Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Popy Menghembuskan Nafas Terakhir Karena Penyakit Yang Dideritanya


__ADS_3

Suster Darmi mulai terusik dengan suara jeritan Tita, iapun beranjak dari tempat tidur untuk melihat kejadian yang baru saja didengarnya. Langkahnya yang lemas mulai berjalan menuju kamar majikannya, kepalanya masih terasa pusing, tapi walau begitu suster Darmi begitu penasaran dengan teriakan suara Tita. Dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat Popy terbujur kaku tengah dipeluk Tita sambil menangis.


"Bu! apa yang terjadi?" tegur suster Darmi seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, melihat pemandangan yang ada dihadapannya.


"Suster tolong bangunin mertua saya!" teriak Tita yang tiba_tiba ia ingat ibunda Yudha yang tak jua keluar dari kamarnya.


"Nyonya besar lagi tidur bu! tadi pagi saya udah berikan obat!" seru suster Darmi meyakinkan Tita.


"Tolong bantu saya! ayo kita angkat bu Popy suster!"


"Iya bu.


Dengan sekuat tenaga Tita dan suster Darmi mengangkat Popy untuk dibaringkan ditempat tidur.


"Bu! sebenarnya ada apa dengan nyonya Popy?" tegur suster Darmi penasaran dengan keadaan Popy.


"Udahlah suster! jangan banyak nanya! cepat bersihkan darah dilantai itu, sambil menunggu mas Yudha."


"Baik bu.


Walaupun keadaan suster Darmi masih sedikit linglung tapi ia berusaha kuat membersihkan darah di lantai.


Samar_samar terdengar suara mobil Ambulance yang sepertinya menuju arah rumah Yudha.


Tita langsung berlari sambil meraih Bunga dan memangkunya untuk melihat apakah suara Ambulance itu memang menuju pada rumahnya.


Dan benar saja nampak pak Asep dan Yudha baru saja tiba.


"Ti! bagaimana keadaan ibu?" tanya Yudha melewati Tita dan langsung berlari menuju kamar Popy.


"Mas! bu Popy masih tak sadarkan diri mas!" teriak Tita seraya mengikuti Yudha.


Dilihatnya Popy terbaring lemas di tempat tidur. Wajahnya begitu pucat dan bibirnya mulai membiru.


"Mah! bangun mah! ada apa dengan mamah? ini papah mah! ayo bangun mah...hiks...hikss....." rintih Yudha menangis sendu mendapati keadaan Popy yang mengkhawatirkan.


"Pak Asep!!! teriak Yudha semakin panik melihat kondisi Popy. Dan langsung memanggil pak Asep.


Dua orang suster dari rumah sakit langsung menghampiri Yudha dan menenangkan Yudha yang mulai histeris.


Popy kemudian diangkat oleh kedua petugas rumah sakit untuk diberi pertolongan. Selang infus mulai disuntikan di tangan Popy dan petugas langsung membawa Popy ke mobil Ambulance.


"Pak Asep! tolong jaga rumah ya!" ujar Yudha masih tak percaya dengan apa yang dialami oleh istrinya.


"Jangan khawatir pak!" seru pak Asep sama paniknya dengan Yudha.


"Mas aku ikut mas!" teriak Tita.


"Bunga bagaimana? titipkan dulu Bunga pada ibumu! anak kecil tak boleh berada dirumah sakit!"


"Iya mas, sebentar saya hubungi dulu ibuku!"

__ADS_1


Setelah menghubungi ibunya lewat ponsel. Tita kemudian meminta pak Asep menjaga Bunga sampai ibunya tiba.


"Pak Asep! tolong jaga Bunga ya? ibuku sedang menuju kemari, sebentar lagi dia datang!" seru Tita sambil pergi menyusul Yudha yang telah menunggunya di mobil.


"Ayo mas...."


Tita dan Yudhapun pergi menaiki mobil pribadi mengikuti mobil Ambulance yang melaju cepat didepan mobil mereka.


_ Rumah Sakit Bunda sejahtera_


Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, Dengan perasaan yang masih kacau Yudha langsung keluar dari mobil diikuti Tita. Sementara petugas medis langsung memasukkan Popy ke ruang IGD.


Tampak seorang Dokter memasuki ruang IGD dengan tergesa_gesa. Yudha langsung berlari mengejar Dokter untuk meminta bantuan agar istrinya bisa ditangani dengan baik.


"Dok! tolong istri saya Dok!" keluh Yudha memohon pada Dokter agar segera memeriksa keadaan Popy.


"Tenang pak! sebaiknya bapak tunggu diluar! saya akan memeriksa istri bapak," ucap Dokter memegang pundak Yudha yang terlihat tegang.


Yudhapun mulai sedikit tenang, sesekali tangannya menyeka keringat yang mulai menitik di dahinya.


"Mas, sebaiknya kita berdoa agar bu Popy cepat pulih...." ucap Tita menghibur Yudha yang tampak gelisah.


Tak kuasa dengan kejadian yang dialami Popy, Yudha langsung memeluk Tita dengan erat.


"Ti! sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu?" lirih Yudha yang begitu terpukul melihat kondisi istrinya Popy.


"Entahlah mas....sebaiknya kita tunggu....biar Dokter yang menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan bu Popy."


