Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 78


__ADS_3

Pagi itu Nilam berangkat ke toko dengan sekalian mengantar Nathan ke sekolahnya yang baru.


Wajahnya terlihat sangat ceria karna membayangkan semua rencananya berhasil


"Baik-baik, ya! nanti pulangnya ikut bis sekolah saja. Mama sudah bilang pada pihak sekolah."


Nathan mengangguk sambil menengadahkan tangannya.


"Uang jajannya..?"


Nilam mendesah panjang.


"Entah kapan papa mu dapat pekerjaan lagi, hidup kita lagi terpuruk Nathan, karena itu kau harus bisa berhemat." kata Nilam sambil memberikan lembaran dua puluhan.


"Kurang, Ma!" ucap Nathan protes.


Nilam menambahkan sepuluh ribuan.


Nathan hendak protes lagi namun Nilam memberinya isyarat agar diam.


"Coba Eyangmu mau menjual tanah lapangan peninggalan kakek mu, mungkin kita tidak akan sesusah ini."


"Memangnya kenapa Eyang tidak mau menjualnya?" Nathan, bocah kelas tiga SMP itu jadi ikut penasaran.


"Mama juga tidak tau, kelihatannya sih dia akan memberikannya pada Denis dan Arini."


Nilam mulai meracuni pikiran anaknya yang masih polos.


"Ya, sudah. Mama pergi, ya!"


Nilam melajukan motornya ke arah toko.


Ia tersenyum sendiri saat kembali membayangkan Denis dan Arini sudahp bertengkar hebat.


Di jalan tak sengaja dia melihat penjaja bunga di pinggir jalan.


Dia membeli beberapa tangkai.


"Hari yang menyenangkan, Karna itu harus di rayakan. Ini adalah awal kehancuran mereka." ucapnya tertawa.


Sampai di toko, Nilam membagikan bunga kepada semua orang.


"Siapa yang ultah,Mbak?" tanya Hendra heran.


"Tidak ada yang ultah, aku sedang senang saja.


Nilam benar'-benar bahagia membayangkan perang yang terjadi di antara Denis dan Arini.


Sampai siang hari saat Arini datang berkunjung, wajah Nilam masih ceria.


"Ada apa, Mbak? kelihatannya ceria sekali hari ini?" tanya Arini penasaran.


"Tidak, hanya bahagia saja.. beberapa hari ini pelanggan berjubel. apakah itu tidak membahagiakan menurutmu?"


"Tentu, tentu bahagia sekali."


Pada saat itu Denis juga datang kesana.


Nilam melirik ekspresi wajah Arini yang terlihat datar.


"Rin, Elang datang tuh!" ucapnya menyenggol Arini.


"Biarin saja, mbak. aku masih ada pekerjaan.." jawab Arini cuek sambil terus memeriksa pembukuan.


"Hemm... berarti mereka masih perang dingin." bathin Nilam sambil tersenyum puas.


Nilam juga memperhatikan Denis yang hanya mengobrol dengan karyawan tanpa berusaha mendekati Arini sedikitpun.


"Lang, tidak mau menyapa Arini dulu?"tanya Nilam ragu.


"Biarkan saja, Mbak. Kelihatannya dia sibuk, nanti aku mengganggu lagi." sindir Denis sambil melirik Arini. Yang di lirik hanya menoleh sekilas.

__ADS_1


"Tidak bisa begitu juga, Elang... Arini itu istrimu, dalam kondisi apapun, dia harus tetap menghormati mu!" ucapnya keras ia sengaja agar di dengar oleh yang lainnya. Kata-kata nya seolah ingin menjatuhkan Arini.


Arini masih saja cuek.


"Tapi kalau nyatanya dia tidak mau, aku bisa apa?" jawab Denis pasrah.


"Ya, sudahlah. aku balik dulu ke kantor." ucap Denis dan melangkah pergi.


"Arini, kalian bertengkar, ya? tapi apapun masalahnya, kau tidak sepantasnya bersikap seperti itu, bagaimanapun dia adalah suami mu!" kata Nilam sok perhatian.


"Aku kesal padanya, masa dia mencurigai ku ada main dengan Hendra karyawan ku sendiri. Memang otaknya sudah miring." omel Arini.


Nilam bersorak dalam hati.


"Masa, sih, dia merasa cemburu pada Hendra? pemuda polos itu?"


Arini mengangguk. padahal dalam hati dia menyumpahi wanita yang berdiri di hadapannya ini.


"Kalau tidak ingat kau menantu dari ibu Zahra, aku tidak bisa bayangkan apa yang bisa ku lakukan padamu." bathin Arini.


Saat itu Denis kembali lagi.


"Lang, kenapa kembali lagi?" tanya Nilam keheranan.


"Ponsel ku tak sengaja ketinggalan di toilet tadi"


Nilam hanya memperhatikan saat Denis benar-benar masuk ke toilet.


Arini melirik Denis dengan ekor matanya.


"Ngapain juga dia balik lagi?" ucap Arini dalam hati.


Di toilet, Denis menggerutu sendiri.


"Uh gara-gara rencana konyol Arini ini aku harus menahan diri tidak bertegur sapa dengannya. Kalau bisa aku memilih, aku lebih memilih berkelahi dengan lima orang preman sekaligus dari pada berpura-pura cuek padamu." gumam Denis menggerutu kesal.


"Lang... kau tidak apa-apa? kenapa lama sekal" Nilam mengetok pintu toilet. Ia penasaran karna Denis lama di dalam.


