal saat menyadari dirinya sudah terperdaya oleh Siska.


"Awas saja kau..! tapi bagaimana kalau dia benar-benar tau tentang rahasia ku? ah, tidak mungkin." ucapnya lirih.


Anita masuk lagi ke kamarnya dan melanjutkan omelannya pada Ilham.


"Mas, sebenarnya apa yang terjadi? apa kau pikir aku pantas mendapatkan ini? kita menikah karna saling cinta, lalu dimana cinta yang kau banggakan itu?"


Ilham menutup telinganya dengan bantal.


Ia malas berdebat dengan Anita.


Anita merasa bertambah kesal, ia menarik bantal itu dengan kasar.


"Aku sedang bicara! tolong dengarkan aku, kau selalu menghindar kalau aku ajak bicara, ada apa denganmu?"


Ilham bangkit dan menatap Anita dengan malas.


"Anita, kalau kau ingin aku seperti dulu, kau juga harus merubah dirimu seperti dulu, lembut, pengertian, bahkan kau sekarang lebih galak dari seorang ibu tiri.


Coba lah buat aku nyaman seperti halnya..." Ilham menghentikan ucapannya.


"Seperti halnya siapa? Arini, maksudmu?


Mas, tolong berhenti menyebut nama Arini, Arini dan Arini terus!" teriak Anita.


"Aku tidak menyebutnya, justru kau sendiri yang selalu mengaitkan setiap pertengkaran kita dengan Arini."


"Hoo.. jadi Sekarang aku yang salah? begitu?"


pertengkaran mereka semakin sengit.


'"Aku bosan, aku mau mencari ketenangan!"


Ilham pergi dengan membanting pintu.


"Mas! aku belum selesai bicara!"


Teriak Anita sambil melempar botol parfum ke pintu hingga pecah berantakan.


Anita terduduk di ranjang dengan berderai air mata.


"Aku memang mencintaimu, Mas Ilham. Tapi kalau begini caranya, aku juga tidak kuat.


Sampai kapan semua ini akan berakhir?" ratapnya putus asa.


Bu Lastri datang mendekatinya,


"Nit, susunya Cila habis. Kalau kau keluar jangan lupa beli kopi dan gula, persediaan kita sudah habis, dan ya, hampir saja lupa, bayar listrik dan 'air juga, sudah dua bulan kita menunggak!" ucap orang tua itu dengan entengnya.


"Tapi, Bu. darimana aku dapatkan uang? sedangkan aku sudah tidak bekerja."


"Kau jangan mulai main hitung-hitungan, Ilham sudah tidak bekerja selama dua bulan karna sakitnya, jangan kan gaji, masih di terima bekerja saja sudah syukur. Wajar kalau kau mengambil alih keuangan rumah ini sementara waktu. Lagi pula, kau bilang punya tabungan yang lumayan banyak. kan?"


Bu Lastri tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


Anita menelan ludahnya, Memang salahnya karna sudah bercerita berlebihan kalau dirinya punya deposito yang lumayan.


Kini ia hanya bisa menggigit bibir oleh kecerobohannya itu.


Anita menutup pintu dan berteriak kesal untuk meluapkan kemarahannya.


"Semua harus aku, beli ini lah, beli itu lah.


Memangnya aku mesin uang? mana tabunganku semakin menipis lagi."

__ADS_1


Ilham duduk sendirian di sebuah bar langganannya. Ia datang kesana sengaja untuk minum dan melupakan masalahnya.


Wajahnya terlihat kusut tak terurus.


Semenjak kejadian meninggalnya anak Arini, membuat Ilham tidak tenang. Rasa bersalah terus menghantuinya, tidurnya tidak pernah nyenyak. Karena itu pula secara diam-diam ia sering pergi ke pusara anak itu hanya untuk duduk berlama-lama disana.


ia merasa menyesal telah mengabaikan anak dalam kandungan Arini selama ini.


"Mungkin ini karma bagiku, bagaimana aku bisa sebodoh ini?" ucapnya menyesali diri.


"Kenapa aku terlambat menyadarinya, anak ku," ucapnya pilu.


Pupus sudah harapan Ilham untuk kembali pada istrinya itu, ia sadar, dengan semua yang sudah terjadi membuat Arini semakin menjauh darinya.


***


Lain dengan Ilham dan keluarganya yang semakin terpuruk, Arini semakin maju dalam hidupnya.


Perlahan namun pasti Arini bisa mengikis semua kesedihan karena kehilangan putranya, apalagi setelah mendapat kan surat cerai dari Ilham, semakin meringan kan langkahnya.


Arini sudah menempati ruko yang di sewanya. Dengan dukungan dari Denis, ia mulai merintis usaha kue nya. Seiring berjalannya waktu, usahanya semakin berkembang. Tidak lagi hanya menyediakan satu jenis kue, ia sampai kewalahan menerima pesanan yang kadang menumpuk,


Bu Zahra menjadi supplier pertama untuk mencukupi kebutuhan pesanan yang banyak.


