
Arini merasa khawatir saat Denis tidak bisa di hubungi.
"Gawat, bagaimana kalau dia marah padaku, aku benar-benar ceroboh."
"Siska, Mbak mau pulang dulu, soalnya belum minta ijin ke mas Denis."
"Iya, Mbak. Terimakasih sudah mau menolong kami."
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Rawat saja ibumu."
Arini bergegas meninggalkan ruangan Bu Lastri.
Di depan pintu, Karna terburu-buru ia menabrak Ilham yang baru datang dari menebus obat.
"Kenapa, Rin? Kau terburu-buru begitu?"
Tanya Ilham heran.
"Aku mau pulang dulu, ada urusan..!" jawabnya sambil terus berjalan cepat.
"Tapi, Rin..?"
Ilham berusaha menahannya, tapi Arini terus saja pergi tanpa menoleh lagi.
Ilham meraba lengannya yang barusan ditabrak Arini.
Ia menghirup aroma wangi dari sana.
"Arini..." desahnya pelan.
Arini terus melaju di keramaian siang itu.
Hatinya begitu gelisah memikirkan tanggapan Denis padanya yang telah menolong Ilham sekeluarga.
"Maafkan aku Den, aku tidak mengabari mu.." gumamnya tertahan.
Sampai di butik, Arini langsung menelpon Denis kembali.
"Halo, kau darimana saja? Aku menelpon mu dari tadi?" keluh Denis dari ujung sambungan.
Suara Denis terdengar khawatir namun tidak terkesan marah
Arini berpikir, kalau ia berterus terang sekarang, pasti akan merusak suasana hati Denis. Karna itu dia memutuskan untuk berbohong sementara waktu.
"Maaf, tadi ada pelanggan yang lumayan cerewet, Dari penampilannya sih sepertinya dia wanita berkelas ..." jawab Arini berbohong.
Denis terkesan percaya dengan ceritanya.
Hatinya begitu was-was karna baru pertama kali berbohong.
"Anak kita baik-baik saja, kan?" suara Denis lagi.
"Iya, baik kok, aku akan menjaganya melebihi diriku sendiri." janji Arini membuat Denis lega.
"Baiklah, nanti jam tiga aku jemput, ya?"
Kata Denis menutup percakapan.
Arini menarik nafas lega.
"Mudahan kebohonganku tidak menjadi bumerang di kemudian hari... Aku tidak bermaksud mencurangi mu, aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja." bisiknya pelan.
Malam harinya mereka bercengkrama seperti biasa.
"Rin, aku sudah bicara pada temanku, katanya ada yayasan untuk menampung para penderita HIV Aids, di sana mereka di beri perawatan dan bimbingan."
"Baguslah, kita bisa menawarkan ini pada Anita. Tentang Cila.. Kita akan Carikan dia tempat tinggal yang nyaman." ucap Arini.
__ADS_1
"Kenapa harus mencari, kita bisa menjadi orang tua angkatnya, bukan?"
Mata Arini berbinar sempurna.
"Itu lebih bagus lagi sayang, aku pikir kau tidak akan setuju. Makanya aku tidak mengutarakannya."
"Kau ini seperti belum mengenal aku, saja." kilah Denis.
"Anita memang bersalah, tapi itu dulu.. sekarang dia benar-benar membutuhkan pertolongan." Sambung Denis lagi.
"Rin, buka dong hijabnya.. Ini sudah di dalam kamar, lagian hanya aku yang menikmatinya." gurau Denis.
Baru saja Arini hendak membuka hijabnya, ponsel di nakas tiba-tiba berbunyi.
'"Siapa?" Denis penasaran.
Arini hanya mengangkat bahunya.
"Halo..!" Arini mengeraskan suaranya hingga Denis bisa mendengarnya dengan jelas.
"Iya, halo, benar ini dengan ibu Arini?"
"Iya, betul. Ada apa, ya?"
"Saya menemukan ktp ibu di parkiran rumah sakit."
Arini dan Denis saling pandang.
"Kenapa KTP ku bisa di temukan orang?" pikir Arini.
"Oh, ya. dimana kita bisa bertemu?"
"Di rumah sakit saja, gimana?" Arini menyanggupinya.
Arini harus bersiap dengan jawaban saat melihat tatapan Denis.
"Kau kerumah sakit? Untuk apa? Dan kenapa kau berbohong?" Arini gugup hendak menjawab apa dengan rentetan pertanyaan dari Denis.
Denis masih terdiam.
"Aku kerumah sakit karna mengantar Siska."
Arini menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan dada berdebar-debar.
"Aku minta maaf, bukan maksud ku membohongi mu.."
"Jadi menurutmu ini bukan kebohongan? Ini suatu yang wajar, ya?" ucap Denis pelan.
Matanya memancarkan kekecewaan.
"Kau marah..?"
"Aku tidak berhak marah, karna dari awal aku tau kau ada hubungan dengan keluarga itu. Aku harus berlapang dada seandainya kau tidak bisa lepas dengan seutuhnya dari mereka. Tapi aku harap lain kali kau tidak membohongiku lagi, betapapun pahitnya akan lebih baik kalau kau jujur."
