Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 82


__ADS_3

"Kita harus memulai rencana baru lagi." keluh Denis.


"Tidak apa-apa, yang penting kita tidak putus asa." Arini mengusap rambut Denis dengan lembut.


"Kenapa dia licin sekali...?" keluh


Denis lagi.


"Kalau dia licin, kita juga harus lebih lihai lagi." jawab Arini.


Saat itu ponsel Denis berdering


Nathan kembali menelponnya .


"Om, Eyang ada di rumah sakit sekarang, dia pingsan karena terpeleset di kamar mandi."


Jawab Nathan.


Denis dan Arini Langsung tancap gas ke rumah sakit.


"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Arini saat mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Ibu yang salah, ibu kurang hati-hati. Lantainya licin ibu tidak sadar."


jawab Bu Zah menenangkan Arini.


Arini dan. Denis merasa curiga kalau terpeleset ya Bu Zah adalah rekayasa seseorang. Namun mereka tidak berani menuduh tanpa bukti.


Shofia dan Nilam masuk keruangan Bu Zah bersama.


Sangat jelas terlihat kalau mereka sudah berbicara serius.


Wajah Denis terlihat khawatir.


'Kalian sudah datang?" sapa Nilam.


"Iya, mbak. Mbak tau, bagaimana kronologisnya?" tanya Arini.


"Mbak kurang tau persis. Saat mbak pulang dari toko mbak mendengar teriakan ibu dari kamar mandi." jawab Nilam enteng.


Rentetan kejadian demi kejadian semakin membuat Denis cemas. Ia sangat mencemaskan keselamatan Bu Zah.


Sementara itu, Shofia merasa putus asa karna tidak berhasil menekan Denis untuk menikahinya. Denis terus mengulur waktu dengan berbagai alasan.


Vino salah seorang teman cowok di sekolahnya yang suka dan sering mengutarakan cintanya pada Shofia, namun karna Shofia terus menolak, ia merasa sakit hati.


Vino tau kalau Shofia tergila-gila pada Denis. Karna itulah dia memanfaatkannya untuk mendapatkan Shofia.


(Shof, ini Mas Elang. Kau datanglah ke jalan Udayana. Mas Elang tunggu. Ingat kau sendiri saja, jangan sampai ada orang yang tau)


Shofia membaca pesan itu dengan dahi berkerut.


"Mas Elang pakai nomor baru? Ah mungkin juga karena dia takut ketahuan mbak Arini." ucapnya sambil tersenyum.


(Tunggu aku, mas. Aku akan datang) Shofia membalas pesan itu.


Dengan bersemangat dia bersiap dan meluncur ketempat yang di maksud.


Sampai di tempat, suasana sangat sepi.


Hanya ada gudang tua. Yang sudah tidak terpakai.


Shofia merasa heran.


"Apa iya mas Elang mau bertemu aku di tempat seperti ini ?"


Setelah beberapa lama menunggu, Shofia mengirim pesan singkat.


Tapi yang dia kirimi adalah nomor Denis yang asli.

__ADS_1


(Mas, kau dimana, aku sudah sampai di gudang tua tempat yang kau janjikan, jangan lama-lama)


Shofia berharap Denis segera datang dengan senyuman manisnya.


Setelah itu, Vino menyergapnya dari belakang.


Dia langsung menutup mata dan mengikat tangan serta kaki Shofia. Walaupun dengan teriakan yang menyayat, Vino tak jua merasa iba.


Ia terlanjur sakit hati atas perbuatan Shofia.


Ia sengaja tidak pernah mengeluarkan suara agar Shofia tidak mengenalinya.


"Ayo, mas..! Jangan kayak gini. Buka dong mas kau pikir aku akan menolak kalau yang meminta dengan senang hati aku akan menyerahkan sesuatu milik ku yang paling berharga."


Ungkapan Shofia itu semakin membuat Vino murka.


"Dasar gadis murahan. Rasakan saja, aku akan benar-benar meminta hartamu yang paling berharga." bathin Vino.


Ia mulai meraba daerah sensitif gadis itu.


Shofia menjerit kesakitan.


Ia merasa heran, ia tidak pernah tau kalau Elang pria pujaannya itu punya kelainan seksual seperti itu.


"Mas, tolong buka penutup mataku.. Kau boleh tetap mengikat tangan dan kakiku."


Ucap Shofia.


Vino sudah terbakar gairahnya melihat Shofia yang sudah di buatnya setengah telanjang.


Yang terdengar oleh Shofia hanyalah Deru nafas yang tidak beraturan.


Akhirnya Vino berhasil menggagahi Shofia dengan garang tanpa perduli dengan jerit kesakitan dari gadis itu.


"Karna tak tahan, akhirnya Shofia pingsan.


Setelah merapikan pakaian Shofia, Vino meninggalkan gadis itu begitu saja.


Denis yang sedang di kantor sengaja mengabaikan pesan Shofia yang pertama.


