Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 51


__ADS_3

"Kau mau berhenti? apa sebabnya? dan kenapa?" Denis memberondongnya dengan pertanyaan.


"Dengan kondisiku yang seperti ini, aku kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan bisnis kue ku.


Aku juga merasa usaha kue itu cukup menjanjikan, aku ingin membuka gerai kecil-kecilan."


Arini menunggu reaksi Denis selanjutnya.


"Aku tetap menyayangkan kalau kau berhenti bekerja, tapi karena alasanmu masuk akal, aku mendukungmu!"


Arini terkejut dan gembira.


Ia sudah membayangkan akan kesulitan memberi pengertian pada Denis.


.


"Benarkah? kau mendukungku?" tanya Arini tak percaya.


"Iyaa..! " ucap Denis sambil tersenyum.


"Tapi tentang rencanamu pergi berdua bersama Denis aku tidak setuju!" ucapnya jutek.


"Aku hanya ingin memberinya kesempatan buat mengingat masa lalunya. Mengingatkan semua yang telah di lakukannya padaku,


Aku sangat ingin saat berpisah dengannya,, dia juga merasakan seperti apa yang sudah aku rasakan."


Arini menarik nafas panjang.


Sakit, Denis. Perih, begitu perihnya sehingga Ibarat luka yang masih basah sudah di tuangi cuka.


Dan yang paling menyakitkan dari yang sakit adalah saat dia tidak mengakui anaknya."


Arini mencoba menahan gemuruh di dadanya.


Dia memang sangat membenci perbuatan Ilham., di tambah dengan perlakuan Anita dan Bu Lastri membuatnya muak harus berada di tengah-tengah mereka.


Tapi saat melihat penderitaan Denis dengan keadaanya saat ini membuat hatinya sedikit iba. Namun ia tidak mungkin menceritakan hal itu pada Denis


Iia tidak ingin mematahkan hati Denis seperti Ilham menghancurkan hatinya.


Denis terdiam setelah mendengar penuturan Arini.


Sebenarnya dia menyadari tidak ada haknya untuk mengatur hidup Arini. Siapa lah dirinya? apakah karna dia sudah mengungkapkan perasaanya terus bisa memberinya hak atas wanita itu?


Tapi apa dayanya, perasaannya terhadap Arini membuatnya hilang kendali. Sampai melupakan batas mana yang wajar dan tidak wajar di lakukan.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu untuk pergi. Satu pesanku, konsisten lah dengan tujuanmu! karna orang menilai mu dari karakter mu."


Karena terlalu fokus mengobrol, tak terasa mereka sudah sampai di rumah Bu Zah.


Arini bergegas turun di ikuti oleh Ilham di belakangnya.


"Lang, untung kalian datang. Shofia di larikan kerumah sakit. Dia jatuh lemas karna mogok makan." kata Bu Zah dengan wajah cemas.


"Kenapa bisa sampai begitu?" Arini mengutarakan keheranannya.


Bu Zah dan Denis saling pandang.


Mereka bisa menerka penyebab Shofia berbuat nekat.


Namun tentu saja mereka tidak mengatakannya pada Arini.

__ADS_1


"Kau istirahat saja, aku akan melihat keadaanya." kata Denis berusaha tenang di depan Arini.


"Aku mau ikut .!" Arini beranjak ke mobil lagi.


"Eeh Rin, kau istirahat saja. Nanti aku kabari!" ujar Denis cepat.


Ia sama sekali tidak ingin Arini tau penyebab Shofia berbuat nekat. Arini pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.


"Benar, Rin. Kau di rumah saja, ibu yang akan menemani Denis." Bu Zah. tersenyum bijak.


Arini menurut, dia berharap Shofia akan baik- baik saja.


"Elang... Budhe tidak mengerti, kenapa Shofia sampai berbuat nekat begini, BuDhe juga tidak menyangka kalau ucapan nya selama ini mengganggap mu adalah jodohnya ternyata serius"


"Aku juga tidak menduganya budhe, karna memang aku menganggapnya tak lebih dari seorang adik."


"Semua sudah terlanjur terjadi, kau harus menjelaskan ke salah pahaman ini pada Shofia dan orang tuanya!"


"Budhe benar. Elang harus bersikap tegas padanya."


"Lalu hubunganmu dengan Arini bagaimana?maksud Budhe, perasaanmu bagaimana pada Rini!?"


Denis terdiam sejenak.


"Aku tidak tau juga Bu Dhe, yang jelas aku ingin melindunginya, menemaninya, dan menghiburnya di saat sedih."