"Astaga.. kalau mbak Nilam sampai curiga, bisa-bisa aku kena sangsi dari Arini."


"Iya, mbak. ini sudah ketemu." jawabnya cengengesan.


"Lang, kau berantem dengan Arini?"


"Iya, mbak. kami bertengkar hebat. Sudah jelas-jelas sikapnya pada Hendra sangat mencurigakan, dia malah marah saat aku tanya baik-baik." jawab Denis berlagak sedih.


"Sudahlah, jangan sedih. sudah terlanjur,


Coba saja kau sabar menunggu Shofia dua atau tiga tahun lagi, semua ini tidak akan terjadi."


"Shofia?" tanya Denis kaget.


Nilam mengangguk.


"Shofia, dia baik. dan yang jelas dia sangat mencintaimu! tidak seperti istrimu yang sekarang ini, belagu, sok tidak butuh. Padahal dia harus bersyukur.. dia hanya seorang janda biasa yang kebetulan beruntung kara k au menikahinya." ucap Nilam bersemangat.


Denis sangat murka mendengar penilaian Nilam kepada istrinya. Namun ia berusaha menahan diri.


"Tapi.. mbak yakin, kau menikahinya karna kasihan saja, kan?" imbuh Nilam lagi.


Denis tidak tahan lagi karna Nilam terus memojokkan Arini.


"Cukup mbak Nilam..!" suaranya sangat keras hingga mengagetkan Nilam dan yang lainnya.


"Celaka .! sandiwaraku bisa terbongkar kalau begini caranya." Denis menggigit bibirnya. Ia sudah kelepasan bicara.


"Maksudku, cukup sudah kau sebut nama Arini di depanku. Aku muak mendengarnya."


ralat Denis membuat Nilam lega.


Ia pikir Denis marah karna ia menjelekkan Arini.

__ADS_1


"Baiklah, mbak tinggal dulu. pikirkan baik-baik masalah Shofia tadi itu " ucapnya pelan.


Denis mengepalkan tinjunya saat Nilam berlalu dari hadapannya.


'Benar kata Arini, ternyata mbak Nilam punya niat jahat padanya.'


Denis menyesal baru mempercayainya.


Ia langsung meraih ponselnya dan mengetik sesuatu.


Ting!


Arini memeriksa pesan masuk dari benda pipih yang sedang di pegangnya.


(kau benar, mbak Nilam memang punya niat tidak baik pada kita. tapi aku tidak tahan berjauhan begini dengan mu. kita sudahi saja permainan ini, ya)


Arini melotot membaca pesan dari Denis.


( Jangan sekarang, aku hanya senang saja ngerjain mbak Nilam. Dia pikir usahanya berhasil menjauhkan kita, lihat saja wajahnya yang ceria dan tidak pernah berhenti tersenyum)


Denis lewat di depan Arini sambil mengetik balasan pesan kepadanya.


(Tapi aku ingin mendekatimu dan minta itu.. yang biasa kau lakukan sebelum aku berangkat, pelukanmu adalah mood booster buatku)


Melihat Arini yang membaca pesan sambil tersenyum-senyum, membuat Nilam curiga kembali menghampiri Denis.


"Tuh, lihat? begitu kelakuan istrimu, masih ada suaminya saja disini dia sudah berani berkirim pesan pada pria lain." omel Nilam dengan rasa benci.


Denis terdiam. Dia melotot ke arah Nilam.


"Kenapa? kau tidak suka mbak mengata-ngatai nya?"


"Maaf, mbak. bukan itu maksudku. Mungkin karna cemburu aku jadi bereaksi seperti ini." jawab Denis.


Denis keluar dengan tergesa. Nilam mengartikan kalau dia sedang marah kepada Arini.


(Maaf, sayang.. aku tidak bisa berlama-lama disini, dadaku sesak oleh Mbak Nilam, Miss you )


"Aku juga padamu banget- banget ..!!" ucap Arini sambil mengecup ponselnya tanpa sadar.


Nilam sampai menutup mulutnya karna kaget.


"Arini benar'-benar sudah punya pria lain? ini kabar gembira buat Shofia. Aku harus beri tau Elang."


gumamnya sendiri.


Hari itu Nilam di buat benar-benar bloon oleh Arini dan Denis.


Malam harinya, Arini dan Denis membahas kejadian tadi siang yang begitu lucu dan menguras emosi buat mereka.


"Besok, acara di sekolahnya Shofia, kan? aku akan pikirkan bagaimana cara menyadarkan Shofia." ucap Arini.


"Apakah kita akan bersandiwara lagi seperti pada mbak Nilam?"


"Mungkin, aku mau Shofia sadar, kalau dia sudah dewasa sebelum waktunya? apa sih yang membuatnya begitu berambisi padamu?"


"Mungkin karna wajahku memang masih cocok untuk anak ABG..." jawab Denis asal.


Arini memandangnya dengan melotot .


"Begitu, ya? trus karna itu kau suka di dekati oleh kutu centil itu?" ujar Arini sambil mencubit pinggang dan lengan Denis.


"Ampun, Rin. Aku hanya bercanda. mana mungkin aku suka di ganggu Shofia."


Denis memeluk Arini.


"Kalau aku suka anak itu, kenapa aku harus menunggumu selama itu? jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya Kata-kata ku?"


"Kau ikuti rencanaku!" ucap Arini tersenyum.


"Aku lelah bersandiwara seharian, aku mau minta imbalannya sekarang!"

__ADS_1


"Apaan sih?" jawab Arini pura-pura tidak mengerti.


"


__ADS_2