Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 42


__ADS_3

Arini lemas di tempat duduknya.


Baru saja dokter mengatakan bahwa Ilham


mengalami amnesia sementara."


Bu Lastri mengguncang bahu Ilham.


"Ayo ingat ingat lagi!" Bu Lastri merasa cemas, bagaimana kalau Ilham melupakan pernikahannya dengan Anita, dan justru mengingat Arini adalah istrinya.


"Aku Siska, Mas. Adik perempuan mu satu-satunya." timpal Siska.


Ilham menggeleng. Ia terlihat bingung.


"Maaf, saya tidak bisa mengingatnya!"


Ilham memegangi kepalanya sambil meringis.


"Jangan di paksa, cobalah mengingat pelan-pelan saja!" kata Dokter.


"Pak Ilham tidak bisa mengingat apa pun, kecuali beberapa hal yang begitu membekas di memorinya. Termasuk pada Bu Arini dan Bu Lastri."


"Rin, apa yang sebenarnya terjadi? aku tidak bisa mengingat semuanya." keluhnya putus asa.


"Kau tidak ingat Anita, tapi malah mengingat Arini?"


Bu Lastri mendelik tidak suka.


"Maaf, aku benar-benar tidak mengingat yang lain kecuali Ibu dan Arini." ucap Ilham sedih.


"Tolong jangan paksa pasien, Bu. Dan kalau kalian ingin dia cepat pulih serta kembali ingatannya. Bu Arini harus mendampinginya. Jangan sampai membuatnya shok atau kaget karna masalah apa pun."


"Tidak usah! saya saja, dia putera saya, saya bisa merawatnya sendiri."


"Bu, aku ingin Arini menemaniku, dia istri ku, kenapa ibu masih saja tidak suka padanya, lihatlah! dia sedang hamil cucu yang selama ini ibu tunggu!" ucap Ilham dengan polosnya.


Membuat Bu Lastri geram.


Arini dan Denis saling pandang.


Wajah Arini berubah muram.


Kenapa di saat semua hampir bisa di laluinya, kini cobaan baru muncul kembali.


"Tapi saya..."


Arini merasa ragu.


Untuk menemaninya tentu tidak mungkin, tapi untuk meninggalkannya juga rasanya tidak tega. Bagaimana pun Ilham adalah ayah dari anaknya. Ia tidak mau di hujat anaknya kelak karna tidak perduli pada ayahnya.


"Iya, Dok. Dia bukan siapa-siapanya lagi.


Saya lah keluarganya. ini adiknya!" seru Bu Lastri menu juk Siska.


"Tapi masalahnya, pak Ilham hanya mengingat kalian berdua saja."


"Saya tidak tau masalah pribadi kalian. tapi lakukanlah demi kesembuhan Pak Ilham!" kata dokter itu lagi.


Bu Lastri melengos tidak suka.


"Iya, dok.apa ada jalan lain selain saya harus menemaninya?" tanya Arini penuh harap.


"Sayangnya tidak ada!" jawab Dokter dan meninggalkan mereka.


"Mbak, aku tau masalah yang terjadi di antara kalian sangat pelik. tapi tolong, kalau tidak demi Mas Ilham, berbuatlah demi kemanusiaan!"


Siska mengusap punggung Arini.

__ADS_1


'Mbak akan berpikir dulu, Sis."


Siska mengangguk.


"Jangan terpengaruh kata-kata ibu, Mbak. kita berdua tau bagaimana ibu selama ini."


Arini mengangguk.


"Apakah Anita sudah tau keadaan mas Ilham?" tanyanya pada Siska.


"Aku tidak tau, Mbak. mungkin lebih baik kalau dia tidak tau saja!" ucap Siska terlihat marah.


"Tidak boleh begitu, bagaimana pun Anita adalah istrinya yang sah. Dia juga berhak tau tentang suaminya."


"Aku malas berinteraksi dengannya, biar ibu saja nanti yang sampaikan."


sungut Siska.


Arini membelai rambut gadis itu.


Walaupun dulu tidak jarang juga Siska membuatnya kesal, tapi disaat seperti ini hanya Siska yang terlihat dewasa di keluarga itu.


Denis berdiri agak jauh dari mereka dengan gelisah. Beberapa kali ia menghela nafas panjang.


Kenapa setelah Arini hampir berhasil melupakan Ilham, sekarang keadaan memaksanya untuk dekat kembali?


Denis tak mengerti jalan takdir yang mereka alami saat ini. batinnya meronta.


"Den.." Arini memegang pundak Denis.


Denis menoleh dan menunggu kalimat Arini selanjutnya.


