Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 86


__ADS_3

Bu Zah sama sekali tidak tau rupa uang hasil pinjaman Pras.


"Pras, bukannya ibu ingin ikut campur, tapi ibu hanya mengingatkan saja.


Hati-hati pegang uang.. gunakan sesuai kebutuhan, berapa kau mengajukan pinjaman?"


"Hanya dua ratus juta, Bu..! "


Bu Zah terbelalak.


"Dua ratus juta? Lalu dengan apa kau akan mencicilnya?" Bu Zah terlihat sangat terkejut.


"Ibu jangan khawatir, aku, kan sudah buka usaha, Nilam juga. Dari hasil usahaku itu lah untuk membayar cicilannya." jawab Pras enteng.


"Lalu usaha apa itu?"


"Banyak, Bu. Nilam dan temannya membuka salon kecantikan, dan aku sendiri jual beli mobil bekas. hasilnya lumayan lho, Bu." ucap Pras bersemangat. Ia sudah termakan hasutan istrinya.


"Ibu, jangan terlalu khawatir, ya!" Pras memeluk bahu Bu Zah.


Dari hari ke hari Pras dan Nilam semakin jarang di rumah.


Saat di suruh makan, jawaban keduanya selalu membuat Bu Zahra kecewa.


"Kami sudah makan di luar, Bu. Kami bosan dengan menu di rumah yang begitu-begitu saja." kata Nilam seperti tidak suka.


"Kalau kau tidak suka menunya, kasi ibu uang buat belanja biar menunya sesuai keinginanmu. Makan di luar sangat boros, Nak." nasehat Bu Zah.


Nilam hanya memutar bola matanya dengan malas.


Bu Zah merasa putus asa. Ia sempat mengeluhkan semua itu pada Denis dan Arini.


"Aku tidak bisa berbuat banyak Bu dhe,


Mas Pras bukan kakak kandungku sendiri. Aku tidak berhak ikut campur." kata Denis menanggapi keluhan Bu Zah.


"Tapi tolong ingatkan mas, mu itu. Uang dua ratus juta itu tidak sedikit. Kalau dia sampai salah langkah kau tau sendiri akibatnya." ucap Bu Zah putus asa.


"Baik lah, nanti aku coba bicara pada mas Pras." jawab Denis.


Bu Zah juga mengeluh bahwa Pras sama sekali tidak memberinya sepeserpun dari hasil pinjaman itu.


"Yang sabar, ya Bu, mungkin mereka masih memutar uangnya." Arini menghiburnya.


"Bukan itu maksud ibu, Rin. Ibu sama sekali tidak menginginkan uangnya. Tapi setidaknya dia jujur tentang berapa dia mengambil pinjaman, tentang untuk apa saja dia pergi akan. Kalau ibu tidak bertanya dia tidak mau bercerita. Maksud ibu, biar ibu bisa menjelaskan pada adik-adiknya kelak."


Arini mengusap punggung Bu Zah untuk memberi dukungan.


"Terus terang, ibu lebih merasa kalian anak kandung ibu ketimbang mereka." kata Bu Zah emosi.


"Sstt.. Bu dhe tidak boleh bilang begitu. Bagaimanapun mas Pras adalah putra bu Dhe."


"Tapi lihatlah kelakuannya... " timpal Bu Zah lagi.


...Nilam yang kebetulan lewat dan mendengar...


Kata-kata Bu Zah menjadi tersinggung.


"Jadi ini yang ibu lakukan di belakang mas Pras? Mengadu yang tidak-tidak pada Elang dan istrinya." Bu Zah, Denis dan Arini terperanjat.

__ADS_1


"Kau salah paham, Nilam." kata Bu Zah menengahi.


"Iya, mbak. Ibu hanya berkata yang sebenarnya.."


"Diam..! Kau orang luar, ini urusan menantu dan mertua!" kecam Nilam.


Denis mengepalkan tangannya melihat sikap Nilam yang arogan.


Pras datang menyusul Nilam.


"Ada apa ini?"


"Ini, ibumu. Dia berusaha menjelek-jelekkan kita di depan Elang dan istrinya."


Nilam berusaha melebih-lebihkan.


"Bukan begitu kejadiannya, Mas." Denis tak tahan lagi.


Pras mengangkat tangannya.


"Sudah, Lang. Kau diam saja.


Ibu, kalau ada sesuatu yang ibu tidak suka dari kami, seharusnya ibu itu bicarakan pada kami, bukan pada mereka."


Bu Zah tidak menyangka dengan kata-kata Pras yang tanpa bertanya langsung membenarkan istrinya.


"Apa yang Nilam katakan tidak benar, ibu hanya meminta Elang untuk mengingatkan kalian agar hati-hati mengelola uang dua ratus juta. Apa ibu salah?"


"Jelas salah!" jawab Nilam cepat.


"Kenapa ibu tidak membicarakannya pada kami? Kami yang bersangkutan." kata Nilam.