Dengan perasaan cenasYudha dan Tita begitu cemas menunggu Dokter yang menangani Popy, wajah keduanya terlihat tegang. Yudha terlihat mundar_mandir, sesekali matanya melihat ke arah ruangan IGD Yudha berharap Dokter segera memberitahu tentang keadaan istrinya.


Tak lama kemudian Dokter terlihat keluar dari ruangan IGD wajahnya tampak lesu. Yudha langsung berlari menghampirinya.


"Gimana Dok keadaan istri saya?"


"Bapak sebaiknya berdoa dan sabar ya pak?"


"Katakan Dok! sebenarnya ada apa dengan istri saya?" Yudha terus mendesak Dokter untuk memberinya penjelasan.


"Ayo pak! ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan bapak...." ucap Dokter sambil memegang pundak Yudha dan membawanya masuk ke ruang IGD.


"Mas saya ikut...." bisik Tita mengapit Yudha.


"Maaf ibu siapa?" tanya Dokter pada Tita.


"Dia istri kedua saya Dok..." jawab Yudha berusaha menjelaskan status Tita pada Dokter.


Dokter hanya diam mendengar pengakuan Yudha mengenai Tita dan langsung menyuruh Yudha dan Tita masuk ke dalam guna melihat kondisi Popy.


Dengan langkah yang berat Yudha dan Tita memasuki ruang IGD, tampak di dalam ada lima orang petugas medis yang menangani Popy. mereka pun langsung pergi keluar setelah menyalami Yudha.


Tampak Popy terbaring lemas. Tangannya langsung melambai pada Yudha untuk mendekatinya.

__ADS_1


"Mah.....hiks...hiksss....mamah kenapa mah...." rintih Yudha langsung memeluk erat Popy.


"Bu...." Tita pun langsung menghampiri Popy.


"Pah...ma....maafin mamah...ya..."


"Mah jangan berkata begitu mah....papah sayang sama mamah...."


"Tita..." tangan Popy langsung memegang erat tangan Tita dan menyatukan dengan tangan Yudha.


"Tita....to...to...tolong....jaga....Yudha .." lirih Popy suaranya mulai lemah dan bibirnya terlihat pucat.


"Iya bu...jangan khawatir...ibu...cepat sembuh ya....hiks.. hiks...." bisik Tita membelai kening Popy.


"Pah...ma.. ma...mah...gak...bi...bi....sa...nemanin...pa.." suara Popy terpatah_patah sambil tangannya terus memegang tangan Yudha.


Yudha tak kuasa lagi melihat keadaan istrinya dan terus menciumi kening Popy, ia begitu penasaran apa yang dimaksud dengan kata_kata istrinya.


"Mah....mamah...jangan bicara begitu mah....cepat sembuh mah....nanti...kita...ja..." Yudha tak sanggup lagi untuk berkata, bibirnya seakan terkunci karena hatinya sungguh sangat hancur melihat keadaan Popy.


Tita kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Popy untuk membacakan doa pada pada Popy.


Sementara Yudha terus menangis memegang erat tangan Popy dengan kuat. Dokter yang berada di belakang Yudha berusaha menenangkan Yudha dan menyarankan Yudha untuk berdoa.


"Pak sebaiknya bapak doakan istri bapak...." ucap Dokter seraya menepuk pundak Yudha.


"Dok! sebenarnya ada apa dengan istri saya! seru Yudha mulai penasaran dengan penyakit yang diderita Popy, hingga dirinya mulai kacau dan merasa ada yang aneh dengan sikap Dokter yang tak berterus terang mengenai penyakit Popy.


"Pah....jaga...dirimu ba...baik....." suara Popy semakin rendah. Matanya mulai menutup rapat dan....


"Mah....bangun mah!!!!


Yudha menjerit hari histeris mendapati Popy yang meregang nyawa dan menutup mata untuk selamanya.


"Bu!!!! jangan tinggalin saya bu!!! teriak Tita menjerit memanggil nama Popy, wanita yang selama ini ia sayangi kini telah pergi untuk selamanya.


Seketika tubuh Yudhapun rubuh ke lantai, dengan lantang Yudha memanggil nama istrinya yang telah pergi.


"Bangun pak, sudah iklas kan istrimu, bapak harus tabah...." ucap Dokter berusaha menenangkan Yudha yang tampak terpukul melihat istrinya Popy yang begitu cepat meninggalkan dirinya.


"Dok ada apa dengan istri saya??? teriak Yudha masih tak percaya dengan apa yang menimpa Popy.


"Istri bapak sudah lama mengidap kanker pak...." ucap Dokter yang akhirnya berterus terang mengenai penyakit yang diderita Popy.


"Apa?! tegur Yudha matanya mulai merah mendengar pengakuan Dokter tentang penyakit yang selama ini diderita oleh istrinya.


"Istrimu meminta saya merahasiakan tentang penyakitnya pak....." keluh Dokter memelas.


"Mamah....mengapa mah!!!! mamah gak berterus terang pada papah....hiks...hiks...." rintih Yudha yang langsung berdiri dan mengusap wajah Popy dan menciumi kening Popy yang sudah tak bernyawa.


Tita hanya diam terpaku melihat keadaan Yudha yang begitu terpukul dengan kepergian Popy. Air matanya terus mengalir di pipinya. Rasa tak percaya apa yang di lihatnya Kini Popy telah pergi untuk selamanya, terlintas dibenaknya bagaimana dulu Popy selalu memintanya untuk menjaga Yudha, rupanya Popy sudah merasakan akan hidupnya yang tak lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2