
Tiga bulan sudah Tita meninggalkan Adi sejak peristiwa itu. Adi tak bisa berbuat banyak karena ulahnya telah menyakiti Tita.
Titapun sudah melayangkan gugatan cerai melalui kuasa hukum Yudha walaupun hatinya masih sayang, tapi apa mau dikata dengan terpaksa mau tak mau Adi menandatangani surat cerai itu dengan iklas.
Kini Adi kembali pada Risna karena kehamilan Risna yang semakin besar terlebih Risna selalu mengancamnya dengan berbagai cara hingga akhirnya Adi
mau menerima Risna, meskipun hati kecil Adi belum bisa melupakan Tita.
Sejak kehadiran seorang bayi di hidup Popy sikap Popy mulai berubah sedikit demi sedikit kondisinya membaik, iapun telah menghilangkan kebiasaannya yang buruk dan semua obat-obat haramnya ia tinggalkan.
Bayi cantik Tita nan mungil memang sejak dulu telah membuat Popy jatuh cinta hingga kini Tita mempercayainya untuk bersama_ sama mengurusnya.
BUNGA
Nama bayi Tita. Yudha memberinya nama bunga karena wajahnya cantik seperti bunga yang kuncup di pagi hari.
Penampilan Tita kini semakin menawan karena Yudha dan Popy merawatnya dengan baik.
Dari pakaian dan perhiasan, keduanya selalu diserasikan Oleh Yudha. Yudha begitu adil memperlakukan keduanya meskipun Tita bukan istrinya tapi Yudha sangat menyayangi Tita.
Tapi ada satu hal yang membuat Tita kecewa. Popy selalu berusaha menjauhkan Tita dengan anaknya, Tita hanya diberi kesempatan bersama anaknya jika ia menyusui selebihnya Popylah yang selalu dekat dengan Bunga.
Semakin hari Popy mulai menunjukkan sifatnya, Tita tak pernah diberi kesempatan menggendongnya atau sekedar mengajaknya bercanda rupanya Popy ingin menguasai bayi Tita sepenuhnya.
Hingga suatu hari Popy melarang Tita untuk menyusuinya dan menggantinya dengan memakai susu Pormula.
Sikap Popy semakin menjadi tak kala anaknya mengalami deman, Tita tak pernah diberi kesempatan untuk merawatnya.
"Bu! berikan sebentar, biar saya lihat Bunga," Teriak Tita seraya mengetuk pintu kamar Popy.
Tapi Popy tak segera membukakan pintu malah berusaha menenangkan Tita bahwa bayinya baik - baik saja.
"Mah, sebaiknya biarkan Tita yang mengurusnya malam ini, dia kan ibunya,"
tegur Yudha pada istrinya yang sepertinya enggan untuk memberi bayinya pada Tita.
"Udahlah pah. Bunga baik kok."
"Tapi mah badannya panas."
"Ah! masa sih! gak ah!"
Popy begitu yakin Bunga baik_baik saja iapun menggendong bunga dan berusaha menenangkannya dengan bersenandung.
Tita begitu cemas mendengar tangisan anaknya yang semakin keras, iapun kembali mengetuk pintu kamar Popy dan memohon untuk melihat keadaan anaknya.
Yudha tak tinggal diam, ia langsung merebut Bunga dari gendongan Popy dan langsung menyerahkan pada Tita yang sedari tadi menunggu di luar kamar.
"Terima kasih mas."
Tita dengan perasaan gusar berusaha membawa Bunga ke kamarnya, di baringkannya bunga di tempat tidurnya kemudian Tita membalur tubuh Bunga dengan kayu putih.
Melihat tindakan Tita, Popy hanya memperhatikan dengan wajah kecut.
Dipandangnya wajah Bunga dan dipeluknya baru kali itu Tita bisa dekat dengan Bunga.
__ADS_1
Bayi mungil itu mulai tertidur karena Tita selalu membelainya, rupanya nurani bayi itu merasakan dekapan hangat ibu kandungnya.
Yudha kemudian menggandeng Popy dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
Tapi wajah Popy masih terlihat kesal, Bunga yang diambil Tita dan tidur bersamanya membuat Popy semalaman suntuk tak merasa tenang, disampingnya biasa ada tubuh mungil yang selalu didekapnya.
Keesokan paginya tanpa menghiraukan apapun ia langsung berlari menuju kamar Tita.
Dibukanya pintu kamar dengan cepat, tapi Tita tak berada di sana, wajah Popy seketika pucat, iapun berlari ke arah ruangan lain tapi lagi_lagi Tita tak nampak, taman belakang adalah pencarian terakhirnya mungkin saja Tita berada di sana tapi tetap nihil tak ada Tita dan bunga di sana.
"Pahhh...."
Popy berteriak kencang memannggil Yudha yang masih tertidur lelap.
"Pah! bangun pah!"