"Betul, Bu..! seolah ibu lebih mempercayai Elang ketimbang anak ibu sendiri." kata Pras.


"Kau mulai membedakan Elang dengan dirimu, ini bukan Pras anak ku yang dulu lagi." ujar Bu Zah kecewa.


"Mas, kau salah paham padaku.." Denis ikut bicara walaupun hatinya ikut merasakan ke ku kekecewaan seperti halnya Bu Zah.


"Maaf, Lang. Mas juga tidak ingin mengatakannya, tapi kenyataan tidak bisa berubah kalau kita tidak sedarah."


"Prasetyo..!" jerit Bu Zah tidak terima.


"Ibu tidak pernah mengajarkan itu padamu, kenapa baru sekarang mengungkit masalah ini.?"


"Justru ini salah ibu, mas Pras sudah banyak bersabar. tapi ibu tidak menghargai mas Pras sebagai anak sulung dari ibu. Apa-6 harus Elang.. mas Pras tersinggung, Bu!"


Nilam yang bersuara.


Denis yang diam sedari tadi ikut angkat bicara.


"Mohon maaf, kalau mas Pras dan mbak Nilam merasa tidak nyaman dengan kehadiranku dan Arini." ucap Pras dengan wajah sedih


"Tidak, Lang. Kau tidak salah.." ucap Bu Zah.


"Tentu saja, Lang. Ibu lebih menganggap mu ketimbang mas Pras yang anak kandungnya sendiri.


Dan Arini.. tingkahnya seolah dia seorang menantu yang sempurna dan serba bisa." ucap Nilam ketus.


Arini diam saja karna merasa bukan ranahnya untuk bicara.

__ADS_1


Tapi saat Nilam menyebut dirinya, ia bersuara juga.


"Aku merasa biasa saja kok Mbak. Kalau mbak merasa ibu lebih respek padaku, mungkin mbak Nilam yang kurang usaha mendekatkan diri pada ibu."


Kata Arini membuat Nilam menelan ludah.


"Sudahlah, intinya ibu itu lebih suka pada kalian ketimbang kami. Dan kalau ibu merasa tidak cocok lagi serumah dengan kami, ibu ikut saja sama mereka!"


Kata-kata Nilam sangat menusuk hati Bu Zah.


"Kau, kau mengusir ibu dari rumah ibu sendiri?" mata Bu Zah berkaca-kaca.


"Tu, kan ibu salah paham.


Aku bilang, kalau ibu tidak suka melihat kami lagi, ibu tinggal ikut mereka. Gampang, kan?"


"Nilam.. Kau tega pada ibu?"


"Apa aku salah, Mas?" Nilam memandang suaminya.


"Betul, Bu. Nilam tidak salah.


Kalau ibu tidak mau meninggalkan rumah, ya sudah. Tidak usah di perpanjang lagi." kata Pras singkat.


Nilam meninggalkan ruang tamu dengan menggerutu.


"Begitu saja kok ribet.."


Pras ikut bangkit dan menyusul istrinya.


Maafkan, mas Pras, Lang..!" suara Bu Zah tercekat.


"Mungkin karna kena PHK dan menganggur lama, membuatnya putus asa dan tidak bisa menguasai dirinya."


"Kenapa budhe yang minta maaf, mungkin mas Pras benar. Aku terlalu dekat dengan Bu dhe hingga membuat dia tersinggung." ucap Pras sendu.


"Jangan berkata begitu, kau putraku! " Bu Zah merangkul kepala Denis dengan sedih.


"Jangan dengarkan Kata-kata Mas mu! Dia hanya asal bicara!" hibur Bu Zah.


"Kami pulang dulu, atau ibu ikut kami saja pulang." kata Arini.


Bu Zah menggeleng sambil tersenyum.


"Ibu tidak akan meninggalkan rumah ini, ini peninggalan ayahnya Pras." jawab Bu Zah.


"Baiklah.. Kami tidak berhak memaksa. Tapi seumpama budhe ingin datang ke tempat kami, pintu rumah selalu terbuka untuk Bu dhe." bisik Denis sambil memegang pundak Bu Zah.


Denis dan Arini merasa prihatin dengan keadaan Bu Zah.


Mereka tak habis pikir kenapa Pras bisa berbuat itu pada ibu kandungnya sendiri.


"Mas Pras sudah berubah.." gumam Denis pelan.


"Mungkin karena pengaruh mbak Nilam juga." jawab Arini.


"Kalau mau menurutkan ego, sudah aku bawa Bu Dhe tinggal bersama kita." kata Denis pelan.


"Kita maunya begitu, tapi Ibu sendiri yang memilih tetap bertahan disana." jawab Arini.

__ADS_1


"Aku tidak habis pikir, mas Pras bisa Setega itu pada ibunya, kalau begini caranya, uang dua ratus juta tidak akan bertahan lama."


"Kita harapkan yang terbaik saja."


__ADS_2