
Arini termenung di kamarnya.
"Hari ini mas Ilham menikah, akhirnya kita benar-benar berpisah Mas." ada rasa sesak di dadanya mengingat begitu banyak kenangan dengan pria itu. Kini semua kenangan itu tak akan pernah kembali lagi.
"Rin, Kau belum tidur?"
Suara Bu Zah mengangetkan lamunan Arini.
"Belum Bu, saya masih mengerjakan tugas kantor sedikit." kata Arini berbohong.
Bu Zah mengamati mata Arini yang agak basah sambil meletakkan secangkir teh hangat.
"Kau menangis?"
Arini menggeleng. Ia tidak mau membuat wanita baik hati itu ikut cemas karena masalahnya.
"Baiklah, ibu tidak akan memaksa. kapan pun kau siap bercerita, ibu siap mendengar.
Cepat istirahat! tidak baik ibu hamil bergadang."
"Terimakasih Bu, teh nya!"
Bu Zah tersenyum.
"Sekalian ibu bikinin Elang, dia datang barusan. Dia bilang sih sedang mengikuti seseorang, tapi kehilangan jejak di daerah sekitar sini."
"Owh begitu, ini sudah malam, besok saja saya menemuinya" ucap Arini sopan.
"Iya, dia juga bilang mau langsung tidur karna kecapean."
Bu Zah menutup pintu pelan.
Ting!
Sebuah pesan dari Denis masuk.
(Rin, kau pasti sudah sampai, aku mau menelpon mu dari tadi tapi takut menganggu. kau baik-baik saja, kan?)
Arini tersenyum.
(Aku baik-baik saja, apa yang harus aku khawatirkan selagi ada sahabat yang baik seperti mu menemaniku)
Arini membalasnya.
Hati Denis berdebar-debar membaca balasan pesan itu.
Ia mendekap dadanya yang berdegup kencang.
"Aku kenapa? hanya mendapat balasan pesannya saja sudah gemetar begini.." gumam Denis tak habis pikir.
"Balas apa lagi, ya?" Denis berpikir keras tentang apa yang harus di ketiknya untuk menyapa Arini.
Arini sendiri melirik ponselnya sesaat, Ia mengira Denis akan kembali mengirim pesan padanya.
"Sudahlah, pasti dia sudah tidur karna kecapean."
Baru saja Arini merebahkan kepalanya di bantal, pesan Denis masuk lagi.
(Ooh..) Arini tersenyum geli. pesan Denis sangat singkat.
(Sudah mengantuk, ya? pesannya cuma 'Oh' doang) ketik Arini.
( Belum..!) Denis menyesali pesannya tadi, tapi mau gimana lagi? sudah terkirim.
"Arini pasti meledek ku."
Arini mengakhiri pesannya.
Ia mematikan lampu dan berusaha memejamkan mata.
"Hey sarapan dulu baru pergi!" suara Bu Zah terdengar sampai ke telinga Arini yang baru selesai sholat subuh.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanyanya heran.
"Elang, dia tergesa pergi. katanya ada sesuatu yang harus di kerjakannya sebelum berangkat ke kantor."
Arini tersenyum mengusap tangan Bu Zah.
"Mungkin memang benar, ada kesibukan yang tidak bisa dia tinggalkan!"
hibur Arini.
"Iya, tapi kalian tidak jadi bertemu." ucapnya menyesal.
"Ibu, lain kali pasti ada kesempatan. Percayalah!"
Bu Zah tersenyum mengangguk.
Arini berangkat kerja seperti biasanya, Ia berusaha melupakan semua masalah yang terjadi.
Sampai di parkiran, ia sempat heran. Ia tidak melihat Denis menunggunya seperti biasa.
"Kemana dia? apakah dia sakit?" ucapnya cemas.
Arini celingukan mencari keberadaannya.
"Mencari pak Denis?" Tiara sudah berdiri di sampingnya dengan membusungkan dada.
Arini menggeleng.
"Jangan bohong! Saya lihat kamu celingukan!"
Tiara menatapnya tajam.
"Saya peringatkan, jangan coba dekati dia, kalau tidak? kau tau apa yang bisa saya lakukan!"
Ancaman Tiara sepertinya tidak main-main. Itu terlihat dari tatapan matanya.
Tiara meninggalkan Arini dengan langkah congkak.
Ujiannya di tempat kerja akan di mulai.
Ia meraba perutnya yang mulai terlihat membuncit.