Popy mulai merengek sambil menggoyang_ goyangkan tubuh Yudha yang memunggunginya.
Yudhapun terbangun sambil mengusap matanya.
"Ada apa sih mah?"
Seloroh Yudha yang setengah pikirannya masih di bawah alam sadar.
Itu pah! Tita sama Bunga..."
"Kenapa Tita sama Bunga?" Yudha balik bertanya.
Popypun mengadukan ketidak beradaan Tita dan Bunga di kamarnya.
Setelah pintu terbuka tampak Tita yang baru saja datang, entah dari mana ia membawa bayinya.
"Tita? dari mana kamu?" tegur Yudha khawatir.
"Ini mas, saya habis jemurin Bunga biar hangat," ucap Tita santai.
Melihat keberadaan Tita. Popy langsung menegur Tita seraya mengambil paksa Bunga yang tengah di gendong Tita.
"Lain kali! kalau mau bawa Bunga ijin dulu sama saya!" bentak Popy memelototi Tita.
Sontak saja Tita jadi kaget mendengar ucapan Popy yang dirasanya terlalu kasar.
"Udah mah!" tegur Yudha yang merasa heran dengan sikap istrinya yang sudah mulai berani membentak Tita.
Popy kemudian pergi masuk dan membawa Bunga pergi ke kamarnya.
Tita diam mematung hanya bisa diam mendengar bentakan Popy, mengapa pula ia harus minta ijin Popy untuk mengajak anaknya keluar. Apa salah bila sesekali ia memanjakan anaknya.
Wajah Tita mulai merah menahan tangis yang akan tumpah di pipinya, ia tak menyangka baru kali ini Popy bersikap kasar padanya.
Seperti biasa Yudha selalu menenangkan Tita, iapun memapah Tita untuk masuk ke dalam.
"Sudahlah, jangan diambil hati perkataan ibu. Ya," ucap Yudha dengan lembut.
Tita akhirnya mengalah dan membiarkan Yudha memegang pundaknya.
__ADS_1
Wajahnya Tita masih terlihat sedih meskipun Yudha sudah berusaha menghiburnya.
Tita kembali masuk kamar wajahnya sesekali dipalingkan ke kamar Popy. Air matanya mulai menitik bathin keibuannya mulai berontak, hutang budinya pada Yudha membuat ia pasrah menerima semuanya.
"Mah, kamu tuh jangan terlalu kasar pada Tita."
"Ah! papah ini selalu saja membela Tita."
"Bukan begitu mah, Tita kan ibu kandung Bunga."
"Ah! sudahlah pah! pokoknya mamah gak suka kalau Bunga dibawa tanpa ijinku!"
"Mamah!"
Yudha mulai terpancing, sikap Popy yang selalu memperlihatkan keegoisannya jika ingin mendapatkan sesuatu mulai kambuh.
Yudha mulai geram dengan sikap istrinya yang mulai membatasi Tita dengan Bunga.
"Mah! dengar mulai sekarang. Biarkan Bunga diurus bergantian dengan adil, semalam sama kamu, malam kemudian sama Tita."
Tegas Yudha menjelaskan semua peraturan yang menurutnya adil.
"Enggak!"
"Pah. Tita kan masih bisa punya anak lagi sebentar lagi kan dia resmi bercerai. Suruh Saja Tita nikah lagi."
"Mamah!"
Yudha tambah geram dengan perkataan Popy hampir saja tangan nya melayangkan tamparan pada Popy.
"Papah mau mukul mamah? ayo pukul mamah! memang dari dulu papah selalu membela Tita!"
"Mah. Cukup!"
"Atau jangan - jangan papah suka sama Tita!"
Yudha semakin emosi mendengar tuduhan Popy yang mulai menyudutkannya.
Mendengar percekcokan antara suami isteri Tita sangat terkejut dan menghampiri mereka berdua.
"Sudahlah bu hentikan!"
Teriak Tita yang merasa tersinggung dengan ucapan Popy yang merendahkannya.
"Kamu itu jangan munafik!"
Popy kembali membalas teriakan Tita.
Mendengar teriakan Popy. Tita sudah tak sanggup meladeninya, Tita berlari keluar kamar. Air matanya tumpah mendengar perkataan Popy yang mulai menghakiminya.
Yudha tak tinggal diam, ia kemudian berlari mengikuti Tita.
Diraihnya tangan Tita memohon untuk tak mendengar ucapan istrinya. Tapi Tita menghalau tangan Yudha dan pergi masuk kamar sambil membanting pintu kamarnya.
Yudha begitu kacau melihat kedua wanita yang berseteru hebat entah apa lagi yang harus dilakukannnya, otaknya serasa mau pecah mendapati Popy yang begitu berani menghina Tita di depannya. Apa dia tak sadar. Tita dengan suka rela mau mempercayai Popy untuk bersama_sama mengurus Bunga tapi yang terjadi di luar dugaan.
__ADS_1