Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Popy Menderita Kanker?


__ADS_3

Suasana di kediaman Yudha nampak beberapa keluarga terlihat sudah kumpul, dalam hitungan jam, Yudha dan Tita akan menikah secara resmi.


Dengan berkebaya putih berhias bunga melati Tita nampak cantik, wajahnya nan ayu menambah kecantikannya.


Tak berbeda dengan Yudha wajahnya yang tanpam membuat semua mata tak berkedip melihat kegagahan Yudha, berhias kemeja hitam dan kopeah hitam membuat takjud setiap hawa.


Popy terlihat menatap kedua pengantin yang akan segera disahkan di depan penghulu, Bunga yang tengah digendongnya sesekali merengek tapi dengan sabar Popy berusaha menenangkan Bunga.


Untuk kedua kalinya Popy mengiklaskan suaminya bersanding di pelaminan hatinya sudah lelah menerima segala kekurangan yang dialaminya, rahimnya yang lemah membuat Popy harus pasrah menerima kenyataan.


Acara sakralpun dimulai didepan penghulu Yudha mengucap janji suci, begitupun Tita dahinya penuh dengan butiran keringat, wajahnya tertunduk malu tak menyangka dirinya akan bersanding dipelaminan bersama Yudha, lelaki yang pernah menyelamatkannya dulu, begitu besar pengorbanan Yudha padanya.


Bagi Yudha Tita adalah istri ketiga yang pernah dinikahinya, mantan istrinya Viona yang telah ia ceraikan semoga tak mengganggu rumah tangganya dengan Tita.


Perasaan Popy saat itu sungguh lega kini suaminya bersanding dengan wanita yang memang pilihannya, hanya Titalah yang akan membahagiakan Yudha kelak dikala dirinya pergi untuk selamanya.


Ya, tanpa diketahui siapapun Popy ternyata mengidap kancer paru-paru yang setiap saat akan merenggut nyawanya, sengaja Popy merahasiakan penyakitnya agar tak membuat khawatir Yudha suami yang ia cintai, untuk itulah mengapa Popy mamaksa Yudha untuk menemui Tita, agar kelak ia bisa menitipkan Yudha pada Tita. Wanita yang memang pantas untuk Yudha.


Air mata Popy berlinang menyaksikan upacara sakral suaminya, begitu banyak kenangan yang manis bersama Yudha tak tahu pasti kapan tuhan memanggilnya, yang pasti Dokter telah memvonisnya bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa bulan lagi, walaupun maut di tangan yang maha kuasa, tapi Popy akan selalu berdoa untuk Yudha dan Tita.


Bunga mungil selalu dipeluk dan diciumnya betapa bocah mungil itu membuat Popy berharap hidupnya bisa lebih lama lagi, menyaksikan Bunga sampai dewasa. Tapi entahlah hanya tuhan yang dapat memberinya kesempatan.


Setelah akad selesai nampak Tita menyalami ibunda Yudha yang duduk di kursi roda, penyakit Stroke yang sekian lama dideritanya, semakin parah hingga tak bisa berdiri hanya suster yang selalu mengurus segala kebutuhannya setiap hari.


Tahap akhir. Tita begitu terharu ketika menyalami Popy istri pertama Yudha air matanya tumpah seketika, melihat Popy. Ada rasa tak tega dalam hati Tita ketika memeluk Popy. Tiga tahun Tita meninggalkannya.


"Bu..." lirih Tita, memeluk erat Popy dengan berderai air mata.


Melihat Tita merintih, Popy langsung menyeka air mata Tita dan membalas pelukan Tita.


"Tita...jaga baik-baik ya? suami saya," bisik Popy penuh harap.


Tak sanggup lagi mendengar permintaan Popy, Tita hanya menggangguk dan semakin kuat memeluk Popy membuat Popy merasakan hal yang sama. Begitu pedih bathin Popy meratapi nasibnya, sebagai perempuan mandul ditambah dengan penyakitnya yang terus menggerogoti tubuhnya.


Melihat Popy dan Tita yang larut dengan kesedihannya Yudha kemudian merangkul mereka berdua, dan mencium kening kedua istrinya dengan lembut.


Semua tamu yang hadir ikut larut menyaksikan kedekatan Tita dan Popy, sehingga merekapun merasakan kesedihan yang dirasakan kedua istri Yudha.


Menjelang malam tamu dan keluargapun sudah tampak sepi, ibu Tita dan adiknyapun telah kembali, hanya ada beberapa segelintir tamu yang tengah mengobrol dengan Yudha.


Pernikahan Yudha memang dilaksanakan secara sederhana hanya keluarga dan teman dekat saja yang Yudha undang.

__ADS_1


Sementara Tita sudah berada di peraduan, menunggu Yudha yang tak kunjung datang, iapun memutuskan untuk melihat Bunga sebelum Yudha datang.


Masih keadaan berkebaya pengantin Tita menemui Bunga yang berada di kamar Popy.


"Tok...tok..."


Tita mengetuk pintu kamar Popy berharap bisa melihat keadaan Bunga anaknya dalam keadaan baik, maklumlah bocah mungil itu sering rewel jika Tita tak berada di dekatnya.


