Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 41


__ADS_3

Sampai di sekolahnya Shofia. Terlihat banyak murid yang berlalu lalang.


"Eh ayo turun!"


Suara Elang menyadarkan lamunan Shofia.


"Mas Elang balik dulu, ya!"


"Eh, bentar lagi Mas!" Shofia menahan tangan Elang.


Shofia tersenyum saat teman-teman satu geng- nya datang mendekat.


'Shof ini mas Elang yang selalu kau ceritakan itu?"


Shofia mengangguk. ia semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Elang.


"Wah, kau tidak bohong, dia memang keren abis. apalagi lesung pipinya itu, saingannya Afghan deh."


Para Abg itu mengerumuni Elang dengan berbagai macam pendapat.


"Ayo kau cerita apa pada teman-teman mu? pasti menjelekkan mas Elang, ya?" canda Elang mencubit hidung Shofia.


"Iih sakit tau, romantis dikit napa?" sungut Shofia.


"Romantis? dasar anak kecil aneh!" ujar Elang tertawa.


"Aissh.. manisnya kalian,, seperti tom dan jerry." komentar Vivi teman Shofia.


"Ya, sudah. mas Elang balik dulu, ya!"


Denis melambai pada teman-teman Shofia itu.


Tiba-tiba saja Shofia berjinjit dan mengecup pipinya.


Elang kaget dan menoleh padanya.


Sedangkan teman-teman Shofia hanya bisa menutup mulut mereka.


"Gue juga mau dong!" goda mereka.


Shofia hanya tersipu.


Elang meninggalkan pelataran sekolah itu di iringi senyum dan lambaian Shofia.


"Kau beruntung sekali, Mas Elang memang menawan, keren macho dan senyumnya itu lho... nggak kuat!" kata Vivi.


"Hus! tidak boleh ada yang berkhayal tentang mas Elang gue!" Shofia menjitak kepala temannya.


"Yee segitunya!" Vivi tertawa.


***


Sampai di rumah Bu Zah Denis mendapat kabar bahwa Arini tengah pergi kerumah sakit.


"Dia sakit Budhe?" ucapnya panik.


"Bukan dia, tapi Ilham suaminya!"


"Ilham?" Denis belum percaya.


"Ilham dan istrinya, Anita."


Dia bergegas menghidupkan motornya dan menyusul Arini.


Sampai dirumah sakit itu, Denis tercekat, dia


melihat Bu Lastri menangis histeris begitu pula Siska.


Sedangkan Arini tidak kelihatan.


Saat itu, Arini sedang menemui dokter yang menangani Ilham dan Anita.


"Keadaan mereka cukup kritis. Saudara Ilham mengalami benturan keras di kepala, sedangkan istrinya mengalami pendarahan hebat. Mereka harus segera di operasi.!"


Arini terdiam.


"Silahkan tanda tangani surat persetujuan ini!"

__ADS_1


Arini mengatakan ia tidak berhak atas keputusan itu.


Tapi Bu Lastri sebagai orang tua Ilham Terus menangis bahkan sampai pingsan. Siska ikut terguncang. Tidak mungkin Arini minta mereka bertanda tangan.


"Silahkan segera di putuskan, Bu, tidak ada waktu lagi!"


Desak dokter.


Tidak ada orang lain lagi yang bisa. mewakili sebagai pihak keluarga.


Arini memberanikan diri bertanda tangan.


Denis datang dan menggenggam tangan Arini.


Ia mengangguk untuk menguatkan sahabatnya itu.


"Bagaimana kronologis kejadiannya?"


"Aku juga tidak tau persis. cuman kata polisi, mereka sedang bertengkar hebat di dalam mobil dan akhirnya menabrak pembatas jalan." cerita Arini.


Denis mengulurkan sebotol air putih untuknya.


Ia mengerti Arini sangat terguncang oleh kejadian itu. bagaimanapun bencinya dia pada Ilham, Ilham tetaplah pria yan. pernah mengisi hidupnya. apa lagi dalam perutnya tengah tumbuh tanda cinta mereka.


Bu Lastri datang dan menampar Arini dengan keras.


Arini kaget sambil memegangi pipinya yang memerah.


"Gara-gara kau! semua ini gara-gara dirimu! mereka harus ribut dan mengalami kejadian ini gara-gara dirimu!" maki Bu Lastri dengan tatapan penuh amarah.


Denis tidak terima, tapi Arini mencegahnya.


"Apa urusanku dengan mereka ,Bu? kalian ingin aku keluar dari rumah itu, sudah ku lakukan. Setelah tejadi seperti ini kenapa aku lagi yang di salahkan?"


"Tentu saja, kau memang sudah keluar dari kehidupan kami, tapi bayanganmu masih menghantui hidup kami!"


