
Walaupun dengan hati kesal. Ilham meninggalkan ruangan itu.
Dia tidak habis pikir, kenapa Arini bisa semarah itu padanya, bukankah dia sudah menunjuk kan kalau dirinya masih perhatian padanya?
"Oh iyaa, dia pasti merasa tersinggung karena aku terkesan tidak perduli pada anaknya Denis." Ilham merasa tau penyebab kemarahan mantan istrinya itu.
Ilham duduk sambil menggerutu.
" Bapak, keluarganya ibu Arin?" seorang suster mendekatinya dan bertanya.
"Ke- napa pak?" tanyanya heran.
"Silahkan di urus kepulangan jenazah bayi nya."
Ilham terdiam sejenak.
"Ooh bukan saya, nama ayahnya adalah Denis, dia ada di ruangan itu.!"
Ilham menunjuk ruangan Arini.
Sebuah berankar melintas di depannya.
Kain penutupnya tak sengaja tersingkap oleh angin.
Selintas Ilham bisa melihat wajah seorang bayi merah yang sangat rupawan. Ada desiran aneh yang di rasakannya. Tapi saat mengingat anak itu lah penyebab renggang hubungannya dengan Arini membuat dia menepis jauh-jauh perasaan aneh itu.
Sesuai petunjuk Ilham, petugas menghampiri Denis yang masih berusaha menenangkan Arini.
"Permisi, keluarga Bu Arini? Anda pasti pak Denis, bisa urus kepulangan jenazah putranya?"
Denis dan Arini saling pandang.
"Iya, segera saya akan mengurusnya." jawab Denis cepat.
"Benar-benar keterlaluan si Ilham, saking bencinya padaku, dia sampai tidak mau mengurus jasad anaknya sendiri. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana menyesalnya dia saat menyadari bahwa itu adalah anaknya, darah dagingnya sendiri." bathin Denis.
Mendengar itu Arini kembali menangis.
"Aku ingin melihat anak ku sekali saja...."
"Tapi keadaanmu?"
"Aku harus melihatnya, tolonglah..!" Arini menangkupkan kedua tangannya.
"Bicaralah pada petugas bagaimana caranya..!" bisik Bu Zah.
Hati Denis Terenyuh saat melihat wajah Arini yang seperti mayat hidup, dia bernafas tapi tidak bernyawa.
Arini berusaha bergerak tapi tidak bisa, pengaruh obat bius pasca operasi belum hilang total.
Hal itu semakin membuatnya frustasi.
Bu Zah memeluknya dan memberinya kekuatan.
"Yang tanah, Rin. ambil hikmah dari semua yang terjadi. Anakmu masih suci, Allah sayang padanya, dia di panggil agar tidak sempat melihat dunia yang sudah penuh kemaksiatan ini."
"Tapi kenapa Bu? apa salah saya? kenapa ujian selalu datang bertubi-tubi?"
ucapnya dengan lirih. air matanya terasa sudah habis.
Denis berusaha membujuk Petugas untuk mengijinkan Arini melihat jasad bayi malang itu.
Dengan melewati banyak drama, Akhirnya petugas mengabulkannya.
Arini tercekat di tempat tidurnya, dia belum bisa bangun bahkan miring saja masih kesulitan.
Ia hanya bisa melihat wajah putranya dari samping.
Arini tidak bisa terisak lagi, tapi airmatanya membanjiri bantalnya.
"Ibu tidak sempat menemanimu anak ku,
__ADS_1
bahkan ibu tidak bisa menyentuhmu. tapi percayalah.. kasih sayang ibu akan selalu menyertaimu, walaupun kita sudah tinggal di alam yang berbeda.."
Semua yang ada di ruangan itu ikut terharu dan meneteskan air mata.
Arini melepas anaknya saat di bawa petugas dengan dengan pandangan kosong.
"Budhe, temani Arini saja. Aku akan pulang membawa jasadnya pulang dan mengurus pemakamannya."
Bu Zah mengangguk.
"Rin, aku pulang dulu, ya! kau harus kuat demi anakmu. Dia pasti tidak ingin melihat ibunya terpuruk dan menangis terus.' bisik Denis sambil menggenggam tangannya.
Arini tidak bereaksi. Tatapan matanya terlihat kosong.
Ilham yang baru saja mau pulang berhenti sejenak saat melihat kesibukan Denis yang mengurus kepulangan jasad anak Arini.
Mereka terdiam saat berpapasan di parkiran rumah sakit.
Setelah cukup lama saling diam, Ilham melangkah hendak pergi.
"Tunggu!" teriak Denis.
"Apa kau tidak ingin melihat wajah anakmu untuk terakhir kalinya?" seru Denis.
Ilham berbalik.
"Kau mau mempermainkan emosiku dengan mengatakan semua itu?" ucap Ilham sengit.
"Aku kasihan padamu, Ilham.
