Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 67


__ADS_3

"Berani lah, datang saja dia berani, masak pulangnya nggak berani. Iya, kan Shof?"


sambut Arini cepat sebelum Denis menawarkan diri untuk mengantar Shofia di kutu centil pulang.


" Iya, aku berani kok, Mas..!" ucap Shofia akhirnya, dalam hati dia merasa dongkol karena Arini tidak terpengaruh dan berhasil menggagalkan semua rencananya.


"Sekali-kali memang kau harus di beri pelajaran kutu centil.. itulah akibatnya kalau suka merusak hubunganku dan Denis."


Kata Arini dalam hati.


"Hati-hati, ya!" Arini melambaikan tangannya membuat gigi Shofia gemeretak menahan amarah.


"Nah, sekarang mumpung kau disini, aku minta di buatkan sarapan dong, kau tidak mendengar perut calon suamimu ini sudah berteriak sejak tadi.." pinta Denis dengan tersenyum manja.


"Baiklah, tapi jelaskan dulu kenapa hari ini kau tidak kekantor?"


Benak Arini di liputi pertanyaan oleh keberadaan Shofia sepagi ini di rumah calon suaminya.


"Itu...? benar mau tau alasannya?" ucap Denis dengan kerlingan mata menggoda.


Denis menutup laptopnya lalu menghadap Arini.


"Aku sengaja ingin membuat kejutan untuk mu!"


"Kejutan?"


"Iya, aku mau mengajakmu melihat cincin hari ini."


Arini tersenyum senang


"Yakin cuma karna itu?"


"Maksudmu apa sih?" Denis yang jadi bingung.


"Shofia?" tanya Arini dengan nada tidak suka.


Menyadari itu membuat Denis malah tertawa terbahak


"Jadi ceritanya kau cemburu?" tebak Denis.


"Tidaak. siapa yang cemburu, cuman aneh saja, kenapa dia ngotot sekali ingin mendekatimu."


"Hemm.. itu namanya cemburu, Arini ku sayang... kau tidak usah khawatir, dia bilang kesepian dirumah karna ayah ibunya sudah berangkat duluan. Mungkin karena dari kecil sudah terbiasa bersamaku makanya dia datang mencariku. Sudahlah, seperti katamu dia hanya anak kecil yang masih ingusan, bagaimana bisa mengambilku darimu? Lagi pula hati dan pikiranku sudah kau bawa, apa yang bisa dia ambil lagi?"


Denis menatap lekat ke manik mata Arini.


"Oh ya, sebentar."


Denis terlihat menelpon seseorang.


"Telpon siapa?"


"Ibu Rita, dia yang biasa mengurus semua kebutuhanku selama ini, dari bersih-bersih rumah sampai mencuci. Aku sengaja menyuruhnya datang untuk menemani kita. Katanya bila ada dua orang yang berlawanan jenis sedang bersama, berarti yang ketiganya adalah setan, kau percaya nggak?"


Arini tertawa,


"Percaya, atau jangan-jangan setannya adalah kau." goda Arini.


"Jangan sampai aku yang jadi setannya, karna kalau itu terjadi, kau yang pertama aku goda!" Ujar Denis menyeringai.


Tatapan mereka bertemu.


Arini melihat keteduhan di mata Denis. Hal yang dia tidak bisa dia temukan pada Ilham meskipun sudah berumah tangga selama 4 tahun.

__ADS_1


"Terima kasih.. " ucap Denis lirih.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, kau adalah kebahagiaan terbesarku, Rin."


"Aku yang harus berterimakasih, kok terbalik.?" sergah Arini serius.


"Aku mencintaimu...! tulus.' ucap Denis.


Arini tersipu di buatnya., Usia boleh sudah 27 tahun, tapi kalau di hadapkan dengan dunia percintaan kayaknya tidak jauh beda dengan anak yang berusia belasan tahun. Tetap saja melayang saat orang yang kita cintai mengungkapkan perasaannya. Itu pula yang terjadi pada Arini saat ini.


Denis menunggu Arini mengucapkan hal yang sama.


"Ayo..!"


"Kemana?" Arini merasa heran.


"Ayo bilang, aku menunggu sebuah ungkapan darimu, aku ingin sekali mendengar dari bibirmu kalau kau juga mencintaiku."


Arini tertunduk, ingin sekali dia berteriak bahwa dia sangat menyayangi Denis saat ini.


Tapi apa perlu? usia mereka sudah tidak muda lagi, Arini sadar dia hanya seorang janda.


"Kau tidak mau menjawab?" sorot mata Denis terlihat kecewa.


"Aku mencintaimu..!" ucap Arini spontan.


Denis yang tertunduk tiba-tiba menatapnya penuh haru sambil menggeleng.


"Tidak..."