"Tapi kau tau, kan status Arini saat ini masih belum cerai?"


Denis mengangguk.


"Kau harus tegas tentang perasaanmu sendiri, kalau kau memang ingin bersama Arini, beri kejelasan hubungan mu dengan Shofia Itu Sebenarnya seperti apa?"


Denis mengangguk lagi.


Ia tak menyangka, Elang yang susah dekat dengan wanita, sekali dekat langsung dengan dua wanita sekaligus, sangat rumit.


"Elang.. syukurlah kau bisa datang. Shofia masih belum mau bicara." Bu RT mengadu sambil menyeka air matanya.


"Biar saya coba membujuknya."


Denis langsung menuju dimana Shofia di rawat.


"Shof.. ini mas Elang datang."


Denis memegang tangan Shofia dengan pelan.


Shofia tidak merespon. Namun air matanya deras mengalir seakan mewakili isi hatinya.


"Kau kenapa? ceritakan pada mas Elang? apakah ada orang yang menyakiti mu?"


Denis pura-pura tidak mengerti masalah Shofia.


"Memang ada yang yang sudah menyakitiku, Mas." tiba-tiba Shofia bersuara.


"Cerita Lah! jangan di pendam sendiri, itu akan menjadi beban buatmu."


Shofia terisak..


'Mas Elang janji akan membela ku di depan cowok yang telah membuatku terluka? mau berjanji mas Elang akan selalu ada saat aku butuhkan?"


"Iya, mas Elang janji!" ucap Denis sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Namun dalam hatinya tak urung deg-degan juga.

__ADS_1


Bagaimana kalau Shofia menyebut dirinya lah pria yang sudah melukai hatinya.


"Aku ada masalah dengan teman cowok di sekolahku." jawabnya lancar.


Denis menarik nafas lega.


"Syukurlah.. bukan seperti dugaan ku."


ucapnya bersyukur.


Tiba-tiba saja wajah Shofia berubah ceria.


"Aku mau makan, Mas! lapar sekali." ucapnya tersenyum manis.


Orang tua Shofia menjadi heran. Semudah itu Elang membujuk Shofia. Dokter saja kalah olehnya.


"Terima kasih Lang.. Shofia kami sudah kembali." ucap pak RT gembira.


"Saya tidak melakukan apa-apa pak RT." Denis merendah.


"Mas Elang sudah janji akan selalu ada buatku, ayah. dia juga pasti akan melindungi ku dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab." jawabnya sambil melirik Denis.


"Syukurlah, ibu ikut senang." Bu RT menatap Shofia dengan penuh cinta.


Ayah Shofia mendekati Denis.


"Mungkin Shofia rindu dengan sosok kakaknya yang sudah tiada. Kebetulan dia menemukan semua itu dari mu, Lang, makanya dia manja padamu." ujar pak RT lagi.


Namun lain dengan Bu Zah. Melihat keadaan yang berbalik membuatnya khawatir.


"Kalau begitu, kita pulang ya Lang! Shofia sudah tidak apa. iya, kan Shof?" gadis itu mengangguk.


"Terimakasih budhe, sudah mau menengok Shofia disini."


Saat berpamitan, Shofia masih sempat berbisik di telinga Denis.


'Ingat janjinya, ya!"


Denis mengangguk sambil tersenyum.


Dalam perjalanan pulang. Bu Zah bertanya pada Denis.


"Apa yang kamu lakukan, Lang? bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah." ucap Bu Zah tidak suka.


"Maksud budhe? kita sudah salah sangka padanya, ternyata yang membuat keadaanya seperti itu karna teman cowoknya di. sekolah. Maklum lah, anak ABG." ucap Denis tersenyum.


"Lalu kalau ternyata dia berbohong?"


"Budhe, jangan terlalu di pikirkan. Seperti baru mengenal Shofia saja." Denis tertawa.


"Budhe ingatkan, kau harus hati-hati. Shofia tidak selugu yang kau kira, Nak!"


"Tenang budhe, aku bisa menghadapinya."


jawab Denis sambil memegang bahu Bu Zah.


Bu Zah menghela nafas berat. ia benar-benar khawatir sekarang.


Justru karena dia sudah mengenal Shofia dari kecil. Ia paham akan sifat keras Shofia.


Sementara itu, Shofia sedang menikmati kebahagiaanya karena sudah sempat bicara dengan Elang.

__ADS_1


" Aku sadar, dengan mengatakan kebenaran penyebab aku bisa seperti ini, akan membuatmu semakin jauh dari ku Mas Elang."


💞🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2