Karna kesibukannya, Arini sampai lupa tentang perkembangan keluarga Ilham.


Suatu sore, Denis datang bertandang ke rukonya.


Ia takjub melihat perkembangan usaha Arini yang begitu pesatnya.


Arini langsung menghentikan aktivitas nya saat melihat kedatangan Denis.


'Sibuk kelihatannya, banyak pesanan, ya?"


"Alhamdulillah, ini semua berkat dirimu?" kata Arini yang membuat Denis menepisnya.


"Iya, kau tidak pernah lelah memberi dukungan moril dan materil pada ku, menemaniku,"


"Kau berlebihan, semua yang capai sekarang karena dirimu sendiri."


Arini mengangguk.


"Kau benar, tapi ketahuilah, dukunganmu sangat berarti buatku, kau selalu ada saat aku terjatuh, bahu mu selalu siap kapan pun aku butuhkan. Kau tau? semua pengorbanan mu sangat luar biasa, pengorbanan yang bahkan tidak bisa di lakukan oleh seorang suami padaku. Terimakasih!"


ucap Arini tulus.


Denis meraih tangannya,


"Aku jadi GR karena sanjunganmu yang berlebihan itu, aku tulus melakukannya. Terlepas dari itu semua, aku ingin menagih jawabanmu yang waktu itu."


Arini tertegun.


"Maafkan aku kalau sudah menggantung mu dengan jawaban yang belum pasti selama ini.


Kita bukan anak SMA lagi yang akan mengekspresikan rasa saat memulai sebuah komitmen, aku hanya perlu mengatakan, aku butuh dirimu menemaniku dalam setiap langkah, dalam suka dan duka. Begitu juga harapanku padamu, kau bisa menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihan ku.


Apakah itu belum cukup?" ucap Arini dengan senyum merekah.


Arini merasa tidak ada salahnya perasaan Denis, toh dia sudah tidak terikat apapun, Denis pantas mendapatkan apa yang dia harapkan selama ini.


Denis menyambut senyuman Arini, ia tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya yang ia rasakan dengan Kata-kata..


"Terima kasih, aku akan menjaga kepercayaan mu ini."


Mereka saling memandang tanpa bicara.

__ADS_1


Di saat yang sama ponsel Denis berdering.


"Bentar, ya!"


Denis mengangkat telpon dari Shofia.


"Iya, Shof.. ada apa?"


Denis terlihat berpikir.


"Tapi, Mas Elang ada acara.." jawabnya dengan wajah menyesal.


"Kenapa? Arini menangkap kegelisahan di wajah Denis.


"Shofia minta di antar mencari buku, entah buku apa?"


"Pergi saja." Arini memberi solusi.


Denis terlihat ragu.


"Aku Ingin memberi sebuah kejutan padamu." sesal Denis.


Arini menggenggam tangannya.


"Pergilah, aku tidak apa-apa, kejutannya bisa lain waktu, kan?"


"Benar kau tidak apa-apa?"


Arini mengangguk pasti.


"Aku percaya penuh padamu..!"


Dengan berat hati Denis meninggalkan Arini.


Arini memandang kepergiannya.


"Pria yang baik.. kau pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidup mu." gumamnya lirih.


Sebenarnya Arini tau motif dari Shofia, namun dia menganggap Shofia hanya seorang gadis belia yang perlu bimbingan. Selain itu, dia sangat percaya pada cinta Denis.


Arini kembali melanjutkan aktivitasnya.


Di dalam mobil.


Denis lebih banyak terdiam, Ia lebih fokus pada rencana kejutannya pada Arini ketimbang mendengar ocehan Shofia.


"Mas, kau tidak mendengar apa yang aku omongin dari tadi, ya?"


Denis tersenyum.


"Mas Elang dengerin kok!"


"Bohong!" ucap Shofia merajuk.


Shofia tau, dalam pikiran Elang isinya hanyalah Arini, karna itu pula dia sengaja membuat Denis dan Arini berselisih paham.


"Shof, Mas Elang mau bicara penting dengan mu."


Shofia tertegun, hatinya berdebar


Ia tak sabar mendengar apa yang akan di ucapkan oleh Denis.


Ia mengangguk perlahan.


"Shofia cantik, masih muda, dan punya masa depan yang masih panjang. Karena itu pula Mas Elang yakin kau akan menemukan seseorang yang kau cintai dan mencintaimu."

__ADS_1


Shofia mulai bisa menebak arah pembicaraan Denis.


"Dan mas Elang juga sudah menemukan orang yang tepat, dan sangat mas Elang cintai."


__ADS_2