"Kau tidak percaya? aku benar-benar mencintaimu, , mungkin dari dulu aku merasakannya, cuma aku saja yang tidak peka mengartikan perasaan itu.' kata Arini sambil mengeluarkan buliran bening karena terharu.


"Tidak sebesar aku mencintaimu!" kata Denis membuat Arini menarik nafas lega.


"Aku yang lebih menyayangimu!" ucap Arini dengan nada keras.


Ia lega bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Denis.


"Aku yang lebih besar!" balas Denis.


"Aku yang lebih besar lagi." Arini tak mau kalah.


Mereka tertawa bersama.


"Sudah, ah bercandanya, mau aku masakin apa,?"


"Terserah, asal kamu yang bikin, aku suka!"


"Gombal!" Arini beranjak ke dapur.


Saat itu Bu Rita datang.


"Ada apa Mas, cucian sudah ibu bawa kemarin." ucap ibu itu heran.


Arini dan Denis tersenyum melihat kebingungannya.


"Kami hanya ingin Bu Rita menemani kami, kami tidak berani berdua saja tinggal di satu rumah, sedang kan kami belum halal." terang Denis.


Wanita yang di panggil Bu Rita itu menggeleng kagum.


"Jarang saya melihat pasangan yang masih perduli hal itu di jaman ini, semoga Allah meridhoi hubungan kalian."

__ADS_1


Amiiin..!" Denis dan Arini menjawab serempak. Mereka kembali saling pandang dan tersenyum penuh Arti.


"Tunggu beberapa hari lagi, aku akan menghalalkan mu, Arini.." gumam Denis.


***


Sementara itu, Anita sudah mulai meninggalkan pengasuhan putrinya pada Bu Lastri.


Siska seolah tidak mau dengan urusan ibu dan iparnya itu. Ia lebih asik dengan dunianya sendiri.


Tanpa sepengetahuan keluarganya, ia memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah kafe. ia merasa tidak bisa mengandalkan keluarganya dengan biaya kuliahnya.


"Ibu kerja dulu, ya Cila, jangan rewel!" pesannya pada bayi usia 9 bulan itu.


Bu Lastri sendiri melepas kepergiannya dengan muka masam.


"Nasib ku jelek sekali, menantu pertama sudah mandul dan tidak bisa cari uang, menantu yang kedua bisa cari uang dan memberiku cucu, tapi lihat, bagaimana dia menjadikan mertuanya pengasuh anaknya."


Ia tak berhenti menggerutu kesal.


Cila benar-benar tidak membiarkannya duduk istirahat.


Anak itu rewel saat di tinggalkan ibunya.


Hari hampir siang, Cila belum juga mau tidur.


Terpaksa Bu Lastri mendorongnya bolak balik di halaman.


"Bisa kumat encok ku kalau begini caranya."


Bu Lastri benar-benar di buat gempor oleh cucu kesayangannya itu.


"Bu Lastri, rajin sekali momong cucu, saya lihat dari pagi sampai jam segini masih saja berkeliling halaman." sapa tetangganya.


Bu Lastri mengibaskan tangannya agar tetangganya itu pergi.


Sorenya Anita pulang dengan wajah lelah.


Bukan menyapa anak dan mertuanya yang berada di ruang tamu, ia langsung menuju meja makan.


"Bu, kenapa tidak ada makanan? aku lapar?" ujarnya dengan wajah. tidak senang.


"Bagaimana aku mau memasak, anakmu tidak pernah diam dari kau tinggal pergi." sungut Bu Lastri tak kalah kesal.


"Masa ngakalin bayi saja tidak bisa, ibu kan sudah pengalaman mengurus mas Ilham dan Siska. aku pulang dari kerja, Bu. Bukannya senang-senang, sampai rumah bukannya tenang malah bikin naik darah." Anita menggerutu sambil masuk kamarnya.


Bu Lastri terduduk lesu, baru sekarang dia merasa sendiri di rumah itu, Ilham jarang pulang, begitupun Siska sudah sibuk dengan dunianya sendiri.


Sekarang menantu yang ia sanjung-sanjung selama ini berani membentaknya.


Bahkan Anita tidak bertanya apakah mertuanya sudah makan atau belum.


Bu


"Arini.." tiba-tiba bibirnya berucap tanpa sengaja.


Ia menutup mulutnya saat sadar telah mengucapkan nama mantan menantu yang selama ini sangat di bencinya.


Sedang apa dia sekarang? Bu Lastri termenung mengenang saat ada Arini dirumah itu, semua terasa ringan, semua berjalan damai walaupun Kata-kata yang kurang pantas sering dia lontarkan.


Arini tak pernah melawan ataupun mengeluh.


Mata Bu Lastri berkabut, ia seperti melihat Arini memijat kakinya sambil mengoceh.

__ADS_1


"jangan terlalu capek, pasti encok ibu kumat lagi."


__ADS_2