"Kau harus kuat nak! ibu bersama mu!"
Arini sudah mau melangkah masuk saat motor Denis berhenti tepat di depannya.
Arini menatapnya dengan heran.
"Tumben terlambat?" sapanya saat melihat Denis membuka helmnya.
"Perutku mulas dari subuh tadi, gara-gara aku minum kopi sebelum tidur, hal yang belum pernah ku lakukan." ucapnya menyesal.
"Sekarang gimana? kenapa harus masuk kerja kalau sakit?"
Denis tersenyum tipis saat Arini mengeluarkan ciri khasnya
sebagai emak-emak.
"Kok malah tersenyum?"
"Aku sudah baikan, makanya berada di sini" jawabnya lucu.
Denis mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Arini.
"Ngomong-ngomong... makasih, ya!"
"Untuk apa?" sergah Arini.
"Sudah mengkhawatirkan diriku!"
jawab Denis memberanikan diri.
__ADS_1
Arini mengangguk seraya berkata,
"seandainya pak Maman yang ada di posisimu, saya juga akan mengkhawatirkan dia." ucap Arini sambil melangkah.
Denis tersenyum kecut, ternyata dia sudah salah sangka. ia menepuk jidatnya sendiri dan berlari menyusul Arini.
Ancaman Tiara ternyata bukan omong kosong.
'Arini, kau bawakan berkas-berkas ini keruang rapat, saya tunggu disana!"
Arini mengangguk patuh.
Setelah kepergian Tiara, Susi mendekati Arini
"Kau harus hati-hati. jangan sampai kau membuat kesalahan dan di permalukan di depan orang-orang penting di kantor ini."
Arini mengangguk. Ia heran, kenapa Tiara begitu benci pada dirinya.
"Terima kasih Sus , kau sudah memperingatkan ku."
Tiara memang benar bermaksud ingin mempermalukannya.
Saat tiba di ruang rapat. Semua peserta rapat sudah berkumpul.
Arini mengangguk dan tersenyum kesemua yang hadir. Termasuk Denis yang kaget dengan kehadiran Arini di tempat itu.
Arini menyerahkan beberapa berkas yang di bawanya. Kaki Tiara sengaja usil menyenggolnya hingga Arini hampir terjerembab ke meja dan menimpa gelas minuman hingga tumpah. untungnya Denis cepat tanggap dan menangkap tubuhnya. Hal itu membuat Tiara semakin marah.
"Apa ini? apa dia tidak membaca peraturan fi depan?" seru seorang peserta rapat dengan kesal.
"Maaf, pak! ini salah saya, Dia dari devisi saya, masih baru pula, jadi belum tau peraturan." ucap Tiara meminta maaf atas nama Arini.
Mata Denis berkilat menatap Tiara. Dia tau, Semua sudah di atur oleh wanita itu.
Wajah Arini merah padam karena malu.
Ia meminta maaf sambil berurai air mata, lalu berlalu dari ruangan itu.
"Maaf, para bapak ibu yang terhormat. saya rasa ini hanya kecelakaan, alangkah bijaknya jika kita semua memakluminya." ucap Denis pada peserta rapat.
Tiara memandang tidak suka pada Denis.
Sepanjang rapat itu, Denis tidak bisa konsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada Arini.
Ia khawatir Arini putus asa dan melakukan hal yang tidak-tidak.
***
Di rumah Bu Lastri, tampak Anita sedang menemani Ilham sarapan.
Anita membantu mengisi piring suaminya.
Ilham merasa kurang suka.
"Aku bisa sendiri Nit!" ucapnya mengambil piringnya dari Anita.
Bu Lastri hanya melirik dengan pandangan penuh tanda tanya. Entah rencana apa yang ada di benaknya.
Selesai sarapan. Bu Lastri menahan Ilham yang hendak meninggalkan meja makan.
Dengan malas,Ilham terpaksa menuruti perintah ibunya.
"Apa yang sudah kau ucapkan di depan penghulu kemarin? kau sudah berjanji akan membahagiakan Anita, lalu kenapa sekarang kau menyia-nyiakan dia."
"Bukan begitu maksudku Bu, aku hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri." ujar Ilham beralasan.
"Pokoknya ibu tidak mau melihatmu mengabaikan Anita lagi."
Anita yang menguping dari balik pintu, merasa mendapat angin.
Mohon dukungan ya say🙏
__ADS_1