
"Kita lapor polisi..!" ujar Arini memberi saran.
"Bukti apa yang kita punya, jangan sampai dia berbalik melaporkan kita karna di anggap telah mencemarkan nama baik."
"Kita tidak bisa hanya bermodalkan keterangan dari Shofia, tentang kecelakaan yang menimpa Bu dhe juga belum terbukti kalau yang melakukan itu mbak Nilam. Kita tidak bisa gegabah dengan lapor polisi tanpa bukti." imbuh Denis lagi.
"Untuk memastikan semuanya, kita akan menjebak Shofia berkata yang Sebenarnya."
"Caranya?" Arini penasaran.
Denis berbisik pelan di telinga istrinya.
"Kau serius? bagaimana kalau..?"
Arini melingkarkan kedua tangannya di leher Denis.
"Percaya padaku, aku akan berhati-hati. Aku butuh kepercayaan dan dukunganmu." bisik Denis lagi.
"Aku harap kau tidak akan jatuh pada jebakan mu sendiri." ucap Arini.
"Itulah maksudku, kau harus mendukung rencana ini."
"Baiklah.. Aku percaya padamu." jawab Atin.
Hari berlalu seperti biasa, begitupun dengan Nilam. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan darinya.
Sedangkan Ilham Shofia terus minta kepastian dari Denis. Ia sangat tidak sabar menjadi istri Denis.
"Aku akan menjemputmu, kita akan bicarakan masalah ini." kata Denis lewat telpon.
"Mas, Elang.. Aku tak percaya dia bersedia
menerima syarat ku.
Setelah aku bisa dekat dengannya,
Pelan-pelan aku akan menyingkirkan mbak Arini dari hidup mas Elang." ia terkikik sendiri.
Sore yang cerah saat Denis membawa Shofia untuk jalan-jalan.
"Kau mau apa? Makan, nonton atau belanja?" tanya Denis dengan tersenyum.
Shofia tidak berkedip memandang Denis.
"Woi... !" Denis menyapu wajahnya dengan tangan.
"Aku tidak percaya saja mas Elang bisa seromantis ini padaku." ucapnya masih tidak percaya.
"Bebas, Mas?"
Denis mengangguk pasti.
"Aku mau nonton... !" jawabnya cepat.
"Ayo..!" jawab Denis dengan senang hati.
"Kau tunggu disini, mas Elang mau beli tiketnya dulu."
Shofia mengangguk setuju.
Di benaknya sudah terbayang akan menonton adegan yang romantis dengan pria pujaan hatinya.
"Let's go!"
Shofia menggandeng tangan Denis mesra,.
"Jangan terlalu mencolok.. tidak enak di pandang orang. Mereka pasti mengira aku Om-Om yang sedang merayu daun muda." ucap Denis mendesah.
"Perduli amat, yang menjalani, kan kita." Shofia terlihat cuek.
Tak lupa Shofia membeli pop corn sebagai pelengkap.
Namun Shofia heran karena yang hadir bukan pasangan seperti harapannya.
Shofia deg-degan menunggu film di putar.
"Mas, apa sih judulnya?". Bisiknya.
Denis menggeleng.
__ADS_1
"Kita nikmati saja." membalas bisikan Shofia.
Shofia kecewa karna film yang di putar bergenre komedi.
"Mas..??" matanya menyiratkan kekecewaan.
"Tiket yang lain sudah habis, maaf...!" Denis memegangi kedua telinganya.
Walaupun kecewa, Shofia berusaha menikmatinya.
Dalam hatinya, ia mulai menebak.
"Mas Elang mendekati ku pasti karna rahasia mbak Nilam."
Denis berpura-pura sangat menikmati suasana Dia terus tertawa setiap ada adegan yang menurutnya lucu.
Setelah itu Shofia mengajaknya makan-makan.
"Kenapa cemberut terus?"
"Kau tidak suka makanannya?"
"Aku suka... Tapi, mas Elang pasti terpaksa melakukan, ini. iya, kan?"
Denis meletakkan sendok di tangannya.
"Bukankah kau sudah tau dari awal, kalau mas Elang tidak mencintaimu. Tapi karna kau memaksa, Mas akan coba membahagiakanmu dengan cara, Mas sendiri. Walaupun ,Mas tidak bisa menjanjikan sebuah pernikahan, setidaknya Mas Elang sudah berusaha bersikap seperti yang kau inginkan."
Shofia termenung mendengar kata-kata Denis.
***
Saat itu di meja lain dari tempat itu, Anita sedang berbicara serius dengan seorang pria.
"Aku akan berikan berapa pun yang kau mau, asalkan kau berikan anak itu padaku!"
Anita terdiam. Ia merasa dilema.
Kalau dia berikan Cila padanya, otomatis ia akan kehilangan Ilham untuk selamanya.
Kalau saja Ilham dan keluarganya tau, kalau Cila bukan lah anak kandung Ilham, tentunya dia tidak akan pernah bisa menjadi istri Ilham saat ini.
Anita memang punya hubungan dengan pria lain saat dirinya berhubungan dengan Ilham.
Gayung bersambut saat Bu Lastri yang mata duitan dan membenci Arini selalu mendukungnya. Tentu saja ia tidak memberi tau Bu Lastri, kalau anak dalam perutnya bukanlah anak Ilham.
