
Tita begitu lemah, tubuhnya yang semakin kurus karena tekanan bathin yang dialaminya.
Melihat keadaaan Tita, ada rasa iba di benak Yudha, seorang wanita yang tengah hamil, membuat Yudha merasa khawatir melihat kondisi Tita yang memprihatinkan, Yudhapun menawarkan jasanya untuk mengantar Tita pulang ke rumahnya, Tita dengan terpaksa menerima tawaran Yudha, pria yang telah menolongnya.
Sesampai di rumah Tita, Yudha memapahnya sampai kamar dan membaringkan Tita.
"Mbak, maaf, suamimu dimana?" tanya Yudha seraya berdiri di pintu kamar.
Mendengar pertanyaan Yudha, Tita tak menjawabnya, wajahnya memelas sambil meneteskan air mata.
Yudhapun terdiam melihat Tita menitikkan air mata, wanita yang ditolongnya begitu memendam penderitaan yang hebat dalam hidupnya.
"Mbak, Boleh saya menghubungi keluarga mbak? atau barangkali suami mbak?" tanya Yudha yang tak tega meninggalkan Tita sendirian dalam kondisi lemah.
"Gak usah mas. Oh ya, mas, terimakasih udah nolong saya," sapa Tita dengan nafas serak.
Yudhapun berusaha mengambil air minum untuk Tita, iapun menuju dapur yang memang terlihat jelas dimana letaknya karena rumah Tita yang kecil dan sederhana, Yudhapun membantu membangunkan Tita untuk memberinya minum.
"Terima kasih mas, sudah merepotkan," keluh Tita sambil menyusut bibirnya yang kering.
"Oh ya, siapa nama mas?" sapa Tita sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Yudha mbak."
__ADS_1
"Terimakasih mas Yudha,"
ucap Tita yang merasa tertolong dengan kehadiran Yudha yang begitu baik.
Yudhapun mohon pamit pada Tita, tapi hatinya begitu mengkhawatirkan keadaan Tita, diberikannya nomer ponselnya, berharap jika Tita mau menghubunginya jika Tita membutuhkan pertolongannya.
"Nih mbak, Nomer ponsel saya, kalau ada apa-apa telepon saya aja," ucap Yudha sambil memberikan kartu nama miliknya pada Tita.
Yudhapun pergi meninggalkan Tita.
Dengan langkah yang masih sempoyongan Tita berusaha menutup pintu rumahnya dan menguncinya, perutnya terasa lapar dan lemas, dibukanya kulkas barangkali ada makanan atau sisa-sisa kue, maklum Adi belum juga memberinya uang belanja, yang seharusnya sudah diberikan, Tapi Adi malah pergi yang katanya ada dinas dari kantornya.
"Drrttttt....." suara ponsel Tita berbunyi keras, Titapun mengambil ponsel nya. { Hello yang) Terdengar suara Adi memanggilnya, Tapi Tita tak menjawab panggilan Adi, Tita hanya diam mendengarkan.
Tita sudah tak mau lagi mendengar ucapan Adi yang selalu berbohong dan banyak alasan.
Tepat tengah malam Adipun datang, setelah membukakan pintu untuk suaminya, Tita kembali ke kamarnya dengan wajah kecut.
Adipun hanya diam melihat tingkah istrinya dan mengikutinya sambil berusaha merayu Tita.
"Yang, maaf ya," sapa Adi sambil mencium kening Tita.
__ADS_1
Mendengar kata maaf dari Adi, Tita tak menghiraukannya, bathinya sangat tersiksa karena suaminya telah menduakan cinta.
"Yang, maaf, uang belanja bulan ini, saya kurangi, gak apa-apa kan," bisik Adi dengan wajah yang memelas.
"Memangnya buat apa?" tegur Tita penasaran.
"Jangan marah gitu dongk," ucap Adi merayu.
"Saya ada bisnis dengan teman," ucapnya lagi berusaha meyakinkan Tita.
Tita tak bergeming, sekarang suaminya mulai mengusik uang belanjanya.
Adi sungguh keterlaluan, bukannya melihat kondisi Tita yang semakin kurus, tapi justru dengan seenaknya memotong uang bulanan Tita yang pas-pasan, karena kini Adi mempunyai dua istri yang harus di biayai. Apalagi Risna yang pintar merayu Adi dengan berbagai tipu dayanya, ya, memang begitulah sifat Pelakor. Mulanya baik, ujungnya mulai menunjukkan sifat aslinya, padahal yang menemani suami di kala susah kelak adalah istrimu.
Tita hanya bisa menangis mendengar permintaan suaminya, mau bagaimana lagi dengan terpaksa ia menyetujui permintaan suaminya, haruskah ia berteriak dan memohon? sudah cukup Adi membohonginya, kalau saja dia tidak sedang mengandung, tentu begitu mudah untuk Tita mencari pekerjaan dari pada ia di rumah saja, Tapi karena ia tengah mengandung membuat Tita menahan semua prilaku Adi yang kejam.
Haruskan ia mengadukan perlakuan Adi pada keluarganya? tentu saja Tita tak kan melakukan semua itu, keluarganya akan mengkhawatirkannya jika mengetahui masalah rumah tangganya, akan lebih baik ia tahan saja semuanya sendiri walaupun pahit dan pedih.
"Oh ya? Kalau kurang, jual aja dulu kalung kamu, nanti saya ganti," sahut Adi seraya menatap kalung yang melingkar di leher Tita.
Tentu saja Tita sangat kaget mendengar ucapan Adi yang semakin hari semakin berani , sikap Adi yang menyebalkan membuat Tita ingin sekali mencekik leher suaminya yang lancang.
Dengan seenaknya Adi menyuruhnya menjual kalung pemberian orang tuanya dulu, kalung itu sudah Tita pake dari gadis, tak pernah Tita melepaskannya, apalagi menjualnya, lebih baik Tita mencoba mencukupi-cukupi uang belanja dengan mengirit dan menahan keinginannya, yang penting Tita bisa membeli perlengkapan bayinya kelak.
__ADS_1