Kau tidak mengakui anakmu bahkan sampai saat terakhirnya. Kau akan menyesalinya, ingat itu!" Denis menudingnya dengan geram.
Ilhamerasa am menjadi bimbang.
Kalau memang itu anaknya Denis, kenapa dia melakukan hal ini? apa untungnya buat Denis?"
Ambulan sudah hampir berangkat saat
Saat melihat wajah tak berdosa itu, ia merasakan debaran aneh yang menyusup di kalbunya.
Walaupun Ilham tidak menghendaki, perasaan sedih hadir begitu saja, seolah bayi tak berdosa itu sedang mengutuknya karena dia tidak mengakuinya.
Ayah, kenapa kau tidak mengakui aku? kenapa kau tidak menghendaki kehadiranku?
apa kesalahanku?
Ilham menutup kembali kain penutup dengan cepat.
Seluruh tubuhnya merinding, ia tidak mengerti mengapa bisa seperti itu.
Ambulan yang membawa jasad anaknya sudah berlalu. Namun Ilham masih gemetaran juga.
Suara anak kecil yang meminta pertanggung jawabannya terus menggema di telinganya.
Derrt..
Ilham meraba ponselnya dan langsung mengangkatnya saat tau ibunya yang menelpon.
"Kau dimana? kenapa belum pulang juga? " suara Bu Lastri dari ujung sambungan.
"I- ibu,..." jawabnya lirih. Hal itu mengundang tanya pada Bu Lastri sebenarnya yang juga cemas menanti kabar tentang Arini.
"Ilham... kau baik-baik saj, kan?"
"Aku baik, Bu. tapi Arini!"
"Arini kenapa?" Bu Lastri begitu bersemangat saat mendengar nama Arini.
"Anaknya meninggal, Bu." suara Ilham bergetar.
Meninggal? Bu Lastri tercekat. Ia memang merencanakan untuk itu, tapi yang terjadi di luar dugaannya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau gugup begitu?" Bu Lastri penasaran.
"Nanti aku ceritakan dirumah." Ilham memutus sambungan telponnya.
Lalu ia bergegas pergi dari tempat itu.
Bukannya kerumah, ia malah mengikuti mobil ambulans yang membawa jenazah anaknya.
Pemakaman itu hanya di hadiri beberapa orang saja termasuk Denis.
Ilham hanya berani melihatnya dari kejauhan.
Setelah pemakaman itu sepi, Ilham perlahan mendekat. Denis bisa menangkap keberadaan Ilham dengan ekor matanya.
Ia mendesah panjang dan meninggalkan area pemakaman itu.
Ilham duduk bersimpuh. ia meraba gundukan tanah merah yang masih basah itu.
Tiba-tiba ia merasa sangat sedih hingga ingin menangis, Ilham juga tidak mengerti.
Hati merasa sangat kehilangan. dadanya terasa sesak. ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari bagian tubuhnya.
"Kenapa dengan perasaan ini? apakah ini tanda bahwa di benar anak ku?"
Ilham semakin tersedu. ia memeluk gundukan tanah merah itu.
Ia berhalusinasi ada suara anak kecil yang sedang menghakiminya.
"Kau ayah yang kejam!
Kau tidak mengakui ku sebagai anakmu!
Kau akan menerima karma dari semua perbuatanmu!"
Ilham memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Dengan susah payah ia mencapai mobilnya.
"Dia anak ku! dia anak ku!
aku sudah membunuh anakku sendiri, aku sudah meminta dokter memilih Arini, itu berarti aku sudah membunuhnya, . aku jahat, aku pembunuh!" Ilham merasa depresi, ia menyesal karna tidak pernah perduli pada anak malang itu.
Bu Lastri panik saat mendapati Ilham seperti orang tidak sadar. ia terus bergumam bahwa dirinya seorang pembunuh.
"Anita..! tolong ibu memapah Ilham."
"Astaga, dia kenapa lagi? tadi kita tinggal masih baik-baik saja."
"Aku sudah membunuh anak ku sendiri!"
Anita mengernyit heran.
"Dia bilang apa, Bu? dia sudah membunuh anaknya?"
Bu Lastri tergagap.
Bu Lastri meninggalkan Ilham dengan Anita yang terus saja mengomel.
Ia mengunci kamarnya dengan rapat.
"Apa yang di bilang Ilham? dia membunuh anaknya?"
Di kamarnya, Ilham masih menggigil ketakutan.
"Sebenarnya kau kenapa, Mas?"
"Anaknya Arini meninggal, dan itu semua gara-gara aku Nit..!"
"Anaknya Arini meninggal?"
"Iya, dan penyebabnya adalah aku."
"Tidak usah di ambil hati.. dengan begitu kita bisa membalas kesombongan mereka selama ini, iya, kan?" jawab Anita enteng.
__ADS_1
๐Tetep minta dukungannya, biar karya ini makin berkembang makasih ๐