Siska datang menenangkan ibunya.


"Bu, mbak Arini tidak ada hubungannya dengan musibah ini. Jangan salahkan Dia!"


ratap Siska.


Operasi Ilham dan Anita berjalan lancar.


Anita harus menjalani operasi sesar. anaknya harus di keluarkan sebelum waktunya.


"Ibu Anita dan anaknya selamat.


Sedangkan Ilham masih belum sadarkan diri.!" kalian bisa menemuinya saat pasien sudah di pindahkan keruang rawat!"


"Mbak.. untung ada mbak Arini, kalau tidak, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan!"


Arini memeluk Siska.


"Berdoalah yang terbaik buat keselamatan mereka!"


Bu Lastri mengamati cucu perempuannya yang masih di incubator.


"Cucuku.. kenapa kau lahir dalam keadaan seperti ini?" gumamnya sambil membelai kaca penyekat di depannya.


"Di mana anakku Bu?" tanya Anita terbata saat sadar dari pingsannya pasca operasi.


"Anakmu perempuan, cantik sekali!" hibur Bu Lastri.


"Lalu bagaimana dengan mas Ilham, Bu?"


Mendengar itu, Bu Lastri tidak bisa menahan air matanya.


Arini datang melihat Anita.


"Kau pasti datang untuk menertawakan nasibku, kan?" sambut Anita.


"Jangan biasakan berprasangka buruk dulu! aku datang untuk melihat keadaanmu dan bayimu."


"Bohong!" jawab Anita lemah.


Arini menghela nafas panjang.

__ADS_1


Arini memandangi bayi mungil dalam box itu.


Tanpa terasa bibirnya tersenyum.


"Cantik sekali..!" gumamnya lirih.


"Jangan dekat-dekat cucuku, nanti ketiban sial mu!" ucap Bu Lastri ketus.


Arini tak perduli. Ia terus mengagumi bayi yang masih merah itu.


Bu Lastri hendak menarik tangan Arini saat sebuah tangan lain menahannya.


"Jaga tangan ibu ini. kalau tidak ingin akibatnya lebih parah lagi!" ancam Denis menghentak tangan Bu Lastri.


"Tentu saja, kau akan membelanya. Kalian, kan pasangan haram yang tidak tau malu.!"


Telinga Denis panas mendengar ocehan wanita tua di depannya itu.


Hampir saja dia main tangan kalau tidak Arini segera mencegahnya.


"Anggap radio rusak!" kata Arini tersenyum meledek Bu Lastri.


"Ibu tua! kau tidak tau kalau Arini, lah yang sudah tanda tangani persetujuan operasi, kalau tidak, putra dan menantumu itu masih sekarat di ICU!" bentak Denis.


"Sudah Den. aku tidak perlu mencari muka di depan ibu yang satu ini!"


Denis menarik tangan Arini keluar dari ruangan itu.


"Hatimu, terbuat dari apa sih, Arini? kenapa kau begitu sabar menghadapi orang tua itu?"


"Mungkin karena aku sudah kebal padanya. Hal seperti itu sudah jadi menu wajib dalam keseharian ku!" jawab Arini.


Perawat datang menghampiri mereka.


"Siapa di antara kalian yang bernama Arini?"


"Saya, sus!" jawabnya cepat.


'Pasien baru sadar dan selalu menyebut nama itu."


Denis dan Arini saling pandang.


Denis mengangguk memberi tanda bahwa ia tidak keberatan dengan Arini masuk.


"Arini, maafkan aku! dimana kau Rin?"


"Aku disini, Mas!"


Arini mendekat. tanpa di sangka, Ilham menciumi tangannya.


"Apa yang terjadi padaku, Rin?'


Arini menarik tangannya cepat.


"Kau kecelakaan bersama Anita!"


Ilham terlihat bingung.


"Anita..? siapa Anita?" tanyanya bingung.


Arini masih menganggap Ilham pura-pura lupa.


"Anita, Mas. istri barumu!"


"Kau bilang apa? aku hanya punya satu istri. hanya kau, Rin!"


ucap Ilham tersenyum lembut.


"Kau baru sadar dari koma, jangan bercanda. Tidak lucu,!" kata Arini.


mata Ilham mengerjap heran.


"Kau bilang aku bercanda? oh, ya Rin. sekarang kau bisa hamil. Ibu pasti senang, dia tidak akan mengomel lagi, menyalahkan mu lagi." tangannya mengelus perut Arini sambil mencucurkan air mata.


Arini bergegas bangkit. Ia ingin menemui dokter dan bertanya tentang keanehan sikap Ilham.


💞Pantengin terus ya! kisahnya akan semakin seru🙏

__ADS_1


.


__ADS_2