Denis memasang senyum dengan terpaksa.
"Sudah lah, ayo kita tidur." Denis langsung membaringkan tubuhnya di samping Arini.
Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Arini merasa sangat bersalah. Ia tidak bisa melupakan tatapan kecewa dari Denis saat tau dirinya telah berbohong tentang kedatangannya kerumah sakit.
"Aku yang salah.. Kau boleh menghukum ku kalau kau mau." ucap Arini sambil memeluk pinggang Denis.
Suaminya itu hanya diam tidak bergerak sedikitpun.
Keesokan harinya, mereka duduk di meja makan seperti biasa.
Arini bangun pagi sekali, ia sengaja membuatkan sarapan kesukaan Denis.
__ADS_1
"Waah. Ada hal istimewa apa, ini? Ada yang beda di meja makan pagi ini."
Bu Zah memandang hidangan dengan berselera
"Kalau aku merasa biasa saja Bu Dhe, tidak tau Arini. Mungkin dia merayakan sesuatu yang menurutnya sangat berarti atau semacamnya." sindir Denis.
Arini hanya bisa menghela nafas berat.
Kekecewaan Denis rupanya masih berlanjut.
"Tidak ada Bu Dhe, aku membuatnya untuk suamiku tersayang, untuk membahagiakan orang yang kita sayangi,kan tidak perlu harus menunggu moment tertentu, Kapan pun bisa." Arini membalas sindiran Denis.
Bu Zah merasa heran dengan pasangan di depannya itu. Mereka saling bicara tapi tidak saling pandang seperti biasanya.
Denis terlihat makan sedikit sekali. "Lho, kok makannya sedikit, Lang?" sapa Bu Zah heran.
Arini khusus membuatkannya untuk mu lho?"
"Perut ku kurang enak, Bu Dhe." jawabnya beralasan.
"Tidak apa-apa, biar aku siapkan untuk bekal makan siangnya di kantor nanti." tukas Arini cepat.
Denis terus terlihat cuek.. Namun Arini yang merasa bersalah berusaha mengalah.
Di mobil, dia hanya fokus melihat jalanan di depannya.
Arini tersenyum saat menemukan Ide.
"Apa Nak? Ayah mu? Tidak tau, nih. Ayahmu marah, suasana hatinya sedang buruk. Maklum saja.. Tidak apa-apa hari ini ayahmu belum menyapa mu." Arini seolah bicara pada anak dalam perutnya.
Telinga Denis tergelitik saat mendengar nama anaknya di bawa-bawa.
Reflek tangan kirinya langsung meraba perut Arini yang sudah terlihat agak menyembul.
"Maafkan, ayahmu. Ayah tidak bisa bersikap dewasa, ayah terlalu menyayangi kalian. Karna itulah ayah bersikap seperti ini." ucap Denis sambil memegang perut istrinya.
Arinienjawab.
"Ibu, yang salah. Ibu yang harus minta maaf..
Ibu janji, tidak akan ada lagi kebohongan sedikitpun." Arini mengacungkan kelingkingnya.
"Damai..?" ucapnya sambil tersenyum kearah Denis.
Denis meraih kepala Arini ke pundaknya.
Matanya membasah.
"Aku sangat kekanakan, ya? Itu karna aku terlalu mencintaimu, aku tidak bisa melihat ada jalan untuk kau dekat lagi dengan Ilham."
Ucapnya dengan suara bergetar.
"Untuk hal yang satu itu, kau bisa pegang janjiku. Apapun tidak bisa membuat aku pergi darimu, sekalipun kau sendiri yang memintanya, kecuali takdir Allah. Apalagi hanya karna mas Ilham..." Arini menggenggam erat tangan suaminya. Hatinya begitu lega karna berhasil melewati kebohongan yang membuatnya gelisah sendiri.
"Aku mohon aktifkan ponselmu, aku tidak mau kejadian yang sudah-sudah terjadi lagi."
Aku janji sayang, kau dan anak kita adalah prioritas ku." kata Arini.
Denis mencubit hidung Arini dengan gemas.
"Aku tidak akan tahan berlama-lama marah padamu, aku akan rindu mencubit hidungmu ini." ucapnya tertawa. Arini hanya bisa merenggut namun dengan perasaan bahagia.
Arini tidak tau, bahwa Ilham masih menyimpan perasaan padanya. Ia ingin memanfaatkan kebaikan Arini agar mereka bisa dekat kembali.
"Kenapa senyum-senyum begitu, mas?" suara Siska mengagetkan Ilham.
"Kau ini mengagetkan saja.." kilah Ilham. "Jangan macam-macam pada mbak Arini lagi, dia sudah bersuami.". Ucap Siska tegas.
__ADS_1
"Kau ini, memangnya, Mas pernah bilang tentang Arini? sok tau!"
"Hanya feeling, kalau salah, syukurlah. kita sudah begitu banyak berbuat salah padanya. Sekarang ijinkan dia bahagia dengan pria pilihannya."