"Bagaiman" suara berat di depannya mengagetkan Anita.
"Tidak bisa, semua orang sudah terlanjur beranggapan kalau Cila anaknya Ilham, suamiku."
"Tapi aku ayahnya Aku juga berhak atas dirinya." pria itu berkeras mengambil Cila dari tangan Anita.
"Aku minta tolong padamu dengan baik-baik. Cila akan lebih terjamin hidupnya kalau dia ada dalam pengasuhan ku."
Anita hanya terdiam.
"Pikirkan baik-baik .. Anakmu akan mendapatkan orang tua yang lengkap, karna istriku sendiri yang sangat bersemangat mengasuh Cila. Kalau dia dalam asuhanmu, dia memang punya orang tua yang utuh. Tapi apa kau bisa jamin itu akan tetap terjadi kalau Ilham sampai tau yang sebenarnya?"
"Lalu alasan apa yang akan aku berikan pada keluargaku." keluh Anita.
Pembicaraan di antara mereka tidak menemukan kesepakatan.
Pria itu meninggalkan Anita dengan perasaan gundah.
Anita menyeret langkahnya hendak meninggalkan tempat itu.
Tak sengaja mata ya melihat Denis dan Shofia yang tengah duduk dan mengobrol serius.
Anita menarik langkahnya kembali
Ia mengamati keduanya dari tempat tersembunyi.
"Denis bersama cewek? Ceweknya masih muda lagi, ck ck ck...! Pria dimana mana sama saja " dia menggeleng heran.
"Arini harus tau ini, ini akan jadi pukulan yang berat baginya .." Anita sengaja merekam Denis yang sedang memegang kedua tangan Shofia sambil menasehatinya.
"Ternyata si Denis buaya juga."
Anita melenggang mendekati mereka.
__ADS_1
"Waah.. yang suka gembar gembor tentang kesetiaan, ternyata di belakang lebih parah lagi " sindirnya sambil berdiri di samping Denis.
Denis terdiam, dia menyayangkan kenapa Anita harus muncul di situ sekarang.
"Siapa, Mas?"
"Bukan siapa-siapa, ayo sebaiknya kita pergi dari sini." ajak Denis seraya bangkit.
"Eit, mau kemana? Arini harus tau yang terjadi. Biar dia tidak menceramahi ku lagi."
Anita menghadang Denis.
"Minggir! Ini bukan urusanmu!" sentak Denis.
"Owh begitu, ya..? tapi ini akan segera jadi urusanku." ucapnya tersenyum licik.
Denis tidak menghiraukan Anita lagi. Ia mengajak Shofia segera meninggalkan tempat itu.
"Kelihatannya, mas Elang takut pada wanita tadi, itu?" ujar Shofia.
"Dia temannya Arini." Jawab Denis singkat.
Denis mengajak Shofia ketempat lain untuk melanjutkan makan.
"Tapi aku sudah kenyang, Mas!" ucap Shofia memelas.
"Kenyang apanya? Kau baru makan beberapa suap saja. Jadi kau harus makan lagi!" Denis memaksanya.
Denis sudah membubuhkan sesuatu ke dalam minuman Shofia agar tidak sadar.
Dengan begitu, dia berharap Shofia akan membeberkan semua rahasianya.
"Sudah, Mas!" Shofia mendorong makanannya. Ia sudah makan beberapa suap saja.
"Kalau begitu minumlah!" Denis menyodorkan minuman.
Shofia menatapnya seksama.
Ia merasa heran karna Denis terkesan memaksa.
"Ayo dong!" Denis tidak sabar dan langsung mengarahkan sedotan kedalam mulut Shofia.
Karna Shofia menolak, jadilah mereka saling paksa.
Dan akhirnya minuman itu tumpah kelantai
Denis memandangnya dengan kecewa, pupus sudah harapannya untuk mendapat keterangan dari Shofia.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Shofia.
"Mau di apain lagi. Kalau kau mau pesan saja lagi." tawar Denis malas.
"Aku yakin minuman itu sudah di campur sesuatu oleh mas Elang.
Bathin Shofia.
"Ayo kita pulang!" ajaknya dengan gontai.
Arini menyambut kedatangan Denis dengan penuh harap.
Tapi saat melihat wajah Denis yang lesu ia menjadi ragu.
"Gagal, ya?" tebaknya saat Denis langsung merebahkan kepalanya pada pangkuan Arini karna dia sedang duduk.
"Iya, apesnya lagi aku bertemu Anita. Dia menuduhku macam-macam."
Jawab Denis lesu.
"Tentu saja, siapa yang tidak akan berpikiran sama seperti Anita saat melihatmu beradegan seperti ini dengan Shofia.?"
Arini memperlihatkan rekaman video yang di kirim Anita.
"Dari Anita, ya?" Arini mengangguk.
"Kamu percaya padanya, Rin?"
Tentu saja!" jawab Arini keras.
Denis mendongak dan bangkit dari pangkuannya."Kau percaya padanya?" tanya Denis dengan wajah tidak percaya.
__ADS_1
"Aku percaya padamu...!" ucap Arini lembut.
Denis menarik nafas lega dan memeluk Arini.