"Aku tau, keadaan ini membuat aku, kamu, tida nyaman. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Dokter bilang, demi kesembuhannya aku harus berpura-pura jadi Arini yang dulu yang dia kenal."


bahu Arini terguncang.


Denis iba melihat Arini. andai saja Arini bukan orang baik, andai saja Arini adalah Anita yang tidak perduli penderitaan orang lain. Tentu dia tidak akan menderita seperti ini, harus di hadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulitnya.


Denis meraih tangan wanita yang sedang hamil itu.


'Pikirkan baik baik! pertimbangkan juga baik buruknya. Aku sangat percaya, apapun keputusan mu, itulah yang terbaik untuk semuanya..!"


Arini menatapnya dengan mata basah.


"Terima Kasih atas pengertianmu, dukungan mu selama ini."


Denis memaksakan senyumnya yang terasa getir.


"Tapi Rin, apakah Bu Lastri akan mengijinkan mu dekat dengan Ilham lagi?"


"Aku juga belum tau, tapi bisa aku tebak reaksinya."


mata Arini terlihat merah dan lelah.


"Ayo kita pulang!" ajak Arini.


Denis mengangguk.


Tapi sebelum pergi, mereka


masuk ke ruangan Ilham untuk melihat keadaanya.


"Rin, siapa dia? aku belum pernah melihatnya!" wajah Ilham terlihat tidak suka.


"Dia, dia.." Arini kesulitan untuk menerangkannya. Kalau dia berterus terang, tentu saja kondisi kejiwaannya akan tergoncang. Dan itu akan mempengaruhi proses kesembuhannya.

__ADS_1


"Aku Denis, teman kerja Arini."


Denis mengulurkan tangannya.


Arini terdiam.


Ilham menerima uluran tangan Denis.


"Memangnya sejak kapan Arini bekerja, bukan kah aku sudah melarangnya, aku ingin dia diam di rumah, mengurus rumah tangga. Apalagi sekarang dia sedang hamil."


ucap Ilham panjang lebar.


"Aku mau pulang, dulu Mas." Arini mengalihkan pertanyaan Ilham yang ngelantur.


Ia sudah hendak keluar, saat Ilham menahannya.


"Jangan lama-lama di rumah, dan ingat! jangan terlalu berkat dengannya, dia orang asing!" bisiknya di dekat telinga Arini.


Denis membuang muka..


Arini mengangguk cepat dan keluar dari tempat itu.


Suasana hening. Arini merasa canggung untuk menyapa Denis.


"Rin, kita pulangnya nanti saja, ya! temani aku memilih mobil!"


Arini mengangguk senang. Ternyata Denis bisa memaklumi keadaan Ilham.


"Memangnya kau percaya pada pilihanku?" seloroh Arini.


"Sangat! orang bodoh saja yang tidak tau semua kelebihanmu. Lagian yang akan menaikinya, kan kamu, Rin. Jadi aku yakin, apapun pilihan mu akan membuat kau nyaman di dalamnya."


"Jangan buat aku semakin tersanjung dengan perlakuanmu ini. wanita berperut buncit ini bisa melayang sangat tinggi, dan jatuhnya pasti akan sakit sekali." gurau Arini.


Denis tertawa.


"Kau tidak usah khawatir, melayang lah semampu mu. Kalau pun sampai terjatuh, ada aku yang selalu siap menangkap mu.'


Balas Denis.


Suasana yang semula terasa kaku mulai mencair lagi.


"Rin, aku merasa khawatir, setau Ilham, kau masih istrinya. lalu bagaimana reaksimu tentang ini?" Arini mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Ini juga yang masih jadi pertimbangan ku, sedangkan untuk berterus terang dengan kenyataanya yang terjadi, tidak mungkin. itu akan menghambat kesembuhannya"


"Lalu sampai kapan kau akan terjebak dan berpura-pura?"


"Aku juga tidak tau." jawab Arini pasrah.


"Sudahlah... kita bahas nanti saja.


Denis membawa Arini ke showroom mobil.


"Kau suka yang ini?"


Arini mengangguk. Sebelumnya ia sudah menyarankan pada Denis untuk mencari yang sesuai budget saja.


Denis setuju.


Biarlah, walau masalah rumit sedang menanti, setidaknya untuk saat ini ia bisa membuat Arini tersenyum.


"Bagaimana dengan rencana kamu membuka toko kue?" tanya Denis. ia sengaja mencari topik yang bisa membuat Arini happy dan melupakan bebannya untuk sementara waktu.


"Aku sangat ingin. Tapi tentunya usaha itu butuh modal yang tidak sedikit, kan?"


💞Mohon dukungannya shobat!

__ADS_1


.


__ADS_2