"Tita!" ujar Popy kaget, melihat Tita yang tiba-tiba menemuinya, padahal malam itu seharusnya Tita berada dengan Yudha di kamarnya.


"Iya bu. Boleh saya lihat Bunga sebentar?"


"Ohh ya! udah sini masuk!"


Titapun masuk ke kamar Popy, dilihatnya Bunga ternyata sudah tertidur.


"Bu. Maaf ya? saya ngerepotin ibu, Bunga gak rewel kan?" tanya Tita memelas.


"Aduh Ti, kamu ini! Bunga itu anakku juga, kamu jangan khawatir gitu ah!" tegur Popy seraya memegang pundak Tita.


"Ya udah, sana! mas Yudha pasti sedang menunggumu," tegur Popy matanya terlihat sendu menatap wajah Tita.


"Bu...maaf...maafkan saya..." lirih Tita balik menatap Popy, wanita yang selama ini Tita hormati kini Tita dengan terpaksa harus bersanding dengan suaminya.


Tapi sebelum Tita melangkahkan kakinya, ada yang menarik perhatian Tita.


Sehelai kain putih ada berkas darah terjatuh dari balik baju daster Popy, tentu saja Tita sangat terkejut melihatnya dan langsung mengambil kain itu.


"Bu! darah apa ini?" tegur Tita khawatir.


"Mm...bukan...darah..siapa-siapa Ti," seru Popy yang langsung merampas kain putih yang tengah dipegang Tita.


Tita semakin curiga melihat sikap Popy yang sepertinya ketakutan ketika Tita bertanya padanya.


"Bu! ada apa? sebenarnya ini darah siapa?" tanya Tita tambah penasaran.


Tapi kali ini Popy tak menjawabnya, dan wajahnya berubah pucat pasi, ketika Tita mendesaknya berharap Popy menjawab pertanyaannya.


Nafas Popy mulai terlihat sesak, Popy mulai batuk-batuk dengan menutupi mulutnya dengan kain putih yang tadi Tita pegang.


Mata Tita langsung terbelalak melihat keadaan Popy yang kedapatan batuk mengeluarkan darah.

__ADS_1


Tubuh Tita seketika terasa lemas, ia langsung melangkah mundur menjauhi Popy, sambil memegang dadanya, Tita baru sadar ternyata bercak darah yang di kain putih itu, ternyata berasal dari mulut Popy.


"Bu....." rintih Tita seraya menatap wajah Popy yang kian pucat dan terus menerus batuk.


Popy langsung berlari menutup pintu kamarnya dan mendekati Tita.


"Tita...tolong jangan beritahu mas Yudha..." keluh Popy yang terus menutup mulutnya.


Air mata Tita langsung mengucur dipipinya, bibirnya langsung terdiam tak kuasa ia mengucapkan sepatah katapun melihat keadaan Popy.


Perlahan Tita mendekati Popy yang mulai kepayahan menahan untuk tidak batuk, sambil menutupi mulutnya dengan kain.


Tita langsung berlari memeluk Popy, walaupun samping kebayanya membuatnya tak nyaman tapi Tita berusaha kuat, ia terus mendekat pada Popy tapi Popy langsung mundur menjauhi Tita.


"Jangan Ti....sa. uhukkk...uhukkk...."


"Bu....ibu kenapa?" teriak Tita yang terus berusaha mendekat pada Popy.


Suara ketukan pintu menghentikan langkah Tita yang hanya tinggal beberapa jengkal dari Popy.


"Ti...kamu disitu? suara Yudha dari luar, memanggil Tita.


"Ehhh...iya...mas...sebentar," teriak Tita seraya menyeka matanya.


Tapi sebelum Tita melangkah Popy langsung menarik tangan Tita, dan memohon pada Tita untuk tidak menceritakan pada Yudha apa yang dilihatnya.


"Tita. Tolong Ti, jangan bilang apa-apa sama mas Yudha mengenai penyakit saya," keluh Popy memohon.


"Penyakit? ibu punya penyakit apa?" guman Tita kaget.


Belum sempat Popy menyelesaikan ucapannya Tita langsung bergegas membuka pintu kamar yang sedari tadi Yudha mengetuknya.


"Ti! kok lama sekali sih buka pintunya? memang sedang apa kalian?" tanya Yudha penasaran.


"Eh...itu..mas, gak ada apa-apa kok!" jawab Tita gelagapan, mata Tita langsung menoleh ke arah Popy.


Popy berusaha tersenyum menatap Yudha sambil menyembunyikan sehelai kain putih di balik bajunya.


"Mah, mamah baik-baik kan?" tanya Yudha mendekati Popy dan langsung mencium kening Popy.


Ketika dipeluk Yudha Popy memberi isyarat pada Tita untuk segera membawa Yudha keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Titapun mengganguk melihat isyarat tangan Popy, dan langsung mengajak Yudha.


"Mas...ayo...mas, udah malam," ajak Tita seraya menahan air matanya yang tak bisa lagi ia tahan melihat penderitaan Popy.


__ADS_2