Namun setelah datang pesan yang kedua, ia merasa penasaran juga.


Setelah membacanya.. Denis kembali mengabaikannya.


Sampai lewat dua jam Denis berpikir kembali.


"Mungkin saja ada sesuatu yang penting tentang mbak Nilam yang ingin dia bicarakan."


gumamnya sendiri.


Namun setelah beberapa kali mencoba menghubunginya, Shofia tidak mengangkat panggilannya Denis merasa heran.


"Ini bukan Shofia banget. Bagaimana dan di manapun keadaanya biasanya dia selalu menerima panggilan ku?" ucap ya heran.


Dia kembali memeriksa pesan Shofia.


Denis berpikir ada sesuatu yang tidak beres, karna Shofia mengirim pesan seolah dirinya yang telah menyuruhnya datang ke suatu tempat.


Denis sengaja mengajak seorang teman untuk mendatangi tempat yang di maksud Shofia.


Sampai di tempat yang di maksud, Denis dan temannya kaget mendapati Shofia tengah pingsan.


Mereka berusaha menyadarkan gadis itu.


Sebelum Shofia sadar. Temannya sudah minta ijin pergi karena ada urusan yang sangat mendesak.


Dengan berat hati Denis mengijinkannya pergi.


Kini dia merasa bingung apa yang harus di lakukan ya dengan keadaan Shofia masih pingsan.

__ADS_1


Denis menelpon Arini dan menyuruhnya segera datang ke lokasi secepatnya.


Arini menyanggupi.


Namun sebelum Arini sampai di sana. Shofi sudah sadar duluan.


Melihat Denis sedang menungguinya dengan wajah cemas membuat Shofi marah dan memukuli Denis.


"Kau bilang tidak suka padaku, kau bilang aku seperti adikmu.Tapi kenapa kau tega melakukan ini padaku?" tanyanya dengan detail air mata dan meringis kesakitan.


Ia merasakan sakit dan nyeri di daerah kewanitaannya.


Denis bingung apa yang di maksud gadis di depannya ini.


"Justru mas Elang yang harus bertanya. Ngapain kamu pingsan disini dan menyuruh ku datang kesini juga?" kata Denis dengan nada bingung.


"Aku tidak menyangka kau seperti ini, Mas Elang. Walaupun aku mencintaimu, tapi aku tidak akan membiarkan ketidak Adilan terjadi pada diriku. Aku akan lapor polisi." ucap Shofia tegas.


Shofia beranggapan Denis lah yang telah melakukan pelecehan pada dirinya.


"Jangan Shof.. Kita bicara baik - baik dulu."


Bujuk Denis


Namun Shofia sudah mengangkat ponselnya.


Arini tiba tepat waktu. Ia iba melihat wajah Denis yang putus asa.


Arini merampas ponsel Shofia.


"Kau tidak bisa lapor polisi tanpa ada bukti yang jelas."


Shofia tampak shok dan marah.


Dia menatap ruang kosong dengan pandangan nanar sambil memeluk lututnya.


"Kau memang harus membela suami mu, mbak. Tapi kalau dia benar. Tapi, kau tidak tau apa yang sudah mas Elang lakukan padaku!" Teriaknya histeris.


"Memangnya apa yang sudah di lakukan. suami ku?" tantang Arini.


Ia sangat kasihan melihat wajah Denis yang terlihat putus asa.


"Kau tidak akan mempercayainya. Karna aku pun tidak menyangka.


Dia sudah merenggut kesucianku dengan paksa, dengan tangan dan kaki terikat.." ucapnya penuh amarah.


Arini tercengang menatap Denis. Denis tidak kalah kaget dengan istrinya.


Denis menggeleng.


"Kau boleh mengelak, Mas. Tapi hukum tidak akan melepaskan mu!" ancam Shofia.


"Sumpah, Rin. jangan percaya pada Kata-katanya itu. Mana mungkin aku.."


Arini mengangkat tangannya.


"Kita bicarakan baik-baik, jangan gegabah. Ayo aku antar kau kerumah sakit." tawar Arini.


Shofia tidak bisa menolak karna memang dia sedang butuh pertolongan.


Arini mengantar Shofia ke rumah sakit. Sedangkan Denis di suruhnya pulang.


"Apa yang sebenarnya terjadi? " Arini mengintrogasi Shofia.


Shofia menceritakan dari awal kejadian sampai di sadar dan hanya mendapati Denis sendirian di sampingnya.


"Bisa aku lihat pesannya?" dengan malas Shofia memberikan ponselnya.


"Kalau aku bilang aku tidak percaya Denis melakukan itu, kau pasti tidak setuju. Tapi aku minta kau bersabar dulu, kita cari kebenarannya. Jangan buru-buru lapor polisi."

__ADS_1


nasehat Arini.


Shofia tidak menjawab, matanya masih bengkak karna menangis.


__ADS_2